BEBERAPA GAYA BAHASA DALAM PANDANGAN TEORI KLASIK

Diadaptasi dari: Keraf

A. Pengertian Gaya Bahasa
Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stiliis, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Keahlian menggunakan alat ini akan mempengaruhi jelas tidaknya tulisan pada lempengan tadi.

Kelak pada waktu penekanan dititikberatkan pada keahlian untuk menulis indah, maka style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah.

Walaupun kata style berasal dan bahasa Latin, orang Yunani sudah mengembangkan sendiri teori-teori mengeenai style itu. Ada dua aliran yang terkenal, yaitu:

  1. Aliran Platonik: menganggap style sebagai kualitas suatu ungkapan; menurut mereka ada ungkapan yang memiliki style, ada juga yang tidak rneinihiki style.
  2. Aliran Aristoteles: menganggap bahwa gaya adalah suatu kualitas yang inheren, yang ada dalam tiap ungkapan.

Dengan demikian, aliran Plato mengatakan bahwa ada karya yang memiliki gaya dan ada karya yang sama sekali tidak memiliki gaya.

Sebaliknya, aliran Aristoteles mengatakan bahwa semua karya memiliki gaya, tetapi ada karya yang memiliki gaya yang tinggi ada yang rendah, ada karya yang memiliki gaya yang kuat ada yang lemah, ada yang memiliki gaya yang baik ada yang memiliki gaya yang jelek.

Bila kita melihat gaya secara umum, kita dapat mengatakan bahwa gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan sebagainya. Dengan menerima pengertian ini, maka kita dapat mengatakan, “Cara berpakaiannya menarik perhatian orang banyak”, “Cara menulisnya lain daripada kebanyakan orang”, “Cara jalannya lain dan yang lain”, yang memang sama artinya dengan “gaya berpakaian”, “gaya menulis” dan “gaya berjalan”. Dilihat dan segi bahasa, gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak, dan kemampuan seseorang yang mempergunakan bahasa itu. Semakin baik gaya bahasanya, semakin baik pula penilaian orang terhadapnya; semakin buruk gaya bahasa seseorang, semakin buruk pula penilaian diberikan padanya.

B. Sendi Gaya Bahasa
Syarat-syarat manakah yang diperlukan untuk membedakan suatu gaya bahasa yang baik dan gaya bahasa yang buruk? Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut: kejujuran, sopan-santun, dan menarik.

Kejujuran dalam bahasa berarti: kita mengikuti aturan-aturan. kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemakaian kata-kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit, adalah jalan untuk mengundang ketidakjujuran. Pembicara atau penulis tidak menyampaikan isi pikirannya secara terus terang; ia seolah-olah menyembunyikan pikirannya itu di balik rangkaian kata-kata yang kabur dan jaringan kalimat yang berbelit-belit tak menentu. Ia hanya mengelabui pendengar atau pembaca dengan mempergunakan kata-kata yang kabur dan “hebat’: hanya agar bisa tampak lebih intelek atau lebih dalam pengetahuannya.

Yang dimaksud dengan sopan-santun adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak bicara, khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat di sini tidak berarti memberikan penghargaan atau menciptakan kenikmatan melalui kata-kata, atau mempergunakan kata-kata yang manis sesuai dengan hasa-basi dalam pergaulan masyarakat beradab. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan. Menyampaikan sesuatu secara jelas berarti tidak membuat pembaca atau pendengar memeras keringat untuk mencari tahu apa yang ditulis atau dikatakan. Di samping itu, pembaca atau pendengar tidak perlu membuang-buang waktu untuk mendengar atau membaca sesuatu secara panjang lebar, kalau hal itu bisa diungkapkan dalam beherapa rangkaian kata. Kejelasan dengan demikian akan diukur dalam heberapa butir kaidah berikut, yaitu:

  1. kejelasan dalam struktur gramatikal kata dan kalimat;
  2. kejelasan dalam korespondensi dengan fakta yang diungkapkan melalui kata-kata atau kalimat tadi;
  3. kejelasan dalam pengurutan ide secara logis;
  4. kejelasan dalam penggunaan kiasan dan perbandirigan.

