kamus dwi bahasaPenanggungjawab: Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Penyunting Penyelia: Amir Mahmud

Penyunting:  Abdus Syukur Gazali, Ahmad Sofyan

Penyusun:  Puspa Ruriana, Siti Komariyah, Dwi Laily S, Tri W, Iqbal Nurul A

ISBN:  978-602-8334-05-1

Katalog dalam Terbitan: 499.223.3

Penerbit:  Balai Bahasa Provisnsi Jawa Timur

Seiring dengan berjalannya jaman, bahasa Madura terus berkembang. Oleh karena itu, bahasa Madura yang merupakan salah satu unsure kebudayaan nasional wajib dipelihara, dipertahankan, dan dibina agar tidak punah. Usaha ini harus dilakukan karena pada dasarnya, bahasa daerah mampu mendukung perkembangan bahasa nasional. Baca entri selengkapnya »

Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa di Indonesia terutama di beberapa bagian Banten,  kota Serang, kabupaten Serang, kota Cilegon dan kabupaten Tangerang, Jawa Barat khususnya kawasan Pantai utara terbentang dari pesisir utara Karawang, Subang, Indramayu, kota Cirebon dan kabupaten Cirebon, Yogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

(1) Bahasa Jawa digunakan di Republik Suriname (Surinam) (dulu bernama Guyana Belanda atau Guiana Belanda). Republik ini adalah sebuah negara di Amerika Selatan dan merupakan bekas jajahan Belanda. Negara ini berbatasan dengan Guyana Perancis di timur dan Guyana di barat. Di selatan berbatasan dengan Brasil dan di utara dengan Samudra Atlantik. Di Suriname tinggal sekitar 75.000 orang Jawa dan dibawa ke sana dari Hindia-Belanda antara tahun 1890-1939. Suriname merupakan salah satu anggota Organisasi Konferensi Islam. Baca entri selengkapnya »

Kekayaan budaya Indonesia ternyata tak hanya berupa tarian saja yang diklaim oleh negara lain. Bahasa Indonesia pun dicaplok oleh bangsa lain.

‘Kamus Bahasa Melayu Nusantara’ isinya 50 persen lebih mengambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kamus tersebut dibuat oleh Brunei Darussalam.

”Bahasa kita dicaplok ke kamus mereka, ini efeknya politik. Seolah-olah bahasa Melayu milik mereka dan di internasional mereka yang naik,” ujar Anggota Komisi X DPR RI, Itet Tridjajati Sumarijanto,

Itet mengatakan Indonesia selalu kecolongan. Sering kali, kekayaan budaya bangsa ini diklaim oleh negara lain sebagai milik mereka. Karena, Indonesia selalu kekurangan anggaran untuk melindungi kekayaan budaya dan bahasa sendiri.

”Kami tidak ingin, kekayaan budaya kita termasuk bahasa, terus diklaim oleh bangsa lain. Makanya, anggaran untuk peningkatan bahasa akan kami upayakan bertambah,” katanya.

Disadap dari: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/09/19/mtawog-bahasa-indonesia-dicaplok-brunei

Orang yang berbicara dua bahasa terbukti mampu menunda demensia atau menurunnya ingatan. Hal ini berlaku meski orang tersebut tidak mampu membaca.‬

‪Berdasarkan penelitian di jurnal Neurology Amerika Serikat, temuan tersebut merupakan yang pertama menunjukkan manfaat berbicara dua bahasa terhadap orang yang buta huruf. Ilmuwan meneliti 648 orang di India. Mereka semua didiagnosa dengan demensia. Usia mereka rata-rata 66 tahun.‬

‪Ketika menganalisa data, mereka menemukan responden yang berbicara dua bahasa mulai menderita demensia empat setengah tahun lebih lama dibandingkan mereka yang hanya berbicara satu bahasa.

