ANALISIS PIJAK KAKI W.S RENDRA DALAM PUISI BERJUDUL “SAJAK PERTEMUAN MAHASISWA” (Dengan Menggunakan Pendekatan Tatabahasa Fungsional)

Dimuat di Jurnal Ilmiah ” Medan Bahasa” Volume 5, Nomor 1 2010, Hal 101-113. Penerbit: Kementrian Pendidikan Nasional Sekretariat Jendral Pusat Bahasa ISSN 1907-1787

Iqbal Nurul Azhar[1]

Abstrak: Sajak atau puisi seringkali menggambarkan realita sosial yang ada dalam masyarakat. Ketika masyarakat sedang bermasalah seperti bertikai, merasa tertindas atau teraniaya oleh pemerintah, sajak sering digunakan untuk menyampaikan dan memaparkan pandangan masyarakat terhadap realita penindasan tersebut. W.S Rendra, sebagai penyair yang terkenal kritis dalam merespon masalah-masalah sosial di Indonesia seringkali menyelipkan idealismenya, atau dengan kata lain keberpihakannya pada salah satu dari pihak-pihak yang bertikai dalam masyarakat. Keberpihakan ini dapat dilihat melalui makna-makna di balik salah satu puisinya yang berjudul “Sajak Pertemuan Mahaiswa.” Dengan menggunakan pendekatan leksikogrammatikal kita dapat melihat keberpihakan W.S. Rendra pada salah satu dari pihak yang bertikai. Paper ini juga mendiskusikan tentang status, efek, maupun kontak antara W.S. Rendra dengan pembaca sajaknya yang berhubungan dengan realita sosial yang diangkatnya dalam puisinya tersebut.

Kata-kata kunci: makna interpersonal, positioning (pijak kaki), tatabahasa fungsional, sajak pertemuan mahasiswa, W.S. Rendra,

Abstract: A poem sometimes reflects social realities in a society. When people in a society are having problems such as; having clashes between them, being threatened or mistreated by government or other problems, a poem is often used to show their feelings toward the problems. W.S Rendra, a popular poet who is well-known for his concern to people’s problem, often includes his idealism, or in other words, his position, towards the sides involving in the clashes. His positioning can be seen from the meanings found behind one of his poems “Sajak Pertemuan Mahasiswa” (a students gathering poem). Using lexicogrammatical approach, we are able to perceive his idealism/position towards the clash stated by the poem. This paper discusses status, affect and contact between W.S. Rendra and his readers related to the reality pictured by the poem.

Keywords: interpersonal meaning, positioning, functional grammar, “Sajak Pertemuan Mahasiswa” (a students gathering poem), W.S. Rendra,

A. Pendahuluan

Puisi sebagai salah satu bentuk karya sastra merupakan hasil kreatifitas pengarang dalam mendayagunakan kemampuan cipta, rasa dan karsa yang dimilikinya. Berbekal imajinasi, ekspresi dan penguasaannya terhadap lika-liku mengolah kata, seorang pengarang mampu mencipta banyak puisi. Ketika imajinasi, ekspresi maupun kemampuannya mengolah kata ia ujudkan sebagai sebuah entitas yang konkret, maka bentuk pertama yang terlihat sebagai sebuah karya adalah bahasa (atau tepatnya kata-kata) yang tersusun indah. Susunan kata-kata inilah yang kemudian kita kenal sebagai puisi. Uniknya, meskipun pengarang puisi (penyair) mampu mencipta beraneka ragam bentuk puisi, belum pernah ditemui mereka mampu meninggalkan media utama  pembuat puisi yaitu bahasa. Dengan demikian, dalam konteks penciptaan puisi ini, bahasa dipandang sebagai alat utama penyair untuk menciptakan karya seni yang imajinatif dengan segala unsur estetisnya yang dominan.

Bahasa dalam karya sastra utamanya karya puisi, memiliki kedudukan dan peranan yang amat penting. Teew (1988 :1), mengemukakan bahwa pada hakikatnya penyair dalam mengekspresikan pengalaman jiwanya harus dapat menguasai bahasa utamanya kosakata. Dengan penguasaan yang baik yang berhubungan dengan kosakata inilah seorang penyair akan mampu menjelmakan pengalaman jiwanya setepat-tepatnya. Dengan menguasai bahasa, seorang penyair tidak saja mampu mengungkapkan suatu gagasan dengan gaya bahasa yang elegan, tapi ia juga akan mampu menunjukkan idealismenya dengan ungkapan-ungkapan yang indah.

Cipta sastra berupa puisi bukanlah sekedar masalah bentuk jasmaniah yang ditunjukkan lewat bagaimana sebuah kata-kata atau rima-rima diharmonikan oleh seorang pengarang, tetapi lebih jauh dari itu, cipta sastra bertalian sangat erat dengan kecenderungan masing-masing penyair dalam berekspresi. Setiap penyair dalam membuat puisi pastilah akan memperlihatkan ciri-ciri tersendiri yang membedakan penyair tersebut dengan penyair lainnya. Setiap penyair, akan berusaha memperlihatkan ciri-ciri individualisme, originalitas, kepekaan terhadap sekitar, dan gaya bahasa khasnya masing-masing. Sayangnya, hanya penyair besarlah yang memiliki keempat ciri di atas. Salah satunya adalah almarhum W.S. Rendra.

Sebagai salah seorang penyair besar abad ini, W.S. Rendra memiliki seluruh bekal yang mampu mengantarkannya menjadi penyair besar. Ia tidak hanya pandai mencipta puisi maupun naskah drama, ia juga memiliki semangat yang luar biasa besar untuk mengembangkan dunia sastra nusantara. Tidak hanya itu, ia juga memiliki idealisme yang kuat dan sangat peka pada realita sosial yang ada di sekitarnya. Bahkan terkadang, karena idealismenya inilah menyebabkan ia seringkali berselisih dengan pemerintah. Perselisihannya dengan pemerintah tidak serta merta menyebabkan namanya tenggelam, bahkan karena perselisihan inilah yang kemudian mengantarkannya mendapat beberapa penghargaan baik itu nasional maupun sebagai seorang sastrawan berdedikasi tinggi dan konsisten menyuarakan keinginan rakyat.

Ketokohan Rendra di dunia sastra menyebabkan karya-karyanya kemudian diapresiasi, dikaji, maupun dikritik banyak orang. Dengan menggunakan banyak pendekatan diantaranya; kritik maupun teori sastra,  teori linguistik serta sosiologi, karya-karyanya diulas dalam banyak paper maupun tulisan-tulisan ilmiah lainnya. Meskipun karya-karya Rendra telah banyak dikaji, namun kajian-kajian tersebut masih jauh dari memadai untuk dapat memberikan generalisasi tentang siapa dan bagaimana sesungguhnya Rendra, serta apa dan bagaimana idealisme Rendra dalam memandang dunia utamanya dalam menangkap permasalahan yang ada di sekitarnya. Adanya pintu peluang yang terbuka lebar untuk memahami Rendra melalui karya-karyanya inilah menyebabkan penulis tertarik untuk ikut pula mengkaji karya-karya Rendra tersebut.

