Peluncuran Buku “Linguistik dan Sastra: Dahulu, Sekarang dan yang Akan Datang”

Posted: Oktober 14, 2011 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Isi dari buku ini adalah kumpulan artikel kiriman dari peserta Seminar Nasional Bahasa dan Sastra yang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Inggris Universitas Trunojoyo Madura, 2011. Seluruh full-paper yang ada pada buku ini telah sesuai dengan tujuan diadakannya Seminar Nasional ini yaitu: mendiskusikan dan membukukan perkembangan bahasa dan sastra dari tiga masa yang berbeda; dahulu, sekarang dan di masa yang akan datang. Tujuan khusus dari Seminar Nasional ini adalah untuk menawarkan berbagai pemikiran yang mungkin dapat digunakan untuk memajukan perkembangan bahasa dan sastra nasional.

Secara umum, isi buku ini terbagi menjadi tiga subbahasan. Subbahasan pertama mengulas segala permasalahan yang ada dalam dunia linguistik. Trend dan isu yang ada dalam dunia linguistik selama tiga masa berbeda juga tercakup dalam subbahasan ini. Subbahasan kedua menggarisbawahi pembahasannya pada segala permasalahan yang tercakup dalam dunia ilmu sastra. Perkembangan teori, serta perambahan ranah-ranah baru kajian sastra dalam tiga masa berbeda tercakup pula dalam subbahasan ini. Subbahasan terakhir adalah pengajaran linguistik dan ilmu sastra. Subbahasan terakhir ini menjadi penyempurna tema kita kali ini yaitu bahasa dan sastra, dahulu sekarang dan di masa yang akan datang. Satu subbahasan lagi sebenarnya dapat dijumpai dalam buku ini yaitu penerjemahan. Namun karena jumlah artikel yang masuk dan berada dalam kategori ini jumlahnya hanya satu, maka pada pengantar editor ini, subbahasan penerjemahan tersebut tidak terlalu banyak dikupas.

Penulis-penulis artikel yang ada dalam buku ini memiliki interest yang berbeda  terkait dengan tema Seminar Nasional ini. Karenanya, kita dapat mengatakan bahwa penulis-penulis artikel tersebut merupakan perwakilan dari interest-interest tersebut yang memiliki tujuan yang sama yaitu memberikan aspirasi maupun inspirasi terkait tema Seminar Nasional kali ini. Mereka juga dapat diibaratkan sebagai “jembatan” yang menghubungkan tiga disiplin ilmu yang berbeda namun sangat dekat, dalam sebuah forum Seminar Nasional, sehingga dengan adanya “jembatan” ini, praktisi maupun akademisi bahasa dan sastra, dan pendidikan dapat saling berbagi informasi sehingga sepulangnya dari Seminar Nasional ini, para akademisi dan praktisi tersebut mendapat tambahan informasi dari “tetangga” dekatnya tersebut. Mudah-mudahan, informasi tersebut dapat menjadi hal yang bermanfaat yang dapat diterapkan di tempat kerja masing-masing.

Karena banyaknya full-paper yang ada dalam buku ini, maka  kami selaku tim editor pada bagian pengantar ini hanya sanggup menampilkan cuplikan dari kumpulan artikel tersebut sebagai salam pembuka buku ini. Harapan dari editor, salam pembuka ini  disambut hangat oleh pembaca, baik peserta Seminar Nasional maupun yang bukan peserta Seminar Nasional 2011, sehingga pembaca berlomba-lomba membaca buku ini dari awal hingga akhir.

Subtopik pertama yaitu linguistik, telah dieksplorasi oleh Luita Aribowo melalui pendekatan yang sedikit unik yaitu pendekatan biologis. Dalam artikelnya ia mengatakan bahwa manusia mampu menggunakan bahasa sebagai interaksi komunitas karena manusia secara biologis, dibekali banyak organ yang mendukung hal ini.  Bunyi sebagai penyusun bahasa yang terkecil, ternyata dihasilkan dan dibuat oleh organ bicara manusia. Organ pencernaan juga berperan dalam produksi bunyi, gigi yang bertugas mengunyah makanan ternyata menghasilkan bunyi-bunyi dental. Lidah yang bertugas memindahkan makanan, berfungsi sebagai artikulator. Otot perut juga berperan dalam menghasilkan bunyi bahasa. Otak manusia yang terdiri dari dua belahan otak, kiri dan kanan, memegang peranan yang cukup besar untuk aktivitas berbahasa.

Pendekatan unik lainnya dalam menganalisis bahasa juga ditunjukkan oleh Sri Pamungkas. Melalui pendekatan gabungan antara psikologi dan linguistik, ia menganalisis sebuah fenomena yang disebut latah. Latah secara garis besar dapat dibedakan menjadi latah verbal dan latah nonverbal (latah gerak). Latah yang diulasnya adalah berupa penggunaan atau peniruan kata-kata yang saat ini dianggap sebagai trend. Berbeda dengan latah pada penelitian sebelumnya, latah ini muncul setiap saat serta tidak ada kondisi khusus yang bisa membuat orang mengalaminya. Ia beranggapan hal tersebut sebagai sebuah bentuk penyimpangan yang dilakukan secara sadar melibatkan adanya gejala interferensi, dan pemahaman salah kaprah terhadap sebuah konteks kebahasaan.

