Archive for the ‘TOKOH-TOKOH LINGUISTIK’ Category

M.A.K. Halliday

Posted: Agustus 22, 2010 in TOKOH-TOKOH LINGUISTIK

Pelajaran yang paling disukai dan dinikmatinya di SMA adalah Bahasa Inggris, khususnya sastra (berbahasa) Inggris. Ia mulai merasa tidak nyambung dengan pelajaran saat guru berbicara mengenai bahasa di dalam sastra. Pengamatan bahasa dalam sastra yang diberikan padanya adalah, misalnya, studi fonetik dalam dongeng atau posisi Barbara Horvath dalam observasinya mengenai bahasa Inggris Australia – misalnya, bahwa penutur Australia bersuara nasal. Ia bertanya pada diri sendiri, apa yang tersedia dalam linguistik? Jawabannya adalah: tidak ada.

Tapi tidak sedini itu kecemerlangan pengetahuannya dalam bahasa. Yang ia rasakan hanyalah bahwa ada sesuatu yang lain – cara lain untuk membicarakan sastra. Ia merasa ada yang lebih dari yang sedang ia dengarkan. Itulah awal ‘konfliknya’ dengan bahasa dan sastra. Sampai pada puncak karir linguistiknya, ia tetap merasa bahwa sastra dibuat dari bahasa sehingga sangat mungkin untuk membicarakan bahasa (dalam) sastra. (lebih…)

LELAKI tua berambut perak itu menunduk dan mengatupkan bibirnya. Dan ruang dua kali tiga meter dengan terang sekadarnya itu pun senyap, seolah mencoba mengakrabi suasana hati penghuninya. Aku duduk di hadapan, terpaku memandangnya. Begitu segera sepi menyergap lelaki itu. Mata-nya yang keras namun damai mengabarkan satu keteguhan, juga kesendirian. Ingatanku memanggil Hemingway, The Old Man and the Sea.Monsieur Jacques, Je dois parti,” kataku sambil beranjak.

Lelaki tua itu tersentak kecil. Senyumnya menyembul, mahal dan hangat. “N’hesitez pas de me contacter,” salamnya seraya menyodorkan tangan. Telapaknya hangat. Seperti ingin menyambut siapa saja. Siapa saja yang memuji, memuja, memaki, dan mendakwa, atau sekadar ingin ajar kenal dengannya. Dan kutinggalkan kantor kecil di salah satu sudut lantai lima gedung Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales (EHESS) dengan potret sephia di kepalaku, dengan lelaki berambut perak itu segera tenggelam di gundukan kertas dan buku. (lebih…)

Eugene A. Nida

Posted: Juli 28, 2010 in TOKOH-TOKOH LINGUISTIK

Eugene A. Nida ialah salah satu ahli penerjemahan paling dikenal di dunia. Berbagai karyanya (baik buku maupun karya terjemahannya; alkitab) telah banyak diterbitkan diseluruh dunia, termasuk di Indonesia. Berikut sekilas tentang Eugene Nida, seorang penerjemah professional, dengan segala kesederhananaanya.

Eugene A. Nida merupakan salah seorang dari beberapa yang berjasa dalam revolusi penerjemahan Alkitab sehingga mencapai apa yang dicapai sekarang. Ia muncul sebagai perintis dan ahli dalam pengembangan teori dan praxis (proses pengaplikasian teori dalam praktik).

Lahir pada 11 November 1914, di Oklahoma City, Oklahoma, Eugene Nida dan keluarganya pindah ke Long Beach, California ketika ia berumur lima tahun. Ia mulai mempelajari bahasa Latin di bangku SMA dan tidak sabar untuk mampu menjadi misionaris yang tugasnya menerjemahkan Alkitab. Keinginannya itu semakin dekat untuk menjadi kenyataan saat ia meraih gelar kesarjanaan dalam bidang bahasa Yunani pada tahun 1963 dari University of California di Los Angeles dengan menyandang predikat “summa cum laude”. Setelah itu, ia melanjutkan studinya ke Summer Institute of Linguistics (SIL) dan menemukan karya-karya ahli bahasa seperti Edward Sapir dan Leonard Bloomfield. Nida kemudian meraih gelar doktoral dalam bidang Perjanjian Baru berbahasa Yunani di University of Southern California. Pada tahun 1941, ia mulai mencoba merengkuh gelar Ph.D. dalam bidang ilmu bahasa di University of Michigan. Ia menyelesaikan studinya itu dua tahun kemudian. Disertasinya, “A Synopsis of English Syntax”, pada saat itu adalah sebuah analisa pertama yang menganalisa bahasa Inggris secara menyeluruh menurut teori “konstituen langsung” (immediate constituent). (lebih…)

1. Latar Belakang de Saussure

Ferdinand de Saussure lahir di Genewa pada tanggal 26 November 1857 dari keluarga Protestan Perancis (Huguenot) yang ber-emigrasi dari daerah Lorraine ketika perang agama pada akhir  abad ke-16.

