Sastra Masa VOC

Posted: Juli 18, 2010 in BERITA-BERITA TENTANG SASTRA

Disadap dari:

http://www.primaironline.com/berita/sastra/suara-dari-timur-tema-sastra-masa-voc/print

Perjalanan panjang
2 April 1595, tiga kapal dagang besar, Mauritius, Hollandia dan Amsterdam, meninggalkan pelabuhan Texel menuju Hindia-Belanda. Sebuah kapal kecil, Duyken, ikut mengambil bagian dari perjalanan panjang itu. Pelayaran ke Timur antara lain dipicu oleh mahalnya harga rempah-rempah di Eropa dan upaya untuk mendapatkannya “dengan harga yang lebih murah” dari tempat penghasilnya.

Pada masa itu dibutuhkan waktu lebih dari setengah tahun untuk menempuh perjalanan dari Negeri Belanda menuju Batavia. Risiko yang menghalang selama berlayar tidak sedikit: badai di lautan, kapal karam karena menabrak karang, atau kapal terjebak di perairan dangkal, pemberontakan para awak kapal, perompakan, penyakit-penyakit yang disebabkan oleh kurangnya higiene di kapal, dan hal-hal lainnya, menjadikan perjalanan ke timur bukanlah hal yang menyenangkan.

Setibanya di Timur, penerimaan yang dihadapi juga tidak selalu “ramah”: penduduk pribumi yang asing, ditambah suasana tidak bersahabat yang ditunjukkan oleh pesaing dari negara Eropa lainnya. Belum lagi adaptasi terhadap keadaan di negeri tropis yang didatangi, cuaca panas, gaya hidup berbeda, penyakit-penyakit tropis yang tidak dikenal di Eropa. Semua kendala itu harus dihadapi oleh para pelaku pelayaran dengan kapal VOC.Besarnya hambatan yang menghadang membuat hanya sedikit dari sejumlah orang yang berangkat dari Eropa, kembali dengan selamat ke tanah air. Dari 240 awak yang pada tahun 1595 berlayar ke Timur, hanya 87 orang saja yang pada tahun 1597 menginjakkan kaki kembali di Negeri Belanda.

Sebagian dari mereka yang selamat dari perjalanan panjang yang penuh bahaya ke negeri penghasil rempah, ada yang memutuskan untuk menetap di Asia. Sebagian dari mereka menjalin hubungan dengan wanita Asia, a.l. karena sedikitnya wanita Eropa yang ada di Hindia-Belanda. J.P. Coen, Gubernur Jenderal masa itu,  tidak mendapat ijin dari VOC untuk mendatangkan wanita totok Belanda karena beberapa alasan.

Mahalnya biaya perjalanan, tingginya tuntutan dari wanita Belanda ini kepada para suaminya dapat memicu korupsi, masalah paling besar yang nantinya menjadi salah satu penyebab robohnya VOC. Ditambah pula besarnya keinginan para wanita itu mengajak suaminya kembali ke Belanda. Alasan-alasan tersebut ditengarai menjadi kendala untuk mendatangkan wanita Belanda ke Hindia-Belanda.

Tidak berimbangnya jumlah pria Eropa dan wanita berkulit putih di Hindia-Belanda menyuburkan praktik hubungan campur antara pria Eropa dan wanita lokal. bahkan pada saat itu muncul anggapan bahwa wanita Asia lebih mumpuni dibanding wanita Eropa. Wanita Asia menjadikan lelaki Belanda lebih mengenal negeri yang didatangi, para wanita tersebut juga lebih “nrimo” dan tidak banyak menuntut. Keberadaan mereka dianggap dapat meredam gejolak keinginan para lelaki Belanda untuk kembali ke tanah air.

Keturunan yang hadir dari persinggungan dua budaya itu juga dianggap memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap penyakit-penyakit daerah tropis. VOC masih saja dapat memetik keuntungan dari para keturunan itu: yang laki-laki bisa bekerja untuk VOC dan yang perempuan menikah dengan lelaki Belanda yang bekerja untuk VOC. Demikianlah secara perlahan-lahan muncul budaya Mestis, di dalamnya melebur elemen-elemen Barat dan Timur.

