KEUNIKAN BAHASA ENDE

Posted: Februari 5, 2012 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Kabupaten Ende adalah salah satu dari belasan kabupaten yang ada di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kabupaten Ende terletak hampir tepat berada di tengah-tengah Pulau Flores. Kabupaten yang merupakan tempat lahirnya falsafah Negara Indonesia ini mempunyai dua suku, yaitu: Suku Ende dan Suku Lio. Suku Ende tersebar hampir di sepanjang daerah pesisir barat kabupaten Ende sedangkan Suku Lio tersebar di daerah pegunungan dan sebagiannya tersebar di wilayah bagian timur pantai selatan Kabupaten Ende.

Bahasa Ende dibagi menjadi dua, yaitu Bahasa Ende dan Bahasa Lio. Bahasa Ende digunakan oleh masyarakat Suku Ende, sedangkan Bahasa Lio digunakan oleh masyarakat Suku Lio. Kedua suku ini mempunyai bahasa yang hampir sama. Ingat, hampir sama tidak berarti sama, karena kedua bahasa ini mempunyai dialek dan aksen yang berbeda. Akan tetapi, kedua bahasa ini mempunyai kosakata yang mirip, hanya saja terdapat sedikit perbedaan pada huruf konsonan yang digunakan dalam banyak kata, misalnya, lambu (Bahasa Lio) dan zambu (Bahasa Ende) untuk baju, selake (Bahasa Lio) dan sezake (Bahasa Ende) untuk celana, lako (Bahasa Lio) dan zako (Bahasa Ende) untuk anjing, zera (Bahasa Ende) dan leja (Bahasa Lio)  untuk terik, raza dan jala (Bahasa Lio)  untuk jalan, iza (Bahasa Ende) dan ila (Bahasa Lio)  untuk lampu, raka (Bahasa Ende)  dan jaka (Bahasa Lio)  untuk rebus atau merebus, dan masih banyak lainnya. Perhatikan pada contoh di atas. Konsonan L pada sebagian kata-kata dalam Bahasa Lio biasanya diganti dengan konsonan Z pada sebagian kata dalam Bahasa Lio, ataupun sebaliknya. Begitu juga dengan konsonan R pada sebagian kata dalam Bahasa Ende diganti dengan konsonan J pada sebagian kata dalam Bahas Lio. Unik bukan? *Saya tau anda bingung. Silahkan baca lagi paragraf ini. Hehehe…*

Apa itu dialek? Dan apa itu aksen? Sebagian orang menafsirkan dialek adalah intonasi atau gaya bicara dari orang-orang yang mendiami suatu wilayah tertentu. Itu bukan dialek tetapi aksen. Menurut Wikipedia, sebuah dialek dibedakan berdasarkan kosa kata, tata bahasa, dan pengucapan (fonologi), jika pembedaannya berdasarkan pengucapan, maka istilah yang tepat adalah aksen, bukan dialek. Bahasa Ende mempunyai beberapa aksen, diantaranya aksen Ende (Mbongawani, Paupanda, Rukun Lima, dan sekitarnya), aksen Pulau Ende, aksen Nangapanda, aksen Onekore, aksen Potu, dan lainnya yang dimana mempunyai perbedaan dalam bunyi ucapan atau intonasi serangkaian kata-kata dalam kalimat. Perhatikan bagaimana orang yang bertempat tinggal di Paupanda dan orang yang bertempat tinggal di Nangapanda berbicara, beda kan? Kata-kata yang diucapkan sama, hanya saja kedengarannya beda karena nada atau intonasi yang digunakan. Itulah aksen.

Lain halnya dengan Bahasa Lio. Bahasa Lio tidak hanya memiliki aksen yang beragam, tetapi juga memiliki dialek yang beragam. Aksen Bahasa Lio seperti aksen Nggela, aksen Ngalupolo, aksen Jopu, aksen Moni, dan lain sebagainya. Kalau penasaran, coba perhatikan orang Ngalupolo dan orang Nggela berbicara. Perbedaan aksennya akan sangat jelas terlihat.

Dialek dalam Bahasa Lio umumnya ada dua, yaitu dialek Lio dan dialek Wolowaru/Mbuli. Berbicara mengenai dialek, diksi atau pemilihan kata yang dipakai berbeda-beda untuk suatu hal yang sama, misalnya, holo dan kolo. Kedua kata ini mempunyai arti yang sama yaitu kepala. Orang Mbuli ataupun Wolowaru menggunakan kata holo untuk kepala, sedangkan orang Lio kebanyakan menggunakan kata kolo untuk kepala. Contoh lain adalah koro (Lio kebanyakan) dan horo (Wolowaru/Mbuli) untuk lombok/cabai atau pedis. Newallo (Lio kebanyakan) dan kaderro (Wolowaru/Mbuli) untuk sebentar, he’e Wolowaru/Mbuli) dan ke’e (Lio kebanyakan) untuk diam, ra’I Wolowaru/Mbuli) dan mai (Lio kebanyakan) untuk datang, dan masih banyak yang lainnya.

