STYLE BAHASA SMS

Iqbal Nurul Azhar[1]

Dipublikasikan pada bulan Desember di jurnal METALINGUA, 2010, Vol 8, no 2, ISSN 1693-685X. No Akred 293/Akred-LIPI/P2MBI/2010

Abstrak: Kehadiran alat komunikasi telepon seluler (ponsel) membawa banyak perubahan dalam masyarakat. Perubahan ini terlihat jelas pada aspek-aspek komunikasi manusia. Dengan adanya ponsel, masyarakat dapat berkomunikasi dan berbahasa tanpa batas. Dengan menggunakan fasilitas ponsel baik itu voicecall, videocall, MMS maupun SMS, mereka dapat berkomunikasi kapan saja dan di mana saja. Layanan SMS, sebagai salah satu fitur dari ponsel, dibatasi oleh jumlah huruf (karakter). Keterbatasan ruang tulis ini mendorong masyarakat untuk menjadi kreatif dalam menuangkan ide-ide mereka dalam kalimat-kalimat SMS. Mereka kemudian memotong pendek kalimat mereka, mencampur huruf dengan angka, atau menggunakan simbol-simbol, untuk mengatasi keterbatasan karakter penulisan SMS tersebut. Kreatifitas ini kemudian melahirkan sebuah gaya bahasa baru di yang disebut sebagai  gaya bahasa SMS. Sayangnya, karena tidak adanya konvensi tentang bagaimana cara menulis SMS, menyebabkan tiap-tiap orang menncipta dan mengembangkan gaya SMS mereka sendiri-sendiri. Akibatnya, ada banyak gaya SMS dijumpai dalam masyarakat. Fenomena ini tentu saja menarik untuk dikaji. Dengan menggunakan pendekatan linguisik, sebuah studi tentang SMS dilakukan. Artikel ini adalah hasil dari studi tersebut. Artikel ini berupaya mengungkap beberapa gaya ber-SMS tersebut.

Kata-kata kunci: ponsel, SMS, gaya/style bahasa ber-SMS

Abstrak: The invention of cellphone leads society to change.  The change can be seen clearly in the aspects of communication. By using cellphone, people are able to communicate and utilize their language limitless. By using cellphones’ features such as voicecall, videocall, MMS or SMS, they are able to communicate anytime and anywhere. SMS service, one of the cellphone’s features, is limited by the number of characters. This limit forces people to be creative in arranging their ideas in the form of sentences in SMS. They, then clip the sentences, mix letters with numbers, put symbols and so forth in order to overcome character’s limit problem. This kind of creativity leads them to invent a new language the so called SMS language. Unfortunately, since there is no convention about how to write SMS, every people tends to invent their own style in writing SMS. As a result, many styles in writing SMS are found. This phenomenon is very interesting to study. Based on linguistic approach, the writer of this article conducted a small research about SMS. This article is the result of the research. It tries to give a clear description about several styles of SMS.

Keywords: cellphones, SMS, style

I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Perkembangan teknologi komunikasi telah membawa dampak yang sangat luas dalam kehidupan manusia. Kehadiran alat komunikasi seperti telepon seluler (ponsel) misalnya, dengan segala kelebihannya telah membuat banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dengan adanya ponsel, komunikasi antar individu pada aspek-aspek kehidupan tersebut telah menjadi semakin praktis, murah, mudah, serta tidak mengenal batas waktu dan tempat. Cukup dengan menekan perintah call untuk menghubungi seseorang yang namanya terekam di phonebook kita atau  cukup dengan mengetik pesan singkat atau SMS (Short Message Services), sebuah komunikasipun terjadi. Di antara dua bentuk komunikasi tersebut, SMSlah, yang paling banyak diminati karena faktor murahnya. Dengan alasan inilah, budaya komunikasi lisan pada akhirnya banyak digantikan oleh SMS, yang artinya secara teknis SMS memang merupakan implementasi dari budaya tulis (keberaksaraan), tetapi secara substantif, SMS tidak dapat dipisahkan dari dimensi dan konteks kelisanan (Saputra 2004:321).

Sesuai dengan namanya Short Message Service (Layanan Pesan Pendek), penulisan SMS adalah berbentuk pesan-pesan teks yang pendek. Layanan SMS memang dibatasi oleh jumlah huruf (karakter), dan itulah sebabnya mengapa penulisan SMS perlu disingkat. Karena terbatasnya ruang tulis inilah yang kemudian melahirkan sebuah bahasa baru di kalangan masyarakat kita yang disebut sebagai bahasa SMS.

I.2. Masalah

Keterbatasan layanan SMS menyebabkan masyarakat kemudian berusaha menemukan gaya penulisan yang pas dalam menyampaikan informasi. Sayangnya, karena tidak adanya konvensi tentang penulisan SMS untuk menyingkat pesan,  menyebabkan tiap orang memiliki cara mereka sendiri-sendiri dalam merangkai kata. Cara-cara merangkai individualis ini (ditambah faktor kebiasaan), pada akhirnya menjadi sebuah gaya yang khas, melekat kuat pada seseorang dan sukar sekali dirubah. Akibatnya, identitas seseorang dapat dikenali dari gaya SMSnya.

Semakin lama, gaya SMS individu maupun kelompok semakin berkembang. Melalui proses interaksi dan sharing gaya antarpengirim SMS, bahasa SMS menjadi kompleks dan tidak lazim. Ketidaktidaklaziman atau ketidakumuman bahasa SMS ini jelas sangat menantang untuk dikaji. Karena menantang untuk dikaji inilah maka artikel ini ditulis. Dengan menggunakan pendekatan stilistika, data yang didapat dianalisis, diklasifikasi dan diperikan secara seksama untuk kemudian dilaporkan dalam bentuk artikel.