Sejak kecil, Saussure memang sudah tertarik dalam bidang bahasa. Pada tahun 1870, ia masuk Institut Martine, di Paris. Dua tahun kemudian (1872), ia menulis “Essai sur les langues” yang ia persembahkan untuk ahli linguistik pujaan hatinya (yang menolong dia untuk masuk ke Institut Martine, Paris), yakni Pictet. Pada tahun 1874 ia belajar fisika dan kimia di universitas Genewa (sesuai tradisi keluarganya), namun 18 bulan kemudian, ia mulai belajar bahasa sansekerta di Berlin. Rupanya, Saussure semakin tertarik pada studi bahasa, maka pada 1876-1878 ia belajar bahasa di Leipzig; dan pada tahun 1878-1879 di Berlin. Di perguruan tinggi ini, ia belajar dari tokoh besar linguistik, yakni Brugmann dan Hübschmann.

Ketika masih mahasiswa, ia telah membaca karya ahli linguistik Amerika, William Dwight Whitney yang membahas tentang The Life and Growth of Language: and outline of Linguistic Science (1875); buku ini sangat mempengaruhi teori linguistiknya di kemudian hari. Pada tahun 1878, Saussure menulis buku tentang Mémoire sur le systéme primitif des voyelles dans les langues indo-européennes (Catatan Tentang Sistem Vokal Purba Dalam Bahasa-bahasa Indo-Eropa). Pada tahun 1880 ia mendapat gelar doktor (dengan prestasi gemilang: summa cum laude) dari universitas Leipzig dengan disertasi: De l’emploi du génetif absolu en sanscrit (Kasus Genetivus Dalam Bahasa Sansekerta) dan pada tahun yang sama, ia berangkat ke Paris. (lebih…)

Noam Chomsky

Posted: Juli 28, 2010 in TOKOH-TOKOH LINGUISTIK

Bahasa merupakan ciri utama yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Menurut Komaruddin Hidayat, proses berbahasa melibatkan sejumlah saraf dalam otak yang meramu kata-kata agar dapat dipahami publik.

Dengan ini, berbahasa juga dapat dipahami sebagai proses berpikir. Karena itulah, menjadikan bahasa sebagai objek kajian merupakan pilihan menarik. Dalam literatur linguistik dinyatakan bahwa sejak Plato hingga akhir abad ke-19 kajian kebahasaan bersifat diakronik. Saat itu hubungan genetik pada tiap-tiap bahasa dicari ketersambungannya.

Kehadiran Ferdinand de Saussure, dengan karya monumentalnya Course in General Linguistic, membawa perubahan pada kecenderungan itu. Sejak itu, terjadi peralihan arah pada kajian linguistik, dari kajian diakronik menuju sinkronik, dengan penelitian struktural-gramatikal menjadi titik tekannya. Pemikiran inilah yang menjadi titik tolak munculnya aliran strukturalisme dalam bahasa. (lebih…)

Disadap dari: http://www.indonesianradio.ir/index.php/berita/headline/21656.html

Wednesday, 12 May 2010 15:12  

Jumat, 30 April lalu, masyarakat intelektual dan sastrawan Iran berduka dengan wafatnya, Dr. Ali Mohammad Haqshenas, pakar liguistik, penulis kamus, dan penterjemah kontemporer kenamaan Iran. Ia sangat dikenal dengan baik oleh masyarakat sastra dan budaya Iran. Laku cendikianya bahkan selalu menjadi buah bibir di kalangan rekan sejawat dan mahasiswanya.

Hidup sesaat
selaksa relung di dalamnya
sesak penuh oleh hingar bingarnya umur
di sebuah jalan
yang setiap langkahnya adalah kematian lain
kita mesti waspada
Jika masa itu telah usai
Maka pergilah sudah
Pergi

Saat bertutur tentang kehidupan pribadinya, Dr Haqshenas berkata, “Sejujurnya, kehidupan saya bukanlah cerita yang menarik. Karena tak ada yang patut untuk diceritakan. Kehidupan seorang akademis, seorang guru, yang terbentuk dari rutinitas hidup yang jauh dari hingar bingar pesta, ramainya perjamuan tamu, asyiknya perjalanan, serunya tontonan bioskop, ataupun indahnya mengunjungi suatu tempat istimewa. Sebaliknya, kehidupan saya dipenuhi dengan buku-buku yang sudah terbaca, kertas-kertas yang sudah menghitam penuh dengan goresan, kitab-kitab yang sudah terterjemahkan atau pun tulisan dan sebangsanya”.

(lebih…)