Bahasa dari Dunia yang Sunyi

Posted: Agustus 18, 2010 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Dunia Yuri Mejia adalah dunia senyap tanpa suara. Sejak lahir, gadis kecil Nikaragua 9 tahun ini bisu-tuli. Di bawah pohon mangga, di kota pelabuhan terpencil di Pesisir Mosquito, di bibir kolam hias berisi bayi-bayi aligator kecil, Yuri duduk membungkuk. Ekspresi wajahnya beragam, tangannya bagai menari-nari membentuk isyarat. “Kapan aligator ini bangun? Tiap kali aku datang, mereka pasti sedang tidur,” keluhnya lewat gerakan tangan.

Yuri mengaku bosan tinggal di rumah. Ia tinggal bersama sang nenek. “Kami duduk di gazebo, bosan tak bisa ngapa-ngapain,” tangannya lagi-lagi berkisah. “Lebih enak di sekolah, semua teman sama-sama tak mendengar, jadi aku bisa bercerita kepada mereka.”

Yuri juga mengaku ia membaca cerita Babar, gajah kecil yang hidup di hutan. Untuk menceritakan Babar, Yuri kecil membentuk huruf B dengan merapatkan empat jemarinya, lalu jari telunjuk ditempelkan ke hidung, membentuk belalai. Ia juga bercerita tentang elevator dengan membentuk huruf V terbalik di atas telapak tangan yang digerakkan naik-turun serupa gerakan elevator.

Gerakan-gerakan Yuri mungkin tak dikenal dalam bahasa isyarat kebanyakan. Ini memang bahasa baru, tumbuh dan berkembang spontan di tengah komunitasnya.

Yuri adalah satu dari murid termuda di sekolah Escuelita de Bluefields, sekolah eksperimen yang dipimpin Judy Kegl dan suaminya, James Shepard Kegl. Sekolah itu berdiri pada 1995, hampir sepuluh tahun setelah Judi Kegl datang ke Nikaragua untuk meneliti bahasa isyarat kaum bisu-tuli. Kegl adalah pakar bahasa isyarat di Northeastern University, Amerika Serikat. Sepuluh tahun di Nikaragua, Kegl dan asistennya, Ann Singhas, menjadi saksi lahir dan berkembangnya bahasa baru: bahasa isyarat orang bisu-tuli Nikaragua. Fenomena ini tak ubahnya keajaiban.

Seperti ahli biologi yang jarang menemukan spesies baru, para pakar linguistik pun nyaris tak pernah menemukan bahasa baru. Bahasa baru, apa pun itu, memang tak lahir dalam hitungan tahun. Pakar linguistik harus cukup beruntung untuk berada pada saat dan tempat yang tepat demi melihat tanda-tanda kelahirannya.

Keberuntungan itulah yang didapatkan Kegl dan Singhas. Mereka berdua bisa menemukan bahasa baru setelah sejak 1990 selalu menghabiskan enam pekan liburan musim panasnya untuk duduk di kelas-kelas anak tunarungu di Villa Libertad, Managua, Nikaragua. Di sana, sepanjang waktu Kegl dan Singhas mencatat, sesekali merekam dalam video, beberapa bahasa isyarat yang disampaikan murid di sekolah itu. Sampai akhirnya mereka menemukan perbedaan mencolok bahasa isyarat yang dipakai oleh dua sekolah yang didirikan pemerintah Nikaragua sejak 1970-an, seusai revolusi Sandinista. Sekolah itu adalah Villa Libertad dan San Judas.

Dengan melakukan eksperimen pada kedua sekolah itu, Dr. Singhas berhasil menyusuri jejak pertumbuhan bahasa isyarat baru ini. Di Villa Libertad, bahasa isyarat sangat terbatas. Memang bahasanya lebih lengkap ketimbang bahasa isyarat orang-orang tuli di pedalaman hutan Nikaragua, tapi tetap kalah lengkap ketimbang yang dimiliki murid-muda belia di sekolah San Judas. Salah satu contoh, untuk menunjukkan kata “berguling” dan “jatuh”, mereka yang lebih tua hanya menggunakan satu isyarat. Sebaliknya, yang muda-muda sudah menggunakan isyarat berbeda untuk menggambarkan kedua kata itu.