I.3. Tujuan

Sesuai dengan judul dan latar belakang di atas, maka artikel ini mengkaji SMS melalui pendekatan stilistika. Diambilnya stilistika sebagai pisau analisis SMS didasarkan pada dua pertimbangan, yaitu: (a) kajian bahasa SMS dengan menggunakan stilistika jarang dilakukan, karena kebanyakan para linguis yang tertarik untuk menganalisis bahasa SMS, lebih cenderung menggunakan pendekatan Tatabahasa, Semantik, Sosiolinguistik, Pragmatik atau Analisis Wacana, (b) adanya anggapan yang menyatakan bahwa Stilistika tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa SMS, (disebabkan oleh SMS adalah bukan karya sastra) menantang peneliti untuk membuktikan bahwa SMS dapat dianalisis dengan menggunakan Stilistika.

Untuk memberikan batasan serta mempertajam analisis data, maka artikel ini dipandu oleh dua pertanyaan mendasar. Adapun dua pertanyaan tersebut adalah: (a) Dapatkah bahasa SMS dikaji melalui perspekif stilistika? (b) Style-style (gaya-gaya) apa sajakah yang dapat dijumpai dalam SMS masyarakat?

I.4. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil akhir penelitian ada dua yaitu: (1) pernyataan tentang dapat tidaknya bahasa SMS dianalisis dengan menggunakan Stilistika, serta (2) perian tentang style-style bahasa SMS masyarakat. Tidak ada perhitungan angka yang dilibatkan dalam kaitannya untuk menemukan dua hasil akhir tersebut. Data di dapat melalui dua cara yaitu melalui cara dokumentasi SMS yang didapat peneliti dari kolega dan cara kajian pustaka dari data-data yang ada pada artikel dengan topik sejenis. Setelah data didapat, data kemudian diklasifikasi berdasarkan jenisnya. Analisis data  menggunakan metode Identitas dengan teknik dasar Teknik Pilah Unsur Penentu (PUP) dengan alat pilahnya adalah otografis, dan langue lain. Hasil penelitian dsajikan dengan menggunakan metode informal yaitu dengan menggunakan bahasa biasa tanpa mengikutsertakan simbol-simbol (Sudaryanto, 2001:21-30)..

II. PEMBAHASAN

II.1. Dapatkah Bahasa SMS Dikaji Melalui Perspektif Stilistika?

Sebelum kita menjawab pertanyaan di atas, alangkah baiknya apabila kita memahami dahulu tentang definisi dari Stilistika menurut pendapat beberapa pakar. Dengan memahami definisi ilmu ini, kita akan dapat memiliki bekal dalam menentukan apakah bahasa SMS dapat dikaji melalui perspektif ilmu Stilistika atau tidak.

Stilistika ialah bagian dari linguistik yang memusatkan perhatiannya pada variasi penggunaan bahasa, terutama bahasa dalam kesusastraan (Junus, 1989: xvii). Widdowson (1975: 3) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Stilistika adalah kajian wacana sastra dengan menggunakan pendekatan linguistik. Selain mendefinisikan Stilistika, Widdowson menambahkan fungsi Stilistika sebagai mediator antara ilmu Linguistik dan ilmu Sastra (1975:117)

Senada dengan Widdowson, Ratna (2009:3), menyatakan bahwa Stilistika adalah ilmu tentang gaya bahasa (style). Lebih jauh lagi Ratna memaparkan lima hal yang mungkin dapat mencakup keseluruhan definsi Stilistika antara lain: (1) ilmu tentang gaya bahasa (2) ilmu interdisipliner antara linguistik dengan sastra (3) ilmu penerapan kaidah-kaidah linguistik dalam penelitian gaya bahasa (4) ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra (3) ilmu yang menyelidiki pemakaian bahasa dalam karya sastra, dengan mempertimbangkan aspek-aspek keindahannya sekaligus latar belakang sosialnya.

Sejalan dengan pendapat di atas Kridalaksana (1982: 157) mendefiniskan Stilistika sebagai: (1) ilmu yang menyelidiki bahasa yang digunakan dalam karya sastra, dan (2) penerapan linguistik pada penelitian gaya bahasa.

Dari beberapa definisi yang diberikan oleh kelima pakar di atas, terdapat beberapa kesamaan dalam mendefinisikan Stilistika yaitu: (1) objek kajian Stilistika adalah wacana sastra, dan (2) pisau analisisnya adalah linguistik. Dua kesamaan yang telah disebutkan seakan-akan menjadi pembatas objek kajian Stilistika bahwa Stilistika hanya mengkaji wacana sastra saja.

Lantas, bagaimanakah dengan wacana lain semisal jargon politik dalam spanduk-spanduk kampanye, atau wacana iklan di Surat kabar yang isinya sebagian besar bukan merupakan wacana sastra? Tidak dapatkah wacana tersebut diteliti dengan menggunakan pendekatan Stilistika? Jika mengacu pada definisi-definisi di atas, secara bulat kita dapat menyimpulkan bahwa wacana jargon politik yang ada di spanduk kampanye, maupun wacana iklan yang ada di surat kabar karena bukan merupakan wacana sastra, tidak dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan Stilistika, sehingga tertutup pula kemungkinan wacana-wacana lain yang serupa, seperti wacana SMS yang akan dianalisis pada artikel ini, untuk dapat dianalisis dengan menggunakan pendekatan Stilistika.

