Arsip untuk September, 2010

Oleh: Administrator

Para pencari kerja di seluruh Indonesia mulai menyiapkan diri mereka untuk menghadapi sebuah even yang dianggap akan mampu merubah hidup mereka. Event ini biasanya terjadi pada bulan Oktober-Desember serta berlangsung tidak regular karena menyesuaikan dengan kebutuhan negara.

Ya..event apa lagi yang sangat-ditunggu-tunggu jutaan pencari kerja tanah air jika bukan seleksi masuk menjadi pegawai negara atau yang biasa kita kenal sebagai test CPNS.

Bagi anda yang sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi test CPNS tersebut, di bawah ini ada beberapa kumpulan prediksi soal test CPNS yang berhubungan dengan bahasa. Silahkan anda bisa mengunduhnya dengan gratis, tanpa melewati prosedur berbelit-belit. (lebih…)

Oleh: Iqbal Nurul Azhar

Bahasa ibu masyarakat Kabupaten Bangkalan adalah bahasa Madura dialek Bangkalan (BMDB). Bahasa Madura (BM) dialek ini sedikit memiliki perbedaan dengan  BM yang dituturkan di Kabupaten Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Salah satu penyebabnya adalah karena letak geografis kabupaten Bangkalan berada di daerah transisi dua dialek (dapat juga dikatakan bahasa) yang berbeda yaitu antara BM dialek Sampang dan Bahasa Jawa (BJ) dialek Surabaya. Kondisi ini menyebabkan BM dialek Bangkalan memiliki kekhasan bila dibandingkan dengan dialek-dialek bahasa Madura lain yang ada di pulau Madura.

Kekhasan pertama terlihat pada konteks pengucapannya. Pengucapan masyarakat Bangkalan identik dengan penyingkatan yang berupa penghilangan vokal pada suku kata pertama, seperti pada kata “stiyah” (sekarang), “klebun” (lurah) atau “mloloh” (melulu). Hal ini berbeda dengan dialek Pamekasan yang mengucapkan sebuah kata sesuai dengan jumlah suku katanya sehingga diucapkan “sateyah,” “kalebun,” dan “maloloh” atau dialek Sumenep yang ditandai dengan pemanjangan pada suku ultima. Kekhasan kedua terletak pada kosakatanya. Beberapa kosakata dialek Bangkalan memiliki perbedaan dengan dialek lain, seperti pada penggunaan negasi “tidak.” Di BM dialek Bangkalan, kata “tidak” direpresentasikan lewat kata “ lo’. ” Di tiga kabupaten yang lain, negasi ini tidak dipakai. Hal ini terjadi karena tiga kabupaten yang lain  menggunakan negasi “ta’ ” untuk merujuk pada kata “tidak.” (lebih…)

Oleh: Iqbal Nurul Azhar

Telah hampir satu tahun berlalu sejak kasus bahasa Cia-Cia bergulir. Namun tidak ada satu tindakan konkretpun yang diambil pemerintah untuk menuntaskan kasus ini. Seakan menguap begitu saja, kasus ini terlupakan tertindih di atara tumpukan kasus-kasus besar yang terjadi pada bangsa Indonesia.

Kasus ini berawal dari Simposium Pernaskahan Nusantara-IX tahun 2005. Saat itu, seorang Professor Korea bernama Chun Thai Yun meyakini, ada rahasia menarik di Bau-Bau khususnya keanekaragaman “linguistik” yang ada di daerah tersebut. Ketertarikan Chun ini, terus berlanjut hingga apa yang menjadi fokus ketertarikannnya, diceritakan kepada rekan-rekannya di Seoul National University. (lebih…)

Muslim di Rusia

KIEV–Geliat islam di Rusia tampaknya terganjal dengan kendala bahasa. Pasalnya, tidak semua warga muslim Rusia menggunakan bahasa Rusia. Komunitas muslim Rusia terdiri dari berbagai etnis, seperti Turki, asli Rusia dan yang terbesar adalah Tatar

Karena itu, ancaman perpecahan warisan Uni Soviet bakal menjadi tantangan komunitas muslim negeri beruang merah. “Muslim Rusia menghadapi pertanyaan apakah keberadaan masjid harus diatur berdasarkan garis etnis-lingusitik seperti yang diberlakukan di Eropa Barat dalam membantu komunitas budaya tertentu demi bertahan, atau meniadakan persoalan etnis,” demikian pendapat Pakar Etnis dan Agama, Paul Globe, dalam blognya seperti yang dikutip harian Kyiv Post, awal pekan ini. (lebih…)

Bahasa Sunda merupakan bahasa yang diciptakan dan digunakan oleh orang Sunda dalam berbagai keperluan komunikasi kehidupan mereka. Tidak diketahui kapan bahasa ini lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.

Prasasti dimaksud di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475). (lebih…)