Pada umumnya, kekayaan kosakata dari sebuah bahasa tergantung dari letak geografis, alam yang dimilikinya, dan ikatan social dari suatu daerah. Bentangan alam dan ikatan social yang dimiliki Kabupaten Ende mempengaruhi keragaman bahasa yang dimilikinya. Dulunya wilayah Kabupaten Ende yang boleh dibilang agak tandus dan kurang subur ini membuat banyak tanaman seperti apel, anggur, teh, strawberry, cherry, durian, rambutan, dan yang lainnya tidak dapat tumbuh di tanah Ende. Begitu pula dengan hewan. Kabupaten Ende, yang termasuk daerah peralihan dalam pembagian persebaran hewan secara geografis ini, mempunyai kemungkinan yang sangat kecil untuk bisa dihuni oleh hewan-hewan seperti gajah, harimau, badak, singa, kanguru, koala, kuskus, dan lainnya. Hal ini sangat mempengaruhi keberagaman kosakata dalam Bahasa Ende untuk hewan-hewan dan tumbuhan-tumbuhan dimaksud. Tidak ada kosakata yang menggambarkan apel, strawberry, anggur, rambutan, singa, gajah, badak, harimau, dan sebagainya. Sedangkan untuk tumbuhan yang banyak tumbuh di Ende dan hewan yang banyak hidup di Ende misalnya kelapa, mangga, pisang, jagung, singkong, papaya, kuda, kambing, ayam, semut dan yang lainnya mempunyai kosakata dalam Bahasa Ende. Mangga=pau, pisang=muku, papaya=uta ba’I, singkong=wa’ai, jagung=jawa, kuda=jara, semut=metu, manu=ayam, dan lainnya.

Dari sudut pandang ikatan social, dulunya orang Ende mempunyai ikatan social yang cukup tinggi dan mereka menganggap bahwa semua orang Ende adalah saudara. Bagi mereka sesama saudara mempunyai kewajiban untuk saling berbagi dan saling memperhatikan satu dengan yang lainnya sehingga rasa terima kasih jarang atau bahkan tidak diungkapkan. Karena memperhatikan saudara atau sesama orang Ende adalah sebuah kewajiban. Adakah kosakata dalam Bahasa Ende yang menyatakan rasa terima kasih? Jawabannya tidak ada. Orang Ende tidak mempunyai bahasa yang spesifik untuk mengungkapkan rasa terima kasih. Selain itu, adakah kosakata dalam Bahasa Ende yang mengungkapkan permohonan maaf? Jawabannya tidak ada. Ma’e gera yang artinya jangan marah memang ada dalam Bahasa Ende sebagai ungkapan untuk meminta maaf. Akan tetapi tidak ada kata yang spesifik untuk kata ‘maaf’.

Bahasa Ende adalah bahasa yang unik, bukan? Yang lebih unik lagi, semua kosakata dalam Bahasa Ende dan Bahasa Lio berakhir dengan huruf vocal (a, i, u, e, dan o), dan tidak ada satupun kosakata kedua bahasa ini berakhir dengan konsonan. Silahkan dicek!

Disadap dari: http://titynlunatic.wordpress.com/2012/01/21/bahasa-ende-adalah-bahasa-yang-unik/

Komentar
  1. ida mengatakan:

    sy suka bahasa ende dan lio
    soalnya bunyinya itu unik sekali

  2. yosephine rachel mengatakan:

    saya akan coba bljr bhs ende…🙂

  3. Ris mengatakan:

    bahasa manggarai (flores barat juga unik lho), aku ngancenng tombo bahasa hitu cekoen, danong aku ka’eng lau hio ceng taun

    setiap golo/kampung memiliki beberapa kosakata berbeda (tidak terlalu beda) tapi mereka saling memahami satu sama lain

    usang, uhang = hujan
    mese, mehe = besar
    salang, halang = jalan

    manuk = ayam
    jarang = kuda
    inung = minum
    hang = makan (verb), nasi (noun)
    lako = berjalan
    ngo = pergi
    tegi = minta, dllllll

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s