Maaf dalam Linguistik

Posted: Agustus 8, 2010 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Apa hubungan kata dalam judul tersebut? Mungkin tidak ada, mungkin juga ada. Kalau saya bertanya kata apa yang paling sulit diucapkan, apa jawab Anda?

Jawabnya mungkin tergantung pendekatan yang Anda pakai. Secara kebahasaanpun jawabnya ada bermacam-macam. Kalau kita lihat dari fonologi cabang ilmu bahasa yang mengutak-atik tata bunyi maka kata yang paling sulit adalah kata yang fitur bunyinya sulit dilafalkan. Misalnya kata yang mengandung unsur bunyi /x/, /f/, atau /v/ biasa sulit diucapkan oleh penutur bahasa Indonesia karena unsur bunyi tersebut tidak kita jumpai dalam bahasa Indonesia.

Kalau kita lihat secara leksikal maka mungkin kata yang paling sulit adalah kata yang paling jarang kita jumpai. Kata yang jarang kita pakai atau jarang ditemui pemakaiannya akan mengalami atrisi atau menghilang dari ingatan kita. Karena kata tersebut tersembunyi di memori kita dan tertimbun kata yang lain tak jarang kita jadi kesulitan memakai ataupun memaknai kata tersebut.

Kalau kita telaah dari sosiolinguistik dan filsafat bahasa saya kira kata yang paling sulit adalah kata “MAAF”. Mengapa demikian?

Sosiolinguistik adalah cabang ilmu kebahasaan yang menelaah pemakaian bahasa dalam ranah sosial dan bahasan utamanya adalah kekuatan kuasa dan bahasa. Arti dan kekuatan sebuah ujaran sangat ditentukan oleh berbagai faktor sosial yang ada seperti tempat, status, jenis kelamin, ethnik, dan sebagainya. Karena konsekuensi sosial dari sebuah ujaran inilah maka kata tersebut membawa konsekuensi yang sulit jika diucapkan dengan nilai kebenaran.

Menurut Habermas, sebuah ujaran akan dipercaya apabila ujaran tersebut mengandung nilai kebenaran, ketepatan, dan ketulusan. Sedangkan menurut Grice sebuah ujaran adalah benar atau tidak melanggar menyalahi maksim kualitas apa bila penuturnya sendiri percaya dan mempunyai bukti atas ucapannya.

Sebuah gambaran sulitnya meminta maaf adalah yang terjadi pada pemerintah Jepang terhadap kejahatan perang yang dilakukan pada Perang Dunia II. Sampai sekarang Pemerintah Jepang sangat sulit menyampaikan permintahan maafnya. Contoh lain adalah penindasan bangsa Australia terhadap suku-suku asli atau suku Aborigin. Baru Perdana Menteri Australia saat ini saja, Kevin Rutt berani dengan terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada suku-suku asli di Australia.

Sorry [maaf]
Is all that you can’t say [tak bisa kau ucap]
Years gone by and still [tahun berlalu dan masih saja]
Words don’t come easily [kata tak mudah terucap]
Like sorry like sorry [seperti “maaf”]

Perdonami
È una parola che
Non ricordi più
Ma basterebbe anche un solo “…se”
Per riprendere …a vivere

But you can say baby [tapi kau bisa ucapkan]
Baby can I hold you tonight [sayang bisakah kupelukmu malam ini]
Maybe if I told you the right words [jika saja aku ucapkan kata yang tepat]
At the right time you’d be mine [pada saatnya kau akan jadi milikku]

Io t’amo
È una parola che
Non ricordi più
Words don’t come easily [kata tak terucap dengan mudahnya]
Like I love you I love you [seperti “aku cinta padamu”]

Ci sono parole
che tu non sai dire, o non vuoi
Quando a volte non c’è bisogno di più
Di uno scusami, se mi vuoi

Baby can I hold you tonight
Che tu non sai dire
Maybe if I told you the right words [jika saja aku ucapkan kata yang tepat]
At the right time you’d be mine [pada saatnya kau akan jadi milikku]
Se mi vuoi
You’d be mine [kau akan jadi milikku]
Se mi vuoi
You’d be mine [kau akan jadi milikku]
Se mi vuoi
You’d be mine… [kau akan jadi milikku]

©Tracy Chapman/Centonze

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s