Dengan menggunakan bekal pengetahuan yang berhubungan dengan Tatabahasa Fungsional, penulis mengkaji satu di antara sekian banyak karya Rendra. Karya yang dikaji dalam paper ini adalah sebuah puisi berjudul “Sajak Pertemuan Mahasiswa (SPM).” Ada dua alasan mengapa puisi ini dipilih sebagai bahan kajian. Yang pertama adalah karena puisi ini dianggap memiliki pengaruh kuat dalam menginspirasi mahasiswa Nusantara untuk melakukan pergerakan. Yang kedua adalah puisi ini tidak seterkenal puisi-puisi Rendra yang lain sehingga tidak terlalu banyak yang mengakaji.

Untuk menjaga agar kajian puisi Rendra ini fokus, maka penulisan paper ini dibimbing oleh satu pertanyaan pokok antara lain: “bagaimana pihak-pihak yang terlibat langsung dalam puisi “Sajak Pertemuan Mahasiswa (SPM)” diposisikan?” Pisau analisis yang digunakan unuk menganalisis karya Rendra ini adalah Tatabahasa Fungsional (Sistemik Fungsional Linguistik (SFL)). Oleh sebab pisau analisis yang digunakan adalah linguistik, maka arah kajian paper ini terhadap karya Rendra inipun bersifat sistematik yang mengarah pada pola-pola deskriptif, dan bukan pada pola-pola apresiatif ataupun kritik.

Secara umum, paper ini dimaksudkan untuk menemukan bagaimana W.S. Rendra mengekspresikan ide-idenya dalam merespon masalah yang diangkatnya dalam puisinya yang berjudul “Sajak Pertemuan Mahasiswa (SPM).” Dalam teori Fungsional Linguistik, bagaimana seorang pelibat wacana (dalam hal ini penyair W.S. Rendra) mengekspresikan idenya, atau memposisikan dirinya dapat dilihat dengan menggunakan pendekatan makna interpersonal. Dengan demikian, frasa “Jejak Kaki” pada judul paper ini mengacu pada pemposisian (Positioning) W.S. Rendra dalam merespon permasalahan yang diangkatnya dalam puisinya melalui makna-makna interpesonal (tenor) yang terkandung dalam puisi SPM tersebut.

B. Sekilas Tentang Puisi “Sajak Pertemuan Mahasiswa”

Sebelum masuk pada bagian pembahasan, alangkah baiknya andaikata pada bagian ini diulas (meskipun tidak detail) tentang Sajak Pertemuan Mahasiswa (SPM). Dengan memiliki bekal umum tentang SPM, diharapkan dapat sedikit memberikan sumbangan informasi untuk dapat lebih memahami artikel ini.

Mengenai setting puisi SPM, banyak interpretasi yang muncul berkaitan dengan hal ini. Beberapa pendapat menyebutkan bahwa setting dari puisi ini adalah demonstrasi mahasiswa yang menuntut perbaikan. Ada juga yang menyebut bahwa setting puisi SPM tersebut adalah saat Rendra bertemu dan berdiskusi dengan teman-temannya sekelompok mahasiswa tentang orientasi pendidikan kampus mereka maupun kampus-kampus di Indonesia yang tidak benar. Di antara beberapa interpretasi mengenai setting puisi SPM, interpretasi yang terakhirlah yang digunakan sebagai sandaran paper ini.

Dengan bersandar pada pemilihan setting terakhir sebagai sandaran diskusi paper ini, maka secara umum SPM digambarkan sebagai puisi yang menceritakan tentang sekelompok mahasiswa (dengan Rendra di dalamnya) yang berkumpul dan mendiskusikan arah pendidikan kampus tempat mereka belajar sekarang. Mereka mempertanyakan maksud baik para pejabat rektorat, dekanat maupun dosen (dalam paper ini kita akan menggunakan istilah “pelaksana pendidikan tinggi” (PPT) untuk merujuk pada tiga komponen penggerak dunia kampus tersebut) yang mengajar mereka di bangku kuliah. Pelaksana pendidikan tinggi (PPT) memang menjalankan roda perkuliahan dengan baik, dan apa yang mereka beri/ajarkan adalah hal yang baik pula. Namun, karena kurang adanya visi dan misi yang jelas dari PPT di kampus mereka, maksud baik PPT menjadi tidak nampak, dikalahkan oleh bahaya yang bersembunyi di balik kurang terkonsepnya visi dan misi mereka. Kurang jelasnya PPT menetapkan visi dan misi kampus mereka, mengundang bahaya besar yang berhubungan dengan masa depan lulusan kampus mereka. PPT memang mengajar mereka dengan berbagai macam ilmu, tapi ilmu yang mereka ajarkan adalah ilmu yang berhubungan dengan kognitif saja, tanpa melibatkan ajaran akan nilai-nilai kemanusiaan dan kepekaan terhadap sosial. Mereka lupa untuk mengajarkan idealisme mencintai orang-orang yang lemah, melindungi rakyat kecil dan berbuat bijak ketika mahasiswa mereka telah menjadi orang besar.  Akibat lemahnya akan konsep visi dan misi inilah, selepas dari bangku kuliah, mahasiswa yang telah dibekali berbagai macam ilmu di bangku kuliah oleh PPT, kemudian entah secara sengaja maupun tidak sengaja menjadi alat para penguasa untuk menindas rakyat. Ilmu yang mereka dapatkan di bangku kuliah mereka digunakan bukan untuk membela yang lemah, namun untuk menguatkan pihak penguasa. Ini dibuktikan dari banyaknya petani yang kehilangan tanahnya karena digusur oleh orang-orang kuat, orang-orang pintar dan kaya yang kebanyakan adalah lulusan universitas.

Keadaan yang menyedihkan ini membuat sekumpulan mahasiswa tersebut berusaha mengkokohkan hati untuk menetapkan 2 pilihan yaitu; (1) apakah berdiri di pihak PPT yang meluluskan alumni yang tidak benar ataukah menentang PPT tersebut dengan memberikan kritik yang membangun, dan (2) apakah berada di pihak penguasa yang menindas rakyat jelata ataukah berada di pihak pelindung rakyat jelata yang lemah.

