JEJAK PROTOBAHASA AUSTRONESIA PADA BAHASA MADURA

(Kajian Bandingan Historis Terhadap Retensi dan Inovasi  Fonem Protobahasa Austronesia Pada Bahasa Madura)

Iqbal Nurul Azhar[1]

Dipublikasikan pada bulan Juni tahun 2010, di Jurnal Penelitian Bahasa: METALINGUA, Vol.8, No.1, Pusat Bahasa Bandung. ISSN 1693-685X

Abstraksi: Bahasa Madura merupakan anggota rumpun bahasa Austronesia. Sebagai bahasa yang merupakan anggota dari rumpun Austronesia, tentunya bahasa Madura memiliki persamaan maupun perbedaan baik itu dalam bentuk fonologis, leksikon, maupun grammatikalnya. Persamaan yang dimiliki bahasa Madura pastilah disebabkan pewarisan dan retensi unsur protobahasa Austronesia oleh penutur bahasa Madura. Perbedaan yang terjadi disinyalir terjadi karena masuknya berbagai anasir yang memberikan stimulus variasi dan perkembangan bahasa madura. Meskipun mengalami evolusi, perubahan dan persamaan ini tetap dapat dilacak yaitu dengan cara membandingkan fonem bahasa Madura dengan fonem protobahasanya yaitu protobahasa Austronesia. Retensi dan Perbedaan inilah yang akan dibicarakan secara seksama dalam artikel ini.

Kata-Kata Kunci: Bahasa Madura, Proto Bahasa Austronesia, Retensi, Inovasi

A. Pendahuluan

Kridalaksana (1983) dan Djoko Kentjono (1982) memberikan definisi pada sosok bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbriter yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerjasama, berkomunikasi dan mengidentifikasikan diri. Bahasa diturunkan oleh nenek moyang kita secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lain melalui proses yang panjang dan berkesinambungan. Panjangnya proses penurunan bahasa ini menyebabkan proses evolusi bahasa dapat terjadi. Evolusi dalam Cambridge Advance Learner’s Dictionary merujuk kepada proses perubahan dan perkembangan secara beransur-ansur yang terjadi dalam kurun waktu yang lama. Gabungan definisi bahasa dan evolusi ini menunjukkan bahwa bahasa adalah suatu sistem lambang yang dinamis dan tidak statis. Selama bahasa tersebut digunakan oleh penuturnya, bahasa akan berkembangan mengikut peredaran masa dan berubah sesuai dengan perubahan masyarakat penutur bahasa tersebut.

Perubahan bahasa sebagai fenomena yang bersifat umum dapat diamati melalui perubahan bunyi. Dengan kata lain perubahan ini secara mendasar dapat diamati pada tataran fonologis yang merupakan suatu tataran kebahasaan yang paling mendasar dan penting dalam rangka telaah bidang linguistik bandingan (Fernandez, 1996).

Linguistik Bandingan Historis memiliki fokus untuk menelaah dan menentukan klasifikasi genetis bahasa-bahasa di dunia. Cabang linguistik ini secara umum memiliki dua peran besar yaitu (1) mengelompokkan bahasa-bahasa atas rumpun besar dan kecil dan (2) merekonstruksi satu atau beberapa bahasa purba yang menurunkan bahasa modern. Disamping dua peran besar tersebut, terdapat satu peran tambahan yang dimiliki Linguistik Bandingan Historis yaitu berusaha menemukan tempat asal dan bangsa pemakai bahasa tersebut (Parera, 1991). Dengan hipotesis bahwa semua bahasa-bahasa di dunia memiliki kemungkinan berkerabat, para linguis yang berkecimpung dalam kajian ini melakukan berbagai macam penelitian. Dari beberapa penelitian yang dilakukan seperti yang dilakukan Gonda (1988), Blust (1986), Nothofer (1975) dan Fernandez (1996 dan 1997), ditemukan bahwa beberapa bahasa di dunia memiliki kekerabatan yang sangat erat.

Hubungan kekerabatan bangsa-bangsa ini dapat dibuktikan dengan rekonstruksi unsur-unsur reternsi (kesamaan atau pemertahanan) maupun inovasi (perubahan) dari bahasa asal yang disebut protobahasa baik pada tataran fonologi, leksikon, maupun grammatikalnya. (Masrukhi, 2002). Proto bahasa adalah suatu gagasan teoritis yang dirancang dengan cara sederhana yang dihubungkan dengan sistem-sistem bahasa sekerabat dengan memanfaatkan sejumlah kaidah (Bynon dalam Masrukhi, 2002). Dengan kata lain, evolusi suatu bahasa dapat dilacak dengan cara membandingkan bentuk terkini bahasa tersebut dengan proto bahasanya, yaitu dengan cara mengamati perubahan pada aspek yang paling sensitif untuk berubah yaitu pada tataran fonologisnya.

Ada dua langkah yang dapat diambil dalam menganalisa perubahan fonologis ini yaitu (1) mencari perangkat kognat (kata asal) untuk mencari hubungan kekerabatan antarbahasa. Pengetahuan tentang perangkat kognat ini bermanfaat besar untuk merunut relevansi historisnya, merumuskan kaidah-kaidah perubahan bunyi bahasa baik itu yang primer ”teratur” maupun yang sekunder ”tidak teratur” serta korespondensi bunyinya dari bahasa-bahasa tersebut, (2) setelah diketahui kaidah korespondensi bunyi atau perubahan bunyi, maka selanjutnya dapat dilakukan pemilihan leksikon bahasa sekarang yang merupakan kelanjutan dari proto bahasanya (Dyen dalam Fernandez, 1996).

Bahasa Madura merupakan anggota rumpun bahasa Austronesia. Sebagai bahasa yang merupakan anggota dari rumpun Austronesia, tentunya bahasa Madura memiliki persamaan maupun perbedaan baik itu dalam bentuk fonologis, leksikon, maupun grammatikalnya. Persamaan yang dimiliki bahasa Madura pastilah disebabkan pewarisan dan retensi unsur protobahasa Austronesia oleh penutur bahasa Madura. Perbedaan yang terjadi disinyalir terjadi karena masuknya berbagai anasir yang memberikan stimulus variasi dan perkembangan bahasa madura. Meskipun mengalami evolusi, perubahan dan persamaan ini tetap dapat dilacak yaitu dengan cara membandingkan fonem bahasa Madura dengan fonem protobahasanya yaitu protobahasa Austronesia. Retensi dan Perbedaan inilah yang akan dibicarakan secara seksama dalam artikel ini.

Secara umum, pembahasan perubahan fonem bahasa Madura dalam artikel ini dipandu oleh tiga pertanyaan besar yang berhubungan dengan perubahan fonem bahasa Madura. Adapun ketiga pertanyaan tersebut antara lain (1) bagaimana sistem fonologi bahasa Madura (2) retensi dan inovasi apakah yang terjadi pada fonem bahasa Madura dan (3) bagaimanakah jejak bahasa protobahasa Austronesia pada bahasa Madura.