Tidak dapatnya wacana jargon politik, wacana iklan di surat kabar, dan wacana SMS dianalisis dengan menggunakan pendekatan Stilistika yang disebabkan adanya kebekuan definisi ilmu Stilistika terkesan janggal, mengingat definisi Style sebagai core (inti) kata dari Stilistika memiliki cakupan yang demikian luas tak terbatas. Gaya atau style dalam Cambridge Advanced Learnear’s dictionary secara harfiah dimaknai sebagai ”a way of doing something, especially one which is typical of person, group of people, place or period” (cara untuk melakukan sesuatu, khususnya yang menjadi ciri khas seseorang, sekelompok masyarakat, tempat maupun periode tertentu). Lebih jauh lagi Satoto, (1989:36) mendefinisikan style sebagi cara yang khas yang dipergunakan oleh seseorang untuk mengutarakan atau mengungkapkan diri atau gaya pribadi.

Keluasan definisi gaya atau style ini menyebabkan gaya atau style dapat ditemukan di hampir seluruh kehidupan manusia, seperti adanya style musik, style berpakaian, style tari, style berpidato maupun style sastra. Apabila keseluruh style tersebut kemudian dibakukan sehingga akhirnya menjadi cabang ilmu yang berdiri sendiri, maka kita akan dapat menjumpai beragam ilmu baru seperti Stilistika Musik, Stilistika Tari, Stilistika Busana, Stilistika Sastra dan lain sebagainya.

Dengan demikian, berdasarkan pendekatan ini, maka definisi Stilistika yang kaku, yang hanya menganggap Stilistika sebagai ilmu perpaduan linguitik dan sastra, serta menempatkan wacana sastra sebagai objeknya dan linguistik sebagai pisau analisisnya menjadi terbantahkan. Simpulannya, Stilistika dapat mengkaji wacana apa saja asalkan bersumberkan pada bahasa manusia. Untuk menguatkan argumen ini, maka pada bagian berikut ini kita akan melihat fakta bahwa Stilistika dapat pula mengkaji wacana nonsastra yaitu wacana SMS.

II.2. Style Bahasa SMS

Banyak sekali aspek-aspek Stilistika ditemukan dalam bahasa SMS, baik itu dalam bentuk tampilan pesan, pemilihan kata, grammatikal, isi dari teks SMS, maupun cara penyampaian pesan yang ada di dalam SMS tersebut. Keluasan aspek-aspek SMS inilah yang menyebabkan pada artikel ini, aspek-aspek yang dibahas, dibatasi pada beberapa aspek Stilistika saja antara lain: (1) aspek gramatikal, (2) aspek leksikal, (3) dan aspek grafologisnya saja. Aspek-aspek Stilistika bahasa SMS yang berhubungan dengan isi pesan, serta cara penyampaian pesan, akan dibahas di kemudian hari pada artikel yang berbeda. Penyampaian ketiga aspek Stilistika di atas dilakukan dengan cara membandingkan style bahasa SMS dengan style bahasa konvensional, yaitu bahasa lumrah yang biasanya dibuat dan digunakan manusia dalam berkomunikasi selain melalui SMS.

II.2.1 Aspek Gramatikal

a. Style Elipsis (S-E)

Peranti wacana pada aspek gramatikal yang berupa elipsis (pelesapan) menjadi ciri khas dari teks SMS.  Bila dibandingkan dengan surat, pelesapan kata, frasa atau bahkan klausa dalam SMS sangat mungkin terjadi. Di bawah ini adalah teks SMS meminta ijin mahasiswa yang di dalamnya terdapat pelesapan beberapa satuan lingualnya. Kata atau frasa dalam kurung adalah satuan lingual yang dilesapkan. Bandingan dengan style konvensional meminta ijin mahasiswa melalui surat yang ada pada kolom sebelah kanan.

Style SMS Style Surat Konvensional
1a. Assalmualaikum. Bapak saya mohon izin untuk hari ini (saya) tidak bisa mengikuti mk Bapak, karena saya sedang berada dluar kota. atas perhatiannya (saya haturkan) trima kasih

2a. Selamat pagi.. Salam sejahtera untuk bpak..saya mhsiswa bapak kLas C, mohon maap (saya) tidak bsa ikut kulyah bpk hari ini. Krn sbab ksehatan sy trganggu. (Ahmad Khozaimi)

 

1b. Assalamu’alaikum wr. wb. Dengan hormat, saya mohon izin untuk hari ini saya tidak bisa mengikuti matakuliah Bapak, karena saya sedang berada di luar kota. Atas perhatiannya saya haturkan terima kasih

2b. Selamat pagi. Salam sejahtera untuk bapak. Saya mahsiswa bapak kelas C, mohon maaf saya tidak bisa mengikuti kuliah Bapak hari ini karena  kesehatan saya terganggu.