C. Sistemik Fungsional Linguistik (SFL)

Sistemik Fungsional Linguistik (SFL) memfokuskan kajiannya pada ranah analisis wacana. Teori ini menekankan pada makna sebagai elemen fundamental dalam menganalisis bahasa. Halliday (1985) menjelaskan bahwa teori sistemik ini adalah salah satu teori tentang pilihan makna, yang mana oleh sebuah bahasa atau sebuah sistem semiotik, teori ini diinterpretasikan sebagai sebuah jaring-jaring pilihan yang berhubungan antara jaring pilihan satu dengan yang lainnya. Ini berarti bahwa sebuah jaring pilihan dalam satu sistem dalam menggambarkan sebuah bahasa akan menjadi jalan (pintu masuk) bagi jaring pilihan lain untuk memahami bahasa tersebut. Karena itulah, dalam melihat potensi makna sebuah bahasa, SFL melakukan pemeriksaan dari fitur-fitur umum  hingga ke fitur-fitur yang paling spesifik. Apabila kita memeriksa makna dari bahasa itu sendiri, kita akan menemukan sejumlah pilihan makna yang terintegrasi di dalamnya. Pilihan makna ini secara lebih luas bergabung dengan jaring-jaring lain yang lebih independen. Jaringan independen inipun berhubungan aspek-aspek di luarnya yaitu fungsi dasar tertentu dari sebuah bahasa. Pada karakteristik yang lain, Halliday (1985) menyatakan bahwa fungsional yang dimaksud di sini mengacu pada bagaimana bahasa itu digunakan  dan tidak pada bagaimana bahasa itu dibentuk atau dibuat.

Dengan demikian, SFL berorietasi pada deskripsi dari bahasa sebagai sumber yang dapat digunakan untuk menentukan potensi makna yang muncul dari ucapan penutur. Martin (1992) menyatakan bahwa SFL adalah konseptualisasi dari bahasa sebagai sumber makna yang mencakup tiga elemen, yaitu; bahasa sebagai jaring-jaring hubungan, deskripsi yang menunjukkan bagaimana hubungan tersebut saling bersinggungan, dan yang terakhir adalah penjelasan yang mengungkapkan hubungan hubungan-hubungan tersebut dan fungsi dari hubungan-hubungan tersebut.

Dalam memahami teks, sangatlah penting bagi kita untuk mempertimbangkan faktor lingkungan yang membungkus keberadaan teks tersebut. Lingkungan inilah yang dalam konsep SFL disebut sebagai konteks (Halliday dan Hassan, 1985: 5). Konteks dalam hal ini dimaknai sebagai konteks budaya yang dinyatakan Malinowsky (dalam Halliday dan Hasan (ibid)) sebagai latar belakang yang lebih luas dari sebuah interpretasi teks. Konteks ini tidak hanya dimaknai sebagai lingkungan sekitar saja, namun lebih pada latar belakang alamiah dimana teks tersebut terjadi. Karenanya, dalam memahami teks, dua konteks harus menjadi pertimbangan memahami sebuah teks dalam masyarakat

D. Tenor Sebagai Realisasi Makna Interpersonal

Makna interpersonal memandang sebuah teks dari sudut fungsinya dalam proses interaksi sosial. Sebuah teks dianggap interpersonal bukan karena dijadikannya teks tersebut sebagai cara berpikir, namun lebih karena teks tersebut merupakan sebuah bentuk dari cara untuk melakukan sesuatu. Sebuah teks tidak hanya merupakan refleksi dari realita, tapi juga sebuah potongan dari interaksi antara penutur atau penulis (dalam hal ini penyair), dengan pendengar atau pembaca teks tersebut. (Halliday and Hasan 1985: 20).

Lebih jauh lagi Halliday menjelaskan bahwa makna interpersonal adalah sebentuk aksi dari penutur dan penulis yang dilakukan kepada pendengar atau pembaca dengan perantara bahasa (lebih tepatnya klausa-klausa tuturan). Fungsi interpersonal dari klausa-klausa ini adalah saling berbagi peran dalam interaksi retorik. Dengan kata lain, makna interpersonal merepresentasikan aksi dari partisipan pada partisipan lain dalam proses interaksi sosial mereka dengan menggunakan bahasa. Ekspresi makna interpersonal dapat dibangun dengan menciptakan hubungan antara organisasi semantik dengan perbedaan tatabahasa dalam sistem Mood dan struktur Mood dalam klausa. (Eggin, 1994:146)

Martin (1992:532) mendefinisikan Tenor sebagai negosiasi hubungan sosial antarpartisipan dalam sebuah komunikasi. Partisipan yang disebut di sini termasuk di dalamnya penulis, manusia, atau benda yang terlibat dalam teks. Dalam lingkup register, tenor adalah refleksi dari makna interpersonal. Tenor juga menjelaskan siapa saja pelibat komunikasi, karakter dari partisipan, dikenalnya bahasa yang digunakan dalam teks dan hubungan sosial yang signifikan yang berbentuk status, kontak dan pengaruh.

E. Analisis Pijak Kaki Rendra Melalui Pendekatan Status, Kontak, dan Affect

Teks puisi SPM terdiri atas 9 stanza (bait) dan memiliki 54 baris.  Adapun ke 54 baris tersebut dapat dilihat pada lampiran. Sebagai langkah awal untuk menemukan Tenor pada puisi SPM, terlebih dahulu klausa-klausa yang menjadi pembentuknya harus dilihat dan diperlakukan dengan seksama dengan cara memastikan berapa jumlah klausa pembentuk SPM dan apa saja jenis-jenisnya. Sayangnya, ada beberapa masalah yang muncul ketika kita mencoba melihat klausa-klausa tersebut, antara lain: (1) klausa-klausa pembentuk SPM disusun dengan menggunakan struktur yang unik karena terlibatnya faktor style Rendra, dan (2) batasan klausa menjadi samar karena terkadang satu klausa terdapat pada dua baris yang berbeda. Permasalahan ini menyebabkan pembagian klausapun menjadi sulit, dan menyebabkan munculnya tiga model pembagian yang berbeda.

Model pertama adalah dikenal sebagai model apresiasi orisinalitas, yaitu model yang berusaha untuk mempertahankan nilai keindahan dan orisinalitas puisi. Model ini memandang bahwa ke-54 baris puisi adalah 54 buah klausa yang berbeda. Model ini tidak menghendaki adanya rekonstruksi (perubahan apapun) terhadap ke-54 baris di atas dengan tidak berusaha untuk membuat baris-baris tersebut menjadi klausa-klausa yang normal yaitu dengan cara menggabungkan klausa satu yang ada pada satu baris dengan klausa lain yang ada di baris yang lain atau dengan menambahkan kata-kata dari luar teks (parafrasa).

Model kedua adalah model normalisasi yaitu berusaha memperlakukan baris-baris puisi sebagai klausa-klausa yang normal sehingga satuan-satuan klausa yang membentuk pusis SPM harus dipadankan (disamakan) dengan klausa-klausa normal yang biasa dituturkan masyarakat. Normalisasi ini menghendaki adanya penyesuaian-penyesuaian agar dapat membuat klausa-klausa yang ada dalam puisi SPM menjadi klausa normal; seperti melakukan merging (penyatuan) satu klausa yang berada dalam dua baris dalam puisi SPM dengan tanpa melakukan tindakan penyesuaian yang lebih jauh lagi (seperti melakukan parafrasa) agar klausa-klausa tersebut berterima dan terdengar wajar di telinga masyarakat.