Berdasarkan tiga rumusan masalah tersebut, maka struktur penulisan artikel ini terbagi menjadi tujuh bagian yaitu (a) pendahuluan (b) rumpun bahasa Austronesia (c) sistem tata suara bahasa Madura  (d) retensi dan inovasi fonem bahasa Madura (e) jejak protobahasa Austronesia pada bahasa Madura (f) simpulan (g) penutup.

B. Rumpun Bahasa Austronesia

Austronesia dalam definisi umumnya mengacu pada suatu daerah yang dimana bahasa-bahasa Austronesia dituturkan. Daerah tersebut mencakup pulau Taiwan, kepulauan Nusantara (termasuk Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia, dan Pulau Madagaskar. Secara harafiah, Austronesia berarti “Kepulauan Selatan” dan berasal dari bahasa Latin austrālis yang berarti “selatan” dan bahasa Yunani nêsos (jamak: nesia) yang berarti “pulau” (www.wikipedia).

Wilhelm von Humboldt (dalam Parera 1991) menunjuk pada kemiripan antara bahasa-bahasa Melayu-Polinesia dan menyebut kemiripan tersebut sebagai rumpun bahasa Melayu-Polinesia. Nama bahasa Melayu-Polinesia tetap digunakan sampai sekarang oleh beberapa pakar bahasa untuk merujuk pada bahasa-bahasa Austronesia. Penamaan bahasa Melayu-Polinesia kemudian ditolak oleh oleh Peter W. Schimdt (dalam Parera, 1991) pada tahun 1906 dalam bukunya “Die Mon-Khmer Volkerein Bindeglied Zwischen Volkern Zentralasiens und Austronesiens.” Schimdt tidak menerima istilah Melayu-Polinesia karena batas Melayu-Polinesia sangatlah sempit. Di sebelah barat wilayah tersebut masih ada bahasa-bahasa Melagasi dan di sebelah timur masih ada bahasa Maori, Hawai dan Rapuni yang memiliki status serumpun. Dalam bukunya pula, Schimdt menawarkan nama baru penyebutan bahasa yang berada dalam wilayah tersebut sebagai rumpun bahasa Austronesia. Disebut rumpun bahasa, karena banyak kosakatanya memiliki kemiripan baik dalam bentuk maupun artinya (kognat). Kemiripan ini dapat dilihat pada contoh di bawah ini:

Bahasa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Proto-Austronesia *esa/isa *duSa *telu *Sepat * lima *enem *pitu *walu *Siwa *sa-puluq
Paiwan ita dusa celu sepac lima unem picu alu siva ta-puluq
Tagalog isá dalawá tatló ápat limá ánim pitó waló siyám sampû
Ma’anyan Isa’ rueh telo epat dime enem pitu Balu’ suei sapuluh
Bugis seddi dua téllu eppa lima enneng pitu aruwa asera seppulo
Malagasy iráy róa télo éfatra dímy énina fíto válo sívy fólo
Aceh sa duwa lhee peuet limöng nam tujôh lapan sikureueng plôh
Toba Batak sada duwa tolu opat lima onom pitu uwalu sia sampulu
Bali sa dua telu empat lima enem pitu akutus sia dasa
Sasak esa due telu empat lime enem pitu’ balu’ siwa’ sepulu
Jawa Kuna sa rwa telu pat lima nem pitu wwalu sanga sapuluh
Jawa Baru siji loro telu papat lima nem pitu wolu sanga sepuluh
Sunda hiji dua tilu opat lima genep tujuh dalapan salapan sapuluh
Madura settong dhua tello’ empa’ léma’ ennem pétto’ ballu’ sanga’ sapolo
Melayu satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh
Minangkabau ciék duo tigo ampék limo anam tujuah salapan sambilan sapuluah
Rapanui tahi rua toru ha rima ono hitu va’u iva ‘ahuru
Hawaii `ekahi `elua `ekolu `eha: `elima `eono `ehiku `ewalu `eiwa `umi
Sinama issah duah talluh mpat limah nnom pitu’ Walu’ siam sangpu’

Sumber: www.wikipedia.com

Agak sulit untuk mendefinisikan struktur kekeluargaan dari bahasa-bahasa Austronesia karena rumpun bahasa Austronesia terdiri dari bahasa-bahasa yang sangat mirip dan berhubungan erat. Selain itu, jumlah bahasa yang termasuk dalam dalam rumpun Austronesia demikian besar sehingga proses pengklasifikasiannyapun demikian rumit. Dyen (dalam Pordjosoedarmo) memperkirakan bahwa jumlah anggota bahasa  Austronesia adalah 1/8 dari jumlah bahasa yang ada di dunia

Ada beberapa perdebatan di atara linguis dalam membagi bahasa Austronesia berdasarkan sub-sub yang lebih kecil. Pandangan kuno yang menggunakan pendekatan geografis membagi bahasa Austronesia ke dalam empat bagian yang lebih kecil yang disebut subrumpun yaitu Polinesia, Mikronesia, Melanesia, dan Indonesia (Anceaux, 1981). Teori ini kemudian dibantah oleh beberapa linguis yang membertimbangkan kondisi bahasa-bahasa Mikronesia yang telah mati sehingga pembagiannyapun tidak empat tetapi dua yaitu Polinesia dan Melanesia saja.  Schmidt,  Kern, (dalam Anceaux, 1981) adalah pendukung teori ini. Pembagian inipun mendapatkan bantahan dari teori linguis lain seperti teori yang diajukan oleh Dempwolf (dalam Poedjosoedarmo) dan Dyen (dalam Anceaux, 1981) yang memasukkan bahasa-bahasa yang ada di Nusantara seperti bahasa Maluku, Irian Jaya, Batak-Toba, Jawa, dan Melayu ke dalam subrumpun ketiga yaitu Indonesia. Dengan lebih detail Dempwolf (ibid) membagi bahasa Austronesia ke dalam tiga subrumpun dengan memasukkan bahasa-bahasa yang menjadi anggota dari subrumpun tersebut sebagai berikut: (1) Indonesia dengan anggotanya yaitu Tagalog, Batak-Toba, Jawa, Melayu, dan Dayak-Ngaju (2) Melanesia dengan anggota Hova (Malagasy), Fiji, dan San’an, dan (3) Polynesia dengan anggota Tonga, Futuna dan Samoa.