Tulisan ini mencoba memberikan sedikit gambaran mengenai beberapa genre dan tema yang diolah dalam karya-karya dari masa VOC dalam Sastra Belanda. Tentu saja makalah ini tidak dapat memuat gambaran yang lengkap, mengingat masa keberadaan VOC di Hindia-Belanda meliputi rentang waktu yang panjang (1602-1799) dan banyaknya tulisan yang dihasilkan dari masa itu.

Karya, nama dan tema yang disebut dalam makalah ini mewakili mereka yang mempublikasikan tulisannya, baik di Belanda maupun Hindia-Belanda mengenai keberadaan VOC di Hindia-Belanda. Karya yang mengkaji wilayah teritori VOC lainnya tidak akan dibicarakan. Seleksi juga dilakukan berdasarkan apresiasi para pegiat dan pemerhati Sastra Hindia-Belanda terhadap karya-karya tertentu yang dirangkum dalam berbagai acuan.

Berbagai genre dalam sastra dari masa VOC
Singgungan budaya Barat (Belanda) dengan budaya daerah yang didatangi nantinya dikoloni (Hindia-Belanda dituangkan dalam berbagai karya. Karya-karya ini selanjutnya oleh Rob Nieuwenhuys (1973) dikategorikan sebagai Indisch-Nederlandse Letterkunde, Sastra Hindia-Belanda.

Dalam ranah sastra ini dikenal berbagai genre. Tot de Indisch-Nederlandse letterkunde behoren literaire en niet literaire genres. Paasman dalam D’haen (2002) menyarikan Nieuwenhuys dan E.M.Beekman yang berpendapat bahwa Sastra Hindia-Belanda berakar dari surat yang dikirimkan ke tanah air dan catatan pribadi para pelaku pelayaran ke Timur.

Paasman melihat bahwa ada batasan yang jelas mengenai jenis teks-teks yang dianggap menjadi bagian ranah sastra ini. Yang lebih penting untuk digarisbawahi adalah pernyataannya bahwa karya-karya dalam ranah Sastra Hindia-Belanda pada awalnya mempunyai fungsi komunikasi. Fungsi ini menjembatani daerah periferi-Hindia-Belanda dan teritori VOC lainnya dan daerah pusat-Negeri Belanda, dan ini dapat dijelaskan dari genre karya yang dihasilkan di masa VOC berupa teks-teks yang termarjinalkan seperti surat-surat, catatan harian, jurnal dan laporan yang ditulis para pegawai pemerintah, sampai puisi-puisi pujian, drama dan cerita-cerita dengan pesan moral mengenai kehidupan di Hindia-Belanda yang ditujukan kepada pembaca di tanah air.

Menyoal jejak VOC dalam sastra, Zonneveld menjelaskan hanya beberapa genre yang ditemukan. Yang paling dominan ditemukan adalah catatan-catatan perjalanan. Pada mulanya catatan ini berupa jurnal-jurnal zakelijk/resmi, berisi catatan yang ditulis para kapten kapal. Dari catatan yang bersifat resmi selanjutnya berkembang penggambaran perjalanan. Terkadang penggambaran ini tidak lepas dari bumbu “elemen fiktif”, jadilah cerita-cerita perjalanan.

Dapat dipastikan bahwa Journael ofte Gedenckwaerdighe beschrivinghe vande Oost-Indische Reyse (1646) adalah catatan perjalanan yang paling terkenal. Boukema (1992) menempatkan karya Bontekoe ini pada urutan pertama Sepuluh Besar karya dari ranah Sastra Hindia-Belanda.

Selain catatan dan cerita perjalanan, kehidupan di daerah koloni juga dituangkan dalam bentuk prosa lain. Seperti misalnya karya Nicolas de Graaff Oost-Indise Spiegel (1701) yang memberikan informasi mengenai kehidupan di Batavia pada waktu itu. Yang mendapat pujian lebih besar adalah Oud en Nieuw Oost-Indien (1724-1726) karya pendeta Franqois Valentijn. Suatu karya acuan yang terdiri dari 5 bagian, tebalnya kurang lebih 5000 halaman.

Pada masa VOC, bagi banyak penulis “alam” belum dianggap sebagai elemen yang penting, baru pada masa Romantik, alam menjadi sumber inspirasi. Meski demikian ada beberapa karya seni dari masa VOC yang lebih maju dari masanya.