Model ketiga adalah model parafrasa, yaitu model penyesuaian terjauh dengan menjadikan klausa-klausa yang ada dalam puisi menjadi klausa normal, berterima dan terdengar wajar. Langkah yang dilakukan adalah dengan cara memunculkan satuan-satuan lingual yang dilesapkan dalam klausa tersebut atau memasukkan unsur-runsur yang tidak terdapat dalam puisi seperti konjungsi, dan unsur-unsur lainnya.

Dari ketiga model generating klausa puisi di atas, paper ini mengunakan model kedua dengan dua pertimbangan. Adapun dua pertimbangan tersebut antara lain: (1) klausa yang ada dalam puisi pada hakekatnya adalah produk dari tuturan alami manusia, sehingga  apapun klausa yang dibuat manusia haruslah sesuai dengan bentuk tuturan alami, berterima, terdengar wajar, serta tidak dibuat-buat. Dengan melakukan merging tanpa melakukan penambahan lainnya, kealamian, keberterimaan dan keterdengarwajaran dari klausa-klausa pembentuk puisi SPM tersebut dapat dicapai, (2) puisi adalah karya individu yang orisinalitasnya wajib dipertahankan. Perubahan-perubahan berupa penambahan unsur-unsur lingual yang tidak ada dalam puisi dapat merubah nilai orisinalitas sebuah puisi. Perubahan-perubahan dengan cara merging masih dianggap wajar dan dinilai tidak merubah nilai puisi. Dengan menggunakan model ke-2, kita dapati puisi SPM tersusun atas 27 klausa yang memiliki konstruksi cukup variatif. Adapun ke-27 klausa tersebut terlihat pada bagian lampiran

Klausa-klausa yang digunakan untuk membangun teks tersebut dapat dibagi menjadi  lima jenis yaitu; (1) klausa minor (2) klausa simpleks, (3) klausa elipsis, (4) klausa kompleks hipotaktik, dan (5) klausa kompleks parataktik. Ke-5 klausa tersebut tersebar dalam 54 baris puisi dengan distribusi sebagai berikut: Klausa minor 1 klausa, klausa simpleks 6 klausa, klausa elipsis 3 klausa, klausa kompleks hipotaktik 2 klausa, dan klausa kompleks parataktik 15 klausa (lihat lampiran).

E.1. Status.

Seperti yang disebutkan di atas, bahwa pendekatan dalam penentuan posisioning ini adalah dengan menggunakan status, kontak dan pengaruh, maka pada bagian ini dan bagian selanjutnya, arah pembahasan dilakukan seputar tiga hal tersebut.

Status mengacu pada posisi antarpelibat wacana (dalam hal ini adalah pelibat yang berada dalam dimensi puisi Rendra) sesuai dengan hirarki sosialnya. Karena yang dianalisis paper ini adalah puisi SPM, maka status yang akan diungkap adalah status pelibat puisi seperti penyair (W.S. Rendra sendiri), mahasiswa-mahasiswa teman diskusi Rendra yang sedang berkumpul di sebuah tempat, pelaksana pendidikan tinggi (PPT), serta pembaca puisi SPM tersebut.

Untuk mengetahui mengenai aspek status ini, kita dapat menggunakan dua pendekatan yaitu dengan melihat (1) polaritinya, dan (2) sistem moodnya. Dengan mengetahui polaritinya (apakah W.S. Rendra sering menggunakan kalimat negatif (baik yang ditunjukkan dengan adanya negasi “tidak” atau tidak)), atau kalimat positif (yang ditunjukkan dengan adanya proposisi yang ia tawarkan, atau persetujuannya terhadap sebuah proposisi), maka kita dapat melihat apakah Rendra berada dalam posisi mendukung ataukah kontra terhadap sesuatu. Dengan mengetahui sistem moodnya, kita juga dapat mengetahui di mana posisi Rendra. Jika kalimatnya lebih banyak tersusun dalam bentuk imperatif (perintah untuk melakukan sesuatu), maka dipastikan, W.S. Rendra berada dalam posisi superior, sedangkan pelibat lain termasuk pembaca puisinya berada pada posisi inferior.

E.1.a. Polariti

Dari 27 klausa pembentuk puisi SPM, terdapat beberapa klausa yang mengarah pada pemposisian W.S Rendra terhadap permasalahan yang ada, yang ditunjukkan lewat aspek-aspek polariti. Adapun klausa yang mengandung aspek-aspek yang mengarah pada pemposisian dirinya adalah:

  1. kita bertanya : kenapa maksud baik tidak selalu berguna, kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
  2. orang berkata : “kami ada maksud baik” dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa?”
  3. dan kita di sini bertanya : “maksud baik saudara untuk siapa? saudara berdiri di pihak yang mana?”
  4. kenapa maksud baik dilakukan tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
  5. tanah – tanah di gunung telah dimiliki orang-orang kota
  6. perkebunan yang luas hanya menguntungkan segolongan kecil saja
  7. alat – alat kemajuan yang diimpor tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya
  8. tentu, kita bertanya : “lantas maksud baik saudara untuk siapa?”
  9. dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya : kita ini dididik untuk memihak yang mana?
  10. ilmu – ilmu diajarkan di sini akan menjadi alat pembebasan ataukah alat penindasan?
  11. cicak – cicak berbunyi di tembok dan rembulan berlayar, tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda, akan hidup di dalam mimpi, akan tumbuh di kebon belakang
  12. di bawah matahari ini kita bertanya : ada yang menangis, ada yang mendera ada yang habis, ada yang mengikis dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana!

Ke-12 klausa di atas menggambarkan cara Rendra untuk menunjukkan perasaan kotra/tidak sukanya pada produk PPT. Ke-12 klausa di atas hampir seluruhnya berbentuk klausa interogatif dengan polar positif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa unuk mengungkapkan ketidaksetujuannya pada PPT, Rendra lebih memilih menggunakan klausa interogatif dengan polar positif daripada dengan klausa imperatif, atau klausa interogatif dengan polar negatif.

E.1.b. Sistem mood

Elemen kedua dari analisis status adalah analisis mood. Dengan mengetahui sistem moodnya, maka akan dapat diketahui dimana posisi Rendra berada. Jika kalimatnya lebih banyak tersusun dalam bentuk imperatif (perintah untuk melakukan sesuatu), maka dipastikan, W.S. Rendra berada dalam posisi superior, sedangkan pelibat lain (termasuk pembaca puisinya) berada pada posisi inferior.

