Arsip untuk Desember, 2011

Bahasa Moronene, salah satu unsur budaya etnis Moronene di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, terancam punah dalam masa 15 tahun hingga 25 tahun mendatang.

“Masyarakat pendukung yang aktif berbahasa daerah Moronene saat ini hanya golongan orang tua berusia di atas umur 50 tahun, sedangkan generasi muda telah bergeser menggunakan Bahasa Indonesia,” kata Salah seorang Mahasiswi Strata 3 Universitas Negeri Jakarta, Yus Rambe, di Rumbia, Kamis.

Yus yang sedang meneliti tentang upaya mempertahankan Bahasa Moronene, mengatakan, salah satu akibat hilangnya budaya suatu suku, adalah terjadinya pergeseran bahasa yang terjadi di kalangan masyarakat pendukungnya.

(lebih…)

Tepat pada 26 Desember 1991, Uni Soviet dibubarkan. Kini, wilayah-wilayah peninggalan Negeri Tirai Besi itu melahirkan 12 negara merdeka. Rusia adalah penerus Uni Soviet yang paling dominan di antara pewaris Soviet lainnya.

Dominasi Rusia sudah ada sejak zaman kekaisaran. Setelah kekaisaran itu dibubarkan, Uni Soviet melanjutkan supremasi ras Slavia di Jazirah Eurasia. Pengaruh Rusia cukup besar. Mulai dari politik, ekonomi, sosial, dan budaya, bahkan nyaris hampir di setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat Eurasia.

Namun, 20 tahun kemudian, dominasi Rusia mulai mengalami erosi. Yang paling kentara adalah dalam bidang bahasa. Lima negara pewaris Soviet di Asia Tengah, Kazakstan, Kirgistan, Tajikistan, Turkmenistan dan Uzbekistan tidak lagi menggunakan bahasa Rusia sebagai pengantar. Masing-masing menggunakan bahasa tradisional yang menyimbolkan asal-usulnya. (lebih…)

Oleh: Iqbal Nurul Azhar

Kongres bahasa Jawa V telah ditutup Rabu, 29 November 2011 lalu. Ada banyak kisah menarik yang dapat diceritakan tentang kongres ini. Salah satunya adalah kisah penulis yang menjadi salah satu pemakalah dalam kongres ini. Dikatakan menarik, karena mungkin penulis adalah salah satu atau bahkan mungkin satu-satunya pemakalah yang tidak memiliki darah Jawa. Meskipun penulis bukan orang Jawa (penulis orang Madura), tapi penulis, menyajikan makalah tentang bahasa Jawa.

Sebelum memaparkan makalahnya, penulis dengan jujur mengatakan bahwa penulis bukan orang jawa, tidak pula dapat berbahasa Jawa, dan penulis tidak tahu alasan penitia meloloskan makalah penulis untuk dipresentasikan dalam kongres tersebut. Mungkin karena panitia menganggap bahwa kongres tersebut tidak akan lengkap tanpa adanya saran maupun komentar dari orang nonJawa terkait bahasa Jawa, atau mungkin karena panitia menganggap makalah penulis memang benar-benar bagus untuk dipresentasikan dalam kongres tersebut. Entahlah. Tapi apapun alasannya, penulis sangat berterimakasih atas kesempatan yang besar tersebut. Rasa terimakasih tersebut penulis ungkapkan dalam bentuk ngrasani dengan topik yang membangun, yaitu falsafah kepemimpinan dalam paribasan jawa.

(lebih…)