Bahasa Alam: Secuil Pemikiran dari Kajian Ekolinguistik

Posted: Maret 22, 2012 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Akhir-akhir ini keganjilan demi keganjilan keadaan cuaca makin sering kita simak dan menimbulkan pertanyaan bagi banyak pihak. Dalam sehari, panas terik tiba-tiba berubah dengan gulungan awan yang menghitam, guntur yang menggelegar, dan tumpahan air hujan yang mengucur deras dari langit. Air bah terburu-buru mengalir deras, air laut pun tanpa segan meluap ke daratan. Tanah di atas bumi juga berguncang dan gunung-gunung juga ikut berdetak.

Berita demi berita menjadi suguhan yang menambah keprihatinan.

Banyak yang dirugikan dengan keganjilan alam ini, terutama dari kalangan rakyat kecil seperti pedagang kaki lima, petani, dan nelayan tradisional. Mata pencaharian mereka sangat bergantung kepada cuaca yang seharusnya berjalan normal.

Semua keganjilan menjadi tanda dari alam dan ditafsirkan oleh manusia, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ferdinand de Saussure dalam ilmu bahasa tentang tanda (sign). Sebenarnya konsep ini sudah jamak diketahui oleh kalangan luas. Adalah fitrah manusia untuk bermain dengan berbagai tanda. Salah satu peran manusia adalah sebagai mahluk pencipta tanda (homo significans). Sejak zaman pra-sejarah, manusia terlatih untuk belajar lewat mengamati lalu menerapkan sesuai dengan kepentingannya, demi mengembangkan peradaban.

Tanda itu sendiri, menurut Saussure, merupakan keseluruhan dari yang terhubungkan antara “penanda” (signifier), yakni bentuk yang diwujudkan dan “yang tertandai” (signified), yakni konsep yang dihadirkan. Satu tanda secara mutlak memiliki dua sisi yang saling terhubung ini. Hubungan inilah yang dimaknai dengan istilah signifikasi. Saussure menggambarkannya dengan tanda panah yang dapat saling bertukar posisi untuk berbagi. Gabungan kedua sisi adalah hasil tafsiran. Satu sisi “penanda” terwakili oleh satu fenomena dengan sisi “yang tertandai” bisa memuat konsep yang tak cuma satu.

Dengan meyakini konsep tanda, keganjilan peristiwa alam yang menghampiri dapat dikaji secara linguistis. Linguistik memiliki cabang ilmu yang terkait dengan alam, yakni ekolinguisti. Cabang linguistik ini dipelopori oleh Einar Haugen sekitar tahun 1972 dengan kajian mengenai interaksi antara bahasa yang tercipta dan lingkungan sekitar. Istilah yang diperkenalkan Haugen adalah language ecology. Perkembangan pada sekitar tahun 1990, ekolingusitik menjadi paradigma baru dalam kajian bahasa yang tak hanya melibatkan konteks sosial namun juga konteks ekologis. Sejumlah universitas besar di luar negeri telah banyak yang membuka program studi ekolinguistik seiring isu lingkungan yang kian memprihatinkan.

Bahasa alam sendiri berjalan dalam siklus yang berkesinambungan, yang tak terpisahkan. Seperti rotasi bumi. Semua tak menjadi masalah saat berada dalam keharmonisan. Yang terjadi adalah keharmonisan alam terguncang. Ketidakharmonisan memengaruhi bahasa alam yang biasa tersampaikan dan ditangkap oleh manusia. Manusia sekiranya dapat lebih cerdas memahami bahasa alam lewat keganjilan demi keganjilan yang terjadi. Alam sudah memberi tanda tentang adanya kerusakan.

Banyak tanda telah ditampakkan seperti tingginya curah hujan, kekeringan, pergeseran awal musim, dan perubahan karakteristik musim yang cenderung ekstrim. Pada satu sisi, mengingat bahwa manusia adalah homo significans, keganjilan barangkali merupakan istilah yang lahir atau diciptakan oleh manusia. Peristiwa-peristiwa itu barangkali bukanlah hal ganjil bagi alam. Alam toh berjalan mengikuti siklus apa adanya dengan berusaha beradaptasi. Semestinya harus ada rasa tanggung jawab dari pihak manusia dengan merenungi sebab-akibat untuk menuntaskan persoalan.

Semua tak lepas dari ulah manusia yang berhasrat tinggi menaklukkan alam. Sifat angkuh manusia menganggap alam sebatas objek semata. Eksploitasi hutan mengakibatkan gunung-gunung dan perbukitan menjadi gundul hingga akar pohon tak sigap lagi menyerap air. Pembangunan yang terus menggerus lahan turut pula melenyapkan hijau dedaunan yang siap menyerap gas karbon. Sementara itu, asap buangan dari knalpot kendaraan dan pabrik kian membumbung dan menyesakkan udara yang terhirup masuk ke pernafasan mahluk hidup. Minyak dan zat mineral lainnya terus digali dari dasar bumi hingga lubang besar tercipta dan tak tersentuh sia-sia ketika tak ada lagi yang tersisa. Inilah segelintir contoh nyata yang menyebabkan ketidakseimbangan saat alam harus meneruskan siklusnya.

Pada hari Pramuka 14 Agustus lalu, Pramuka di lingkup kampus kami memeringatinya dengan kegiatan diskusi telekonferensi bersama narasumber dari BMG Jakarta yang tengah mendalami studi mengenai iklim di University of Melbourne. Ada hal menarik yang terkait tafsiran ulang terhadap lingkungan sekitar. Narasumber kami sempat menampilkan tiga gambar yaitu sebatang pohon rindang, matahari yang bersinar cerah bersanding gambar atap-atap yang dibuat khusus sebagai wadah penampung sinar matahari, dan pucuk-pucuk pohon yang bergoyang akibat tiupan angin dengan tambahan gambar kincir-kincir angin. Deretan kata dalam bahasa Inggris melengkapi gambar-gambar tersebut. Sajian gambar-gambar tersebut mengajak kita mempraktikkan bagaimana belajar memahami teori tanda. Gambar mewakili “penanda”, seperti yang kerap kita temukan sehari-hari. Keterangan tertulis selanjutnya berupaya memuat tafsiran sebagai konsep “yang tertandai”.

Terjemahan dari tulisan di bawah gambar pohon adalah, “Orang-orang menyebutnya pohon, tapi kita juga menyebutnya penampung karbon. Di samping gambar matahari berwarna kuning terang menyolok dan atap-atap tadi, terjemahan dari tulisan yang terbaca adalah “Orang-orang menyebutnya matahari, tapi kita juga menyebutnya energi yang bersih”. Hampir serupa dengan yang sebelumnya, terjemahan dari tulisan untuk gambar ketiga adalah “Orang-orang menyebutnya angin, tapi kita juga menyebutnya energi yang bersih“. Inilah sisi konsep atau “yang tertandai”. Penafsiran berkembang sesuai dengan kesadaran yang dibutuhkan sebagai jalan keluar untuk mengendalikan perubahan cuaca.

Rekan yang menjadi narasumber juga menyitir ungkapan bijak milik Mahatma Gandhi bahwa bumi ini cukup untuk kebutuhan seluruh manusia tapi tidak cukup untuk semua keinginan manusia. Kita sebaiknya mengkonsumsi apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.

Disadap dari: http://bahasa.kompasiana.com/2010/10/12/bahasa-alam-secuil-pemikiran-dari-kajian-ekolinguistik/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s