Berdasarkan sistem moodnya, 27 klausa pembentuk puisi SPM terbagi ke dalam 2 jenis yaitu (1) deklaratif, dan (2) interrogatif.  Klausa deklaratif sebanyak 19 buah, sedang lausa interogatif sebanyak 8 buah. Tidak dijumpai adanya klausa imperative dalam puisi SPM (Rincian terlampir). Pada data di atas, tidak jumpai adanya klausa imperatif yang turut membangun puisi SPM, sehingga dapat disimpulkan bahwa status dari Rendra selaku pencipta puisi SPM tidak berada pada posisi yang lebih tinggi dari pelibat-pelibat puisi SPM yang lain. Berdasarkan data di atas pula, informasi apakah statusnya Rendra dan pelibat lain berupa peer (setara) ataukah inferior juga dapat dikenali. Status hubungan antara Rendra dengan (1) rekan-rekan mahasiswa Rendra dan pembaca puisi SPM, ternyata berbeda dengan status Rendra dengan (2) PPT.

Status hubungan Rendra dengan rekan-rekan mahasiswa beserta pembaca puisi SPM adalah peer. Hal ini dapat dilihat dari hanya dipilihnya klausa deklaratif maupun interogatif untuk melakukan hubungan komunikasi. Status ini diperkuat oleh adanya penggunaan kata “kita” sebagai pronomina untuk merujuk pada dirinya, rekan-rekan mahasiswanya dan pembaca puisi tersebut. Adapun klausa-klausa yang mendukung simpulan ini adalah klausa 6, 7, 13, 18, 20, 24, 26, dan klausa 27.

Adapun Status hubungan Rendra dengan PPT juga dapat dilihat dari digunakannya klausa deklaratif dan interogatif ketika melakukan hubungan komunikasi dengan pihak ini. Klausa interogatif yang dibuatnyapun dibangun dengan menggunakan  konstruksi interogatif dengan base (dasar) WH umum tanpa disertai ekspresi inferior semacam “saya mohon anda terangkan kenapa…?” dan sejenisnya. Dari sinilah kita dapat melihat bahwa Rendra memposisikan dirinya setara dengan PPT.  Bedanya, jika status hubungan Rendra dengan mahasiswa maupun pembacanya adalah intim, status Rendra dengan PPT terlihat memiliki sekat. Ini secara umum dapat dilihat dari penggunaan kata “saudara” untuk mrujuk pada PPT dan petunjuk-petunjuk lainnya seperti penggunaan klausa interogatif yang dominan yang esensinya tidak untuk menanyakan informasi, tetapi meragukan beberapa proposisi seperti “niat baik” dan “keberpihakan PPT.”

E.2. Kontak

Kontak mengacu pada tingkatan hubungan institusional antarpelibat wacana, apakah hubungan mereka dekat (intim) ataukah tidak, sering berinteraksi ataukah tidak. Untuk mengetahui mengenai aspek kontak ini, kita dapat menggunakan dua pendekatan yaitu:   (1) dengan melihat penggunaan kata gantinya (pronominalisasi), dan (2) dengan melihat kata-kata benda yang digunakan (nominalisasi).

E.2.a. Pronominalisasi.

Pronominalisasi adalah teknik penggunaan kata ganti dalam wacana. Dalam puisi SPM, ditemukan beberapa pronomina yang dapat membantu kita dalam mengungkapkan posisi kontak Rendra dengan pembacanya. Beberapa klausa yang mengandung pronomina dapa dilihat pada daftar di bawah ini

  1. lalu kini ia dua penggalah tingginya dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini, memeriksa keadaan
  2. kita bertanya : kenapa maksud baik tidak selalu berguna, kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
  3. orang berkata : “kami ada maksud baik” dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa?”
  4. dan kita di sini bertanya : “maksud baik saudara untuk siapa? saudara berdiri di pihak yang mana?”
  5. tentu, kita bertanya : “lantas maksud baik saudara untuk siapa?”
  6. dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya : kita ini dididik untuk memihak yang mana?
  7. cicak – cicak berbunyi di tembok dan rembulan berlayar, tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda, akan hidup di dalam mimpi, akan tumbuh di kebon belakang
  8. sementara hari baru menjelma, pertanyaan – pertanyaan kita menjadi hutan atau masuk ke sungai menjadi ombak di samodra
  9. di bawah matahari ini kita bertanya : ada yang menangis, ada yang mendera ada yang habis, ada yang mengikis dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana!

Dari 9 klausa yang mengandung pronomina, kita dapat melihat sifat kontak antara Rendra dan pelibat puisi lainnya. Dalam puisinya, ketika Rendra merujuk pada dirinya serta pelibat puisi yaitu mahasiswa yang berada di depannya, ia menggunakan pronomina “kita.” Lebih jauh dari itu, jangkauan pronomina “kita” yang sangat luas, ternyata tidak hanya merujuk pada diri Rendra serta kumpulan mahasiswa yang menjadi teman bicaranya. Kata “kita” juga dapat merujuk pada pembaca puisi SPM. Dengan menggunakan pronomina”kita” Rendra seakan berusaha mendekatkan diri dengan pelibat puisi lainnya yaitu mahasiswa maupun pembaca dengan cara memasukkan dirinya ke dalam kelompok pelibat wacana tersebut. Dengan demikian, kontak Rendra dengan mahasiswa maupun pembacanya sangat dekat.

Di lain pihak ketika Rendra menyapa pelibat PPT ataupun penguasa, Rendra menggunakan pronomina saudara. Kata saudara secara umum ditujukan kepada seserang yang memiliki tingkat kontak komunikasi yang tidak terlalu sering (dekat), dan biasanya kata ini diucapkan dalam setting-setting formal yang jarang terjadi, seperti rapat, pertemuan ilmiah dan sejenisnya. Penggunaan pronomina ini juga menunjukkan bahwa Rendra sengaja tidak berusaha mendekatkan dirinya dengan pihak ini. Disamping itu, ketika Rendra menggambarkan penyebutan pihak ini pada dirinya sendiri dan kelompoknya, Rendra memilihkan pronomina “kami” dan  tidak menggunakan cara yang sama seperti yang ia lakukan ketika ia menyebut dirinya dan kelomoknya dengan menggunakan kata “kita.” Ini berarti Rendra tidak ingin terlibat dengan kelompok ini dan karenanya ia secara cerdik menggunakan kata “kami” agar Rendra tidak tercakup di dalamnya.

E.2.b. Nominalisasi

Pengetahuan tentang pemanfaatan nomina dalam puisi Rendra sangat penting untuk megetahui frekuaensi kontak Rendra dengan pembaca. Nominalisasi yang berbentuk sederana dan mudah dipahami menunjukkan kedekatan hubungan kontak tersebut. Seseorang yang memahami seluruh nomina yang disampaikan lawan bicaranya menunjukkan bahwa ia memiliki frekuaensi kontak yang sering karena ia sangat memahami apa yang dikatakan lawan bicaranya. Sebaliknya, seseorang yang kurang memahami percakapan karena kurang pahamnya ia akan beberapa nomina yang disampaikan laan bicaranya, atau atau karena kurang pahamnya ia akan struktur nomina tersebut, menunjukan bahwa ia memilki frekuansi kontak yang jarang dengan lawan bicaranya.