 

(Azhar, 2010)

Pada data 1a, terdapat satuan lingual ”saya” dan “saya haturkan”  yang mengalami pelesapan. Demikian juga pada data 2a, terdapat satuan lingual saya mengalami fenomena pelesapan. Tujuan utama pelesapan satuan lingual ini adalah untuk penghematan karakter. Sebagai konsekuensinya, SMS yang didalamnya terdapat pelesapan menjadi kuran formal.

b. Style Aplikasi Konjungsi Unik (SAKU)

Konjungsi yang sering muncul dan menjadi ciri khas atau style dari teks SMS dapat dilihat di bawah ini:

Style SMS Style Konvensional
3a.  lam aj wt tmn2 kUl q dUNS Met Lbran, n Kpn kGM lg ShPING..Wat cwok q Cpt cmBH 3b. Salam saja buat teman-teman kuliahku di UNS. Selamat Lebaran, dan kapan keGM lagi, shoping. Buat cowokku  cepat sembuh

 

(Djatmika, 2009:263-267)

Pada contoh di atas kita dapat melihat keunikan konjungsi pesan SMS yang hanya menggunakan huruf ”n” yang berfungsi menggantikan kata ”dan” untuk menghubungkan dua informasi. Keunikan yang lain adalah, huruf n ini sendiri tidak dimaksudkan untuk menggantikan kata dan, tapi dimaksudkan untuk menggantikan kata and (dibaca en) dalam bahasa Inggris yang bermakna sama. Fenomena konjungsi bilingual ini banyak dijumpai dalam penulisan SMS

II.2.2. Aspek Leksikal

a. Style Language Mixing (Campur Bahasa) (S-Lamix)

Language mixing atau yang sering disebut campur bahasa atau campur kode adalah proses penggunaan dua bahasa yang berbeda atau lebih dalam sebuah SMS. Language mixing dalam SMS dapat terjadi karena beberapa alasan. Alasan yang paling umum digunakan adalah karena faktor trend.  Fenomena ini dapat dijumpai pada data di bawah ini.

Style SMS Style Konvensional
4a. Ge d Home pu^^ Why?

5a. u knp g dtng, u dah tau toh qt meeting malam ini, tp gpp mungkin u lg sibuk…

6a. Gada hjn ga ada oujek.. bechek..eh shinta tb2 ga dkantor lg, its 2 fast. But u’ re Great, keep Fight there

 

4b. Lagi di rumah sepupu. Kenapa?

5b. Kamu kenapa gak datang, kamu dah tau toh kita rapat malam ini, tapi gak apa apa mungkin kamu lagi sibuk…

6b. Gak ada hujan gak ada ojek.. becek..eh Shinta tiba-tiba gak di kantor lagi, Ini sangat cepat. Tapi kamu hebat. Tetap berjuang yang di sana.

(Morelent, 2009:269-272)

Pada data di atas, kita dapat melihat munculnya beberapa kosa kata atau kalimat asing seperti ”home” dan ”why” pada data 4a, pronomina ”u” pada data 5a, serta kalimat  ”its 2 fast. But u’ re Great, keep Fight there” pada data 6a. Penggunaan kosakata atau kalimat asing menjadi sebuah gaya tersendiri dan banyak temukan dalam penulisan SMS.

b. Style Bahasa Gaul (SBG)

Yang dimaksud bahasa gaul disini adalah bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari, berbentuk tidak formal, dan biasanya merupakan bahasa hasil imitasi bahasa para artis layar kaca, atau bahasa pemuda metropolis Jakarta. Adapun contoh penggunaannya seperti terlihat di bawah ini:

Style SMS Style Konvensional
7a. Wah, gw g’ suka pada tu anak, lebai banget se..

8a. Gada hjn ga ada oujek.. bechek..eh shinta tb2 ga dkantor lg, its 2 fast. But u’ re Great, keep Fight there

 

7b. Wah, aku tidak suka pada itu anak, Berlebihan banget sih..

8b. Gak ada hujan gak ada ojek.. becek..eh Shinta tiba-tiba gak di kantor lagi, Ini sangat cepat. Tapi kamu hebat. Teap berjuang yang di sana.

(Azhar, 2010, dan Morelent (2009:269-272)

Beberapa kata gaul digunakan dalam SMS di atas seperti pronomina ”guwa” yang menggantikan kata ”aku” (data 7a),  penggunaan kata ”nggak”  yang menggantikan kata ”tidak (7a), serta ”lebai” sebagai pengganti berlebihan (7a). Ketiga kata gaul tersebut jamak digunakan dalam penulisan SMS. Pada data 8a, terdapat kalimat gaul “Gada hjn ga ada oujek.. bechek..Kalimat ini adalah kalimat dari seorang artis dan kemudian menjadi populerkan dan pada ahirnya sering digunakan oleh anak muda agar ingin disebut trendi dan tidak ketinggalan jaman.

II.2.3. Aspek Grafologis

Konstruksi pesan SMS secara grafologis menunjukkan style yang beragam. Pesan-pesan yang disampaikan dalam SMS dibangun dengan cara mengeksploitasi berbagai unsur. Dengan teknik tertentu, unsur-unsur tersebut dilibatkan sehingga menghasilkan banyak sekali style penulisan SMS. Adapun style penulisan SMS tersebut dapat dilihat di bawah ini:

a. Style Clipping (S-Clip)

Clipping adalah fenomena sebuah kata yang terdiri dari dua suku kata atau lebih yang dipotong menjadi lebih pendek (Yule, 1987: 54). Dalam linguistik, cliping adalah salah satu bagian dari proses pembentukan kata baru, sedangkan dalam konteks SMS, clipping digunakan tidak untuk membentuk kata-kata baru, tapi untuk menghemat karakter dan tentu saja pulsa.

