Setelah Kupu-kupu, Babi dan Tikus, Lalu Apa Lagi?

Posted: Juli 8, 2010 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA


Selasa, 06/07/2010 07:20 WIB

Disadap dari: http://www.detiknews.com/read/2010/07/06/072039/1393564/10/setelah-kupu-kupu-babi-dan-tikus-lalu-apa-lagi?n991101605

Jakarta – Setahun terakhir, publik banyak disuguhi berita tentang istilah-istilah yang diambil dari jenis binatang untuk menentukan karakter seseorang atau istitusi. Mulai dari cicak, buaya, kupu-kupu, babi, hingga yang terakhir tikus.

Cicak dan buaya pertama kali dikenalkan oleh mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji terkait dengan skandal Bank Century. Begitu hebohnya pemberitaan mengenai cicak dan buaya, hingga Jaksa Agung Hendarman Supandji pun lantas memperkenalkan istilah binatang baru, godzilla.

Godzilla, menurut Hendarman, dikonotasikan sebagai sebuah kekuatan gabungan antara Kejaksaan dan Polisi jika bersatu mengatasi kasus Bank Century. Meski cuma guyon, istilah yang diperkenalkan Hendarman ini tak luput dari kritik.

Beberapa waktu kemudian, muncul lagi nama binatang yang disebut-sebut dalam pemberitaan. Video mesum artis mirip Luna Maya dan Ariel Peterpan juga ‘mengikutsertakan’ binatang. Tato bergambar kupu-kupu di paha atas wanita yang mirip Luna Maya menjadi perbincangan.

Meski Luna Maya telah membantah punya tato bergambar kupu-kupu, tak lantas membuat publik percaya. Tapi belakangan, ada yang menyebut tato tersebut ternyata bukan kupu-kupu, melainkan lumba-lumba. Versi lain malah menyebut itu adalah tato bunga.

Saat berita soal Ariel-Luna dan Cut Tari belum berakhir, muncul lagi pemberitaan di media yang kembali ‘menyeret’ nama binatang, tepatnya babi. Dalam sampul Majalah Tempo edisi minggu lalu, digambarkan seorang polisi sedang menggembala celengan babi di majalah yang berjudul ‘Rekening Gendut Perwira Polisi’ itu.

Tak ayal, kepolisian gerah. Merasa terhina dan disakiti, korps Bhayangkara itu lantas melaporkan Majalah Tempo ke Dewan Pers meski pihak Majalah Tempo mengaku tidak bermaksud menghina institusi Polri.

Celengan, menurut Direktur Produksi Majalah Tempo, Toriq Hadad, adalah berasal dari bahasa Jawa yakni dari kata celeng, yang artinya adalah babi. Untunglah, Kapolri Jenderal Polisi Bambang Hendarso Danuri (BHD) tidak akan membawa kasus ini ke ranah hukum.

“Tentu saja semuanya dicari win-win solution, tidak dibawa ke pengadilan. Kita berusaha ini selesai dengan baik,” ujar BHD kepada wartawan usai menghadiri rapat terbatas di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (5/7/2010) kemarin.

Belum selesai kasus ‘babi’ ini bergulir, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) pada Minggu (4/7/2010) kemarin mengeluarkan pernyataan kontroversial. Dia berharap, politisi Golkar harus berprinsip seperti tikus dalam berpolitik.

“Golkar harus berprinsip seperti tikus, ngendus, baru gigit,” kata Ical dalam sambutannya di acara Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Wilayah Jawa-Bali-NTB Partai Golkar di Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan, Jakarta, Minggu (4/7/2010).

Berbagai komentar miring terhadap pernyataan Ical muncul. Partai Demokrat (PD) kurang nyaman dengan pola politik Golkar yang meniru tikus. PD menilai tikus selalu menggerogoti.

Sementara Partai Amanat Nasional (PAN) heran mengapa Golkar memilih mengadopsi pola politik tikus. PAN menilai tikus identik dengan koruptor. Salah satu politisi muda PAN, Bima Arya Sugiharto, menyarankan agar Golkar tidak mementingkan kepentingan pribadinya dalam berpolitik. Bima menyarankan Golkar meniru lumba-lumba.

“Lumba-lumba itu kan tidak individualis, bersih, dan bersahabat tidak seperti tikus,” saran Bima.

Lagi-lagi nama binatang dijadikan ‘kambing hitam’. Partai Persatuan Pembangunan, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan PDI Perjuangan juga tak luput berkomentar soal ini. Ada yang memahami, tidak terima, atau bahkan tidak mau ikut-ikutan.

Sementara Indonesia Corruption Watch (ICW) menganggap, tikus identik dengan koruptor. Oleh karenanya pernyataan Ical yang meminta agar politisi partai beringin harus seperti tikus menjadikan publik ragu apakah partai warisan Orde Baru ini pro dengan pemberantasan korupsi atau tidak.

Lalu, binatang apalagi yang akan muncul dalam pemberitaan media mendatang? Apakah masih seputar nama-nama binatang? Mungkin saja, sebab akhir-akhir ini di dunia maya terutama di Youtube, muncul aksi ‘alay’ dua dara cantik Shinta dan Jojo (detikinet 26/6/2010) yang sedang nampang layaknya artis sedang menyanyikan lagu kocak berjudul binatang ‘Keong Racun’.

Apakah lagu ‘Keong Racun’ yang konon berasal dari daerah Pantura itu bakalan sukses seperti lagu daerah Pantura lainnya, ‘Kucing Garong’? Bisa jadi, asal penyanyinya mungkin adalah artis yang juga memilih nama binatang sebagai nama grupnya, Trio Macan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s