Dalam puisi SPM, kita jumpai beberapa nomina/frasa nomina di libatkan dalam pembentukan puisi Rendra. Ada 31 nomina/frasa nomina dijumpai dalam puisi SP. Ke-33 nomina/frasa nomina tersebut dapat dilihat pada daftar di bawah ini:

  1. Sajak Pertemuan Mahasiswa (klausa 1)
  2. matahari (klausa 2, 19, 22, 25, 27)
  3. bau kencing orok di kaki langit (klausa 3)
  4. kali coklat menjalar ke lautan (klausa 4),
  5. dengung di dalam hutan. (klausa 4)
  6. maksud baik (klausa 6,7, 13, 14, 18, 27)
  7. orang (klausa 7)
  8. pihak (klausa 13, 27)
  9. banyak petani (klausa 14)
  10. tanahnya (klausa 14)
  11. tanah – tanah di gunung (klausa 15)
  12. orang – orang kota (klausa 15)
  13. perkebunan yang luas (klausa 16)
  14. alat – alat kemajuan yang diimpor (klausa 17)
  15. petani yang sempit tanahnya (klausa 17)
  16. puncak kepala (klausa 19)
  17. udara yang panas (klausa 20)
  18. ilmu – ilmu (klausa 21)
  19. alat pembebasan (klausa 21)
  20. alat penindasan (klausa 21, 24)
  21. malam (klausa 23)
  22. cicak – cicak (klausa 24)
  23. tembok  (klausa 24)
  24. rembulan (klausa 24)
  25. pertanyaan kita (klausa 24, 26)
  26. mimpi (klausa 24)
  27. hari baru (klausa 26)
  28. hutan (klausa 26)
  29. sungai (klausa 26)
  30. ombak (klausa 26)
  31. samodra (klausa 26)

Ke-31 nomina/frasa nomina tersebut apabila diklasikasikan lagi berdasarkan jenis strukturnya dapat dilihat pada sebaran berikut ini:

No Jenis Struktur

Thing Thing-Poss Thing-Class N-Thing Thing-D/Thing-Class-D Thing-Clas-Epi Thing-Q Thing-Clas-Epi-Q
1. matahari tanahnya maksud baik banyak petani perkebunan yang luas Sajak Pertemuan Mahasiswa dengung di dalam hutan bau kencing orok di kaki langit
2. orang pertanyaan kita orang – orang kota udara yang panas
3. pihak puncak kepala petani yang sempit tanahnya
4. ilmu – ilmu alat pembebasan alat – alat kemajuan yang diimpor
5. malam alat penindasan kali coklat (yang) menjalar ke lautan
6. cicak-cicak hari baru tanah – tanah (yang) di gunung
7. tembok Keterangan:Thing   : head/nomina                 N       : nonspesifik daeksis

Class     : classifier                       Poss   : possesif

D          : demonstratif                 Epi    : epitet

Q           : quantifier

8. rembulan
9. mimpi
10. hutan
11. sungai
12. ombak
13. samodra

Dari sebaran ke-31 nomina/pronomina di atas, kita dapat melihat bahwa Rendra berusaha membuat dirinya dekat dengan pembaca dengan cara memasukkan struktur nomina/frasa nominal sesederhana mungkin. Dari 31 struktur nomina yang dilibatkan dalam puisinya, lebih dari separuhnya berbentuk struktur nominal sederhana. Terdapat 13 nomina yang tersusun dari Thing/nomina saja. Sebanyak 2 struktur nominal menggunakan konstruksi Thing-Possesif. 6 frasa nominal berstruktur Thing-Classifier.    1 frasa nominal berstrukturkan N-Thing. 6 frasa nominal bertrukturkan Thing-D/Thing-Class-D. Sedangkan struktur nominal yang agak kompleks  terdiri dari 1 frasa nominal berstrukturkan Thing-Class-Epi. 1 frasa nominal berstrukturkan Thing-Q, dan 1 frasa nominal berstrukturkan Thing-Clas-Epi-Q.

Selain dilihat dari strukturnya, kita dapat melihat dari pilihan nomina/frasa nominal yang dilibatkan Rendra ke dalam puisinya. Dari ke-31 nomina/frasa nominal, ada 3 nomina/frasa nominal yang mungkin dapat dikategorikan tidak umum (meskipun banyak juga yang menyatakan umum) yaitu frasa (1) “alat – alat kemajuan yang diimpor” (pada klausa 17) (kata impor adalah kata pinjaman dari bahasa Ingris, (2) “kali coklat menjalar ke lautan” (pada klausa 4) (kata menjalar memiliki nuansa metafora), (3) “bau kencing orok di kaki langit” (pada klausa 3) (kaki langit bermuatan metafora). Pemilihan nomina/frasa nominal yang sebagian besar umum ini memperlihatkan tingkat kontak Rendra dengan pembacanya yang dekat. Pembaca tidak perlu berpikir keras untuk memahami bahasa yang disampaikan Rendra karena bahasa yang digunakannya familiar (dekat).

E.3. Affect (Pengaruh)

Affect (pengaruh) mengacu pada tingkatan kontrol emosi dalam hubungannya antarpelibat wacana (Martin, 1992: 505). Affect yang didiskusikan di sini dapat meliputi perasaan suka, tidak suka atau netralitas dari Rendra terhadap permasalahan arah pendidikan di kampus. Ada dua cara untuk mengetahui affect dari Rendra yang tergambar dalam puisi SPM, yaitu dengan menggunakan pendekatan (1) melihat kata-kata emotifnya, dan (2) dengan melihat modalitasnya.

Kata-kata emotif di sini berkenaan dengan kata-kata yang berhubungan dengan perasaan seperti kata-kata yang termasuk dalam kategori interjeksi (kata seru), maupun kata-kata berkategori emotif seperti kata “suka,” “benci,” “tidak suka” dan sebagainya. Dengan melihat ada tidaknya kata ini serta seberapa frekuensi munculnya kata-kata emotif ini, kita dapat menentukan pijak kaki dari Rendra terhadap masalah dunia pendidikan di kampus; (1) apakah ia suka terhadap PPT, (2) apakah ia tidak suka dengan PPT, ataukah (3) apakah ia berada di pihak yang netral

Demikian juga penggunaan modal, seperti kata “bisa,” “harus,” dan sejenisnya, kita dapat melihat kadar emosi Rendra terhadap permasalahan yang dihadapinya. Semakin banyak ia menggunakan modal “harus” untuk melakukan sesuatu untuk satu pihak (dengan polar positif tentunya) semakin Rendra memiliki perasaan suka pada pihak tersebut. Semakin banyak Rendra mengunakan modal “harus” dengan polar negatif pada satu pihak, semakin Rendra memiliki perasaan tidak suka terhadap pihak tersebut. Dan andaikata Rendra lebih banyak menggunakan modal dengan tingkat obligasi (kewajiban) dibawah 50% seperti “seharusnya,” “bisa,” dan sejenisnya, maka Rendra memposisikan dirinya pada posisi netral.