Selain menciptakan kata-kata baru, anak-anak tunarungu Nikaragua juga mengembangkan isyarat pembeda kiri dan kanan—sesuatu yang tak pernah dikenal oleh orang tua mereka. Dr. Singhas mengujinya dengan meminta para penderita tuli dari berbagai usia untuk bercerita tentang serangkaian foto. Seorang di antara mereka memilih foto tertentu dan menggambarkannya. Yang lain menebak foto mana yang dimaksud.

Tatkala seluruh foto berisi gambar yang sama namun diatur dalam urutan berbeda, mereka yang lebih tua, yang lebih dulu mempelajari bahasa isyarat, tak mampu membedakan foto mana yang mereka maksud. Bahkan mereka tak mampu menangkap isyarat dari mereka yang lebih muda. Sebaliknya, yang muda pun tak mampu menjelaskan pada yang lebih tua mana yang kanan dan kiri. Jelas, bahasa kedua generasi ini memang tak bisa nyambung. Mereka yang lebih tua sesungguhnya memahami konsep kanan dan kiri, sayangnya mereka tak mampu menyampaikannya.

Ketekunannya itulah yang mengantarkan dia meraih gelar doktor di Massachusetts Institute of Technology. “Sungguh asyik mengamati tumbuhnya bahasa pada murid-murid yang berbeda umur,” kata wanita yang kini profesor di Barnad College, AS itu.

Lahirnya bahasa baru juga bisa dijelaskan dengan melihat fenomena orang-orang kolok di Desa Bengkala, Kabupaten Buleleng, Bali. Kolok adalah sebutan untuk warga di desa itu yang tunarungu. Di desa yang terletak 16 kilometer dari Singaraja ini, orang-orang tunarungu mengembangkan bahasa isyarat tersendiri. Jumlah tunarungu di desa itu memang cukup banyak, 40 orang dari total penduduk 2.126 orang.

Warga kolok Bengkala ini punya bahasa isyarat khas, berbeda dengan pakem bahasa isyarat di Indonesia. Mereka cenderung menirukan aktivitas visual atau tiruan dari suatu benda.

Untuk menggambarkan kelapa, misalnya, tangan mereka seolah-olah memegang buah kelapa dan mengguncang-guncangnya, seperti orang mengetes kematangan kelapa yang baru dipetik. Untuk aktivitas spesifik, misalnya minum teh, mereka menggerakkan tangan sehingga membentuk sebuah saringan. Untuk menggambarkan minum kopi, bahasanya lain lagi. Mereka menambahkan gerakan menempelkan jari ke kening, meniru orang yang pening jika tidak minum kopi seharian. “Bahasa isyarat yang berlaku diciptakan sendiri oleh orang kolok,” ujar Sekretaris Desa Bengkala, I Wayan Rupaka.

Bahkan, untuk menyebut nama seseorang pun, mereka punya bahasa khas. Saat menyebut Presiden Megawati, misalnya, orang kolok melakukannya dengan membuat gerakan seolah memberi tahi lalat di dagu—merujuk pada tahi lalat di dagu Mega. Sedangkan untuk menyebut Rupaka, mereka memberikan tanda benjolan di kepala, menggambarkan dahi Rupaka yang menonjol. Ini sangat mirip dengan bahasa anak-anak bisu Nikaragua. Mereka membentuk huruf V dengan dua jari dan meletakkannya di depan mulut, untuk menggambarkan Fidel Castro yang suka mengisap cerutu.

Hampir semua warga Bengkala paham dengan baik bahasa isyarat lokal setempat. Mereka justru kesulitan jika berkomunikasi dengan orang bisu-tuli “standar”. Komunikasi di antara orang bisu-tuli dan mereka yang normal mengundang takjub. Dalam dunia yang berbeda, mereka bisa saja tiba-tiba terbahak setelah saling menggerakkan tangan. Dalam dunia yang tak mengenal suara, hidup orang-orang tunarungu di Bengkala dan Nikaragua itu tak pernah benar-benar terasa sunyi.

Dari:http://majalah.tempointeraktif.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s