PANTUN DALAM LAGU SUMUT

Posted: Maret 22, 2012 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Dalam kebudayaan Melayu Sumatera Utara, terdapat lagu-lagu yang menggunakan bahasa Melayu. Di antara genre-genre lagu itu adalah lagu Dodoi Didodoi, Membuai Anak, Mengayun Anak (Dadong), Si Lau Le Si Lau Kong, Tamtambuku, Nasyid, Hadrah, Rodat, Barzanji, Marhaban, Syair, Lagu Populer  Tradisional, dan lainnya.

Aspek yang menonjol dalam lagu-lagu Melayu Sumatera Utara ini adalah pantun. Pantun ialah sejenis puisi pada umumnya, yang terdiri atas: empat baris dalam satu rangkap, empat perkataan sebaris, mempunyai rima akhir a-b-a-b, dengan sedikit variasi dan pengecualian.  Tiap-tiap rangkap terbagi ke dalam dua unit: pembayang (sampiran) dan maksud (isi). Setiap rangkap melengkapi satu ide. Ciri-ciri pantun Melayu dapat dibicarakan dari dua aspek penting, yaitu eksternal dan internal. 

Aspek eksternal adalah dari segi struktur dan seluruh ciri-ciri visual yang dapat dilihat dan didengar, yang termasuk hal-hal berikut ini.

(1)     Terdiri atas rangkap-rangkap yang berasingan.  Setiap rangkap terdiri atas baris-baris yang sejajar dan berpasangan, 2, 4, 6, 8, 10 dan seterusnya, tetapi yang paling umum adalah empat baris (kuatrin).

(2)     Setiap baris mengandung empat kata dasar. Oleh karena kata dalam bahasa Melayu umumnya dwisuku kata, bila termasuk imbuhan, penanda dan kata-kata fungsional, maka menjadikan jumlah suku kata pada setiap baris berjumlah antra 8-10.  Berarti unit yang paling penting ialah kata, sedangkan suku kata adalah aspek sampingan.

(3)     Adanya klimaks, yaitu perpanjangan atau kelebihan jumlah unit suku kata atau perkataan ada dua kuplet maksud.

(4)     Setiap stanza terbagi kepada dua unit yaitu pembayang (sampiran) dan maksud (isi); karena itu sebuah kuatrin mempunyai dua kuplet: satu kuplet pembayang dan satu kuplet maksud.

(5)     Adanya skema rima yang tetap, yaitu rima akhir a-b-a-b, dengan sedikit variasi a-a-a-a. Mungkin juga  terdapat rima internal, atau rima pada perkataan-perkataan yang sejajar, tetapi  tidak sebagai ciri penting.  Selain rima, asonansi juga merupakan aspek yang dominan dalam pembentukan sebuah pantun.

(6)     Setiap stanza pantun, apakah itu dua, empat, enam, dan seterusnya, mengandung satu pikiran yang bulat dan lengkap. Sebuah stanza dipandang sebagai satu kesatuan.

Aspek-aspek internal adalah unsur-unsur yang hanya dapat dirasakan secara  subjektif berdasar pada pengalaman dan pemahaman pendengar, termasuk:

(7)     Penggunaan lambang-lambang yang tertentu berdasarkan, pada  tanggapan dan dunia pandangan (world view) masyarakat.

(8)     Adanya hubungan makna antara pasangan pembayang dengan pasangan maksud, baik itu hubungan konkrit atau abstrak atau melalui lambang-lambang ( Piah 1989: 91,123, 124).

Dalam teks ronggeng, ciri-ciri pantun seperti yang dikemukakan Harun Mat Piah tersebut juga berlaku.  Namun, karena pantun ini disajikan secara musikal, akan ada lagi beberapa ciri pantun dalam pantun ronggeng Melayu yaitu:

(1)     Pantun biasanya disajikan berulang-ulang mengikuti ulangan-ulangan melodi.

(2)     Walau prinsipnya teks ronggeng mempergunakan pantun, namun pantun ini tidak sembarangan dimasukkan,  sudah ada melodi yang khusus dipergunakan untuk teks yang menjadi ciri utama lagu-lagu tersebut.  Pada bagian ini pantun tak boleh masuk.

(3)     Pantun dalam ronggeng juga selalu dapat diulur atau dipadatkan sesuai dengan kebutuhan melodi musik yang dimasukinya.

(4)     Pantun-patun dalam ronggeng juga dapat disisipi oleh kata-kata interyeksi seperti: ala sayang, sayang, hai, ala hai, abang, bang, dan lain-lainnya, di tempat-tempat awal, tengah, atau akhir baris.

Selain itu, dalam satu baris tidak harus mutlak terdiri atas empat kata atau sepuluh suku kata, tetapi bisa lebih melebar dari ketentuan pantun secara umum.  Hal ini memungkinkan terjadi, karena teks tersebut disampaikan secara melodis (prosodi).  Misalnya untuk memperpanjang beat, dapat dipergunakan dengan teknik melismatik, sebaliknya dengan teknik silabik dengan durasi yang relatif pendek. Keadaan seperti ini terjadi pada keseluruhan syair madihin, yang berdasarkan kepada pantun.  Sifatnya lebih elastis terhadap tata aturan pantun, dibanding dengan seni pantun yang disampaikan dengan cara berpantun.

Komentar
  1. ipe'es dua mengatakan:

    mana lagu nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s