E.3.a. Kata-kata Emotif

Pada puisi SPM, tidak banyak kata emotif yang gunakan oleh Rendra dalam mengungkapkan Affectnya. Adapun kata yang dinilai memiliki makna emotif terdapat pada klausa 8 yaitu kata “ya!” Kata “ya!” dalam hal ini berfungsi untuk menekanka keberadaan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ganjalan itu berupa penglihatannya terhadap adanya ketidakadilan dalam masyarakat ang diungkapkannya dalam klausa “ada yang jaya, ada yang terhina,” “ada yang bersenjata, ada yang terluka,” “ada yang duduk, ada yang diduduki,” “ada yang berlimpah, ada yang terkuras,” dan dengan menggunakan kata emotif “ya!” Rendra seakan-akan membenarkan bahwa ketidakadilan itu memang terjadi dalam masyarakat, dan karenanya, ia kemudian menutup pembenaran itu dengan menanyakan kepada para pelaku pendidik dimanakah posisi mereka, apakah yang berada dalam posisi superior ataukah inferior.  Apakah maksud baik mereka digunakan untuk (1) menjayakan yang hina, (2) menyembuhkan yang terluka dan memberinya senjata, (3) mengangkat yang diduduki dan memberi limpahan yang tekuras, ataukah sebaliknya, mendukung yang jaya, yang bersenjata, yang berlimpah dan yang menduduki. Dalam puisi SPM ini, kata “ya!” memiliki nilai emotif yang tinggi.

Selain kata emotif “ya!,” kata-kata lainnya yang dapat dikategorikan sebagai kata emotif adalah adalah frasa “kita bertanya.” Ada 7 klausa yang mengandung frasa “kita bertanya” yang memiliki fungsi mengungkapkan perasaan Rendra. Perasaan yang dimaksud di sini adalah perasaan keragu-raguan Rendra terhadap beberapa hal, antara lan: (1) keragu-raguan apakah maksud baik harus selalu baik dalam klausa “kita bertanya: kenapa maksud baik tidak selalu berguna, kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga” (2) keragu-raguan akan peruntukan maksud baik itu kepada siapa, apakah untuk yang berkuasa atukah untuk yang lemah, dalam klausa “orang berkata: “kami ada maksud baik” dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa?” (3) keragu-raguan akan keberpihakan maksud baik, dalam klausa “dan kita di sini bertanya: “maksud baik saudara untuk siapa? saudara berdiri di pihak yang mana?” (4) keragu-raguan akan peruntukan maksud baik dalam klausa “tentu, kita bertanya : “lantas maksud baik saudara untuk siapa?” (5) keragu-raguan akan arah pendidikan di kampus, dalam klausa “dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya : kita ini dididik untuk memihak yang mana?” (6) keragu-raguan pada peruntukan maksud baik Rendra, mau diberikan pada siapa, dalam klausa “di bawah matahari ini kita bertanya : ada yang menangis, ada yang mendera ada yang habis, ada yang mengikis dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana!”

Dari paparan tentang bahasa emotif di atas, meskipun dalam puisi SPM, tidak banyak ditemukan secara jelas kata-kata yang menunjukkan emotif, namun beberapa kata maupun frasa menjelaskan emosi Rendra terhadap pihak PPT dan penguasa. Dengan banyaknya kata tanya yang ditanyakan kepada yang berkuasa, Rendra seakan-akan secara implisit dan halus menyerang PPT dan penguasa lewat pertanyaan ironi. Dengan demikian, dengan menggunakan pendekatan bahasa emotif, dapat disimpulkan bahwa Rendra berada pada posisi kontraPPT dan penguasa dan pro pada rakyat yang tertindas.

E.3.b. Strategi Modalitas.

Dalam puisinya, Rendra tidak terlalu memanfaatkan strategi modalitas dalam mengungkapkan perasaan suka, tidak suka dan netralitasnya pada PPT dan penguasa. Dari 27 klausa yang membangun puisinya, hanya ditemukan 1 klausa yang menggunakan modal. Yaitu klausa 6, “kita bertanya : kenapa maksud baik tidak selalu berguna, kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga.” Modal “bisa” di sini memiliki fungsi yaitu menjelaskan kesanggupan untuk melakukan sesuatu, yaitu mampu berlaganya maksud baik dengan maksud baik yang lainnya. Uniknya, karena modal “bisa” ini berada dalam klausa interogatif, maka makna yang terkandung di dalamnya bukan lagi kesanggupan untuk melakukan sesuatu, tapi maka kesanggupan ini berubah menjadi sebuah ironi yang apabila diformulasikan dalam sebuah proposisi panjang, “tidak mungkin maksud baik dari seseorang dapat berseberangan dengan maksud baik dari orang lain, karena secara logika, maksud baik dari seseorang pastinya akan diterima dengan baik oleh orang lain tanpa menimbulkan pertentangan. Dan apabila maksud baik dari seseorang ternyata dapat bentrok dengan maksud baik orang lain, maka pastinya ada yang salah pada maksud-maksud baik tersebut, mungkin salah satunya salah, atau bahkan mungkin dua-duanya salah”

Dalam konteks terakhir ini, kita dapat menyimpulkan bahwa Rendra, tidak menggunakan strategi pemanfaatan modal secara optimal untuk menunjukkan perasaannya, sehingga pijak kakinya tidak terlalu terlihat dengan jelas.

F. Simpulan dan Kesan

Berdasarkan apa yang telah dibahas oleh paper ini, kita dapat menyimpulkan beberapa hal pokok yang tergambar dalam butir-butir simpulan di bawah ini, antara lain:

  1. puisi, utamanya puisi “Sajak Pertemuan Mahasiswa” dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan Sistemik Fungsional Linguistik (SFL) (Tatabahasa Fungsional)
  2. dengan menggunakan piranti-piranti yang ada dalam SFL, kita dapat menemukan pijak kaki (positioning) W.S. Rendra dalam puisi SPM.
  3. dalam puisi SPM tersebut dijumpai bahwa W.S. Rendra berada pada posisi mendukung rakyat tertindas, menentang penguasa penindas, menentang program pendidikan yang akan melahirkan sarjana yang nantinya menjadi pemimpin yang menindas, berada pada posisi intim (dekat) dengan pembaca puisinya, dan menjauhkan diri dari pihak yang disebutnya sebagai pihak pendidik yang kurang berorientsi kerakyatan
  4. piranti yang digunakan dalam menganalisis pijak kaki Rendra ini ada tiga yaitu        (1) status, (2) kontak, dan (3) affect (pengaruh).
  5. untuk mengetahui status, alat analisis yang digunakan adalah analisis polariti dan sistem mood kausa-klausa pembentuk puisi SPM.
  6. untuk mengetahui kontak, alat analisis yang digunakan adalah nominalisasi dan pronominalisasi.
  7. untuk mengetahui Affect (pengaruh), alat yang digunakan adalah pemanfaatan bahasa emotif dan penggunaan modal.
  8. kesan yang ditangkap penulis paper ini terhadap puisi SPM adalah “W.S. Rendra memiliki kemampuan membuat puisi yang baik, yang ditunjukkan lewat kemampuannya menyampaikan kritik terhadap PPT tanpa menggunakan cara-cara klasik seperti dengan cara memaki, mencerca dan menghina. Dalam puisi SPM, W.S. Rendra menyampaikan kritiknya lewat pertanyaan-pertanyaan idealis, ideologis, dan ironis yang menyerang. Kemampuan Rendra dalam mengolah kata-kata harus diakui baik karena ia mampu menggunakan kata-kata umum yang sedehana dengan struktur nominal yang sederhana pula tanpa melibatkan banyak majas, tapi lewat kesederhanaan itu dapat tercipta sebuah puisi indah dan sarat makna.