Ketertarikan seorang pegawai VOC berkebangsaan Jerman, Rumf atau Rumphius, kepada alam Ambon dituangkan ke dalam berbagai tulisan, antara lain D’Amboinsche Rariteitkamer (1705). Perhatian Rumphius tertuju pada flora dan fauna daratan dan lautan Ambon.

Ragam roman Indis dari ranah Sastra Hindia-Belanda seperti yang dikenal pada masa kini, tidak ditemukan pada masa VOC. Willem van Hogendorp menulis pada tahun 1779 sebuah novel tendensius Sophronisba of de gelukkige moeder door de inenting harer dochter. Setahun kemudian terbit karyanya Kraspoekol, of de droevige gevolgen van eene te verre gaande strengheid, jegens de slaaven.

Genre puisi pada masa VOC mengenal tradisi lofdichten, syair-syair yang mengagungkan kebesaran pribadi, kemegahan suatu tempat. Kemegahan Batavia sebagai kota pusat VOC diusung Jan Harmenz de Marre dalam lofdicht yang berjudul Batavia, berepen in zes boeken (1740). Selain lofdicht juga dikenal berbagai sajak yang mengusung nilai-nilai moral, seperti karya Matthijs Cramer D’Indiaensche Tyfferboom (1670).

Selain berbagai bentuk syair, Paasman (1991) menjelaskan bahwa pada masa VOC lagu-lagu kerap kali didendangkan untuk membangkitkan minat orang ikut berlayar ke Hindia-Belanda. Melalui berbagai lagu dibangun citra Hindia-Belanda sebagai negeri indah tempat orang mudah meraup kekayaan. Wie wil d’r mee naar Oost-Indie varen’.. Daar kunt gij geld en goed vergaren. Lagu-lagu seperti itu dinyatakan di berbagai kesempatan: di pasar malam, di bar, pada pesta perkawinan.

Dari impian menuju kenyataan: Sastra perjalanan
Dari masa VOC, jejak yang paling banyak ditemukan tertuang dalam sastra perjalanan, tidak dapat dilepaskan dari kebijakan yang digariskan VOC yang mewajibkan para perwira dan bawahannya dalam skala kepangkatan tertentu untuk membuat laporan. Laporan semacam itu biasanya disebut dengan scheepsjournaal, berisi catatan terinci mengenai semua hal yang ditemui selama pelayaran, hari demi hari para awak kapal-kapten, juru mudi, pedagang, paramedis dan masih banyak fungsi lainnya mencatat dengan teliti misalnya arah datangnya angin selama pelayaran, badai, jenis kapal-kapal yang berpapasan dalam perjalanan, jumlah awak kapal yang sakit dan meninggal, mengenai kericuhan antar kelasi, pelanggaran dan sanksi yang dijatuhkan dan sebagainya.

Tentu saja laporan yang dibuat itu untuk kepentingan VOC semata dan tidak dimaksudkan untuk konsumsi publik.

Selain laporan yang harus dibuat itu, tidak jarang para awak kapal juga membuat catatan pribadi yang menjadi wadah tempat mencurahkan perasaan. Dari catatan semacam itu diketahui kejadian-kejadian yang luar biasa, seperti misalnya Willem Ysbransts Bontekoe van Hoorn (1587-1657) yang dalam Journael ofte Gedenckwaerdighe beschrivinghe vande Oost-Indische Reyse menceritakan bagaimana dia menjadi saksi hidup saat kapal yang dinahkodainya meledak berkeping-keping di Selat Sunda. Bagian dari jurnal yang memuat kecelakaan ini begitu terkenalnya dan menjadi fragmen yang paling sering dikutip.

Bagaimana dia selamat dari ledakan yang memakan korban lebih dari 150 jiwa. Pada saat itu, dia yang terlempar keudara, menengadah kelangit dan memanjatkan doa dan memohon pengampunan dan keselamatan. Voila, Tuhan mendengar dan mengabulkan doa nahkoda yang soleh itu. penyelamatan itu, oleh Paasman (2002), diibaratkan seperti kejadian yang kerap muncul dalam legenda-legenda mengenai Maria, ibu Jesus, yang dikenal dari masa abad Pertengahan. Barangkali ramuan inilah yang membuat cerita perjalanan Bontekoe begitu populer.