Linguis-linguis Indonesiapun tidak mau kalah dengan linguis luar negeri dalam menyumbangkan pemikiran mereka untuk mengkategorikan rumpun bahasa Austonesia ke dalam sub-sub yang lebih kecil seperti yang dilakukan oleh Parera (1991). Parera membagi Rumpun bahasa Austronesia ke dalam dua subrumpun yaitu subrumpun Austronesia Barat dan subrumpun Austronesia Timur. Secara detail pembagian subrumpun dan anggota subrumpun terlihat sebagai berikut:

(a)    Subrumpun Austronesia Barat

  1. Kelompok Malagasi
  2. Kelompok Austronesia Barat Laut dengan anggota: (1) subkelompok Formosa, (2) subkelompok Filipina, (3) subkelompok Chamoro, (4) subkelompok Palau,  (5) subkelomok Sangihe-Talaud, dan (6) subkelompok Minahasa.
  3. Kelompok Austronesia Barat Daya dengan anggota: (1) subkelompok Sumatra, (2) subkelompok Jawa (suku Madura, suku Jawa) (3) suku Borneo, (4) suku Bali-Sasak, (5) suku Gorontalo, (6) suku Tomini, (7) suku Toraja, (8) suku Loinang, (8) suku Banggai, (9) suku Bungku-Mori, (10) suku Sulawesi Selatan, (11) suku Muna-Butung, dan (12) suku Bima-Sumba

(b)   Subrumpun Austronesia Timur

  1. Kelompok Ambon-Timur dengan anggota: (1) suku Sikka-Solor, (2) suku Kedang-  Alor-Pantar, (3) suku Timor Timur, (4) suku Vaikenu, (5) suku Timor Barat, (6) suku Kupang, (8) suku Seram Timur, (9) suku Seram Barat, dan (10) suku Banda
  2. Kelompok Sula-Bacan dengan anggota: (1) suku Taliabu, (2) suku Sanana, dan (3) suku acan-Obi
  3. Kelompok Halmahera Seratan-Irian Barat

Dari pembagian yang dilakukan oleh Parera ini, kita dapat melihat bahwa bahasa Madura merupakan salah satu anggota dari bahasa Austronesia yang bernaung dalam subkelompuk Austronesia Barat Daya. Subkelompok ini merupakan salah satu anggota dari subrumpun Austronesia Barat

C. Bahasa Madura

Secara geografis, pulau Madura terletak pada 7˚ LS dan antara 112˚ dan 114 BT (Wiyata, 2002:2009). Di pulau ini terdapat empat kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang Pamekasan dan Sumenep. Pulau Madura dapat dikatakan sebagai pulau multietnik karena pulau ini tidak hanya didiami orang Madura saja, tapi juga didiami oleh orang Jawa, Sunda, Sumatera, Cina, dan Arab. Meskipun struktur masyarakatnya terdiri dari berbagai etnis, mayoritas dari populasi pulau ini adalah penutur asli bahasa Madura yaitu orang Madura dan bahasa komunikasi merekapun bahasa Madura (Azhar, 2008).

Diantara beragam bahasa daerah yang ada di Indonesia, bahasa Madura merupakan salah satu bahasa daerah yang terhitung besar. Hal ini disebabkan karena jumlah penuturnya berada dalam posisi keempat setelah penutur Jawa,  Melayu, dan Sunda. Penutur bahasa ini diperkirakan berjumlah lebih dari 7% dari keseluruhan populasi bangsa Indonesia. (Wikipedia, 2006). Dewasa ini, sekitar tiga hingga empat juta orang penutur bahasa Madura mendiami pulau Madura, sedang sisanya, sebanyak sembilan hingga sepuluh juta orang Madura tinggal di Jawa.  Kantong penutur bahasa Madura juga dapat dijumpai di Jakarta, Kalimantan, dan Sulawesi. (PJRN: 2006).

Bahasa Madura adalah bahasa yang unik. Selain karena mengenal tingkatan bahasa yaitu Enja’-Iyah (bahasa kasar), Enggi-Enten (bahasa menengah) dan Enggi-Bunten (bahasa halus), bahasa Madura memiliki karakter khusus terutama dalam kosakatanya yang banyak mengenal bunyi “letup” seperti kata saba’ (meletakkan) dan lagghu’ (besok). Karakter khusus yang lain adalah banyaknya konsonan yang muncul dalam sebuah kata semisal lebbhak (muara) dan bhajjrah (mujur). Dua keunikan ini menjadikan bahasa Madura berbeda dengan bahasa daerah lainnya. Apabila seseorang yang berasal dari suku bangsa lain mempelajari bahasa Madura, pada mulanya mungkin dia akan mendapati hambatan yang berhubungan dengan dua karakter tadi. Namun sisi positifnya, karena keunikan bahasa Madura inilah, sebuah kosakata dalam bahasa Madura apabila telah diingat dan dipahami maknanya tidak akan pernah dapat dilupakan oleh orang yang belajar bahasa Madura tersebut.

Di sekolah, bahasa Madura diajarkan dalam bentuk muatan lokal sejak tahun 1994. Pada saat itu posisi muatan lokal bahasa Madura masih belum jelas apakah menjadi sebuah mata pelajaran yang diwajibkan ataukah tidak. Baru ketika Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang disahkan pada tanggal 8 Juli 2003, posisi bahasa ini resmi menjadi salah satu mata pelajaran yang wajib diajarkan di sekolah (dasar dan menengah) (Azhar, 2009).  Resminya bahasa Madura menjadi bahasa yang wajib dipelajari di Sekolah Dasar dan Menengah di seluruh pulau Madura menyebabkan Pemerintah Kabupaten memiliki kewajiban yang penuh untuk mendukung program ini. Kewajiban itu kemudian dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Pemerintah Kabupaten setempat dengan membentuk tim perancang dan pengembang kurikulum bahasa daerah. Tim perancang dan pengembang kurikulum bahasa daerah lokal ini pada akhirnya menerbitkan buku ajar yang dipakai oleh seluruh siswa SD maupun SMP setempat.

D. Sistem Tata Bunyi Bahasa Madura

Fonem-fonem dalam bahasa Madura memiliki karakter khusus yang berbeda dibandingkan bahasa lain karena banyak fonem di bahasa tersebut yang memiliki sifat aspirat. Fonem beraspirat tersebut bersifat fonemik mengingat kemampuannya sebagai pembeda makna. Fonem beraspirat adalah salah satu ciri khas dari tata bunyi bahasa Madura. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa ciri lain tata bunyi bahasa Madura yang tergambar dalam bentuk-bentuk vokal, konsona maupun diftongnya.

D.1. Vokal dalam Bahasa Madura

Vokal adalah bunyi bahasa yang dalam proses pembentukannya arus udara yang mengalir dari paru-paru tidak mengalami hambatan oleh alat-alat ucap. Kualitas vokal ditentukan oleh tiga faktor yaitu: (1) tinggi-rendah posisi lidah, (2) bagian lidah yang dinaikkan, dan (3) bentuk bibir ketika mengeluarkan suara vokal tersebut.