Style SMS Style Konvensional
9a.  Assalamualaikum.. Pak maaf untk hr ini saya tdk msuk kuliah, karn kshatn sya terganggu, untuk surat keterangan dokternya menyusul, trimakasih

10a. Asslmlkm, maaf pak saya tdk bsa ikut kuliah bpk dkrenakan saya kurang enak bdn. Trimakasi

9b. Assalamualaikum. Pak maaf untuk hari ini saya tidak masuk kuliah, karena kesehatan saya terganggu, untuk surat keterangan dokternya menyusul, terimakasih

10b. Assalamualaikum, maaf pak saya tidak bisa ikut kuliah bapak dikarenakan saya kurang enak badan. Terimakasih

 

(Azhar, 2010)

Dari data di atas kita dapat melihat beberapa kata mengalami proses clipping seperti pada data 9a, “untuk” (tdk) “tidak” (tdk), “masuk” (msk), “karena” (karn), “kesehatan” (kshatn), “terimakasih” (trimakasih, trimakasi), serta pada data 10a, assalamualaikum (asslmkm), “dikarenakan” (dkrenakan), dan “badan” (bdn). Bandingkan dengan data 9b dan 10b yang merupakan style konvensional serta tidak menyertakan proses clipping di dalamnya.

b. Style Satu Huruf Satu Kata (SHSK)

Yang dimaksud style satu huruf satu kata adalah style yang mana penulis SMS melibatkan proses pemotongan kata sehingga menyisakan satu huruf tunggal. Huruf tunggal yang disisakan adalah huruf yang dianggap mampu merepresentasikan seluruh suara dari kata yang mengalami proses clipping seperti contoh:

Style SMS Style Konvensional
11a. Mam, g d mana?

12a. ..besok J steng 1 kmpl d depan perpus y..

 

11b. Mam, lagi di mana?

12b. ..besok saja steng 1 kmpl di depan perpus

Morelent (2009:269-272)

Pada data 11a, di atas kita dapat melihat bahwa kata ”nggak” diclip hingga menyisakan satu huruf yaitu ”g,” demikian juga kata ”di” mengalami proses clipping sehingga menyisakan huruf ”d.” Demikian juga pada data 11b, kata ”saja” diclip menjadi ”j,” dan ”di,” diclip menjadi ”d.”

c. Style Sound Addition (Penambahan Bunyi) (S-SA/S-PB)

S-SA adalah fenomena ditambahkannya suara pada akhir kata dengan tujuan untuk “mempercantik” SMS atau untuk menunjukkan gaya tertentu. Beberapa contoh penambahan suara ini ada pada SMS di bawah ini

Style SMS Style Konvensional
13a. Boz, mamah ama papahmu mau datang gak k acara resepsi mbak Ida?

14a. Hmmm….kalok sampek anak itu jalan kemall sendiri, berarti dianya dah putus ama pacarnya…

 

13b. Boz, mama sama papamu mau datang gak ke acara resepsi mbak Ida?

14b. Hmmm….kalo sampai anak itu jalan kemall sendiri, berarti dianya dah putus ama pacarnya…

 

(Azhar, 2010)

d. Style Kombinasi Kecil Besar (KKB)

Terkadang, SMS yang ditulis mengkombinasikan huruf kecil dan besar, seperti contoh:

Style SMS Style Konvensional
15a. Mam…smpe Jam bRaPa Tes mbAk

Mam..

16a. Oc dH Dg CeNang hT Ka…

 

15b. Mam…sampai jam berapa tes mbak

Mam..

16b. Oke deh dengan senang hati

 

Morelent (2009:269-272)

Kombinasi huruf kecil dan besar di atas tidak memiliki pola-pola tertentu, artinya kapan sebuah huruf ditulis kapital dan kapan sebuah huruf ditulis dengan huruf kecil, tidak dapat diprediksi dengan jelas. Kombinasi ini bersifat mana suka dan tiap orang memiliki gaya tersendiri dalam melakukannya.

e. Style Substitusi Huruf dengan Angka karena Kesamaan Bentuk (SHAB)

Kata-kata yang disusun untuk menulis sebuah pesan banyak yang disusun dengan menggunakan huruf dan angka. Angka yang ditulis dimaksudkan untuk menggantikan huruf dengan syarat; huruf yang digantikan memiliki bentuk yang hampir sama dengan angka yang menyubstitusikan huruf tersebut. Tujuan penulisan model SMS  ini untuk keindahan dan juga menunjukkan gaya. Seperti contoh:

Style SMS Style Konvensional
17a. D4h b4ca s0l0post b3lum?

18a. Eh, ditung9u anak-anak n9umpul lho..

17b. Dah baca solo pos belum?

18b. Eh, ditunggu anak-anak ngumpul lho

 

(Azhar, 2010, Djatmika, 2009:263-267)

Jika pada style KKB tidak ditemukan pola-pola tertentu, maka style SHAB dapat diamati pola-polanya yaitu dengan menggunakan patokan kesamaan bentuk dari huruf yang akan digantikan dengan angka.

f.  Style Substitusi Suku Kata/Kata dengan Angka karena Samaan Suara (SKASS)

Style SKASS melibatkan fenomena pensubstitusian sukukata atau kata dengan angka karena memiliki kesamaan suara. Seperti contoh:

Style SMS Style Konvensional
19a. Kalo geto, aku se7 aja dengan usulan

xan.

20a. Halah..paling-paling diax gak s4 ngerjain

Tugasnya..Emang kap4n ke sala3?

19b. Kalo gitu, aku setuju aja dengan usulan

kalian.

20b. Halah..paling-paling dianya gak sempat

ngerjain tugasnya..Emang kapan ke

salatiga?