Karya Rijklof van Goens, Javaense Reyse (1666) juga menarik untuk dicantumkan. Benteng-benteng VOC di masa itu biasanya dibangun dekat pesisir. Hampir-hampir tidak ada catatan yang menuturkan ke daerah pedalaman, yang jauh dari benteng VOC. Goens menuangkan pengalaman perjalanannya dari Semarang menuju ibukota kerajaan Mataram.

Berbeda dengan penuli sastra perjalanan pada masanya, terdapat cukup penggambaran alam dalam karya Goens itu. kekaguman penulis terhadap keindahan alam Jawa diungkapkan. Goens menggambarkan Gunung Merbabu sebagai gunung dengan pemandangan terindah di dunia. Air terjun yang jatuh dari gunung itu teramat jernih, penduduk yang tinggal di sekitar gunung digambarkan sangat ramah.

Selain keindahan alam, karya Goes mengungkap hal-hal yang menakjubkan dari balik kraton Mataram. Raja digambarkan sebagai pribadi yang hanya tiga kali dalam seminggu muncul di depan umum. Keberadaannya tidak lepas dari sejumlah besar wanita: beliau memiliki empat istri resmi dan sekitar 50 selir. Keselamatannya dijaga antara lain oleh satu kelompok punggawa yang terdiri dari 50 perawan, dan ditunjang oleh 3000 wanita separuh baya yang bertugas penjaga. Raja dan para selir dilayani oleh 6000 pembantu wanita.

Prosa-prosa lainnya.

Karya Nicolaas de Graaff, Oost-Indise spiegel (1701) yang diterbitkan setelah kematiannya, menyoroti kehidupan orang Eropa dan Indo Eropa yang tinggal di Hindia Belanda, khususnya di kota Batavia. Gambaran yang diberikan oleh De Graaff antara lain mengenai para wanita di masa itu, perbudakan dan para pegawai VOC. Berdasarkan asal-usulnya De Graaff menempatkan para wanita dalam beberapa tingkatan: wanita berkulit putih yang lahir di Eropa; berkulit putih tetapi lahir di Hindia-Belanda, wanita berdarah campuran, dan wanita pribumi berkulit hitam.

Selanjutnya kelompok berdarah campuran dipilah lagi menjadi Mestiso (Bapak Eropa dan Ibu Pribumi) dan Kastiso (Bapak Eropa dan Ibu Mestiso). Jelas terlihat ada variasi rasila dalam hal ini. Semakin putih warna kulitnya, semakin besar daya tarik yang dimiliki wanita. (sebuah pemikiran yang sampai sekarang masih berlaku di Indonesia, mengingat maraknya berbagai produk kecantikan untuk membuat penggunaannya tampil lebih “putih”.

Mencolok untuk dicatat bahwa De Graaff melekatkan karakter negatif kepada semua wanita, apapun warna kulitnya. Para wanita dicitrakan sebagai manusia yang sombong, malas, penuh nafsu dan kejam. Pencitraan semacam itu akan terus hidup dan lekat pada banyak tokoh wanita dalam roman dan cerita dari ranah Sastra Hindia-Belanda, sampai awal abad ke-20.

De Graaff mencirikan para wanita yang tinggal di wilayah tropis (Hindia-Belanda), baik yang berkulit putih maupun gelap, cenderung “lemah”, tetapi tidak dalam masalah seksual. Mereka malas dan menyerahkan semua urusan rumah tangga, juga pendidikan anak, kepada para budak atau pembantu mereka. Gambaran yang memperlihatkan citra negatif wanita semacam itu selanjutnya menjadi motif yang kerap diusung dalam banyak karya Sastra Hindia-Belanda.

Graaff memberikan ilustrasi untuk memperkuat citraan itu: mengenakan baju yang terbaik, dengan diiringi serombongan budak, pada hari Minggu wanita-wanita menuju gereja. Selain tampilan fisik, De Graaff menggambarkan bagaimana para wanita itu memperlakukan budak-budaknya. Kekerasan verbal yang dilakukan tak jarang berakhir dengan kekerasan fisik.