Tidak kalah dengan subtopik pertama, subtopik kedua yaitu sastra juga dipenuhi tulisan-tulisan dengan pendekaan unik. Flo. K. Sapto sebagai contoh, membahas sastra melalui pendekatan pasar. Melalui artikelnya, ia mengekplorasi kemauan pasar tertentu (Blackberry Messenger grup) terhadap karya sastra yang diinginkan. Dari pendekatan ini, diketahui bahwa grup konsumen tertentu memerlukan karakteristik produk karya sastra tertentu. Secara mendasar, hasil kajiannya memberikan sebuah arah atas penciptaan karya sastra. Dengan demikian, karya sastra bukan lagi identik dengan sebuah produk yang bisa jadi bernilai tinggi menurut kaidah-kaidah sastra namun tidak terbeli dan terbaca oleh konsumen, melainkan menjadi produk berkualitas yang dikonsumsi dan mampu memberikan kepuasan kepada pembaca.

Pendekatan unik lainnya terhadap sastra, disampaikan oleh Endang Surachni. Dengan mengambil subjek kajian sastra elektronik, yaitu kajian tentang sastra yang berkembang di dunia internet, ia menemukan bahwasanya sastra elektronik memiliki bentuk dan karakteristik yang unik, yaitu pada kemampuannya untuk selalu menjadi baru (renewed) serta keterkaitan yang sangat erat/dekat antara penulis dengan pembacanya (linked). Sastra elektronik bersumber dari kelahiran hypertext yang kemudian bertransformasi dalam ruang maya elektronik dengan melandaskan dirinya pada bentuk-bentuk sastra pada umumnya yang telah dikenal dalam tradisi cetak konvensional. Sastra elektronik merupakan konsekuensi kultural dari perkembangan media massa dan teknologi informasi dan lebih sebagai ruang reproduksi mekanis dari karya sastra yang sebelumnya dihegemoni oleh kepentingan-kepentingan ekonomis.

Rr. Dyah Woroharsi P. dan Fahmi Wahyuningsih memiliki ketertarikan beda dengan empat penulis artikel di atas. Dengan berpijak pada subtopik ketiga yaitu pengajaran, ia menggarisbawahi peran dongeng dalam pendidikan. Dalam kehidupan masyarakat, dongeng dapat berfungsi sebagai alat pendidikan yang komunikatif dan  diharapkan mampu meningkatkan inteligensia anak.  Pokok bahasan mengenai karya sastra, termasuk dongeng, yang diisyaratkan dalam kurikulum merupakan bentuk apresiasi terhadap karya sastra yang dilakukan di dalam proses pembelajaran bahasa dari tingkat satuan pendidikan hingga perguruan tinggi, sehingga tingkat relevansi dongeng dalam dunia pembelajaran bahasa (asing) hingga saat ini dapat dikatakan masih “terjaga”. Ini terbukti dengan munculnya dongeng-dongeng yang ditulis atau diterjemahkan oleh remaja-remaja Indonesia. Keadaan ini sesuai pendapat Frank (1985) yang menyatakan bahwa seseorang belum dapat dikatakan menguasai bahasa asing secara baik bila belum mengenal tradisi budaya bangsa bahasa tersebut. Dengan demikian, kehadiran teks-teks sastra (dongeng) di dalam pengajaran bahasa (asing) hingga masa mendatang tetap memberikan peranan yang berarti.

Artikel terakhir yang digunakan edior untuk untuk menyapa pembaca adalah artikel yang ditulis oleh Arik Susanti.  Melalui tulisannya ia mengatakan bahwa dalam dunia pengajaran sastra asing, sangat banyak teks sastra asing disampaikan pengajar dengan tingkat antusiasme yang tinggi kepada pelajar namun berakhir pada sebuah kenyataan yaitu pelajar terlalu sibuk menuliskan terjemahan kata-kata asing hanya untuk memahami karya sastra tersebut. Fakta inilah yang ia sebut sebagai sindrom “hazy.” Untuk mengatasi sindrom ini, Susasti menyarankan agar para pengajar sastra menggunakan bahas-bahan ajar yang efektif yaitu novel-novel simplified yang dipublikasikan oleh penerbit Indonesia.

Melalui tulisan-tulisan yang tersusun dalam buku ini, diharapkan dapat membantu memperluas cakrawala pembaca akan fenomena kebahasaan maupun kesastraan di tanah air. Dengan bertambahnya cakrawala tersebut, diharapkan dunia linguistik maupun ilmu sastra Indonesia menjadi berkembang.

Terakhir, kami haturkan jutaan terima kasih kepada banyak pihak, utamanya para penulis yang telah menyumbangkan tulisannya dan membantu kami menerbitkan buku ini. Terimakasih juga kepada penerbit ITS Press  yang telah berkenan bekerjasama dengan kami. Kami berharap, kerjasama ini akan terus berlanjut di masa yang akan datang. Akhir kata, Salam Bahasa dan Sastra!

Editor:  Iqbal Nurul Azhar, SS., M.Hum & Diah Ikawati A, SS., M.Pd

Tim Seleksi:  Diva Wenanda, SS., M.Pd, Suci Suryani, SS., M.Pd, & Rif’ah Inayati, SS., MA

Penyelia Teks:  Iqbal Nurul Azhar, SS., M.Hum

Cetakan Pertama:  September 2011

ISBN:  978-979-8897-90-0

Penerbit:  ITS Press

Komentar
  1. mahayani mengatakan:

    pesan boz, berapa duit?

  2. Ridwan Dinata mengatakan:

    Untuk mendapatkan Buku ini saya harus membeli dimana?
    apakah dikampus ada yang menjual buku ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s