 

(Djatmika, 2009:263-267)

Pada data 19a, terdapat kata ”se7” yang merujuk pada kata ”setuju.” Silabe ke-2 dan ke-3 pada kata ”setuju” yaitu ”tuju” disubstitusikan oleh angka ”7” karena memiliki kemiripan suara. Pada data 20a, kata ”sempat” disubstitusikan oleh huruf ”s” dan ”4” karena huruf ”4” memiliki kesamaan suara dengan ”empat” pada kata ”sempat.”. Demikian pada sala3,  silabe ke-3 dan ke-4 yaitu ”tiga” digantikan oleh angka yang memiliki kemiripan bunyi yaitu ”3”

g. Style Coinage (S-C)

Yang dimaksud coinage di sini adalah ”penemuan” sebuah simbol yang dianggap mewakili sebuah kata. Dikatakan menemukan, karena sebelumnya simbol-simbol yang dimaksud tidak merujuk sama sekali pada kata yang direpresentasikan. Simbol-simbol tersebut dipilih secara manasuka. Namun, meskipun manasuka,  kita masih dapat melihat adanya relasi logis antara simbol dan kata yang dirujukknya, salah satunya adalah simbol tersebut dianggap mewakili salah ”karakter atau sifat” dari kata atau ekspresi yang direpresentasikan seperti suara mapun bentuk.

Style SMS Style Konvensional
21a. Q dah balik ke koz, tp km lom ada..ntr lw dah mpe rmh cmz q yach

22a. Kalo ke rumahq jgn lupa bw bukux ya

23a. lam aj wt tmn2 kUl q dUNS Met Lbran, n Kpn kGM lg ShPING..Wat cwok q Cpt cmBH

24a. Seneng melihatmu kembali cria.. :)

 

21b. Aku sudah balik ke kos, tapi kamu belum ada..ntr kalau dah sampe rumah sms aku ya

22b.  Kalo ke rumahku jgn lupa bw bukunya ya

23b.  salam aja buat teman-teman kuliahku  di UNS Selamat Lebaran, dan kapan ke GM lagi Shoping..Buat cowokku cepat sembuh

24b. Seneng melihatmu kembl cria (Aku tersenyum)

(Azhar, 2010, Morelent, 2009:269-272, dan Djatmika, 2009:263-267)

Simbol-smbol yang dicoinage oleh penulis SMS di atas adalah ”Q” yang merepresentasikan kata ”aku atau ”ku”, ”x” yang merepresentasikan akhiran ”–nya,” angka ”2” yang menunjukkan bahwa huruf yang digunakan diulang hingga dua kali, ”n” sebagai konjungsi yang berarti ”dan,” dan simbol ”:)” yang menunjukkan ekspresi nonverbal yaitu ekspresi ”tersenyum” atau ”ceria”

h. Style Permainan Tanda Baca (S-Pertaba)

Beberapa tanda baca diguakan untuk menyusun sebuah kata dengan cara mengkombinasikan tanda baca tersebut dengan unsur-unsur semiotik lingual lainnya. Tanda-tanda baca tersebut digunakan tidak untuk mematuhi kaidah-kaidah kebenaran secara gramatikal, tapi tanda baca tersebut digunakan semata-mata karena gaya saja yang tentu saja sifatnya manasuka Djatmika (2009:263-267). Adapun Style SMS yang menggunakan Permainan Tanda Baca ini dapat dilihat di bawah ini:

Style SMS Style Konvensional
25a. SL?m Wat TmeNq AL1en cpTn cmbH y, wAt tmEn2q dKIP UNZ CayO L VE U aLL…W?t yG pgn naL ZmZ or Call Z

26a. ti2p cl M j bwt tM?n2q

27a. Dh g’ da wkt bwt ma n lh0w..

28a. …HRz nUrUt Kt2 gUrU…! TRz wAt hErVia maKiN GoKiL j..! ThanKs y coL0 Poz DaH d mUaT..!

 

25b. Salam buat temanku Alien cepetan sembuh ya, buat temen2ku diKI NS cayo love you all..buat yang pengen kenal sms or call saja

26b.    titip salam aja buat teman-temanku

27b.    Dah gak ada waktu buat main lho

28b.   …harus nurut kata-kata guru. Terus buat Hervia makin gokil aja. Thanks ya solo pos sudah dimuat.

 

(Djatmika, 2009:263-267)

Seperti terlihat pada data di atas, terdapat penyimpangan fungsi tanda baca seperti ”?” yang digunakan untuk merepresentasikan huruf “a,” tanda baca ” ’ ” yang merepresentasikan suara glottal (atau huruf k), “!” yang merepresentasikan tanda berhenti pada akhir kalimat. Penyimpangan ini memang sengaja dilakukan karena faktor gaya.

i. Style Permainan Simbol Matematika (S-Persima)

Pesan SMS dapat disusun dengan menggunakan kombinasi huruf dan simbol Matematika. Seperti contoh di bawah ini:

Style SMS Style Konvensional
29a.  cUapa aJah..Yg tEu tMen2 AluMnie SMP N4 KRA dr S0Hngo dHe hub Aq y0w,. THANKS s%P0st tMbAH cUksez Azja

30a. bwt c%p0zt,+t0p adja,,i LupH u ALL..tha..tha

29b.    Siapa   saja   yang   tahu   teman – teman

alumni SMPN 4 dua ribu songo diharap, hubungi aku ya. Terimakasih Solopost Tambah Sukses Aja.

30b.    Buat solopost tambah top aja. I love u

all..da..da..