De Graaff juga memberikan penggambaran negatif kepada para pria pegawai VOC, De Graaf menyebut para hamba VOC ini sebagai koruptor. Barangkali citra buruk pegawai VOC ini sedikit banyak terkait dengan motivasi orang-orang pergi ke Timur hanya sebagian kecil saja yang punya keterkaitan untuk negara dan bangsa asing sebagian besar hanya memikirkan uang. Pengungkapan praktik KKN dan koneksi yang terjadi di jaman VOC, dengan lugas diungkapkan De Graaff.

Meski sarat dengan elemen-elemen yang membeberkan kebobrokan kehidupan di masa VOC, tetap saja karya de Graaff untuk waktu yang lama menjadi sumber yang tiada habisnya bagi para penulis sastra perjalanan.

Karya besar lain yang layak untuk disebutkan adalah Oud en Nieuw Oost-Indien yang ditulis oleh pendeta Franqois Valentijn. Nieuwenhuys menyebutkan Valentijn menulis satu seri karya yang terdiri dari lima bagian: yang pertama dan kedua dicetak pada tahun 1724. Dalam waktu empat tahun ke lima bagian telah selesai. Karya yang luar biasa: dalam format folio, dicetak dua kolom, lima bagian, semuanya ada 8 bundel, berilustrasi dan dilengkapi dengan peta.

Informasi Nieuwnhuys ini diluruskan Paasman (2002), karya Valentijn terdiri dari 3 bagian, tercetak dalam 5 bundel.

Karya besar Valentijn tersebut sampai saat ini masih saja dirujuk, dipelajari dan dibicarakan. Karya itu sarat dengan informasi dari berbagai bidang ilmu, sejarah, flora dan fauna, perilaku dan tradisi, serta tentang penduduk pribumi. Menarik untuk dicatat bahwa pendapat Valentijn mengenai berbagai kelompok orang Asia/pribumi didasarkan pada warna kulit. Semakin terang (=putih) warna kulit seseorang semakin tinggi nilai kecantikan yang diberikan Valentijn.

Menarik, bahwa stereotip yang sampai saat ini masih hadir dalam berbagai karya dari ranah Sastra Hindia-Belanda, sudah diusik oleh Valentijn di masa VOC. Melihat gaya penceritaan Valentijn, Paasman dan Beekman memberikan apresiasi yang tinggi terhadap humor dan kecenderungan bersikap anekdotis saat menuturkan kejadian-kejadian yang dialaminya atau yang diceritakan orang kepadanya.

Penghargaan yang tinggi laik diberikan kepada Georg Everard Rumf atau yang lebih dikenal sebagai Rumphius, seorang hamba VOC berkebangsaan Jerman. Bertahun-tahun lamanya dia bertugas di Ambon, keelokan flora dan fauna yang hidup di pulau itu menarik perhatiannya. Dia membuat dan mengumpulkan catatan yang lengkap tentang tanaman dan binatang, selama masa tugasnya. Setelah dia menjadi buta saat dia berumur tiga puluh dua tahun, pekerjaan itu tetap diteruskan dengan bantuan anak dan asisten.

Menimbang nilai tulisan Rumphius, VOC memutuskan untuk tetap memperkerjakan Rumphius meski penulis itu buta. Bahkan untuk membantunya menyelesaikan karyanya, VOC mengirimkan asisten: seorang tukang catat dan seorang pelukis. Sampai akhir hayatnya (1702) Rumphius tinggal di Ambon, kemalangan demi kemalangan tidak menghalanginya untuk berkarya. Bahkan juga setelah istri dan anak perempuannya menjadi korban gempa bumi.

Rumphius menggambarkan alam tidak sebagai obyek semata, tetapi penuh dengan rasa ingin tahu. Dari karyanya tersirat bagaimana dia memperlakukan alam: penuh kelembutan, keterikatan dan penuh rasa kecintaan. Semua perasaan itu terkadang diungkapkannya dalam bentuk sajak, misalnya saat dia memperlihatkan kemolekan flora bawah air Ambon yang diibaratkan bak taman milik Thetis, sang dewi laut.

