SOSIOLEK MASYARAKAT MOGH LOGHONG

Posted: September 25, 2010 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Oleh: Iqbal Nurul Azhar

Bahasa ibu masyarakat Kabupaten Bangkalan adalah bahasa Madura dialek Bangkalan (BMDB). Bahasa Madura (BM) dialek ini sedikit memiliki perbedaan dengan  BM yang dituturkan di Kabupaten Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Salah satu penyebabnya adalah karena letak geografis kabupaten Bangkalan berada di daerah transisi dua dialek (dapat juga dikatakan bahasa) yang berbeda yaitu antara BM dialek Sampang dan Bahasa Jawa (BJ) dialek Surabaya. Kondisi ini menyebabkan BM dialek Bangkalan memiliki kekhasan bila dibandingkan dengan dialek-dialek bahasa Madura lain yang ada di pulau Madura.

Kekhasan pertama terlihat pada konteks pengucapannya. Pengucapan masyarakat Bangkalan identik dengan penyingkatan yang berupa penghilangan vokal pada suku kata pertama, seperti pada kata “stiyah” (sekarang), “klebun” (lurah) atau “mloloh” (melulu). Hal ini berbeda dengan dialek Pamekasan yang mengucapkan sebuah kata sesuai dengan jumlah suku katanya sehingga diucapkan “sateyah,” “kalebun,” dan “maloloh” atau dialek Sumenep yang ditandai dengan pemanjangan pada suku ultima. Kekhasan kedua terletak pada kosakatanya. Beberapa kosakata dialek Bangkalan memiliki perbedaan dengan dialek lain, seperti pada penggunaan negasi “tidak.” Di BM dialek Bangkalan, kata “tidak” direpresentasikan lewat kata “ lo’. ” Di tiga kabupaten yang lain, negasi ini tidak dipakai. Hal ini terjadi karena tiga kabupaten yang lain  menggunakan negasi “ta’ ” untuk merujuk pada kata “tidak.”

Penampakan variasi BM tidak hanya terjadi saat BM dialek Bangkalan diperbandingkan dengan BM dialek lainnya. Ketika tuturan antarpenutur dialek Bangkalan diperbandingkan, ternyata juga ditemukan perbedaan, seperti yang terdapat pada masyarakat Mor Lorong Kecamatan Burneh Bangkalan.

BM dialek Bangkalan yang dituturkan oleh masyarakat Mor Lorong memiliki kekhasan. Uniknya, kekhasan ini terjadi hanya saat orang Mor Lorong berkomunikasi dengan tetangganya sesama orang Mor Lorong dengan menggunakan BM. Ketika mereka bercakap-cakap dengan orang yang berasal dari luar komunitasnya, atau ketika mereka bercakap dengan menggunakan Bahasa Indonesia, kekhasan ini tidak berlanjut dan hilang. Adapun kekhasan ini adalah; ketika mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung suara r, mereka lebih suka mengganti suara r dengan suara gh (ghain dalam bahasa Arab) sehingga akhirnya muncullah kata-kata seperti Mogh Loghong (Mor Lorong), ogheng bine (oreng bine’ (wanita)), ghoma tembok (roma tembok (rumah tembok)) dan seterusnya.  Fenomena ini mengesankan bahwa mereka adalah orang-orang pelat. Padahal ketika mereka diminta mengucapkan suara r, mereka mampu melakukannya dengan sempurnya. Demikian juga ketika mereka diminta bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia, mereka mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung r dalam BI dengan sempurna. Dari sinilah kita bisa menyimpulkan bahwa keunikan yang terjadi di atas, bukan disebabkan karena kurang sempurnanya alat ucap mereka (ideolek), tapi semata-mata karena faktor lainnya seperti faktor sosiolek.

Faruq, salah satu warga Mor Lorong menuturkan bahwa kebiasaan mengganti r dengan gh telah dilakukan oleh masyarakat Mor Lorong sejak lama. Ia juga menambahkan bahwa setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan keunikan ini terjadi. Yang pertama, keunikan ini muncul karena adanya tradisi dan kebiasaan turun temurun, yang kedua disebabkan oleh faktor setia kawan, dan yang terakhir, karena hal ini menjadi penunjuk jati diri masyarakat Mor Lorong di Kabupaten Bangkalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s