Dalam Bahasa Madura (BM) terdapat enam vokal yaitu: /a/, /i/, /e/, /u/, /ə/ dan /כ/. Dilihat dari tinggi rendah posisi lidah dan bagian-bagian lidah yang dinaikkan, atau parameter tinggi-rendah dan depan-belakang, keenam vokal tersebut dapat digambarkan seperti tabel berikut:

Posisi Lidah Depan Pusat Belakang
Atas /i/ /u/
Tengah /e/ /ə/ /כ/
Bawah /a/

Dari gambar diatas kita dapat menyimpulkan bahwa berdasarkan tinggi rendahnya posisi lidah,  BM memiliki dua vokal atas (/i/ dan /u/), tiga vokal tengah (/e/, /ə/dan /כ/) dan satu vokal bawah (/a/). Berdasarkan bagian lidah yang dinaikkan, BM memiliki dua vokal depan (/i/ dan /e/), dua vokal tengah (/ə/ dan /a/), dan dua vokal belakang (/u/ dan /כ/). Berdasarkan bentuk bibir, BM mempunyai dua vokal bundar (/u/ dan /כ/) dan empat vokal tak bundar (/i/, /e/, /ə/, dan /a/. (Sofyan dkk, 2008). Contoh vokal-vokal tersebut ada dalam kata:

(1) /cabBi/        = cabai

(2) /ereŋ/          = samping

(3) /Dəpa?/       = sampai

(4) /kanna?/      = ke sini

(5) /Dujən/        = suka

(6) /cכlכ?/         = mulut

D.2. Diftong dalam Bahasa Madura

Diftong adalah bunyi bahasa yang pada waktu pengucapanya ditandai oleh tambahan gerak lidah dan perubahan tamber satu kali, dan yang berfungsi sebagai inti dari suku kata (Sofyan, 2008). Dalam BM terdapat tiga buah Diftong yakni: /ay/, /כy/ dan /uy/. Diftong /ay/ memiliki dua allofon yaitu [ay] dan [ăy] sehingga kadang para linguis menyebut BM memiliki empat buah diftong. Adapun contoh doftong tersebut dalam kata adalah:

(7)   /tapay/      = tape

(8)   /Gəbăy/     = buat

(9)  /kərBuy/     = kerbau

(10) /tamכy/      = tamu

(11) /apכy/       = api

D.3. Vokal dalam Bahasa Madura

Menurut artikulasinya, konsonan dalam BM dapat dikategorikan berdasarkan empat faktor, yaitu: (1) keadaan pita suara (2) daerah artikulasi (3) cara artikulasi dan (4) ada tidaknya aspirasi. Berdasarkan keadaan pita suara, konsonan dibedakan menjadi konsonan bersuara dan tak bersuara. Berdasarkan daerah artikulasinya, konsonan dibedakan atas konsonan bilabial, labiodental, alveolar, palatal, velar dan glottal. Berdasarkan cara artikulasinya konsonan dibedakan atas konsonan hambat, frikatif, nasal, getar, dan lateral. Berdasarkan ada tidaknya aspirasi konsonan dibedakan atas konsonan beraspirasi dan tak beraspirasi. Disamping itu ada lagi yang berwujud semi vokal, yakni bunyi bahasa yang secara praktis termasuk konsonan, tetapi dilihat dari artikulasnya belum membentuk konsonan murni.

Daerah Artikulasi Bilabial Labio Dental Dental/Alveolar Palatal Velar Glottal
Cara Artikulasi Tak Beras-pirasi Beras-pirasi Tak Beras-pirasi Beras-pirasi Tak Beras-pirasi Beras-pirasi Tak Beras-pirasi Beras-pirasi Tak Beras-pirasi Beras-pirasi
Hambat Takbersuara p t c k ?
T q
Hambat Bersuara b bh d dh j jh g gh
D Dh
Frikatif Takbersuara s š x h
Frikatif Bersuara z
Nasal Bersuara m n ň ŋ
Getar Bersuara r
Lateral Bersuara l
Semivokal Bersuara w y

(sumber: sofyan, 2008)

Pada tabel di atas nampak bahwa BM memiliki 31 konsonan yaitu: /p/, /t/, /T/, /c/, /k/, /q/, /?/, /b/, /d/, /D/, /j/, /g/, /bh/, /dh/, /Dh/, /jh/, /gh/, /f/, /s/, /š/, /z/, /x/, /h/, /m/, /n/, /ň/, /ŋ/, /r/, /l/, /w/, /y/. Adapun munculnya konsonan dalam kata dapat dilihat dari contoh di bawah ini:

Kode 

Jenis Konsonan 

Konsonan Contoh
a konsonan hambat bilabial /p/ (12)  /panכ/          = panu
/b/ (13)  /bəjə/           = waktu
/bh/ (14)  /bhətaŋ /       = bangkai
b konsonan hambat dental /t/ (15)  /tanəm/        = tanam
/d/ (16)  /dimmah/     = dimana
/dh/ (17)  /dhəbu/         = ucapan
c konsonan hambat alveolar /T/ (18)  /paTe/          = santan
/D/ (19)  /manDih/     = mandi
/Dh/ (20)  /Dhəmar/       = lampu
d konsonan hambat palatal /c/ (21)  /calכ?/        = golok
/j/ (22)  /jəreya/        = itu
/jh/ (23)  /jhəu/            = jauh
e konsonan hambat velar /k/ (24)  /kasep/         = terlambat
/q/ (25)  /qכmat/         = komat (sholat)
/g/ (26)  /gələjər/       = keluyuran
/gh/ (27)  /ghəjə/          = gajah
f konsonan hambat glotal /?/ (28)  /Dəpa?/        = sampai
g konsonan frikatif labiodental /f/ (29)  /hafal/          = hafal
h konsonan frikatif alveolar /s/ (30)  /settכŋ/         = satu
/z/ (31)  /zəkat/          = zakat
i konsona frikatif palatal tak bersuara /š / (32)  /iša?/            = waktu sholat
j konsonan frikatif velar tak bersuara /x/ (33)  /exlas/          = ikhlas
k konsonan frikatif glotal /h/ (34)  /ahat/            = hari ahad
l konsonan nasal bilabial /m/ (35)  /mancכ?/       = kotoran ungas
m konsonan nasal alveolar /n/ (36)  /nesər/           = kasihan
n konsonan nasal palatal /ň/ (37)  /ňerכan/         = lebah
o konsonan nasal velar /ŋ/ (38)  /ŋenכm/         = minm
p konsonan getar alveolar /r/ (39)  /rasכl/            = nama bulan
q konsonan lateral alveolar /l/ (40)  /laňכ?/           = hanyut
r semivokal bilabial /w/ (41)  /pכwa/           = lunak
s semivokal palatal /y/ (42)  /sateya/          = sekarang

E. Retensi dan Inovasi Fonem Bahasa Madura

Telah disebutkan di bagian depan bahwa bahasa Madura telah mengalami evolusi dari yang semula berbentuk protobahasa Austronesia, menjadi bahasa Madura seperti yang kita lihat sekarang ini. Selama proses evolusi ini terjadi, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi pada jenis-jenis kosakata maupun pengucapan bahasa Madura. Kemungkinan yang pertama adalah bahasa Madura masih tetap mempertahankan  dan mewarisi anasir protobahasa Austronesia. Ini berarti bahwa bahasa Madura masih tetap mempertahankan kaidah-kaidah linguistik bahasa protonya yaitu protobahasa Austronesia. Fenomena inilah yang dikenal sebagai retensi. Kemungkinan yang kedua adalah  terjadinya perbedaan jenis-jenis kosakata maupun pengucapan bahasa Madura dari bahasa protonya. Fenomena inilah yang dikenal sebagai inovasi. Perbedaan yang terjadi disinyalir terjadi karena masuknya berbagai anasir yang memberikan stimulus variasi dan perkembangan bahasa madura. Karena pokok kajian kita adalah tentang fonem bahasa Madura, maka fokus pembahasan bagian ini akan banyak menyentuh aspek fonologis.

