Anda Bisa Mengakhiri Kekerasan Verbal!

Posted: Juni 20, 2012 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Ucapan buruk atau kata-kata kasar yang kerap dilontarkan orang lain terhadap Anda, merupakan bentuk kekerasan verbal yang harus diakhiri, segera. Anda punya kekuatan dari dalam diri untuk mengakhirinya. Munculkan kekuatan ini agar tak ada lagi yang berani berkata buruk dan kasar tentang Anda.

Ucapan yang kejam, kata-kata yang menusuk hati, kerapkali ditemui dalam hubungan berpasangan. Sebut saja Rene. Rene mencintai pasangannya, namun ia membenci cara pasangannya berbicara kepadanya. Lantas mengapa Rene tetap setia hidup bersama dengan pasangan pelaku kekerasan verbal seperti itu? Jawabnya, pasangan ini sebenarnya tidak hidup. Tapi mereka bersembunyi di balik rasa sakit, di balik tembok besar sambil berharap suatu saat tembok tersebut akan runtuh dan mereka bisa hidup lebih bahagia.

Perempuan dan laki-laki yang saling berbicara kasar, sebenarnya seperti sedang terjebak dalam tempat sampah. Mereka sama-sama tinggal di tempat sampah, saling membuang sampah (ucapan kotor, kata-kata kasar). Mereka sama-sama membutuhkan tempat sampah sebagai penampung semua sampah pribadi. Mereka tinggal di dalamnya, merasa terbiasa dengan semua bau sampah tersebut bahkan sampai-sampai mereka tak lagi mengenali baunya, tapi mereka sadari bahwa terlalu banyak sampah di tempat tinggalnya.

Ungkapan seperti, “Astaga, kamu gendut sekali!” “Saya mau sama kamu karena tak ada orang lain yang mau,” ini adalah kekerasan verbal yang pada akhirnya tak berarti apa-apa bagi pasangan yang memelihara “sampah” di tempat tinggalnya.

Kekerasan verbal didiamkan dan dibiarkan dengan harapan suatu saat pasangan akan berubah lebih baik lagi. Pembiaran yang pada akhirnya membunuh keberanian Anda untuk bilang “cukup” atau bahkan “tidak”. Lebih menyulitkan lagi ketika korban kekerasan verbal berkata ke dalam dirinya, “Tak apa, saya menerima ini.”

Mereka yang menerima kekerasan verbal ini kemudian tak lagi bisa mengenali kata-kata kasar. Setiap kali orang lain bicara buruk dan berkata kasar terhadapnya, ia hanya menerima tanpa melontarkan protes sedikitpun. Jika kebiasaan ini terjadi di dalam rumah, maka korban kekerasan verbal akan membawanya ke luar rumah. Pada akhirnya, ia bukan hanya menjadi korban pasangannya di rumah, namun juga korban dari rekan kerja, bahkan orang lain yang bicara kasar terhadapnya.

“Kekerasan verbal merupakan perilaku yang tak pernah bisa diterima, kecuali jika Anda, diam-diam, menerimanya,” kata  konselor dan terapis, Sheila Robinson-Kiss.

Rene merupakan contoh buruknya. Namun Robinson-Kiss juga mendorong orang lain untuk mengadopsi contoh baik dari klien yang pernah ditanganinya. Ia mengisahkan, si klien perempuan ini pernah berkencan dengan pria pelaku kekerasan verbal selama dua tahun. Perempuan ini pernah meminta kekasihnya untuk berhenti berkata kasar dan menyakiti perasaannya. Namun permintaannya tak pernah digubris, hingga akhirnya perempuan ini memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

“Silahkan menikmatinya, karena ini adalah kesempatan terakhirmu untuk berbicara seperti itu terhadap saya,”  Robinson-Kiss mengutip ucapan si perempuan yang lelah dan memutuskan untuk tak lagi bersama pasangan yang melakukan kekerasan verbal.

Menurut  Robinson-Kiss, siapa pun yang mendapatkan perlakuan buruk, termasuk kekerasan verbal, harus berani meminta orang lain menghentikan perilaku buruk itu. Pelaku kekerasan juga punya hak untuk memilih memenuhi permintaan tersebut atau tidak. “Namun kekerasan verbal bagaimana pun adalah bentuk kekerasan. Anda punya kekuatan untuk mengakhirinya,” tegas  Robinson-Kiss.

Anda harus mencintai diri sendiri. Pernyataan klise ini selalu digaungkan agar setiap orang memiliki rasa penghargaan atas dirinya dan tak pernah membiarkan orang lain memperlakukan dirinya dengan cara buruk. Namun,  Robinson-Kiss punya pendapat lain. Ia lebih suka menyarankan setiap orang dengan pernyataan positif ini. “Jangan pernah melepaskan mahkota dari kepala Anda. Anda adalah raja dan ratu yang memiliki hak asasi untuk dicintai, dihargai, dihormati.”

Terapis dan konselor yang berpengalaman lebih dari 10 tahun ini menegaskan, jangan berikan ruang dan kesempatan untuk kekerasan verbal atau bentuk kekerasan apa pun yang menjadikan Anda sebagai korbannya. Katakan lagi, “Tak ada toleransi untuk kekerasan dan saya berhak bersuara!”

Disadap dari: http://female.kompas.com/read/2012/01/16/18104724/Anda.Bisa.Mengakhiri.Kekerasan.Verbal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s