Dari tangannya kecuali D’Amboinsche Rariteit-kamer juga dikenal Het Amboinsche kruidboek, yang diterbitkan puluhan tahun setelah kematiannya.

Roman dan cerita-cerita pendek
Tidak banyak karya roman dan cerita dihasilkan dari masa VOC. Batavische arcadia (1637) karya Johan van Heemskerck, dalam salah satu bagian mengangkat unsur keberadaan kekuatan gaib di Hindia-Belanda. Dengan gaya penceritaan yang menghibur diungkapkan bahwa di balik kekuatan gaib, bisa tersembunyi “akal bulus”.

Paasman menunjukkan bawah karya Heemskerck ini memperkenalkan salah satu motif penting yang di kemudian hari kerap diolah dalam karya dari ranah Sastra Hindia-Belanda, yaitu stille kracht.

Pemikiran abad Pencerahan juga menelusup Hindia-Belanda. Pada tahun 1779 novel tendensius Sophronisba of de gelukkige moeder door de inenting harer dochter terbit. Novel ini didedikasikan kepada para ibu di Batavia, penulisnya Willem van Hogendorp mengimbau para ibu membaca karya itu demi kesejahteraan anak-anak mereka.

Novel itu bertutur tentang kebahagiaan seorang ibu yang anaknya selamat dari epidemi cacar yang melanda Batavia karena sebelumnya telah divaksinasi. Pemikiran tipikal abad ke-18 sangat kentara hadir dalam novel ini: ada imbalan untuk sikap bijak (bukan kebaikan), dan hukuman untuk yang berpandangan cupet (bukan kejahatan).

Buruknya perlakuan terhadap para budak seperti yang disampaikan De Graaff dalam Oost-Indise Spiegel, juga ditemukan dalam karya Willem van Ho-gendorp, penggagas pembentukan het Bataviaasch Genootschap voor Kunsten en Wetenshappen, lembaga ilmiah ternama di Asia Tenggara. Setahun setelah novel tendensiusnya terbit Kraspoekol, of de droevige gevolgen van eene te verre gaande strengheid, jegens de slaaven.

Menurut Nieuwenhuys (1973) novel kedua ini seperti juga yang pertama jauh dari kriteria yang harus dipenuhi sebuah novel. Setelah pada novel pertama masalah vaksinasi yang diangkat, dalam novel yang kedua perbudakan disorot. Kraspoekol adalah majikan yang bertangan besi terhadap para budaknya, dalam kesehariannya dia dibantu seorang mandor berasal dari Madura. Cerita berakhir tragis, Kraspoekol dan sang mandor tewas di ujung keris salah satu budak yang memberontak.

Dirk van Hogendorp, anak Willem van Hogendrop, nantinya 20 tahun kemudian menggubah novel itu menjadi lakon drama, yang dalam kemasannya lebih jelas memperlihatkan pesan yang hendak diangkat: antiperbudakan dan perdagangan manusia.

Lakon drama lain yang ditulis oleh Onno Zwier Haren berdasar buku-buku yang dibacanya dia sendiri tidak pernah menginjakkan kakinya di Hindia-Belanda menuturkan tentang perang Banten, Agon, sultan van Bantam, (1769). Dalam lakon itu orang Holland disebut sebagai “perampok dari Barat”. Lakon itu menyoroti praktik korupsi dalam tubuh VOC. Juga kemunafikan diusung dalam karya itu, orang Belanda loyal pada VOC tetapi mereka lebih mencintai “emas”. Diangkat juga pemikiran tentang kebebasan, bahwa orang Belanda ingin mendapatkan kebebasan di negaranya, tetapi mereka menolak memberikan hal yang sama kepada penduduk asli Hindia-Belanda.

Puisi
Kemegahan Batavia sebagai kota pusat VOC diangkat Jan Harmenz de Marre dalam lofdicht yang berjudul Batavia, begrepen in zes boeken (1740). Selama kurang lebih 20 tahun lamanya Marre bekerja untuk VOC. Menjelang akhir masa baktinya, dia menuangkan pengalaman selama tinggal di Batavia dalam bentuk sajak. Dalam sajak-sajak yang terkumpul menjadi enam buku yang dituturkan antara lain dalam buku pertama kebesaran VOC yang digambarkan sebagai Ratu dari Timur yang berhasil membawa kekayaan ke Barat. Pujian dilantunkan untuk VOC yang berhasil membesarkan kota Batavia. Buku kedua berisi sanjak-sanjak tentang perjalanan mengunjungi bangunan-bangunan megah di Batavia, seperti Balai Kota, dan gereja tempat para pahlawan VOC dimakamkan, seperti J.P.Coen dan Cornelis Speelman, mantan Gubernur Jendral.

