BERSUA DENGAN PERSANDIAN

Posted: Maret 22, 2012 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Istilah “sandi” telah mulai dipakai sejak masa kerajaan-kerajaan di tanah air dulu, seperti Kerajaan Majapahit. Saat itu, telah muncul istilah “Telik Sandi”, “Candra Sengkala” dan lainnya yang sedikit banyak mempunyai hubungan dengan persandian. Sebenarnya sejak manusia berkomunikasi satu sama lain dan ada hasrat atau kepentingan untuk merahasiakan pembicaraannya, sejak itulah baik disadari maupun tidak disadari mereka telah mempergunakan persandian. Mereka akan berusaha mencari jalan dan cara bagaimana merahasiakan sesuatu terhadap pihak yang mereka anggap tidak berhak mengetahui.

Kata “sandi” berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “Sandhi”. Secara umum, istilah sandi yang diperoleh dari kamus-kamus bahasa Indonesia memiliki arti sebagai berikut :

  1. Perubahan huruf-huruf yang terjadi bila dua kata atau lebih dipersatukan: St. M. Zein (Kamus Modern Bahasa Indonesia);
  2. Kode, tulisan, atau tanda-tanda yang khas : Hari Murti Krida Laksana (Kamus Sinonim Bahasa Indonesia);
  3. Tulisan (kata, tanda, dsb) yang dengan persetujuan mempunyai arti atau maksud tertentu (kode) : W.J.S. Purwadarminta (Kamus Umum Bahasa Indonesia);
  4. Sandi = hubungan, akal, persekutuan, rahasia, aturan : Suwojo Wojowasito (Kamus Kawi Jawa Kuno – Indonesia).

Secara luas, persandian juga dikenal dengan sebutan kriptologi. Istilah “kriptologi” berasal dari bahasa latin yang terdiri dari “kriptos” yang berarti tersembunyi (rahasia) dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi kriptologi adalah ilmu atau seni yang mempelajari semua aspek tulisan rahasia.

Kriptologi dibagi menjadi 2 (dua) yaitu kriptografi dan kriptanalisis.Kriptografi adalah cara (sistem, metode) yang mengolah tata tulisan dalam berita sehingga menjadi tata tulisan yang berlainan dan tidak bermakna (incoherent). Sedangkan kriptanalisis adalah usaha mendapatkan teks terang dari suatu teks sandi yang tidak diketahui sistem serta kunci-kunci-nya.

Menurut buku “Pengantar Kriptologi” (Sumarkidjo, 1972), kata kriptologi mempunyai 2 (dua) pengertian :

  1. Kriptologi sebagai ilmu, yang mempelajari semua aspek dalam tulisan rahasia.

Ilmu persandian ini dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok dasar :

  1. Sistem steganografi, meliputi sistem-sistem yang secara katawiyah menyembunyikan berita, seperti di dalam gumpalan lilin, dengan tanda-tanda tertentu, di dalam teks berita lain, “dihilangkan” dengan tinta rahasia dan lain sebagainya.

Steganografi terbagi menjadi 3 jenis :

  1. Linguistis : Semagram, Open Code.
  2. Tehnologis : Secret (invisible) inks, Micro-photography.
  3. Concealments.
  4. Sistem kriptografik, meliputi sistem-sistem yang mengolah tata tulisan dalam berita sehingga menjadi tata tulisan yang berlainan dan tidak bermakna (incoherent).

Sistem ini dibedakan menjadi 2 (dua) :

  1. Cipher : Transposisi dan Substitusi.
  2. Code : Placode (Plain Code) dan Encicode (Enciphered Code).
  3. Kriptologi sebagai kegiatan, yang berkaitan dengan fungsinya di dalam kegiatan intelijen pada umumnya.

Kegiatan intelijen pada umumnya terdiri dari kegiatan penyelidikan dan pengamanan. Kegiatan penyelidikan meliputi Direction Finding dan Interception, Traffic Analysis dan Cryptanalysis, sedangkan kegiatan pengamanan terhadap tindakan dari kegiatan penyelidikan tersebut adalah Transmission Security, Traffic Security dan Crypt Security.

Dalam era teknologi informasi modern dikenal internet dan komputer yang mampu mentransmisikan secara elektronis (komunikasi elektronis) segala bentuk data informasi secara cepat, tepat, efektif efisien serta convenient (nyaman, gampang). Bahkan para industri teknologi informasi meng-claim dapat pula menjamin konfidensialitas (kerahasiaan) berita/informasinya dalam sistem komunikasi yang umum dan terbuka itu. Perlu diamati lebih dalam dan tajam apakah ”umum dan terbuka” itu benar-benar mampu melindungi konfidensialitas atau kerahasiaan pada umumnya.

Pada sistem komunikasi terbuka (tidak rahasia), peluang pihak lawan untuk memperoleh informasi yang dikomunikasikan lebih besar, dan penyadap yang berhasil memperoleh informasi tersebut dapat langsung memahami isinya. Misal A mengirim berita atau informasi kepada B dalam bentuk teks terang. Apabila penyadap/pendengar dapat memperoleh beritanya, maka dia akan bisa mengerti isi informasi/berita yang dikirimkan A kepada B .

Sebaliknya pada sistem komunikasi tertutup (rahasia) berita/informasi sebagai obyek transmisi harus dilindungi. Disinilah peran persandian muncul untuk mengamankan infomasi yang bersifat rahasia, yang tidak ingin diketahui oleh pihak lain. Sebagai contoh, A akan mengirimkan berita rahasia kepada B, maka untuk menjamin kerahasiaan berita tersebut dari pihak penyadap, diperlukan teknik enkripsi sedemikian hingga meskipun penyadap/pendengar berhasil memperoleh berita yang sudah tersandikan tersebut, dia tidak bisa mengerti isi berita yang dikirimkan A kepada B.

Oleh karena itu persandian menjadi suatu kebutuhan dalam mengamankan komunikasi rahasia. Selanjutnya teknik-teknik untuk mengamankan berita rahasia terus berkembang sejalan dengan berkembangnya teknik penyadapan dalam kegiatan intelijen komunikasi.

Disadap dari: vivamews.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s