Ketika Bahasa Daerah Terdengar Asing di Telinga

Posted: Juli 24, 2010 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Sumber: Kompas

Praktisi pendidikan bahasa Sutjahjo Gani mengemukakan, saat ini banyak kosakata Jawa yang sudah terdengar asing di telinga, terutama generasi muda.

Beberapa contoh kosakata Jawa tersebut, antara lain, “edhum” yang maknanya merupakan teduh, “lalis” yang artinya mati, juga “wirang” yang artinya malu.

“Saat ini, banyak generasi muda yang merasa asing dengan bahasa daerahnya (Jawa). Bahkan, mereka ada yang tidak tahu,” kata Sutjahjo mengungkapkan.

Ia merasa menyesal dengan kejadian itu. Sebagai seorang warga Jawa, ia berharap dapat melestarikan budaya daerah, termasuk dari sisi bahasa. Bahkan, kata dia, saat ini masyarakat Indonesia lebih senang menggunakan bahasa asing yang dicampur dengan bahasa nasional, padahal itu tidak selayaknya.

“Saat ini, banyak pejabat maupun tokoh penting yang justru senang untuk mencampur bahasa, seperti Indonesia dengan asing, yang jika digabungkan menjadi lucu,” ucapnya sambil terbahak.

Dengan kondisi tersebut, ia menilai, saat ini keberaadaan Bahasa baik Indonesia, Jawa, sudah terpengaruh kebudayaan global, dan sudah mulai terjadi pergeseran.

Ia mencontohkan, beberapa halaman untuk iklan, banyak yang tertulis kalimat “space for rent”, padahal bisa diganti menjadi Bahasa Indonesia “halaman untuk dijual”.

“Kalau saya melihatnya, saat ini sudah mulai ada penjajahan secara kapitalisme dalam bidang bahasa. Yang pertama adalah bahasa nasional, namun imbasnya kepada bahasa daerah,” kata dosen dari Universitas Nusantara PGRI Kediri tersebut.

Bahkan, kata dia, saat ini keberadaan bahasa daerah, seperti Jawa, juga sudah mulai ada pergeseran, dari semula mayor menjadi minor. Selain pengaruh orang tua yang tidak membiasakan mengenal bahasa daerah kepada anaknya, juga guru pengajar yang tidak menguasai materi.

Hal itu, kata dia, berdampak sangat besar. Beberapa contohnya, seperti pelajaran Bahasa Jawa, seharusnya dikenalkan mata pelajaran tentang “nembang” atau menyanyi menggunakan Bahasa Jawa. Namun, karena guru yang bersangkutan tidak bisa “nembang”, akhirnya mata pelajaran tersebut dihindari.

Selain itu, kata dia, beberapa materi bahasa daerah juga dipandangnya hanya aplikasi, atau yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Murid tidak dikenalkan untuk mengetahui secara mendetail, tentang beberapa materi atau bahasa yang sudah ada sejak dulu.

Ia khawatir, dengan kondisi tersebut, akan berdampak buruk, terutama bahasa daerah, karena beberapa kosakata akan hilang. Bahkan, para generasi muda, tidak mengenal bahasa daerahnya sendiri.

Bahasa daerah di Kediri dengan daerah lain, kata dosen yang saat ini berupaya meraih gelar Doktor (S-3) di Universitas Malang (UM) tersebut, juga unik. Hal itu disebabkan, Kediri termasuk daerah Mataraman (Jatim belahan Barat). Bahasa daerah di Kediri dan sekitarnya, juga lebih halus ketimbang daerah lain.

Sayangnya, untuk literatur mengenai bahasa tersebut, ia mengaku belum pernah melihat. Hanya ada diskusi-diskusi rutin yang dilakukanya dengan beberapa pecinta kebudayaan yang saat ini tergabung dalam Komunitas Edhum Kediri.

Yang ada saat ini, justru beberapa literatur buku yang menjelaskan tentang etika Bahasa Jawa, di antaranya Etika Jawa Sebuah Analisis Falsafi Tentang Kebijakan Hidup Jawa yang ditulis Frans Magnis Suseno tahun 1985, yang diterbitkan PT Gramedia, Tingkat Tutur Bahasa Jawa, yang ditulis oleh Soepomo Pudjosudarmo tahun 1979, serta beberapa judul lainnya.