Dalam penghargaan terhadap orang-orang yang berjasa diberikan tempat yang layak di surga untuk mereka. Buku ketiga berisi sajak-sajak yang meng-gambarkan mimpi penyair. Dalam memimpin itu penyair bertemu dengan Coen yang menceritakan asal mula kota Batavia. Buku keempat berisi sajak-sajak tentang VOC dan benteng VOC di wilayah Asia. Dari benteng itu berangkat kapal-kapal VOC yang memuat berbagai komoditi seperti katun, sutra, rempah-rempah, kopi, opium, salpeter (Kalium nitrat), beras, jahe, perak dan berlian. Sajak tentang Jawa dimuat dalam buku keenam. Lewat sajaknya De Marre meramalkan bahwa Batavia akan selalu terkenal. Dalam sajak-sajak itu Batavia dipuja sebagai kota-nya Belanda di seberang lautan, tempat berbagai bangsa dari Asia melebur.

Selain lofdicht juga dikenal berbagai sajak yang mengusung nilai-nilai moral, seperti karya Matthijs Cramer D’Indiaensche ‘Tyfferboom (1670). Karya Cramer ini bentuknya seperti kumpulan emblemata, sajak-sajaknya diberi nomor dan dimulai dengan sebuah semboyan. Gambaran tentang Hindia-Belanda. Perilaku negatif yang dipaparkan Cramer dengan tajam dan bernada satiris dalam sajak-sajaknya, misalnya tentang sikap sombong, suka meroddel, berjudi, mabuk-mabukan, menipu, munafik, selingkuh, merupakan motif yang sampai abad ke-20 masih ditemukan dalam berbagai karya dalam ranah Sastar Hindia-Belanda.

Pembunuhan orang-orang Cina di Batavia (1740) juga menjadi ilham bagi beberapa penyair. Di Negeri Belanda, Willem van Haren memprotes pembunuhan itu dalam kumpulan sajaknya Gedicht op den moord gepleegd aan de Chinezen te Batavia den IX Octob. Anno 1740 yang terbit dua tahun setelah kejadian pembataian etnis itu. Gerrit Verbeet, yang bekerja untuk VOC dan menjadi saksi mata pembantaian orang-orang Cina tersebut, menuangkan kejadian itu dalam sajak Zeege-zang (1752). Dalam kedua karya yang disebut, jelas terlihat kritik terhadap praktik kekerasan yang keputusannya sering berada di tangan pembesar VOC.

Puisi di masa VOC juga erat terkait dengan “kesempatan khusus”. Sajak-sajak ditulis untuk kejadian-kejadian luar biasa dalam hidup seseorang: keahlian, perkawinan, kematian, promosi, pertemuan dan perpisahan.

Jacob Steendam, penyair dan pengagum VOC, mengelu-elukan kemenangan VOC atas Makasar dalam sajak Dank-offer yang berisi pujian kepada Tu-han karena telah melepaskan Belanda dari belenggu Spanyol, menunjukkan jalan ke Hindia-Belanda dan merestui pendirian kota Batavia. Laurens van Estland, teman semasa Steendam menulis untuk pengangkatan Cornelis Speelman sebagai Gubernur Jenderal pada tahun 1681.

Dia juga menulis sajak dalam rangka sebuah pameran yang mempertontonkan penggalan kepala seorang kapten Ambon, Joncker Manipa Saweru (1689), yang mati saat pemberontakannya ditumpas oleh VOC.

