Arsip untuk Mei, 2011

Judul buku: Sosiolinguistik: Teori dan Praktik

Editor: Iqbal Nurul Azhar

Penulis: Iqbal N.A, Puspa, R, Sri Pamungkas, Adi Deswijaya, Ananda S, Berlian R, Favorita K, Harsono, Kenfitria D.W, Poussy Dhinar, R.Rr. Rohmadhona, Salim, A, Septi M, Liana, Sunarya, Sutarman, Tri Widayadi.

Penerbit: Lima-lima Jaya

Nomor ISBN: 978-602-96578-4-5

Buku ini ditulis dan diterbitkan atas kerja keras sekelompok pemuda dan pemudi yang tergabung dalam Ikatan Linguis Muda Indonesia (ILMI). Kata “muda” dilekatkan pada nama ILMI dimaksudkan untuk merujuk pada usia para anggotanya yang masih muda (rata-rata di bawah 30 tahun). Selain itu, kata “muda” juga merujuk pada pengalaman mereka yang juga masih muda dalam hal menulis dan menerbitkan buku yang berhubungan dengan dunia linguistik. Demikian juga pelekatan kata “Indonesia” pada nama kelompok ini, juga memiliki tujuan khusus. Kata ini merupakan cermin dari beragamnya latar budaya anggotanya (ada yang berasal dari suku Jawa, Sunda, Madura dan Batak) serta kecintaan mereka pada negeri ini. Buku ini secara umum dapat dikatakan sebagai sebuah teks deklarasi dari keberadaan ILMI.

Buku ini terbit dilatarbelakangi oleh tiga hal. Pertama adalah adanya keinginan dari anggota ILMI untuk memiliki media yang dapat merekatkan jalinan silaturahmi anggotanya. Album foto dan buku kenangan, dianggap sudah jamak ditemui dan dirasa kurang kemanfaatannya, baik bagi anggotanya maupun bagi masyarakat umum. Untuk menjembatani keinginan ini, buku ini akhirnya ditulis dan diterbitkan. Buku ini menjadi karya yang tidak pernah lusuh oleh waktu karena akan selalu direvisi dan diterbitkan. Setiap tahunnya, selama anggota ILMI masih hidup, mereka akan selalu bersilaturahmi, membicarakan tentang perkembangan buku ini serta dunia linguistik pada umumnya. Secara berkala pula, mereka akan menyempurnakan buku ini sebelum akhirnya menerbitkannya. Dengan demikian, buku ini akan selalu terbit dan hadir dalam masyarakat. Yang kedua adalah adanya perasaan ingin berbagi informasi, pengalaman, maupun ilmu yang dimiliki anggota ILMI kepada masyarakat. Diilhami oleh peribahasa Arab “al’ilmu bilaa ‘amalin kassyajari bilaa tsamarin,” “ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah,” menyebabkan para anggota ILMI merasa kurang berharga disebut dan dikenal sebagai kelompok linguis jika tidak mampu menyumbangkan sesuatu kepada masyarakat. Buku ini adalah sumbangan pertama ILMI pada masyarakat. Mudah-mudahan, sumbangan ini dapat berlanjut, diteruskan oleh sumbangan-sumbangan ilmiah lainnya dari anggota ILMI.

Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi beberapa teori yang menjadi pondasi dari sosiolinguistik seperti; hubungan bahasa dan kebudayaan, kedwibahasan, alih kode dan campur kode, interferensi dan integrasi dalam bahasa, sikap bahasa serta perencanaan bahasa. Keenam teori tersebut disertakan dalam buku ini dimaksudkan sebagai sebuah jendela yang sengaja dibuka secara lebar kepada pembaca sehingga dengan terbukanya jendela tersebut pembaca akan dapat melihat indahnya pemandangan fenomena-fenomena bahasa, fenomena-fenomena yang didiskusikan pada bagian kedua yaitu bagian praktik. Bagian kedua berisi artikel-artikel yang merupakan implementasi dari teori-teori yang disebutkan sebelumnya. Artikel-artikel tersebut diangkat oleh penulisnya sesuai dengan interest mereka masing-masing.

