Tulis Novel Tak Harus Pandai Memaknai Sastra

Posted: Juli 18, 2010 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Disadap dari: http://www.beritajatim.com/detailnews.ph/2/Gaya%20Hidup/2010-07-04/6868 /Tulis_Novel_Tak_Harus_Pandai_Memaknai_Sastra

Bojonegoro (beritajatim.com) – Selama ini banyak pemuda takut untuk menulis novel gara-gara minim teori sastra atau tentang menulis. Padahal, untuk menyuwudkan novel yang bagus, bisa saja lahir dari sebuah catatan harian.

“Menjadi seorang penulis juga tak harus kaya tentang teori sastra atau teori menulis. Karena yang dibutuhkan adalah sebuah perjuangan mewujudkan karya tersebut,” kata Yonathan Rahardjo, pengarang novel berjudul Lanang yang terbit tahun 2008, Minggu (4/7/2010).

Hal itu diceritakan oleh Yonathan pada arisan dan obrolan buku yang digelar Sindikat Baca di gedung Perak Bojonegoro. Dengan gayeng, pria yang santun bercerita itu menjelenterehkan mengenai seni menulis novel.
“Jangan berpikir baik atau buruk dulu, yang penting kita punya karya terlebih dulu. Soal kualitas bisa diperbaiki,” jelasnya.

Ia menceritakan proses kreatif dalam penulisan karya Lanang. Awalnya,  Novel setebal 400 halaman lebih itu awalnya hanya catatan hariannya selama kurun waktu 1999 hingga tahun 2004. Ketika Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) menggelar sayembara penulisan novel, ia langsung mencoba mengirim.

“Waktu itu saya tidak menang. Tapi saya tidak menyerah. Tahun 2006 saya revisi dan kirim lagi. Ee ternyata menang,” jelasnya.

Yonathan yang asli Bojonegoro dan menghabiskan masa SMA di SMAN 2 Bojonegoro itu, menuturkan, seseorang akan menemukan ide tulisan dengan caranya sendiri.

Ia menyarankan jika menulis lalu jenuh, istirahat saja, agar tulisan bisa tetap bagus. “Saya selalu begitu. Kalau tidak mud ya tidak menulis. Tapi setelah itu coba menulis lagi sampai selesai,” terangnya.

Terkait pengetahuan soal sastra secara teori, Yonathan mengakui dia lemah. Apalagi basik pendidikannya adalah Fakultas Peternakan Unair hingga mendapat gelar dokter hewan. Tapi proses menulis baginya adalah bagaimana cara merasakan sebuah karya yang hendak dihasilkan.

“Karena kebanyakan orang yang ilmunya tinggi soal sastra malah sulit menulis, karena takut rambu-rambu. Kalau mau menulis, menulis saja dengan bebas,” katanya.

Ia meyakini, sebuah karya sastra akan menemukan bentuknya sendiri di belantara sastra Indonesia. Penulis juga tak harus mendapatkan pengakuan dari pembaca atau media massa. Karena karya sastra tak lepas dari selera. Ada yang suka dan ada yang tidak suka.

“Novel saya Taman Api baru cetak. Saya baru satu novel yang terbit. Saya belum pantas disebut sastrawan,” katanya merendah.

Dalam acara yang digelar dengan suasana santai lesehan itu, beberapa peserta banyak yang bertanya soal bagaimana menentukan alur, misi penulis, hingga soal honor sebagai penulis.

“Royalti penulis itu hanya 10 % dari harga buku. Jadi kalau harganya Rp 55.000 ya saya dapat Rp5.500/buku,” terangnya blak-blakan dan disambut tertawa oleh peserta arisan buku. [dul/gir]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s