Kejujuran, kejelasan serta kesingkatan harus merupakan langkah dasar dan langkah awal. Bila seluruh gaya bahasa hanya mengandalkan kedua (atau ketiga) kaidah tersebut di atas, maka bahasa yang digunakan masih terasa tawar, tidak menarik. Sebab itu, sebuah gaya bahasa harus pula menarik. Sebuah gaya yang menarik dapat diukur melalui beberapa komponen berikut: variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup (vitalitas), dan penuh daya khayal (majinasi).

C. Jenis-Jenis Gaya Bahasa
a. Segi Nonbahasa
Pengikut Aristoteles menerima style sebagai hasil dan bermacam-macam unsur. Pada dasarnya style dapat dibagi atas tujuh pokok sebagai berikut:

  1. Berdasarkan pengarang. gaya yang disebut sesuai dengan nama pengarang dikenal berdasarkan ciri pengenal yang digunakan pengarang atau penulis dalam karangannya. Pengarang yang kuat dapat mempengaruhi orang-orang sejamannya, atau pengikutpengikutnya, sehingga dapat membentuk sebuah aliran. Kita mengenal gaya Ehainil, gaya Takdir, dan sebagainya.
  2. Berdasarkan Masa: gaya bahasa yang didasarkan pada masa dikenal karena ciri-ciri tertentu yang berlangsung dalam suatu kurun waktu tertentu. Misalnya ada gaya lama, gaya klasik, gaya sastra modern, dan sebagainya.
  3. Berdasarkan Medium: yang dimaksud dengan medium adalah bahasa dalam arti alat komunikasi. Tiap bahasa, karena struktur dan situasi sosial pemakainya, dapat merniliki corak tersendiri. Sebuah karya yang ditulis dalam bahasa jerman akan memiliki gaya yang berlainan, bila ditulis dalam bahasa Indonesia, Prancis, atau   Jepang. Dengan demikian kita mengenal gaya Jerman, Inggris, Prancis, Indonesia, dan sehagainya.
  4. Berdasarkan Subyek: subyek yang menjadi pokok pembicaraan dalam sebuah karangan dapat mempengaruhi pula gaya bahasa sebuah karangan. Berdasarkan hal ini kita mengenal gaya: filsafat, ilmiah (hukum, teknik, sastra, dsh), populer, didaktik, dan sebagainya.
  5. Berdasarkan Tempat: gaya ini mendapat namanya dari lokasi geografis, karena ciri-ciri kedaerahan mempengaruhi ungkapan atau ekspresi bahasanya. Ada gaya Jakarta, gaya Jogya, ada gaya Medan, Ujung Pandang, dan sebagainya.
  6. Berdasarkan Hadirin: seperti halnya dengan subyek, maka hadirin atau jenis pembaca juga mempengaruhi gaya yang dipergunakan seorang pengarang. Ada gaya populer atau gaya demagog yang cocok untuk rakyat banyak. Ada gaya sopan yang cocok untuk lingkungan istana atau Iingkungan yang terhormat. Ada pula gaya intim (familiar) yang cocok untuk lingkungan keluarga atau untuk orang yang akrab.
  7. Berdasarkan Tujuan: gaya berdasarkan tujuan memperoleh namanya dan maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang. di mana pengarang ingin mencurahkan gejolak emotifnya. Ada gaya sentimental, ada gaya sarkastik, gaya diplomatis, gaya agung atau luhur, gaya teknis atau informasional, dan ada gaya humor.

b. Segi Bahasa
Dilihat dan sudut bahasa atau unsur-unsur bahasa yang digunakan maka gaya bahasa dapat dibedakan berdasarkan titik tolak unsur bahasa yang dipergunakan, yaitu:

  1. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata;
  2. Gaya bahasa berdasarkan nada yang terkandung dalarn wacana
  3. Gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat;
  4. Gaya bahasa berdasarkari langsung tidaknya makna.

c. Gaya Bahasa Berdasarkan Pilihan Kata
Dalam bahasa standar (bahasa baku) dapatlah dibedakan: gaya bahasa resmi (bukan bahasa resmi), gaja bahasa takresmi dan gaya bahasa percakapan. Gaya bahasa dalam tingkatan bahasa nonstandar tidak akan dibicarakan di sini, karena tidak akan berguna dalam tulisan-tulisan ilmiah atau ilmiah populer.

(1)  Gaya Bahasa Resmi
Gaya bahasa resmi adalah gaya dalam bentuknya yang lengkap, gaya yang dipergunakan dalam kesempatan-kesempatan resmi, gaya yang dipergunakan oleh mereka yang diharapkan mempergunakannya dengan baik dan terpelihara. Amanat kepresidenan, berita negara, khotbah-khotbah mimbar, tajuk rencana, pidato-pidato yang penting, artikel-artikel yang serius atau esei yang memuat subyek-subyek yang penting, semuanya dibawakan dengan gaya bahasa resmi.

(2)   Gaya Bahasa Tak Resmi
Gaya bahasa tak resmi juga merupakãn gaya bahasa yang dipergunakan dalam bahasa standar, khususnya dalam kesempataflkesempatan yang tidak krmal atau kurang formal. Bentuknya tidak terlalu konservatif. Gaya ini biasanya dipergunakan dalam karya-karya tulis, buku-buku pegangan, artikel-artikel iningguan atau bulanan yang baik, dalam perkuliahan, editorial, kolumnis, dan sehagainya. Singkatnya gaya bahasa tak resmi adalah gaya bahasa yang umum dan normal bagi kaum terpelajar.

(3)   Gaya Bahasa Percakapan
Sejalan dengan kata-kata percakapan, terdapat juga gaya bahasa percakapan. Dalam gaya bahasa ini, pilihan katanya adalah kata-kata populer dan kata-kata percakapan. Namun di sini harus ditambahkan segi-segi morfologis dan sintaksis, yang secara bersama-sama membentuk gaya bahasa percakapan ini. Biasanya segi-segi sintaksis tidak terlalu diperhatikan, demikian pula segi-segi morfologis yang biasa diabaikan sering dihilangkan. Kalau dibandingkan dengan gaya bahasa resmi dan gaya bahasa tak resmi, maka gaya bahasa percakapan ini dapat diumpamakan sebagai bahasa dalam pakaian sport. Itu berarti bahasanya masih lengkap untuk suatu kesempatan, dan masih dibentuk menurut kebiasaan-kebiasaan, tetapi kebiasaan ini agak longgar bila dibandirigkan dengan kebiasaan pada gaya bahasa resmi dan tak resmi.

d. Gaya Bahasa Berdasarkan Nada
Gaya bahasa berdasarkan nada didasarkan pada sugesti yang dipancarkan dan rangkaian kata-kata yang terdapat dalam sebuah wacana. Sering kali sugesti ini akan lebih nyata kalau diikuti dengan sugesti suara dan pembicara, bila sajian yang dihadapi adalah bahasa lisan.

Dengan latar belakang ini gaya bahasa dilihat dan sudut nada yang terkandung dalam sebuah wacana, dibagi atas: gaya yang sederhana, gaya mulia dan bertenaga, serta gaya menengah.

(1) Gaya Sederhana
Gaya ini biasanya cocok untuk memberi instruksi, perintah, pelajaran, perkuliahan, dan sejenisnya. Sebab itu untuk mempergunakan gaya ini secara.