(lebih…)

Bahasa dan sastra mengambil peranan yang cukup penting dalam kehidupan umat manusia baik di masa dahulu, sekarang, maupun yang akan datang.  Karena peranannya ini, bahasa dan sastra mengalami perkembangan yang cukup pesat. Perkembangan bahasa dan sastra dari masa ke masa masih dan akan tetap menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji. Selain itu pembahasan tentang dalam hal apa bahasa  dan sastra tetap bertahan dan dalam hal apa keduanya mengalami perubahan juga penting untuk dilakukan.

Seminar Nasional yang akan diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Trunojoyo bertujuan untuk mendiskusikan dan membukukan persamaan dan perbedaan bahasa dan sastra dalam tiga masa yang berbeda.

Dengan dibukukan dan didiskusikannya perkembangan bahasa dan sastra dalam tiga masa yang berbeda diharapkan dapat memberikan semangat,  untuk selanjutnya insan linguistik dan sastra dapat memberikan warna bagi dinamika keduanya di masa yang yang akan datang.

Seminar ini mengangkat tema ” Linguistik Dan Sastra, Dahulu, Sekarang, Dan Yang Akan Datang, dan akan diadakan pada 20 September 2011. Seminar ini  menerima makalah dari peserta, baik hasil penelitian maupun kajian pustaka yang sesuai dengan tema.

Berita selengkapnya dapat dilihat di http://semnasunijoyo.dikti.net, atau di http://www.dikti.org  atau di http://trunojoyo.ac.id atau dapat menghubungi panitia Semnas di: semnasunijoyo@ymail.com

Masuknya Islam ke Nusantara menandai peralihan dari tradisi lisan menjadi tulisan. Namun, sampai dengan tahun 1500 M, tradisi penulisan dalam wujud teks belum dilakukan. Ide atau gagasan dan nilai-nilai masih disampaikan secara lisan. Beberapa karya sastra yang kental dengan corak kelisanannya adalah teka-teki, peribahasa, pantun, dan mantra.

Setelah huruf Arab dikenal oleh masyarakat Melayu, barulah dimulai penulisan ilmu pengetahuan dengan huruf Arab, terutama Arab Jawi. Hal ini mengindikasikan bahwa huruf Jawi ini berperan besar dalam mengomunikasikan khazanah intelektual Muslim di Nusantara.

Naskah-naskah Melayu kuno menyebar ke berbagai kawasan di Nusantara, seperti di Aceh, Minangkabau, Riau, Siak, Bengkulu, Sambas, Kutai, Ternate, Ambon, Bima, Palembang, Banjarmasin, dan daerah-daerah yang kini masuk kawasan Malaysia dan Singapura. Naskah-naskah tersebut saat ini disimpan di lembaga-lembaga di dalam dan luar negeri.

Di Indonesia, naskah-naskah itu disimpan di museum daerah, Perpustakaan Nasional, yayasan-yayasan, pesantren, masjid, dan keluarga-keluarga atau pemilik naskah. Ketika itu, aktivitas penulisan berkembang sangat marak. Karena didukung dengan hadirnya beberapa percetakan di sejumlah kawasan, seperti Rumah Cap Kerajaabn di Lingga; Mathba’at al-Riauwiyah di Penyengat, dan Al-Ahmadiyah Press di Singapura.

Munculnya ketiga percetakan itu memungkinkan karya para intelektual Muslim dapat dicetak dengan baik. Akhirnya, beberapa karya itu pun menyebar hingga ke berbagai daerah. (lebih…)

DEPOK – Keluhan untuk menghapuskan mata pelajaran muatan lokal (mulok) bahasa sunda di sekolah, sepertinya tidak hanya dilontarkan beberapa kotaseperti Bekasi, kabupaten Bekasi dan kabupaten Karawang saja. Nur Mahmudi Ismail, Walikota kotaDepok juga mengusulkan hal yang sama pada Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

“Perkenankan saya untuk mengajukan usul agar muatan lokal bahasa sunda tidak diwajibkan,” katanya ketika menyampaikan sambutan dalam acara Festival Seni Budaya tahun ke -5 kota Depok dengan tajuk Kirab Seni Budaya Jawa Barat Zona Melayu Betawi 2011, di Balai Kota Depok.