E.1. Retensi Fonem PAN dalam BM

Beberapa fonem bahasa Austronesia masih dapat dilihat bentuknya secara utuh dalam fonem bahasa Madura modern. Kita dapat melihat keutuhan retensi fonem bahasa Madura ini melalui bentuk protobahasa Austronesia. Bentuk protobahasa Austronesia yang digunakan dalam artikel ini mengambil konstruksi protobahasa Austronesia yang diajukan oleh Dempwolff (1938), Dyen (1953) dan Dyen dan Mcfarland (1970)  (ketiganya dalam Wurm &Wilson, 1978)

Adapun fonem-fonem protobahasa Austronesian (PAN) yang retensif dan tetap digunakan secara utuh baik itu konsonan maupun vokalnya dalam bahasa Madura (BM) modern adalah:

E.1.a. Retensi Vokal PAN dalam BM

(a) *a > a

(43) * páqa?         >    pכkaŋ         = paha

(44) * naqnaq         >   nana = nanah

(45) * aŋka             >   angka?         = angkat

PAN /r/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

Ket:      tanda   * aa : menunjukkan bahwa itu adalah protobahasa

tanda   >        : menjadi

tanda /          : pada

pre#K­V___  : prepenultima (biasanya ada di kata dengan 3 suku kata)

#KV__         : penultima (biasanya ada di kata dengan 2 suku kata)

#KVK__      : penultima (suku kata kedua, dua konsonan diantara satu vokal)

___KV#             : ultima (suku kata akhir)

___KVK#          : ultima (suku kata terakhir, dua konsonan diantara satu vokal)

(b) *i > i /#KV­___  dan  *i > i /__KV#

(46) * binex           >    bine?          = perempuan

(47) * ñañi >    ñañi = bernyanyi

PAN /i/ mengalami retensi pada penultima dan ultima dalam BM.

(c) *u > u /#KV/KVK­___  dan  *i > i /__KV/KVK#

(48) * lembut >       ləmbu?/   = empuk

(49) * butbut          >    bhutbhut      = mencabuti

(50) * buhaN         >    buwəŋ        = buang

PAN /u/ mengalami retensi pada penultima dan ultima dalam BM.

(d) *e > e /__KV/KVK#

(51) * binex           >    bine?          = perempuan

(52) * liqer            >    le?er           = leher

PAN /e/ mengalami retensi pada ultima dalam BM.

E.1.b. Retensi Konsonan

(e) fonem /*b/ dengan rumus: *b > b /#KV­___  dan  *b > b /__KV/KVK#

(53) *butbut    > butbut           = mencabuti

(54) *tǔbuq     > tכmbu            = tumbuh

(55) *sábaq     > sabə              = sawah

PAN /b/ mengalami retensi pada suku kata kedua dari akhir (penultima) dalam BM.

(f)   *p > p /#KV­/KVK___  dan  *p > p /__KV/KVK#

(56) *pitu?       >    petTכ?              = tujuh

(57) *páqa?     >   pכkaŋ               = paha

(58) *?apa?      >    apah                 = apa

(59) *sapu?      >    sapכh               = sapu

PAN /p/ mengalami retensi pada penultima dan ultima dalam BM.

(g)  *t > t.

(60) * tanəm     >    tanəm               = tanam

(61) * qǔtek     >    כtəq                  = otak

(62) * pátéy     >    pateh                = mati

(63) * sebut >    səbbhut = sebut

PAN /t/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(h)  *k > k

(64) * kaka?    >    kaka?               = kakak

(65) * kǔlit       >    kכle?                = kulit

(66) * bálik >    bhəlik = balik

PAN /k/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(i)   *D > D/#KV­___  dan  *D > D /__KVK#

(67) * DaDa?  >    dəDəh              = dada

(68) * Dálem    >    Dələm              = dalam

PAN /d/ mengalami retensi pada penultima dan ultima dalam BM.

(j)   *h > h /__KVK#

(69) * taŋgah >    andhəh = tangga

(70) * qǔbih >    כbih = ubi

(71) * sapuh >    sapכh = sapu

PAN /h/ mengalami retensi pada ultima dalam BM.

(k) *s > s

(72) * siwa?     >    saŋa?                = sembilan

(73) * Rátǔs >    satכs = seratus

(74) * mosaq    >    mכsכ                = musuh

(75) * sapu?     >    sapכh               = sapu

PAN /s/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(l) *m > m

(76) * limá?      >    lema?               = lima

(77) * lembut    >    ləmbu?             = empuk

(78) * ?nǔm >    enכm = minum

(79) * maCá?   >    matah               = mata

PAN /m/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(m) *n > n

(80) * laun >    laכn = pelan

(81) * ?nǔm      >    enכm                = minum

(82) * tunu?      >    tכnכh                = panggang

PAN /n/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(n) *y > y

(83) * apuy >   apכy = api

PAN /y/ mengalami retensi pada ultima dalam BM.

(o) *l > l

(84) * limá?      >    lema?               = lima

(85) * laun >    ln = pelan

(86) * telu?       >    təllכ?                = tiga

(87) * béŋél >   teŋəl = tuli

PAN /l/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(p) *c>c/__KVK#

(88) * ?ucap     >   כca?                  = berbicara

PAN /c/ mengalami retensi pada ultima dalam BM.

(q) *r > r

(89) * rebuŋ     >    rebbhuŋ            = anak bambu

(90) * ñiur >    ñeכr = nyiur

(91) * tǔrun      >    tכrכn                 = turun

PAN /r/ mengalami retensi pada semua posisi dalam BM.

(r) * ñ > ñ /#KV­___  dan  *ñ > ñ /__KV#

(92) * ñiur              >  ñeכr             = nyiur

(93) * ñañi              >  ñañi              = nyanyi

PAN / ñ / mengalami retensi pada penultima dan ultima dalam BM.

(s) * ŋ > ŋ /#KV­___  dan  *ñ > ñ /__KVK#

(94) * rebuŋ >  rebbhuŋ = anak bambu

(95) * háŋin            >  aŋen             = angin

(96)   * aŋka           >  aŋka?           = angkat

PAN / ŋ  / mengalami retensi pada penultima dan ultima dalam BM.

(t) *? > ? /__KVK#

(97) * pitu? >  petTכ? = tujuh

(98) * limá? >  lema? = lima

PAN /?/ mengalami retensi pada ultima dalam BM.

Dari hasil analisi data terhadap kemunculan dan pemertahanan fonem protobahasa Austronesia dalam bahasa Madura dapat digambarkan sebagai berikut:

* a    >      a                            * ?    >      ?

