Eksistensi Bahasa di Era Globalisasi

Posted: Juli 8, 2010 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

http://www.jawapos.com/metropolis/index.php?act=detail&nid=141651

[ Jum’at, 25 Juni 2010 ]

DUKUH PAKIS — Globalisasi kerap kali dikaitkan dengan fenomena terkikisnya identitas sebuah bangsa. Mulai dari norma, seni, hingga bahasa. Sejumlah masalah yang muncul akibat modernisasi itu dibahas dalam seminar bertema Pemertahanan Identitas dan Pembangunan Karakter di Era Globalisasi di Hotel Equator kemarin (24/6).

Salah satu topik yang dibahas adalah dinamika bahasa di bidang jurnalistik. Bagaimana peran dan tanggung jawab media massa dalam mempertahankan bahasa Indonesia dari desakan medernisasi dan globalisasi.

Kepala Editor Bahasa Jawa Pos Guntur Prayitno memaparkan masalah itu dalam makalahnya dengan judul Peran Media dalam Pemertahanan dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dia menuturkan media massa tidak bisa lepas dari kepentingan berbagai segmen pasarnya. Ini bisa memunculkan bentuk tertentu, misalnya kosa kata, yang di luar kaidah bahasa.

Meski begitu, dalam banyak unsur lain, kata Guntur, media semacam Jawa Pos sangat menjaga kaidah kebahasaan. Caranya, mengadakan pembinaan secara eksternal dan internal. Dia lantas mencontohkan proses di redaksi Jawa Pos. Setiap berita melalui beberapa proses. Yakni editing atau penyuntingan berita hingga pengecekan halaman. ”Selain itu, ada evaluasi yang dilakukan melalui rapat redaksi dan kelas bahasa untuk staf redaksi,” ujar Guntur.

Harapannya, tersaji produk tulisan yang, antara lain, runtut, hemat, jelas, cermat, logis, dan variatif.

Untuk eksternal, Jawa Pos juga menyelenggarakan sejumlah kegiatan yang berkenaan dengan bahasa. Di antaranya road show dan lomba karya tulis jurnalistik. Cara-cara itu merupakan bagian dari upaya media massa mempertahankan kaidah bahasa Indonesia.

Sementara itu, Hayashi Eiichi, peneliti The Japan Society for The Promotion of Science (JSPS) bercerita soal usaha masyarakat Jepang untuk menjaga identitasnya. Pasca perang dunia, banyak warga Jepang yang tak kembali ke negaranya. Termasuk mereka yang menetap di Indonesia.

”Mereka lebih memilih untuk mempelajari budaya Indonesia. Tetapi, di sisi lain tetap mempertahankan budaya tradisional Jepang,” tutur pria yang juga berprofesi sebagai penasihat Masuda Education Foundation itu.

Eiichi menuturkan, semenjak era globalisasi, warga keturunan Jepang mulai berani memperlihatkan identitasnya. Awalnya, mereka menutupi jati diri agar aman tinggal di Indonesia. Tetapi, sejak pemerintah Indonesia dan Jepang terus menjalin kerja sama, warga keturunan Jepang tak sungkan lagi menunjukkan latar belakangnya.

Pembicara lain, Ayu Sutarto, guru besar Fakultas Sastra Universitas Jember, berbicara tentang perlunya kebijakan pemerintah untuk menjaga identitas lokal. Misalnya, saja masyarakat Banyuwangi yang meminta perda khusus untuk menjadikan bahasa Osing dalam muatan pembelajaran sekolah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s