Perbedaan ini tetap ada terlepas mereka mampu membaca atau tidak.‬ Sebanyak 14 persen dari mereka buta huruf.  Penyakit lupa lainnya, seperti Alzheimer dan demensia pembuluh darah, juga tidak ditentukan faktor pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan dan wilayah tempat tinggal.

“Penelitian kami adalah yang pertama yang melaporkan mengenai manfaat bebicara dua bahasa di kalangan orang yang tidak bisa membaca,” ujar peneliti Suvarna Alladi dari Nizam Institute of Medical Sciences di Hyderabad, India, seperti dilansir AFP, Jumat (8/11).

Menurutnya, hal ini menunjukkan tingkat pendidikan seseorang tidak berpengaruh dengan daya ingat. Dengan berbicara dua bahasa akan meningkatkan bagian di otak yang berfungsi memberi perhatian dan melakukan tugas.

Disadap dari: http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/13/11/08/mvxng6-berbicara-dua-bahasa-mampu-hindarkan-penyakit-lupa

Kata-kata kasar dan makian ditemukan dalam buku pelajaran “Bahasa Indonesia: Wahana Pengetahuan” terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di sekolah di Semarang. “Buku ini memuat materi Kurikulum 2013 untuk sekolah-sekolah yang ditunjuk menerapkannya tahun ini.”

Temuan makian, seperti “Bangsat”, “Bajingan”, dan kata-kata tidak pantas lainnya terdapat pada cerita pendek berjudul Gerhana karya Muhammad Ali yang terletak pada halaman 225 buku untuk siswa kelas VII itu. Padahal ada enam SMP di Kota Semarang yang ditunjuk menerapkan baru tahun ini, yakni SMP Negeri 2, SMP Negeri 5, SMP Negeri 9, SMP Negeri 2, SMP Harapan Bunda, dan SMP Roudlotus Saidiyyah Semarang. Baca entri selengkapnya »

Apabila Anda termasuk pengguna internet aktif, Anda pasti sering menemukan banyak  istilah singkatan yang beredar luas di dunia maya. Ada kabar yang mengatakan bahwa  akronim-akronim tersebut adalah kata singkatan yang berhubungan dengan setan.

Banyak istilah seperti OMG, LOL, BRB, bahkan yang trending di Indonesia saat ini  seperti ciyus atau miapah merupakan hasil pemikiran dan kreasi yang lahir di internet. Dua orang peneliti linguistik dari University of Toronto, Tagliamonte dan Derek Denis menyebutkan bahwa penggunaan akronim tersebut merupakan representasi dari linguistic renaissance.

“Orang yang menggunakan akronim seperti ini secara tidak langsung ingin  mendemonstrasikan kemampuan gramatikal dan menggabungkannya dengan jenis bahasa lain,” ungkap Tagliamonte seperti yang dikutip Canada (20/05/2008).

Dengan banyaknya pengembangan serta bermunculannya akronim-akronim tersebut, ada satu pembicaraan di Reddit yang mengulas bahwa ada artian lain dari istilah-istilah  tersebut. Baca entri selengkapnya »

Sebuah penelitian menemukan bahwa bos wanita yang melemparkan lelucon saat pertemuan akan lebih sering ditanggapi dengan diam. Tak seperti lelucon oleh bos pria yang akan segera disambut oleh tawa.

Berdasarkan penelitian ini, lelucon yang diberikan oleh wanita seringkali dilihat sebagai “buatan, tidak alami, defensif, dan kejam.”

Ahli linguistik, Judith Baxter, melakukan penelitian selama 18 bulan dalam mengamati pola berbicara pada pertemuan bisnis, termasuk pada dua perusahaan di FTSE 100.

Dia menemukan bahwa 90% lelucon yang dibuat oleh pengusaha pria bisa memicu ledakan tawa, sementara 80% lelucon yang dilontarkan oleh pengusaha wanita menghasilkan keheningan. Baca entri selengkapnya »