(2) Gaya Mulia dan Bertenaga

Sesuai dengan namanya, gaya ini penuh dengan vitalitas dan enersi, Ian biasanya dipergunakan untuk menggerakkan sesuatu. Menggerakkan sesuatu tidak saja dengan mempergunakan tenaga dan vitalitas pembicara, tetapi juga dapat mempergunakan nada keagungan dan kemuliaan. Tampaknya hal ini mengandung kontradiksi, tetapi kenyataannya memang demikian. Nada yang agung dan mulia akan anggup pula menggerakkan emosi setiap pendengar. Dalam keagungan, terselubung sebuah tenaga yang halus tetapi secara aktif ia meyakinkan bekerja untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Khotbah tentang kemanusiaan dan keagamaan, kesusilaan dan ketuhanan biasanya disampaikan dengan nada yang agung dan mulia. Tetapi di balik keagungan dan kemuliaan itu terdapat tenaga penggerak yang luar biasa, tenaga yang benar-benar mampu menggetarkan emosi para pendengar atau pembaca.
(3)  Gaya Menengah
Gaya menengah adalah gaya yang diarahkan kepada usaha untuk menimbulkan suasana senang dan damai. Karena tujuannya adalah menciptakan suasana senang dan damai, maka nadanya juga bersifat lemah-lembut, penuh kasih sayang, dan mengandung humor yang sehat. Pada kesempatan-kesempatan khusus seperti pesta, pertemuan, dan rekreasi, orang lebih menginginkan ketenangan dan kedamaian. Akan ganjillah rasanya, atau akan timbul disharmoni, kalau dalam suatu pesta pernikahan ada orang yang memberi sambutan berapi-api, mengerahkan segala emosi dan tenaga untuk menyampaikan sepatah kata. Para hadirin yang kurang waspada akan turut terombang-ambing dalam permainan emosi semacam itu.

e. Gaya Bahasa Berdasarkan Struktur Kalimat
Berdasarkan struktur kalimat sebagai yang dikemukakan di atas, maka dapat diperoleh gaya-gaya bahasa sebagai berikut:

(1) Klimaks
Gaya bahasa klimaks diturunkan dan kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat kepentingannya dan gagasan-gagasan sebelumnya. Klimaks disebut juga gradasi. Istilah ini dipakai sebagai istilah umum yang sebenamya merujuk kepada tingkat atau gagasan tertinggi. Bila klimaks itu terbentuk dan beberapa gagasan yang berturut-turut semakin tinggi kepentingannya, maka ia disebut anabasis.

(2)   Antiklimaks
Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur. Antiklimaks sebagai gaya bahasa merupakan suatu acuan yang gagasan-gagasannya diurutkan dan yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting. Antiklimaks sering kurang efektif karena gagasan yang penting ditempatkan pada awal kalimat, sehingga pembaca atau pendengar tidak lagi memberi perhatian pada bagian-bagian berikutnya dalam kalimat itu.

(3)   Paralelisme
Paralelisme adalah semacam gaya bahasa yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau frasa-frasa yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama. Kesejajaran tersebut dapat pula berbentuk anak kalimat yang bergantung pada sebuah induk kalimat yang sama. Gaya ini lahir dan struktur kalimat yang berimbang.

(4)   Antitesis
Antitesis adalah sebuah gaya bahasa yang mengandung gagasan-gagasan yang bertentangan, dengan mempergunakan kata-kata atau kelompok kata yang berlawanan. Gaya ini timbul dan kalimat berimbang. Perhatikan contoh berikut:

(5)   Repetisi
Repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Dalam bagian in hanya akan dibicarakan repetisi yang berbentuk kata atau frasa atau klausa. Karena nilainya dianggap tinggi, maka dalam oratori timbullah bermacam-macam variasi repetisi.

Repetisi, seperti halnya dengan paralelisme dan antitesis, lahir dan kalimat yang benimbang. Karena nilainya dalam oratori dianggap tinggi, maka para orator menciptakan bermacam-macam repetisi yang pada prinsipnya didasarkan pada tempat kata yang diulang dalam baris, klausa, atau kalimat. Yang penting di antaranya adalah:
(1) Epizeuksis: repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-tunut. Misalnya: Kita harus bekerja, bekerja, sekali lagi bekerja untuk mengejar semua ketinggalan kita.