Sutjahjo mengungkapkan, sebenarnya, Bahasa Jawa itu sama dengan Bahasa Indonesia dari segi tingkatanya, seperti untuk Bahasa Jawa ada “ngoko”, “kromo”, “kromo inggil”, maupun lainnya. Hal itu, juga terlihat dari Bahasa Indonesia, mempunyai tingkatan yang berbeda, ketika bertemu dengan mereka yang umurnya sama, maupun yang lebih tua.

“Sayangnya, untuk Bahasa Jawa lebih banyak ditinggalkan, sehingga banyak kosakata yang dilupakan,” paparnya.

Bahkan, ia mensinyalir, saat ini terdapat sekitar 50 persen Bahasa Jawa sudah mulai hilang, karena jarang digunakan. Ia khawatir, jika hal itu dibiarkan, bahasa yang merupakan peninggalan sejarah, juga akan punah.

Ia berharap, pemahaman sebagai upaya untuk menyadarkan bahwa identitas budaya itu sangat penting. Sayangnya, hal itu masih belum disadari dengan baik, dari lembaga pendidikan, maupun dari pemerintah.

Padahal, untuk penggunaan bahasa daerah, selain sebagai identitas diri, juga menekankan budi pekerti, karena di dalamnya, para pemuda diberi pendidikan, untuk bagaimana bisa menghargai baik kepada satu tingkatan maupun mereka yang lebih tua.

“Seharusnya, pemerintah daerah berperan aktif untuk tetap melestarikan bahasa daerah. Dengan itu, besar kemungkinan bahasa daerah tidak akan hilang,” katanya menegaskan.

Ia juga menilai, identitas Bangsa Indonesia saat ini masih lemah, dan belum bisa menghargai budaya sendiri. Hal itu seperti beberapa kasus yang terjadi, yaitu kasus Reog Ponogoro, kain batik, maupun beberapa kasus lainnya.

Berbagai kebudayaan dari dalam negeri baru akan diakui, setelah terjadi pengakuan maupun penghargaan dari bangsa asing.

Kurang mendukung

Kurikulum Pendidikan Bahasa Jawa terutama di wilayah Jawa Timur, khususnya Kediri, juga kurang begitu mendukung untuk melestarikan bahasa daerah. Bahkan, dalam pelajaran, guru juga lebih menekankan kepada murid untuk menggunakan bahasa sehari-hari, ketimbang berusaha mengenalkan beberapa bahasa daerah lainnya.

Sehingga, tidak ayal lagi, banyak murid yang merasa bahasa daerah itu sulit. Bahkan, ada beberapa di antaranya yang tidak begitu suka, dan memilih mata pelajaran lainnya.

Ironisnya, guru bahasa daerah banyak yang bukan lulusan perguruan tinggi bersangkutan, melainkan dari disiplin ilmu yang berbeda. Saat ini hanya terdapat delapan guru bahasa daerah yang memang lulusan dari sekolah bahasa daerah, sementara sisanya dari disiplin ilmu yang berbeda.

Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kota Kediri, Hartiningsih mengaku, ia tidak ingin terlalu menekan kepada anak didiknya, sehingga dalam pemberian pembelajaran di sekolah, ia lebih menekankan penggunaan bahasa sehari-hari.

“Ada beberapa murid yang merasa bahasa daerah sulit, jadi, ketika saya meminta mereka untuk membuat artikel bahasa daerah, saya membiarkan mereka untuk menggunakan bahasa sehari-hari,” katanya mengungkapkan.

Ia mengaku, sudah berupaya untuk tetap mengenalkan kepada anak didiknya, tentang bahasa daerah. Selain digunakan untuk kegiatan sehari-hari, ia juga menekankan bahasa daerah itu tidak sulit.

Ia juga berharap, porsi bahasa daerah bukan hanya menjadi muatan lokal saja, melainkan bisa lebih. Sayangnya, hal itu belum tercapai. Bahkan, saat ini kurikulum untuk bahasa daerah di Jawa Timur belum diterapkan, sehingga pihaknya harus membuat kurikulum sendiri.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Umum (Kabid Dikmenum) Dinas Pendikan Kota Kediri, Heri Siswanto mengaku, saat ini memang untuk bahasa daerah hanya menjadi muatan lokal saja dalam pendidikan. Namun, pihaknya akan berupa semaksimal mungkin, untuk tetap melestarikan bahasa daerah, di antaranya dengan memperbaiki kurikulum yang ada.

