Studi: Cara Burung Belajar Berkicau Mirip Bayi Belajar Bahasa

Posted: Juli 23, 2010 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Disadap dari: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/riset/10/06/16/120073-studi-cara-burung-belajar-berkicau-mirip-bayi-belajar-bahasa. Rabu, 16 Juni 2010, 06:37 WIB

Cara burung belajar berkicau, sangat mirip cara bayi manusia belajar bahasa. Demikian hasil penelitian Universitas Utrecht. Karena itu otak burung dapat berfungsi sebagai ‘model’ untuk menyelidiki bagaimana cara kerja daya ingat manusia.

Penelitian terhadap kicauan burung bukan hobi ilmiah. Mempelajari lebih jauh bagaimana daya ingat bisa menyerap bahasa dan juga kicauan burung, berarti lebih banyak pengetahuan tentang otak manusia. Itu sangat dibutuhkan jika kita ingin memerangi penyakit seperti Alzheimer misalnya.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa burung kicau muda, belajar kicauan ayahnya dengan bagian otak yang sama seperti bayi belajar bahasa. Jadi manusia dan burung kicau punya kemiripan lebih banyak daripada diduga sebelumnya. Tapi sekarang muncul kesamaan lebih banyak lagi.Pentingnya Tidur
Peneliti Johan Bolhuis menemukan betapa pentingnya tidur untuk daya belajar manusia dan burung kicau. “Penemuan terbaru kami adalah bahwa tidur berperan sangat penting dalam proses berkicau seekor burung. Itu hampir sama halnya dengan manusia. Kami sudah lama tahu bahwa tidur berperan penting dalam proses belajar manusia. Belakangan juga terbukti bahwa anak kecil yang belajar suatu bahasa, akan melakukannya lebih baik jika bisa tidur sebentar di sela-sela waktu.”

Jadi, menurut Bolhuis, adalah ide bagus untuk tidur cukup sebelum membuat ujian. Dan itu juga berlaku untuk burung kicau.

Kesamaan lain antara manusia dan burung jika belajar suatu bahasa atau belajar berkicau adalah meniru suara orang tua. Proses belajar akan berjalan lebih baik jika dimulai pada usia muda: burung muda dan bayi muda cepat sekali menyerap bahasa dan kicauan. Dan keduanya harus banyak berlatih: bayi mengoceh sepanjang waktu, sama halnya burung muda terus berkicau tanpa terlihat suatu struktur di dalamnya.

Johan Bolhuis mengambil kesimpulan setelah berjam-jam mendengarkan suara burung kicau muda. Perbedaan antara murid baik dan buruk sangat jelas. “Inilah kicauan ayah burung kicau; ‘kwetterkwetter, kwetterkwetter’….. dan ini adalah suara seorang murid yang baik, anaknya yang hampir sempurna menirunya: ‘kwitterkwitter , kwitterkwitter’…. Dan berikut ini lagu murid yang kurang baik ‘pieperdepieperdepiep’.”

Studi Aneh
Peneliti Bolhuis orang pertama yang mengakui bahwa studi ini tampak sedikit aneh. Namun ia menambahkan penelitian tersebut untuk sementara masih merupakan ilmu sangat dasar. Tidak ada kaitan dengan praktek sehari-hari. Kendati demikian ia masih punya catatan.

“Jika suatu saat ingin memerangi penyakit seperti Alzheimer, maka gejala pertama yang terlihat adalah bahwa orang mengalami masalah daya ingat. Jika suatu saat ingin menyembuhkan penyakit itu, maka harus dilakukan penelitian mendasar mengenai cara kerja daya ingat dalam otak. Bagaimana informasi diolah dan disimpan?” Nah, pengetahuan tentang bagaimana bahasa dipelajari sangat penting, kata Johan Bolhuis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s