(2) Tautotes: repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi. Misalnya: Kau menuding aku, aku menuding kau, kau dan aku menjadi seteru.

(3) Anafora: adalah repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Misalnya:
—    Tapi berdosakah aku, kalau aku bawakan air selalu menyiramnya, hingga pohonku berdaun rimbun, tempat aku mencari lindung? Berdosakah aku bersandar ke batang yang kuat berakar melihat tamasya yang molek berdandan menyambut fajar kata Itahi? Berdosakah aku kalau burungku kecil hinggap di dahan rampak menyanyi sunyi melega hati?

(4) Epistrofa: adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir baris atau kalimat berurutan. Misalnya:
—    Bumi yan kau diami, taut yang kaulayari adalah puisi
Udara yang kauhirupi, air yang kauteguki adalah puisi
Kebun yang kautanaini, bukit yang kaugunduli adalah puisi
Gubuk yang kauratapi, gedung yang kautinggali adalah puisi

(5) Simploke (symploehe): simploke adalah repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimat berturut-turut. Misalnya:
—    kamu bilang hidup ini brengsek. Aku bilang biarin
kamu bilang hidup ini nggak punya arti. Aku bilang biarin
kamu bilang aku nggak punya kepribadian. Aku bilang biarin kamu bilang aku  nggak punya pengertian. Aku bilang biarin

(6) Mesodiplosis: adalah repetisi di tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan.  Misalnya:
—    Pegawai kecil jangan mencuri kertas karbon
Babu-babu jangan mencuri tulang-tulang ayam goreng
Para pembesar jangan mencuri bensin
Para gadis jangan mencuri perawannya sendiri

(7) Epanalepsis: pengulangan yang berwujud kata terakhir dan baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama. Misalnya:
—    Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.
—    Kami cintai perdamaian karena Tuhan kami.
—    Berceriteralah padaku, ya malam, berceriteralah.
—    Kuberikan selulusnya, apa yang harus kuberikan.

(8) Anadiplosis: kata atau frasa terakhir dan suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dan klausa atau kalimat berikutnya. Misalnya:
—    dalam laut ada tiram, dalam tiram ada mutiara dalam mutiara: ah tak ada apa dalam baju ada aku, dalam aku ada hati dalam  hati. ah tak apa jua yang ada dalam syair ada kata, dalam kata ada makna dalam makna: Mudah-mudahan ada Kau!

Komentar
  1. Sabran Hamid mengatakan:

    menarik

  2. sang nym Bangbang mengatakan:

    lengkap dan terperinci,thanks

  3. M.JANGKUP mengatakan:

    menurut saya gaya bahasa yang ada perlu di kembangkan agar diwaktu2 yang akan datang lebih bagus dari yang sekarang

  4. hadifunk mengatakan:

    Pas buat tambahan, rujukan ne.. thank….

  5. mby mengatakan:

    sama neh kyak Hadifunk, bwt sesosok hantu yg slalu mengejarku, yaitu Skripsi…hahaha,thanks ya

  6. Pendatang mengatakan:

    Mantap gan.. next terus artikelnya…

  7. ressha mengatakan:

    Keseluruhan teori tidak dilengkapi dengan kutipan pendapat siapa, judul buku, tahun terbit, nomor halaman buku. Maka semuanya belum jadi teori yg ‘hidup pada kenyataannya’, karena info kelengkapan itu yg menjadi nilai pentingnya suatu teori/kutipan yg diambil. Tolong dilengkapi terima kasih :)

  8. farrikacute@gmail.com mengatakan:

    thanks you

  9. Muh fadly ramli mengatakan:

    Sangat membantu saya di saat sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s