* i     >      i                             * s     >      s

* u    >      u                            * m   >      m

* e    >      e                            * n    >      n

* p    >      p                            * l     >      l

* t     >      t                             * r     >      r

* k    >      k                            * ñ    >      ñ

* D   >      D                           * ŋ    >      ŋ
* h    >      h                            * c    >       c

* b    >       b                            * y    >       y

Fonem-fonem konsonan dan vokal di atas mengalami retensi pada semua posisi atau posisi tertentu. Disamping mengalami retensi, fonem-fonem tersebut mengalami inovasi yang akan dijelaskan sebagai berikut:

E.2. Inovasi Fonem PAN dalam BM

Beberapa fonem PAN mengalami perubahan atau inovasi dalam BM. Inovasi-inovasi tersebut dapat dianalisa dengan menggunakan pendekatan dua kaidah yaitu kaidah primer dan kaidah sekunder. Kaidah primer yaitu kaidah yang menjelaskan proses inovasi yang terjadi karena berubahnya satu fonem menjadi satu fonem lain yang terjadi secara berkesinambungan dan merata pada fonem BM, sedangkan kaidah sekunder adalah kaidah yang berhubungan dengan bentuk maupun letak dari perubahan fonem itu sendiri. Kaidah sekunder kadang acak atau sporadis dan kurang teratur Adapun kaidah-kaidah tersebut tersebut antara lain.

E.2.a. Kaidah Primer

(1) Inovasi Vokal PAN dalam BM

(a) Terjadi inovasi Substitusi yaitu pergantian satu bunyi dengan bunyi yang lain seperti pada peristiwa *u > כ /__KVK# dan /#KV­___

(99)   * telu?        >    təllכ?             = tiga

(100) * pitu?       >    petTכ?          = tujuh

(101) * ?ucap      >    כca?              = berbicara

(102) * puki        >    pכkeh            = kelamin perempuan

PAN /u/ mengalami inovasi Substitusi menjadi /  כ/ pada ultima dan penultima dalam BM.

(b) Inovasi fonem vokal berupa Partial Split terjadi pada *i > e / #KV/KVK­___  dan  *i > e /___KVK# serta *i > i #KV­___  dan  *i > i /___KVK/VK#

(103) * limá?       >    lema?            = lima

(104) * pitu?       >    petTכ?          = tujuh

(105) * kǔlit        >    kכle?             = kulit

(106)  * nipis       >    tepes             = tipis

(107) * binex       >    bine?             = perempuan

(108) * qǔbih      >    כbih               = ubi

(109) * záqit        >    jhəi?              = jahit

Partial Split adalah perubahan satu fonem menjadi dua fonem yang berbeda, namun satu fonem, masih menyisakan bentuk asalnya. Partial Split dapat digambarkan sebagai berikut:

e

* i

i

(2) Inovasi Diftong PAN dalam BM

(c) Terjadi inovasi Merger pada diftong *ei, *ay, dan *uy > h pada BM. Merger (penggabungan) adalah berubahnya dua atau beberapa fonem yang berbeda menjadi satu fonem yang sama.

(110) * Dahey >  Dəih = dahi

(111) * pátéy >  pateh = mati

(112) * tambay >  tambhəh     = tambah

(113) * linduy         >  lendhuh         = gempa

Merger  ei, ay, dan uy > h dapat digambarkan sebagai berikut:

*ei

*ay                /h/

*uy

a.2. Inovasi Konsonan PAN dalam BM

(d) Inovasi terjadi pada Fonem*y > j /__KVK#

(114) * kayuq        >  kajuh            = kayu

(115) * láyaR         >  lajər = layar

Fonem /y/ pada posisi ultima mengalami inovasi yaitu menjadi fonem /j/ dalam bahasa Madura.

(e) Inovasi berupa Merger  terjadi pada konsonan hambat seperti *d, *k, *t dan *p  > ?   Bukti perubahan tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut

(116) * Káwad >   kabə? = kawat

(117) * záqit >  jhəi? = jahit

(118) * ?aŋkat >  angka? = angkat

(119) * ?ucap >   כca? = berbicara

(120) * anak >  ana? = anak

Perubahan protofonem konsonan hambat t, k, d > ? terjadi pada ultima.

(f) Fonem *t ternyata tidak hanya mengalami inovasi merger yaitu *t > ?, tapi juga terjadi perubahan Partial Split karena ditemukan juga pada contoh lainnya bahwa *t > t

(121)*lembut >   ləmbu? = empuk

(122)*kǔlit >    kכle? = kulit

(123)*butbut >    bhutbhut = mencabuti

(124)*qasat >     asat = kering

PAN /t/ mengalami inovasi menjadi /?/ dan /t/ pada posisi ultima dalam BM.

(g) *z > jh /#KV­___

(125) *zárium   >   jhərum              = jarum

(126) *záqit >    jhəi? = jahit

(127) *zauq      >    jhəu                  = jauh

(128) *zálane   >    jhələn                = jalan

PAN /z/ mengalami inovasi menjadi /jh/ pada penultima dalam BM.

(h) *q > Ø

(129) *belaq >   bhəsa                = pecah

(130) *taqun    >    taכn                  = tahun

(131) *salaq     >    sala                  = salah

(132) *qasat     >   asat                   = kering

(133) *naqnaq >    nana                 = nanah

PAN /q/ mengalami inovasi mejadi fonem kosong (didrop) pada semua posisi dalam BM.

(i) *? > h /__KVK#

(134) * qǔbi?/        >  כbih = ubi

(135) * ?apa? >  apah = apa

(136) * taDá? >  tanDhəh = tanda

(137) * sapu? >  sapכh = sapu

(138) * DaDa? >  dəDəh = dada

(139) * tunu? >  tכnכh = bakar

(140) * lupa? >  lכppah = lupa

PAN /?/ mengalami inovasi menjadi /h/ pada posisi ultima dalam BM.

(j) *b > bh /#KV­___ dan __KV/KVK#

(141)*belaq >   bhəsa                = pecah

(142)*rebuŋ     >    rəbbhuŋ            = anak bambu

(143)*kembaŋ  >    kembhəŋ           = kembang

(144)*Rebaq    >    rכbbhu              = tumbang

(145)*sebut      >    səbbhut             = sebut

(146)*buRhu?  >    təmbhuruh         = cemburu

PAN /b/ mengalami inovasi mejadi /bh/ pada posisi ultima dan penultima dalam BM

E.2.b. Kaidah Sekunder

(1) Fortrisi

Fortrisi adalah perubahan sebuah fonem atau lebih menjadi fonem berbeda yang posisinya lebih lebih kuat (Crowle,1992), seperti konsonan lemah menjadi kuat atau  vokal rendah menjadi tinggi. Inovasi Fortrisi dapat kita jumpai pada BM seperti dicontohkan di bawah ini yaitu perubahab *w > j dan *y > j:

(147) *lawa      >    bəlabbəh          = laba-laba

(148) *káwad  >    kabə?               = kawat

(149) *walat     >    bələt                 = bahaya/kualat

(150) *kayuq   >    kajuh                = kayu

(151) *láyaR    >    lajər                  = layar

(2) Lenisi

Lenisi adalah inovasi yang merupakan kebalikan dari fortisi, yaitu perubahan sebuah fonem atau lebih menjadi fonem berbeda yang posisinya lebih lebih lemah (Crowle,1992), seperti /b/>/w/ atau /p>/f/. Lenisi yang paling ekstrim adalah hilangnya sebuah atau lebih suara (Crowle, 1992). Contoh inovasi lenisi terdapat dalam daftar di bawah ini:

(152) *salaq >       sala            = salah

(153) *sábaq >       sabə           = sawah

(154) *babaq >       bəbə           = bawah

(155) *tambaq >       tambə         = tambah

(156) *mosaq >       mכsכ          = musuh

(157) *salaq >       sala            = salah

(3) Apokope

Apokope adalah pelesapan bunyi-bunyi vokal pada akhir kata (Fernandez, 1994). Contoh inovasi apokokope dalam BM ada dalam contoh berikut:

(158) *batǔ?e      >       bətכh          = batu

(159) *cáŋise      >       tanges         = tangis

(160) *?ápuRe    >       kapכr         = kapur

(4) Sinkope

Sinkope adalah proses yang sangat mirip dengan Apokope. Sinkope mengacu pada pelesapan bunyi-bunyi vokal pada posisi engah kata. Sinkope inilah yang seringkali menyebabkan adanya gugus konsonan pada BM (Fernandez, 1994). Contoh inovasi Sinkope adalah:

(161) * epate      >       əmpa?        = empat           

(162) * zárium     >       jhərum        = jarum

(5) Haplologi

Haplologi merupakan sejenis perubahan bunyi yang penerapannya cenderung sangat sporadis dan jarang dijumpai. Haplologi mengacu pada penghilangan suku kata seutuhnya apabila suku kata tersebut berdampingan dengan suku kata yang identik sekurang-kurangnya mirip (Fernandez, 1994). Contoh inovasi Haplologi dalam BM adalah:

(163) * kulambu  >          klambu    = kelambu

(164) * karapu     >          krapכh     = sejenis ikan

(165) *balakaŋ    >          bləkaŋ     = belakang

(6) Asimilasi Progresif

Asimilasi Progresif adalah salah satu jenis Asimilasi yang mana  bunyi terdahulu dalam kata mempengaruhi bunyi setelahnya (Fernandez, 1994). Seperti contoh dalam BM:

(166) * betlis       >          bəttes      = betis

(167) * belf?        >          bəllih       = beli

(7) Unpacking/Pengenduran

Unpacking adalah sebuah proses perubahan fonetis yaitu dari sebuah suara menjadi dua buah suara yang berurutan yang masih menyisakan fitur-fitur dari suara asal (Crawle,1992).  Seperti contoh dalam BM:

(168) * puki >          pכkeh = alat kelamin perempuan

(169) * besi >          bəsseh = besi

(170) * tali >          taleh = tali

(171) * kali >          kalleh = gali

(8) Protesis

Protesis adalah istilah yang mengacu pada suatu tipe perubahan bunyi khusus yaitu ditambahkannya satu atau dua bunyi pada awal kata (Fernandez, 1994). Contoh inovasi Protesis adalah:

(172) * puluq >    sapכlכ   = sepuluh

(173) * lawa        >          bəlabbəh = laba-laba

(9) Geminat

Geminat adalah kaidah sekunder untuk menjelaskan proses penduplikasian konsonan. Kaidah ini tentu saja mengiringi perubahan lain yang terdapat dalam perubahan suatu etimon. Contoh inovasi Geminat adalah:

(174) *eneme      >          ənnəm     = enam

(175) *tebuSe     >          təbbhuh    = tebu

(176) * telu?        >          təllכ?       = tiga

(177) * walǔ?      >          bəllu?      = delapan

(178) * rebuŋ >    rəbbhuŋ   = anak bambu

(179) * peñu        >          pəññכh    = penyu

(180) * Rebaq     >          rכbbhu     = rubuh

(181) * sebut       >          səbbhut    = sebut

F. Jejak Protobahasa Austronesia Pada Bahasa Madura

Dari daftar etimon PAN yang ada dalam lampiran, kita dapat melihat bahwa hampir seluruh etimon PAN (yaitu sekitar 90%) yang terdaftar dalam lampiran, kognat dengan BM modern.

Kita juga dapat melihat bahwa ada beberapa etimon PAN yang tidak mengalami inovasi sama sekali dan terlihat demikian mirip dengan leksikon BM. Kemiripan PAN dengan BM inilah yang menjadi penguat status BM bahwa BM adalah bagian dari rumpun bahasa Austronesia. Kemiripan ini terlihat pada data di bawah ini:

NO DATA PAN BM GLOSS
2081 kaka? kaka? kakak
2101 ñañi ñañi nyanyi
2272 abuh abuh abu
2381 saka? saka? membajak
2701 taném tanem Tanam

Selain itu, dari analisis  yang telah dilakukan terhadap retensi dan inovasi PAN mejadi BM dalam artikel ini menemukan beberapa hal menarik antara lain:

  1. sebagian besar dari jumlah konsonan yang dimiliki PAN mengalami retensi pada BM dan sisanya mengalami inovasi yang masih dapat diterangkan berdasarkan kaidah tertentu. Konsonan PAN yang mengalami retensi adalah /s/, /m/, /b/, /n/, /p/, /l/, /t/, /r/, /k/, /ñ/, /D/, /ŋ/, /?/, /c/, /h/, dan /y/. Konsonan PAN yang mengalami inovasi adalah:/y, /d/, /k/, /t/, /z/, /q/, /b/, /p/, dan /?/
  2. vokal-vokal PAN juga masih tetap dipertahankan, seperti /a/, /i/, /u/, /e/. Vokal /i/ dan /u/ selain mengalami retensi juga mengalami inovasi. /*i/ berinovasi menjadi /i/ atau /e/, dan /*u/ berevolusi menjadi /u/ atau /כ/. Vokal כ yang dijumpai muncul dalam BM ternyata pada data etimon PAN tidak muncul. Tidak munculnya fonem  כ tersebut perlu dikaji lebih dalam apakah PAN memang tidak mengenal vokal כ ataukah memang linguis historis komparatif masih belum dapat merekonstruksi fonem PAN yang mengandung vokal tersebut.
  3. diftong /*ei/, /*ay/, dan /*uy/ bermerger menjadi /h/

Dari sinilah kita dapat menyimpulkan beberapa hal antara lain:

  1. pengkatagorian BM sebagai salah satu anggota bahasa Austronesia adalah benar adanya. Hal ini dapat dilihat dari presentasi kekognatan yang tinggi. Andaikata ada inovasi, inovasi ini terjadi secara beraturan dan dapat dijelaskan secara logis dengan menggunakan kaidah tertentu.
  2. persamaan maupun perbedaan yang terjadi pada BM adalah  hasil inovasi dan retensi PAN yang terjadi dalam proses evolusi BM dari PAN menjadi BM yang kita kenal seperti saat ini.
  3. bahasa Madura merupakan bahasa konsonan yakni banyak diantara kosakatanya terdiri dari gugus konsonan. Banyak linguis memandang fenomena ini sebagai fenomena unik yang menjadi ciri khas Bahasa Madura tanpa mampu menjelaskan mengapa fenomena ini terjadi. Padahal, dengan menggunakan kajian Historis Komparatif, kita dapat melihat keunikan ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
  4. sebagian besar konsonan PAN mengalami retensi sehingga berdistribusi nyata dalam pembentukan leksikon. Tidak hanya itu, evolusi yang terjadi pada BM menyebabkan munculnya konsonan-konsonan baru yang tidak ada pada PAN. Inovasi konsonan baru ini kemudian terlibat dalam inovasi linguistik tertentu dan akhirnya muncullah fenomena unik tersebut
  5. inovasi Sinkope terjadi dalam BM. Inovasi inilah yang menjadi penyebab sering munculnya gugus konsonan dalam leksikon
  6. inovasi Haplologi turut serta dalam menyumbang gugus konsonan, dan
  7. proses inovasi Geminat sangat banyak ditemukan dalam analisa inovasi BM. Inovasi inilah yang menjadi penyebab utama dari munculnya gugus kosakata BM modern