Tidak hanya itu, Nur Mahmudi mengusulkan jika muatan lokal bahasa sunda diganti dengan bahasa betawi atau melayu. Ia berpendapat hal tersebut bisa saja dilakukan jika mendapat ijin dari Gubernur Jawa Barat. (lebih…)

Tiba-tiba saja, bersamaan dengan Konferensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) ke-18 yang berlangsung pada 5-8 Mei di Jakarta, wacana mendorong Bahasa Indonesia menjadi Bahasa ASEAN hidup kembali. Tentu saja yang paling menyambut prakarsa ini adalah masyarakat Indonesia.

ANTARA menjumpai sejumlah orang secara terpisah di beberapa tempat untuk menanyakan harapan masyarakat kepada keketuaan ASEAN Indonesia, terutama dalam hubungannya dengan terrwujudnya semboyan “satu visi, satu identitas dan satu komunitas”.

“Indonesia kan sedang menjadi Ketua ASEAN tahun ini, makanya harus bisa memanfaatkan momentum tersebut untuk mengusung Bahasa Indonesia menjadi bahasa ASEAN,” kata Mahmud Rustam (62), pensiunan pegawai negeri sipil, Jumat.

Mahmud mengakui, perbedaan latar belakang sosial dan budaya masyarakat ASEAN akan menjadi kendala untuk mewujudkan harapannya itu. Yang penting, katanya, Indonesia harus berupaya keras mewujudkan hubungan antarmasyarakat ASEAN setelah terbentuknya Komunitas ASEAN 2015 nanti. (lebih…)

The (Nama)
Ini termasuk nama yang paling klasik, pada era tahun 90an, nama band yang diawali dengan “the” sering bermunculan. Tetapi pada akhir-akhir ini, nama ini menjadi populer hingga sering sekali digunakan sebagai nama band. Contoh: The Beatles, The Ting Tings, The Killers, The White Stripes, dll.

Penghilangan “The”
Ini termasuk nama yang populer lainnya selain “the” di atas. Nama ini memiliki getaran seni tersendiri karena ketidakhadiran “the” tadi. Nama ini bermunculan di era 70an, dimana gerakan hippy berakhir. Beberapa nama yang terkenal adalah Heart, Whale, Nirvana, Oasis, Blur, Suede, dll.

Penggabungan Dua Kata (Merger)
Ini juga salah satu nama band yang sudah terkenal sekali di era 90an. Contoh band dengan metode penamaan ini adalah Coldplay, Idlewild, Sailsailor, dll.

(lebih…)

Orang Inggris berjuang untuk menggenggam kekayaan kosakata dalam dialek regional di negeri itu sekuat mungkin, karena semua itu “terhuyung di ambang kepunahan”, kata seorang profesor linguistik.

Jajak pendapat terhadap 3.000 orang memperlihatkan bahwa 90 persen orang Inggris dapat mengidentifikasi kata-kata asing, seperti “hasta la vista” — dari bahasa Spanyol yang berarti “sampai nanti” — tetapi hanya 34 persen mengetahui kata “scran” adalah ungkapan Merseyside untuk makanan.

Dan meskipun 85 persen orang Inggris mengetahui bahwa “weiner” adalah dari bahasa Jerman yang berarti sosis, hampir separuh tak mengetahui bahwa kata wilayah Cornish “oggy” berarti kue, dan mengira itu adalah teh krim atau teriakan dalam sepak bola.

Seperempat orang Inggris mengira kata wilayah Cornish “emmet” berasal dari bahasa Spanyol atau Yunani, sementara seperlima responden menduga istilah Yorkshire untuk orang bodoh “a daft ha-porth” adalah frasa Denmark atau Polandia.

“Keragaman dialek regional di Inggris mesti diperkenalkan, tetapi penelitian ini memperlihatkan bahwa semua dialek itu terhuyung di ambang kepunahan,” kata Profesor Paul Kerswill dari Lancaster University. (lebih…)