Referensi

Eggin Susan. 1994. An Introduction to Systemic Functional Linguistics. London: Printer Publisher.

Halliday, M.A.K. 1985. An Introduction to Functional Grammar. London: Edward Arnold Inc.

Hallday, M.A.K. 1985b. Spoken and Writren Language. Victoria: Deakin University, Press.

Halliday, M.AK and Hassan R. 1985. Language, Text and Context, Aspect of Language in a Social Semiotic Prespective. Victoria: Deakin University. Press

Martin, J.R. 1992. English Text, System and Structure. Philadelpia: John Benyamin Publishing Company.

Teew. A. 1988. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Wiratno, Tri.1994. Realisasi Lexicogramatika dan Makna Metafungsi dalam Teks Ilmiah. Surakarta: Fakultas Sastra. UNS.

–.–. W.S. Rendra. http://nusantaranews.wordpress.com/2009/08/06/ws-rendra-dan-sajak-sebatang-lisong/. Diakses 31 Juli 2010.

Lampiran 1: Teks Puisi Sajak Pertemuan Mahasiswa

Sajak Pertemuan Mahasiswa

1.  matahari terbit pagi ini

mencium bau kencing orok di kaki langit

melihat kali coklat menjalar ke lautan

4.  dan mendengar dengung di dalam hutan

5.  lalu kini ia dua penggalah tingginya

dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini

7.  memeriksa keadaan

8.   kita bertanya :

kenapa maksud baik tidak selalu berguna

kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga

orang berkata : “kami ada maksud baik”

12. dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa ?”

13. ya !

ada yang jaya, ada yang terhina

ada yang bersenjata, ada yang terluka

ada yang duduk, ada yang diduduki

ada yang berlimpah, ada yang terkuras

dan kita di sini bertanya :

“maksud baik saudara untuk siapa ?

20. saudara berdiri di pihak yang mana ?”

21. kenapa maksud baik dilakukan

tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya

tanah – tanah di gunung telah dimiliki orang – orang kota

perkebunan yang luas

hanya menguntungkan segolongan kecil saja

alat – alat kemajuan yang diimpor

27. tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

28. tentu, kita bertanya :

“lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”

sekarang matahari semakin tinggi

lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala

dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :

kita ini dididik untuk memihak yang mana ?

ilmu – ilmu diajarkan di sini

akan menjadi alat pembebasan

36. ataukah alat penindasan ?

37. sebentar lagi matahari akan tenggelam

malam akan tiba

cicak – cicak berbunyi di tembok

dan rembulan berlayar

tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda

akan hidup di dalam mimpi

43  akan tumbuh di kebon belakang

44. dan esok hari

matahari akan terbit kembali

sementara hari baru menjelma

pertanyaan – pertanyaan kita menjadi hutan

atau masuk ke sungai

49. menjadi ombak di samodra

50. di bawah matahari ini kita bertanya :

ada yang menangis, ada yang mendera

ada yang habis, ada yang mengikis

dan maksud baik kita

54. berdiri di pihak yang mana !

RENDRA
( Jakarta, 1 Desember 1977 )

Keterangan: Penomoran baris dilakukan untuk memudahkan analisis. Teks asli tidak bernomor.

Lampiran 2: Sebaran Klausa-klausa Pembangun Puisi SPM

  1. Sajak Pertemuan Mahasiswa
  2. matahari terbit pagi ini,
  3. mencium bau kencing orok di kaki langit,
  4. melihat kali coklat menjalar ke lautan, dan mendengar dengung di dalam hutan.
  5. lalu kini ia dua penggalah tingginya dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini, memeriksa keadaan
  6. kita bertanya : kenapa maksud baik tidak selalu berguna, kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
  7. orang berkata : “kami ada maksud baik” dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa?”
  8. ya!
  9. ada yang jaya, ada yang terhina
  10. ada yang bersenjata, ada yang terluka
  11. ada yang duduk, ada yang diduduki
  12. ada yang berlimpah, ada yang terkuras
  13. dan kita di sini bertanya : “maksud baik saudara untuk siapa? saudara berdiri di pihak yang mana?”
  14. kenapa maksud baik dilakukan tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
  15. tanah – tanah di gunung telah dimiliki orang – orang kota
  16. perkebunan yang luas hanya menguntungkan segolongan kecil saja
  17. alat – alat kemajuan yang diimpor tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya
  18. tentu, kita bertanya : “lantas maksud baik saudara untuk siapa?”
  19. sekarang matahari semakin tinggi lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
  20. dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya : kita ini dididik untuk memihak yang mana?
  21. ilmu – ilmu diajarkan di sini akan menjadi alat pembebasan ataukah alat penindasan?
  22. sebentar lagi matahari akan tenggelam
  23. malam akan tiba
  24. cicak – cicak berbunyi di tembok dan rembulan berlayar, tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda, akan hidup di dalam mimpi, akan tumbuh di kebon belakang
  25. dan esok hari matahari akan terbit kembali
  26. sementara hari baru menjelma, pertanyaan – pertanyaan kita menjadi hutan atau masuk ke sungai menjadi ombak di samodra
  27. di bawah matahari ini kita bertanya: ada yang menangis, ada yang mendera ada yang habis, ada yang mengikis dan maksud baik kita berdiri di pihak yang mana!


[1] Iqbal Nurul Azhar adalah Dosen FISIB Universitas Negeri Trunojoyo

Komentar
  1. Muhammad Isnaini mengatakan:

    Anilis ini sangat bagus …. jika ada buku yang terkait analisis ini tolong di kirimkan via email..thanks….

  2. halimatussakdiah mengatakan:

    Analisis anda bagus dan dapat dijadikan sebagairefrens dalam menganalisis wacana. saya berharap bila ada analisis lain tentang puisi tolonh kirimkan ke imailku. trims

  3. Gendhis manis mengatakan:

    Terima kasih ya infonya.. :) sangat membantu sekali

  4. amari mulya mengatakan:

    top banget
    , mohon kirim ke emai. terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s