Ia tidak ingin, bahasa daerah, akan kehilangan identitasnya, sehingga menjadi asing di telinga anak-anak. “Kami akan memperbaiki kurikulum yang ada, terutama untuk bahasa daerah. Kami tidak ingin, bahasa yang merupakan identitas budaya ini terdengar asing di telinga anak-anak,” tuturnya.

Bagi beberapa orang, bahasa daerah juga dinilai kurang memasyarakat. Tidak semua orang bisa memahami bahasa yang merupakan asli dari daerah ini. Bahkan, penggunaaan bahasa daerah dengan halus, banyak dilakukan dalam kegiatan upacara atau resmi (formal), seperti pengantin.

“Tidak semua orang mengetahui atau memahami bahasa daerah (Jawa). Bahkan, bahasa satu dengan lainnya juga tidak sama, walaupun artinya sama,” kata praktisi pendidikan bahasa, Sutjahjo Gani.

Ia mencontohkan, Bahasa Jawa “ora” di Solo akan lebih dipahami ketimbang kata “gak”, walaupun artinya sama yaitu tidak. Dan kata “tibo” akan lebih dipahami oleh orang Solo ketimbang “ceblok”, walaupun artinya sama, jatuh.

Bahkan, kata dia, penggunaan bahasa daerah secara halus, terutama di Kediri hanya digunakan dalam kegiatan tertentu, seperti upacara pengantin, maupun berbagai ritual lainnya (budaya). Sementara, untuk sehari-hari lebih digunakan bahasa daerah sehari-hari, seperti “ngoko” maupun “ngoko alus”.

“Bahkan, banyak saat ini dalam keluarga juga tidak dikenalkan untuk ’boso’ atau menggunakan bahasa daerah. Lebih banyak yang menggunakan bahasa ’ngoko’ atau bahasa sehari-hari, sehingga tidak ada bedanya berkomunikasi kepada orang yang seumur, maupun kepada yang lebih tua,” paparnya.

Ia menilai, saat ini penggunaan bahasa daerah kurang diminati. Hal itu dimungkinkan, sudah mulai ada penjajahan dari kapitalis, dengan masuknya bahasa asing, sehingga masyarakat lebih suka menggunakan bahasa asing, ketimbang mengakui identitas budaya sendiri.

Bahkan, ia juga menilai, peran media massa harus diperhatikan dalam masalah ini. Karena, dari hasil penelitian yang ia lakukan di beberapa daerah di luar Jawa, ketika meraih gelar S-2, ternyata banyak kosakata dari daerah yang masuk ke dalam bahasa jurnalistik.

Ia khawatir, hal itu juga dapat merusak tatanan bahasa yang sudah ada, sebab, peran media juga sangat penting untuk tetap melestarikan bahasa, baik bahasa daerah maupun Indonesia.

Beberapa keluarga mengaku, menerapkan penggunaan bahasa untuk mendidik anak-anaknya tata krama. Namun, ada juga beberapa keluarga yang memang membiarkan mereka untuk berkomunikasi dengan caranya sendiri.

Seperti yang diungkapkan oleh Yuli (23), warga Kelurahan Banjaran, Kota Kediri. Ia mengaku, tidak pernah dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk menggunakan bahasa daerah halus dalam komunikasi sehari-hari.

“Kadangkala, saya biasa ’boso’ (menggunakan Bahasa Jawa halus) kepada orang tua, juga kadang tidak. Tetapi, kepada orang lain, saya pasti ’boso’, walaupun tidak halus,” ujarnya.

Ia merasa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa daerah itu, lebih halus dan lebih dekat ketimbang bahasa lainnya. Selain merupakan bahasa daerah, beberapa orang juga lebih mudah diajak berkomunikasi ketimbang bahasa lain.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Lisa (24). Ia bahkan mengaku, kepada orang tua tidak menggunakan Bahasa Jawa halus, melainkan “ngoko” atau biasa. Ia merasa lebih santai, ketimbang harus “boso” kepada orang tua.

“Saya sejak kecil tidak pernah diajarkan untuk ’boso’ kepada orang tua, rasanya aneh jika hal itu dilakukan,” kata Lisa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s