F. Simpulan dan Penutup

Dari Hasil kajian terhadap retensi dan inovasi fonem protobahasa Austronesia dalam Bahasa Madura ini kita dapat menyimpulkan bahwa ternyata refleks/jejak-jejak fonem protobahasa Austronesia masih terlihat jelas dalam Bahasa Madura. Kejelasan ini dapat dilihat dari beberapa hal antara lain: (1) presentasi kekognatan yang tinggi antara PAN dan BM, (2) beberapa leksikon PAN mengalami retensi sempurna sehingga sangat mirip dengan BM, (3) inovasi-inovasi yang muncul terjadi secara teratur dan dapat dijelaskan secara logis menggunakan kaidah-kaidah tertentu.

Semoga dengan adanya artikel ini, dapat menjadi inspirator bagi linguis lainnya untuk mengembangkan kajian Bandingan Historis Nusantara yang masih belum begitu dilakukan.

Kajian Pustaka

Anceaux, J.C. 1981. Teori-teori Tentang Tanah Asal Bahasa Austronesia. Diterjemahkan oleh Sudaryanto dari Bijdragen tot de taalland en volkenkunde, Deel 121, 4e Aflevering, ‘a. Gravenhage, Martinus Nijhoff, 1965, halaman 417 s.d. 428. serta hal. 429 s.d. 432 khusus bibliografi. Penyunting MLI Komisariat Universitas Gadjah Mada.

Azhar, Iqbal N. 2008. dalam Bahasa dan Sastra Dalam Berbagai Perspektif: Ketika Bahasa Madura Tidak Lagi Bersahabat Dengan Kertas dan Tinta. Halaman 9 Yogyakarta: Tiara Wacana

Azhar, Iqbal N. 2009. Konstruksi Gender dalam Buku Ajar Muatan Lokal Bahasa Madura. Dalam Jurnal Prosodi Volume 3 No 1 halaman 55. Sastra Inggris Unijoyo.

Blust, A. Robert. Telaah Komparatif Bahasa Nusantara Barat. Kumpulan Karya. Diterjemahkan oleh Bambang Kaswanti dan J. Collins. (Edisi Dwibahasa): Jakarta: Balai Pustaka, 1986

Blust, R. (1999). “Subgrouping, Circularity and Extinction: Some Issues in Austronesian Comparative Linguistics” dalam E. Zeitoun & P.J.K Li (Ed.) ‘Artikel-artikel pilihan pada Konference Internasional Linguistik Austronesia’ ke delapan  (pp. 31-94). Taipei: Academia Sinica.

Cambridge Advance Learner’s Dictionary

Crowle, Terry. 1992. An Introduction to Historical Linguistics. Auckland: Oxford University Press

Fernandez, Inyo, Yos. 1996. Relasi Historis Kekerabatan Bahasa Flores. Ende: Penerbit Nusa Indah

Fernandez, Inyo, Yos. 1994. Linguistik Historis Komparatif: Pengantar di Bidang Teori. Yogyakarta: tidak diterbitkan

Fernandez, Inyo, Yos. 1996. Persesuaian Subjek-Verb dalam Bahasa Mai Brat Dialek Ayamaru dan Lamohot Dialek Ile Mandiri. Artikel dimuat di Jurnal Humaniora Nomor III Tahun 1996. Universitas Gajah Mada

Fernandez, Inyo, Yos. 1997.Konstruksi Posesif Bahasa-bahasa Austronesia dan Non Austronesia di Kawasan Timur Indonesia: Studi Bandingan Bahasa Tetun (Timor-timur), Lamaholot (Flores Timur), dan Mai Brat (Kepala Burung). Artikel dimuat di Jurnal Humaniora Nomor V Tahun 1997. Universitas Gajah Mada

Gonda, J. 1988. Linguistik Bahasa Nusantara: Kumpulan Karya. Penerjemah: T.W. Kamil. Jakarta: Balai Pustaka, 1988

Kentjono (peny.) 1982. Dasar-dasar Linguistik Umum. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia

Kridalaksana, Harimukti. 1983. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Masrukhi, 2002. Refleksi Fonologis Protobahasa Austronesia (PAN) Pada Bahasa Lubu (LB). Artikel dimuat di Jurnal Humaniora Volume XIV Nomor 1 Tahun 2002. Universitas Gajah Mada

Nothofer, Bernd. 1975. The Reconstruction of Proto-Malayo-Javanic.’S-Gravenhage: Martinus Nijhoff

Parera, Jos, Daniel. 1991. Kajian Linguistik Umum Historis Komparatif dan Tipologi Struktural. Jakarta: Erlangga

PJRN . 2006. Madura of Indonesia. www.joshuaproject.net. diakses 3 Mei 2006

Poedjosoedarmo,  Soepomo. tanpa tahun. Keluarga Besar Bahasa Austronesia. tanpa penerbit

Sofyan, A. dkk. 2008. Tata Bahasa Madura. Sidoarjo: Balai Bahasa Surabaya

www.wikipedia.com. 2009. Rumpun Bahasa Austronesia. Diakses 12 November 2009

http://www.wikipedia.com 2006.   Madurese Language. Diakses 3 Mei 2006

Wiyata, A Latief. 2002. Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura. Yogyakarta: LkiS

Wurm, S.A&Wilson,B. 1976. English Finderlist of Reconstructions in Austronesian Languages. Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University


[1] Dosen Sastra Inggris Universitas Negeri Trunojoyo Madura

Komentar
  1. Wahyu Widodo mengatakan:

    Betul-betul blog yang patut menjadi rujukan yang otoritatif dalam linguistik. Selamat ya Sobat anda mengalami percepatan metamarfosis keilmuan opo kuwi hehheheheh….Apik-apik banget…suwun. wasalam.

  2. Musthafa Amin mengatakan:

    Tulisan yang menarik Pak Iqbal. Menabi eparengaghi, abdinah nyo’onah file lengkappah. Mator selangkong…

  3. nvitahyukjae mengatakan:

    terimakasih kakak tulisannya bener2 ngebantu…..
    terimakasih sekaliiiiiiiiiiiii :D

  4. Qiran mengatakan:

    Tulisannya sangat bermanfaat…

  5. Muhammad Mirza mengatakan:

    Semoga ini bisa menambah wawasan kita http://protomalayans.blogspot.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s