Perempuan paruh baya asal Jawa itu agak terkaget-kaget ketika datang pertama kalinya di Kota Pontianak, saat ingin berbelanja sayuran.

Ia terkaget tidak hanya karena harga sayuran yang mahal  dibanding di daerah asalnya di Jawa Tengah, tetapi pedagang sayuran di pinggir jalan itu ternyata seorang Tionghoa, sebuah pemandangan yang jarang ditemui di daerahnya.

Belum lagi, saat ia menawar terlalu rendah, laki-laki penjual itu malah berbicara kepada perempuan Tionghoa di sampingnya, yang kemungkinan istrinya, dengan bahasa yang tak dimengertinya.

Sekilas didengarnya, seperti bahasa di film-film Mandarin.  Namun, setelah diberi tahu, ternyata mereka menggunakan bahasa tutur asli dari kalangan mereka, yakni bahasa Khek. Baca entri selengkapnya »

Kali ini saya tidak akan memposting artikel yang terkait bahasa maupun sastra, tetapi beberapa foto menarik seputar kegiatan belajar bahasa di sekolah dasar. Foto-foto tersebut saya dapatkan dari beberapa rekan yang mengtag di akun FB saya. Mudah-mudahan pembaca tertarik dan berkenan memberikan komentar :)

ALANGKAH bahagianya saat si kecil menyebut kata “mama” atau “papa” untuk pertama kalinya. Kedua kata tersebut memang sering menajadi kata pertama bayi-bayi di seluruh dunia. Ternyata ada alasan ilmiah di balik semua itu.

Sejak usia 2 bulan umumnya bayi sudah bisa menirukan intonasi suara kita dan membedakan suara. Seiring dengan bertambahnya usia, ia pun makin sering mengoceh, dan di usia 8-9 bulan normalnya bayi sudah bisa bicara dalam arti menyebutkan kata, seperti “mama” atau “papa”.

Peneliti post-doktoral dari Universitas British Columbia, Judith Gervain, menyebutkan, kata “mama” atau “papa” dalam banyak bahasa di seluruh dunia pada umumnya merupakan kata yang sering diulang-ulang. Selain itu, baik dari segi linguistik maupun fungsi susunannya, kata “mama” dan “papa” lebih mudah bagi bayi ketimbang “ibu” atau “bunda” misalnya. Baca entri selengkapnya »

Perkembangan pertukaran informasi pada era globalisasi telah membuka persaingan besar hampir di setiap aspek lapangan kerja, tidak terlepas diantaranya dunia penerjemahan. Namun, kesiapan Indonesia menjawab tantangan dalam menyambut era globalisasi ini belum sepenuhnya terpenuhi karena belum adanya pembenahan yang menyeluruh terutama pada kualitas penerjemah baik lisan maupun tulisan.

Ketimpangan ini terlihat dari masih adanya kasus peredaran penerjemah yang belum memenuhi standar kompetensi. Hal tersebut setidaknya diakui oleh seorang penerjemah senior, Prof. Dr. Benny H. Hoed yang juga adalah guru besar linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).

“Ada penerjemah yang menggunakan izin penerjemah tersumpah yang sebenarnya dipegang oleh orang lain,” kata Benny Hoed. “Bahkan, ada juga penerjemah tersumpah yang telah meninggal dunia tetapi izinnya tersebut diteruskan oleh anak atau saudaranya,” tambah Benny Hoed yang tidak dapat menyebutkan secara rinci jumlah kasus tersebut. Baca entri selengkapnya »

Akhir-akhir ini keganjilan demi keganjilan keadaan cuaca makin sering kita simak dan menimbulkan pertanyaan bagi banyak pihak. Dalam sehari, panas terik tiba-tiba berubah dengan gulungan awan yang menghitam, guntur yang menggelegar, dan tumpahan air hujan yang mengucur deras dari langit. Air bah terburu-buru mengalir deras, air laut pun tanpa segan meluap ke daratan. Tanah di atas bumi juga berguncang dan gunung-gunung juga ikut berdetak.

Berita demi berita menjadi suguhan yang menambah keprihatinan.

Banyak yang dirugikan dengan keganjilan alam ini, terutama dari kalangan rakyat kecil seperti pedagang kaki lima, petani, dan nelayan tradisional. Mata pencaharian mereka sangat bergantung kepada cuaca yang seharusnya berjalan normal. Baca entri selengkapnya »

Dalam kebudayaan Melayu Sumatera Utara, terdapat lagu-lagu yang menggunakan bahasa Melayu. Di antara genre-genre lagu itu adalah lagu Dodoi Didodoi, Membuai Anak, Mengayun Anak (Dadong), Si Lau Le Si Lau Kong, Tamtambuku, Nasyid, Hadrah, Rodat, Barzanji, Marhaban, Syair, Lagu Populer  Tradisional, dan lainnya.

Aspek yang menonjol dalam lagu-lagu Melayu Sumatera Utara ini adalah pantun. Pantun ialah sejenis puisi pada umumnya, yang terdiri atas: empat baris dalam satu rangkap, empat perkataan sebaris, mempunyai rima akhir a-b-a-b, dengan sedikit variasi dan pengecualian.  Tiap-tiap rangkap terbagi ke dalam dua unit: pembayang (sampiran) dan maksud (isi). Setiap rangkap melengkapi satu ide. Ciri-ciri pantun Melayu dapat dibicarakan dari dua aspek penting, yaitu eksternal dan internal.  Baca entri selengkapnya »

Istilah “sandi” telah mulai dipakai sejak masa kerajaan-kerajaan di tanah air dulu, seperti Kerajaan Majapahit. Saat itu, telah muncul istilah “Telik Sandi”, “Candra Sengkala” dan lainnya yang sedikit banyak mempunyai hubungan dengan persandian. Sebenarnya sejak manusia berkomunikasi satu sama lain dan ada hasrat atau kepentingan untuk merahasiakan pembicaraannya, sejak itulah baik disadari maupun tidak disadari mereka telah mempergunakan persandian. Mereka akan berusaha mencari jalan dan cara bagaimana merahasiakan sesuatu terhadap pihak yang mereka anggap tidak berhak mengetahui. Baca entri selengkapnya »