Cerewet Belum Tentu Cerdas Linguistik

Posted: Juli 13, 2010 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Disadap dari: http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/13012/cerewet-belum-tentu-cerdas-linguistik

Minggu, 22 November 2009 | 13:09 WIB

ANAK-anak banyak bicara ternyata tidak selalu memiliki kecerdasan linguistik yang tinggi. Ada kalanya si kecil pandai mengucapkan banyak kata-kata, tapi tidak memahami makna dan tidak tahu bagaimana menggunakan kata-kata itu dengan tepat.

KASUSNYA pernah dialami Ny Widya (30) ketika mengamati putrinya Nita (4) bermain meniti jembatan kayu imajinasi bersama dua teman sebaya. Nita mulai asyik sendiri. Bicara apa saja meski tak ada kaitan dengan permainan, cerewet, kadang memberi aba-aba sambil marah-marah, lalu bernyanyi.

“Setelah 2-3 kali memimpin penyeberang Nita setengah berteriak bilang ke teman-temannya. Ayo, ayo, sekarang kita loncat, kita bunuh diri dan jadi setan. Aku langsung menghentikan permainan. Langsung kutanya apa itu bunuh diri dan setan, Nita cuma geleng-geleng kepala. Akhirnya dia mengaku meniru adegan di sebuah sinetron mistis,” sesal Widya.

Widya baru sadar bahwa Nita yang selama ini dikira punya kecerdasan linguistik lebih baik dibanding teman-temannya, ternyata lebih banyak meniru perkataan orang lain. Ketika bermain Nita pun sering meniru berbagai ucapan dari reklame yang ditayangkan di televisi.

Padahal para ahli perkembangan anak di beberapa negara barat telah meneliti, anak-anak usia tiga tahun seharusnya bisa menguasai 1.000 kata baru. Dengan 80% mereka sudah pahami maknanya. Kesalahan biasanya cuma pada sintaksis.

Psikolog perkembangan anak UI (Universitas Indonesia), Seni Sinaga Psi, seperti dilansir http://www.inspiredkidsmagazine.com menegaskan anak-anak yang cerdas linguistik berbeda dengan anak-anak yang sekadar banyak bicara.

“Anak-anak yang cerdas bahasa umumnya cenderung mudah mempelajari dan memahami bahasa baru. Mereka fokus pada permasalahan, tajam menganalisa, menyimpulkan, dan menguraikan kembali dengan bahasanya. Secara aktif mereka memakai bahasa untuk mengekspresikan obyek yang diamati, perasaan, atau menanggapi suatu pernyataan. Baik secara lisan maupun tulisan,” jelas Seni Sinaga.

Kecerdasan linguistik menjadi penting karena ikut menentukan cara berpikir anak. Anak-anak yang cerdas bahasa akan lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain sekaligus menempatkan diri dalam pergaulan sosial.

Dalam penelitian lain, para pakar mengungkap potensi kecerdasan linguistik pada anak-anak sudah bisa dilatih ketika usia janin masih sekitar 100 hari. Stimulasi dapat dimulai pada masa prakelahiran, dilakukan dengan membacakan buku cerita, memperdengarkan musik klasik, dan mengajak janin berbicara. Kebiasaan ini mampu meningkatkan volume otak janin, salah satunya pusat pemahaman bahasa.

Setelah anak lahir, lakukan secara intensif kontak mata ketika berkomunikasi. Sampaikan atau ekspresikan langsung secara verbal berbagai perasaan tanpa menggunakan perantara alat elektronik. (ricky reynald yulman)

Konsisten Memperbaiki Kesalahan

KADANG-kadang memperbaiki kesalahan anak dalam berbahasa, masih dianggap sepele oleh sebagian orangtua. Malah ada orangtua menganggap kesalahan anak-anak, misalnya dalam pengucapan kata tertentu, merupakan satu hal yang lucu.

Pembiaran kesalahan dalam berbahasa biasanya berlanjut hingga anak-anak memasuki usia sekolah. Bila dibiarkan, mereka akan merasa rendah diri karena sering diledek teman-temannya.

Jangan pula menjadikan televisi sebagai pengasuh anak. Kebiasaan ini justru bisa menghambat perkembangan kemampuan berbahasa pada anak-anak. Latihlah penggunaan bahasa baku dengna cara-cara yang tidak kaku.

Orangtua jangan terlalu membatasi lingkungan bermainnya. Sebab dalam suatu permainan kelompok, peluang anak-anak memperoleh kosa kata baru lebih banyak. Sebaliknya, beri anak-anak kebebasan mengembangkan kosa kata baru, bereksperimen dengan tata bahasa atau struktur bahasa.

Kecerdasan linguistik sebaiknya diimbangi kemampuan berpikir tinggi dan kematangan emosi. Selain itu anak cerdas bahasa yang mandiri, biasanya memiliki kecerdasan interpersonal yang baik. (ricky reynald yulman)

Ciri Anak yang Cerdas Bahasa

– Terlihat aktif

– Memiliki rasa ingin tahu yang besar

– Tidak canggung berinteraksi dengan orang lain

– Menjawab lebih detil dan panjang suatu pertanyaan

– Analisa tajam dan terarah

– Berjiwa kepemimpinan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s