 

(Djatmika, 2009:263-267).

Tanda ” % ” digunakan untuk merepresentasikan huruf ”olo” pada kata ”solo.” Hal ini dapat terjadi karena tanda ” % ” memang memiliki kemiripan secara bentuk dengan huruf ”olo” pada kata ”solo”. Tanda ” + ” merepresentasikan kata ”tambah.” Dengan dipilihnya tanda ” + ” SMS jadi terlihat lebih ringkas dan irit. Pemilihan simbol-simbol matematika di atas jelas merepresentasikan kreatifitas dari penulis SMS.

j. Style Fortrisi (S-Fort)

Fortrisi adalah penggunaan style menulis dengan cara merubah suara dari suara lemah menjadi suaran yang kuat. Seperti contoh:.

Style SMS Style Konvensional
31a. setlh skulh ntar qt ke GM y..trz mkn di kFc..jgn lp zmz kaDr

32a. maap br blz..pulzaku habiz

33a. Pren, dah ktemu sepedamu..? yg sabar yach..

 

31b. setelah sekolah ntar kita ke GM ya..trus makan di KFC..jangan lupa SMS kadir

32b. maaf baru bales..pulsaku habis

33b. Friend, sudah ketemu sepedamu…? Yang sabar ya..

 

(Azhar, 2010)

Pada data di atas, huruf ”s” yang bersuara lebih lemah digantikan oleh huruf ”z” yang bersuara lebih kuat, demikian juga pada data di atas, huruf ”f” digantikan oleh huruf ”p” yang bersuara lebih kuat.

k. Style Lenisi (S-L)

Lenisi adalah kebalikan dari Fotrisi yaitu style menulis dengan cara merubah suara dari suara kuat menjadi suaran yang lemah. Seperti contoh:.

Style SMS Style Konvensional
34a.  ..dah mlem ne..udahan ya..jgn smsan aza..

 

34b. ..sudah malem nih..udahan ya..jangan smsan aja..

 

Pada data di atas, huruf ”j” yang bersuara lebih kuat digantikan oleh huruf ”z” yang bersuara lebih lemah.

l. Style Sound Insertion (SSI)

Adalah proses penambahan bunyi di tengah sebuah kata baik itu bunyi-bunyi vokal maupun bunyi-bunyi konsonan.

Style SMS Style Konvensional
35a. Gad a hjn ga ada oujek.. bechek..eh shinta tb2 ga dkantor lg, its 2 fast. But u’ re Great, keep Fight here

36a.  Jgn ampe lupa ntar sore yach….c u

 

35b. Gad a hjn ga ada ojek.. becek..eh shinta tb2 ga dkantor lg, its 2 fast. But u’ re Great, keep Fight here

36b. Jangan sampe lupa ntar sore yah….c u

 

(Morelent, 2009:269-272)

Pada data 35a, terdapat penyisipan huruf ”u” diantara huruf ”o” dan ”j,” pada kata ”oujek,” demikian juga pada “bechek,” terdapat penyisipan huruf ”h” diantara huruf ”c” dan ”e.” Pada  data 36a, huruf “c” disisipkan di antara huruf ”a” dan ”h”

II.2.4. Style Bahasa SMS: Sebuah Catatan Kecil

Setelah kita melihat paparan beberapa style bahasa SMS yaitu yang berhubungan dengan gramatikal, liksikalnya, serta grafologinya, secara jelas kita menjumpai bahwa style yang kita temukan berdasarkan pembagian tersebut ternyata tidak kaku (rigid), dan banyak di antara style-style tersebut yang munculnya tidak sendirian. Ini menunjukkan bahwa sangat jarang penulis SMS tetap terpaku untuk menggunakan satu style saja. Ia dapat mengkombinasikan satu style dengan style yang lain tergantung seleranya. Seperti contoh pada SBG (data 8a) dapat dikombinasikan dengan S-Lamix, KKB (data 16a), ternyata dapat dipadukan dengan S-Clip. Demikian juga pada S-Persima (29a) dapat dipadukan dengan style SHAB, demikian seterusnya.

Kedinamisan bahasa SMS ini, utamanya dalam hal grafologisnya, terjadi karena tidak adanya konvensi yang secara ketat mengatur cara penulisan SMS. Selain itu, faktor-faktor seperti kreatifitas, trend, dan style individu penulis SMS juga berperan besar mempengaruhi bentuk-bentuk penulisan SMS.

IV. PENUTUP

IV.1. Simpulan

Kontribusi makalah ini pada dunia linguistik adalah informasi tentang gaya bahasa SMS, mengingat kajian bahasa yang dipergunakan dalam pesan singkat (SMS) belum banyak diselidiki secara mendalam. Ada beberapa temuan menarik yang dipaparkan dalam artikel ini yaitu:

  1. stilistika ternyata dapat digunakan untuk mengkaji wacana nonsastra seperti wacana SMS yang terdapat dalam artikel ini;
  2. terdapat tiga style khas bahasa SMS yang menjadi fokus kajian paper ini yaitu (1) style yang berhubungan dengan grammatika, (2) style yang berhubungan engan leksikon, dan (3) style yang berhubungan dengan grafologinya;
  3. terdapat dua style khas bahasa SMS yang berhubungan dengan gramatika, antara lain: (1) Style Elipsis (S-E), dan Style Aplikasi Konjungsi Unik (SAKU);
  4. ditemukan dua style khas bahasa SMS yang berhubungan dengan leksikon, yaitu: (1) Style Language Mixing (S-Lamix) dan (2) Style Bahasa Gaul (SBG);
  5. ditemukan setidaknya dua belas style khas bahasa SMS yang berhubungan dengan grafologinya yaitu: (1) Style Clipping (S-Clip), (2) Style Satu Huruf Satu Kata (SHSK), (3) Style Sound Addition (Penambahan Bunyi) (S-SA/S-PB), (4) Style Kombinasi Kecil Besar (KKB), (5) Style Substitusi Huruf dengan Angka karena Kesamaan Bentuk (SHAB), (6) Style Substitusi Suku Kata/Kata dengan Angka karena Samaan Suara (SKASS), (7) Style Coinage (S-C), (8) Style Permainan Tanda Baca (S-Pertaba), (9) Style Permainan Simbol Matematika (S-Persima), (10) Style Fortrisi (S-Fort), (11) Style Lenisi (S-L), (12) Style Sound Insertion (SSI);
  6. style-style yang telah disebutkan di atas munculnya tidak sendirian. Sangat jarang penulis SMS menggunakan satu style saja. Ia dapat mengkombinasikan satu style dengan style yang lain tergantung seleranya.
  7. kedinamisan bahasa SMS ini, utamanya dalam hal grafologisnya, terjadi karena tidak adanya konvensi yang secara ketat mengatur cara penulisan SMS. Selain itu, faktor-faktor seperti kreatifitas, trend, dan style individu penulis SMS juga berperan besar mempengaruhi bentuk-bentuk penulisan SMS.

IV.2. Saran

Fenomena bahasa SMS sangat menarik untuk dikaji. Selain karena bayaknya pola-pola linguistik yang dapat ditemukan dalam fenomena ini, perkembangan bahasa SMS yang cepat dan diperkirakan akan terus terjadi, akan membuat penelitian-penelitian tentang SMS selalu menjadi up to date dan menarik. Sayangnya, linguis yang tertarik membahas bahasa SMS masih menggunakan sudut pandang terbatas seperti sosiolinguistik, Tatabahasa, Semantik, Sosiolinguistik, Pragmatik atau Analisis Wacana. Artikel ini berusaha memperluas sudut pandang tersebut dengan meletakkan tinjauannya melalui kacamata stilistika. Dengan adanya artikel ini, diharapkan linguis atau pemerhati bahasa menjadi tergugah untuk memperluas lagi sudut pandang bahasan bahasa SMS, sehingga artikel yang membahas SMS dapat dilakukan dari sudut pandang selain yang disebutkan di atas. Ketika linguis dan pemerhati bahasa tergugah, maka kemunculan artikel tentang SMS melalui sudut pandang semiotik bahasa, etnolinguistik, dialektologi, dan cabang linguistik lainnya tinggal menunggu hitungan waktu. Kajian lingistik nusantarapun akan semakin semarak.

DAFTAR PUSTAKA

Azhar, N. Iqbal. 2010. Kajian Stilistika Bahasa ”Meminta Ijin Mahasiswa” dalam SMS. Dalam Jurnal Bahasa dan Sastra ”PROSODI” Volume 4 Nomor 2. Bangkalan: Sastra Inggris Universitas Trunjoyo

Cambridge Advanced Learnear’s dictionary

Djatmika. 2009. SMS Gaul Sebagai Sebuah Kasus Permainan Bahasa Di Kalangan Remaja. Artikel dalam Prosiding Kolita 7, hal 2009:263-267. Jakarta: Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Unika Atmajaya Jakarta

Junus, Umar. 1989. Stilistika: Suatu Pengantar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Moralent, Yetty. 2009. Bahasa SMS Dari Segi Grafologis, Sintaksis, dan Psikolinguistik. Artikel dalam Prosiding Kolita 7, hal 269-272. Jakarta: Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Unika Atmajaya Jakarta

Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika: Kajian Puitika Bahasa, Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Saputra, Heru S.P. 2004. Dari Tuturan hingga SMS: Formulaik Kelisanan di Balik Keberaksaraan dalam Prosiding Seminar Internasional Bahasa dan Sastra dalam Perspektif Studi Budaya, 3 – 4 Desember 2004, di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Satoto, Sudiro. 1989. Stilistika. Surakarta: Sebelas Maret University Press

Sudaryanto. 2001. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Secara Linguistik. Jogjakarta: Duta Wacana Universiy

Widdowson, H. G. 1975. Stylistics and the Teaching of Literature. London: Longman

Yule, George. 1985. The Study of Language. New York: Cambridge University Press


[1] Doses FISIB Universitas Negeri Trunojoyo

Komentar
  1. rita mengatakan:

    Bener banget itu PAk Iqbal…itulah yg dimaksud PAk Sudiro..bahkan di Jurnal international, sarana style spt metafora, idiom, dll. digunakan utk memecahkan masalah spt psikologi anak, mempelajari suatu budaya, bahkan ada penelitian metafora pada penderita kanker…so terbantahkan yg biolang stilistika hanya terbatas pada bahasa…thank 4 thumbs up…

  2. rita mengatakan:

    maaf maksudnya terbantahkan teori yg menyatakan stilistika hanya terbatas pada karya sastra…ternyata sudah lebih berkemmbang

  3. Shantell mengatakan:

    Do you mind if I quote a few of your articles as long as I provide credit and
    sources back to your site? My blog is in the exact same area
    of interest as yours and my visitors would
    certainly benefit from some of the information you present here.
    Please let me know if this alright with you. Many
    thanks!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s