Lagu-lagu
Bagi mereka yang buta huruf, atau yang tidak memiliki akses untuk membaca jurnal perjalanan, mendapatkan informasi mengenai negeri penghasil rempah-rempah, Hindia-Belanda, dari berbagai lagu yang didendangkan semasa VOC. Lagu-lagu menawarkan informasi, misalnya tentang perjalanan ke Timur, kehidupan di negeri tropis, perjalanan pulang ketanah air. Berbagai lagu diperdengarkan dalam acara yang dihadiri banyak orang, misalnya dalam pesta pernikahan, dipasar-pasar tradisional, dan di pasar malam. Biasanya lagu semacam itu tidak sulit didendangkan kerena mengikuti melodi lagu-lagu rakyat yang telah dikenal, syairnya mudah dihapal dan iramanya menarik.

Lagu-lagu tersebut besar kontribusinya dalam membangun citra Hindia-Belanda yang digambarkan sebagai negeri luilekkerland tempat orang mudah meraup kekayaan daerah kaya kandungan emas dan batu permata, rempah-rempah, makanan dan minuman yang lezat dan wanita-wanita “menantang”.

Alasan yang terakhir sangat masuk akal. Mereka yang diiming-iming dan akhirnya ikut belayar dengan kapal dagang VOC adalah pria yang kebanyakan berlatar belakang “hitam”. Setengah dari mereka berasal dari negara-negara Eropa: orang-orang dari Skandinavia, Perancis, Italia dan terutama orang Jerman. Seringkali mereka adalah kelompok orang bermasalah, miskin, pengangguran, pemabok, penjudi, tidak memiliki kemahiran berlayar dan kondisi fisiknya seringkali prima.

Beberapa lagu mengalami adaptasi dan masih dinyanyikan berabad-abad setelah VOC runtuh. Lagu-lagu itu diperkenalkan kepada khalayak ramai baik secara lisan maupun tertulis. Kumpulan lagu juga diterbitkan dalam bentuk buku, sebagian besar lagu tidak diketahui penciptanya.

Di samping lagu-lagu yang bersifat propaganda, juga dikenal lagu dengan kandungan moral dalam syairnya, yang menuturkan resiko pelayaran ke Hindia-Belanda dan betapa berbahayanya kehidupan di Apenland, negeri monyet.

Mengenai lagu dari amsa VOC ini Paasman secara panjang lebar mengupasnya dalam Wie wil d’r naar Oost-Indie vareb’ Liedjes uit de Compagniestijd (1991)

Simpulan
Dari ulasan di atas disimpulkan bahwa dari masa VOC keberagaman karya yang dihasilkan masih terbatas. Yang terutama banyak dihasilkan adalah sastra perjalanan, dengan tema utama mengenai bahaya pelayaran ke Hindia-Belanda dan kehidupan di negeri seberang. Jenis prosa lain bersifat ilmiah-populer, tulisan mengenai flora dan fauna, adat-istiadat dan tradisi. Dari genre puisi tidak dikenal maha karya. Apabila teks-teks lagu dapat dianggap bagian dari genre ini, maka dapat disimpulkan bahwa lagu-lagu itu yang paling berperan untuk membentuk citra negeri Hindia-Belanda.

Semua karya yang dihasilkan masih menggunakan sudut pandang Barat, dari kacamata penulis/pencerita bukan Timur. Gambaran yang dimunculkan tentang penduduk asli Hindia-Belanda masih sangat samar dan tidak lengkap: perhatian terutama diberikan untuk wanita dalam pengertian yang cenderng sempit, yaitu dalam relasinya dengan pria, budak dan pembantu. Tidak cukup banyak karya yang mengangkat keindahan alam, dan hanya ada sedikit tulisan yang mengusung tema kebudayaan.

Dengan segala keterbatasan yang dimunculkan dalam berbagai karya yang disebut di atas, menarik untuk mengamati bahwa beberapa pandangan/tema/pendapat yang diusung dari masa VOC sudah “modern” dan tidak lekang karena waktu. Perilaku yang melanggar norma kesusilaan, korupsi, kekerasan masih tetap “in” sekarang ini. Kepedulian terhadap alam, kesetaraan pun sekarang masih harus ditingkatkan. Masalah trafficking, dalam kemasan yang berbeda marak diperbincangkan.

Siapa yang akan ikut saya berlayar ke wilayah baru, Sastra kolonial di jaman VOC? Kendala dan risiko mungkin tidak sebesar masa itu, tetapi iming-iming luilekkerland tidak dapat saya janjikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s