Proverba: Fenomena Bahasa yang Tak Pernah Mati

Posted: November 5, 2012 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Muatan kebijaksanaan yang terkandung dalam peribahasa (selanjutnya dalam tulisan ini akan sering disebut proverba) telah memandu manusia dalam interaksi sosial mereka selama beribu tahun lamanya (Mieder, 2004:xi). Bermula dari berbagai pengalaman yang terakumulasi selama bertahun-tahun yang kemudian, dengan sebuah proses tertentu, membentuk sebuah formula bahasa yang unik, maka lahirlah proverba. Keunikan inilah yang membuat sebuah proverba menjadi mudah untuk diingat dan digunakan secara instan dalam banyak retorika verbal maupun tulis. Selain unik, proverba dikenal memiliki pengaruh positif. Pengaruh positif ini telah terasa dan diakui manusia sejak mereka belum mengenal aksara, dan sepertinya tidak akan pernah ada tanda-tanda bahwa eksistensi proverba beserta pengaruh positifnya akan berakhir di zaman modern (Mieder, 2004:xi).

Beberapa orang memang pernah mengklaim bahwa proverba akan segera punah keberadaannya pada masyarakat berbudaya maju, namun klaim ini hanyalah asumsi tanpa bukti (Mieder, 2004:xi). Memang benar bahwa beberapa proverba (kita bisa menyebutnya proverba generasi lama) telah usang dan mulai ditinggalkan karena dimensi metaforanya sudah tidak cocok lagi dengan zaman sekarang, namun proverba-proverba generasi baru dengan muatan metafora yang lebih “berbau modern” segera lahir. Sebagai contoh metafora bahasa Inggris “Let the cobbler stick to his last” (biarkan tukang sepatu lengket pada lastnya) pada dasarnya dianggap sebagai proverba yang telah “mati” karena profesi cobbler sudah tidak ada lagi. Jika sepatu seorang Amerika dewasa ini rusak, maka ia akan membawa sepatu tersebut ke shoe repair shop (toko perbaikan sepatu) dan bukan ke cobbler, dan nampaknya ia dan orang lain dari zaman ini yang bermaksud memperbaiki sepatu, akan kesulitan untuk memaknai kata last, bahwa kata tersebut mengandung makna model kaki manusia yang terbuat dari logam atau kayu sebagai tempat meletakkan sepatu ketika sepatu tersebut sedang diperbaiki. Hal ini terjadi karena kata last adalah kata arkaisdan karenanya jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Proverba di atas menunjukan pesan moral bahwa seseorang harus menekuni sebuah bidang jika ia memang memiliki cukup kompetensi di bidang tersebut. Ketika sebuah proverba dengan konteks pekerjaan (seperti yang telah disebutkan) telah hilang, proverba yang lain, baik itu dari generasi yang sama maupun dari generasi berbeda, akan muncul menggantikannya posisinya.

Proverba “Every man to his trade” (setiap laki-laki pada usaha dagangnya) yang bermakna lebih umum adalah contoh nyata kemunculan proverba lain dari generasi yang sama menggantikan posisi proverba “Let the cobbler stick to his last”  untuk merujuk pada pesan moral yang sama. Contoh lain terdapat pada proverba yang berhubungan dengan dunia merkantilisme (perdagangan) seperti; “Another day, another dollar” (lain hari, maka lain dollar) atau dalam dunia komputer “Garbage in, garbage out” (sampah masuk, sampah keluar),meskipun bukan merupakan pengganti dari proverba   Let the cobbler stick to his last” tapi setidak-tidaknya menjadi penanda bahwa proverba-proverba generasi baru telah lahir dan siap mengganti peranan proverba-proverba generasi lama untuk mewarnai hidup manusia. Dua proverba “Another day, another dollar” dan “Garbage in, garbage out,” ini merupakan proverba generasi baru yang lahir di era modern dan sangat kontekstual dengan kehidupan masa kini yang sangat materialistik dan serba komputerisasi (Mieder, 2004). Dalam banyak aspek, proverba jelas hidup dengan baik dan sebagai teman manusia, mereka memainkan peranan penting di zaman modern.

Secara kognitif, proverba memiliki konstruksi yang sangat ekonomis karena hanya melalui sebuah kalimat pendek yang menjadi wujud proverba tersebut, kita dapat memahami banyak hal. Dari wujud kalimat sederhana tersebut kita bisa mengaktifkan sebentuk potret dalam benak dan mengaitkannya dengan fakta yang relevan yang berwujud sebuah peristiwa atau kejadian. Sebagai contoh adalah proverba Inggris “Blind blames the ditch” (orang buta, menyalahkan selokan) (Lakoff & Turner 1989:162), telah mengajak kita untuk membayangkan sebuah peristiwa bahwa ada seorang buta sedang menyalahkan selokan yang telah membuatnya jatuh tanpa menyadari bahwa kondisi kebutaannyalah yang telah membuatnya jatuh ke selokan. Proverba ini tidak hanya membawa kita pada sebuah peristiwa bahwa ada seorang buta telah jatuh di selokan, namun lebih jauh lagi, kita masih dapat membayangkan rangkaian kejadian sebelum orang buta tersebut jatuh, dimulai saat si buta sedang berjalan, belum sampai ke selokan,  mendekati selokan dan akhirnya jatuh ke selokan. Makna proverba ini demikian luas, sehingga akan banyak interpretasi muncul. Namun secara umum, proverba ini dimaknai yaitu pada situasi-situasi dimana ada seseorang yang gagal dan menyalahkan sesuatu padahal keterbatasannyalah yang membuatnya gagal.

Proverba sangat penting peranannya dalam komunikasi manusia, dan karenanya manusia harus dapat memahami makna dari proverba tersebut beserta alasan logisnya. Manusia juga harus dapat memahami bahwa proverba tersebut merupakan derevasi dari bentuk linguistik sekaligus juga bentuk makna. Selain itu, proverba mampu merefleksikan banyak sekali pesan implisit yang ada dalam pola-pola bahasa yang khas. Keluasan jangkauan proverba inilah yang menyebabkan proverba sangat menarik untuk dikaji. Dengan mengkaji proverba-proverba tersebut, kita dapat mengekstraksi banyak sekali ide tentang bagaimana kita berpikir dan memberi makna pada sebuah proverba, bagaimana kita mengkonsep dan mengkatagorikan dunia di sekeliling kita, bagaimana kita mampu menyalurkan pemahaman dan pengetahuan kearifan budaya dari generasi ke generasi, serta bagaimana kreatifnya manusia merangkai kata sehingga memiliki makna.

Bibliografi-bibliografi yang ada saat ini telah mencatat setidaknya ada 20.000 volume buku yang berkaitan dengan koleksi proverba di seluruh dunia, dan tiap tahunnya koleksi volume tersebut bertambah sebanyak 200 buah (Mieder, 2004: xii). Sedangkan negara-negara penutur asli bahasa Inggris, seperti Inggris, Australia dan Amerika Serikat, memiliki pula proverba (proverbs) yang jumlahnya lebih dari seribu entri (lihat Simpson dan Speake, 2002). Dari seluruh proverba tersebut, ada sekitar 248 proverba yang menjadi proverba umum karena sering dipakai dalam komunikasi sehari-hari penutur bahasa Inggis (www.learn-english-today.com).

Sebagai sebuah bahasa Internasional dan dipandang sebagai sebuah bahasa yang memegang peranan penting dalam kancah komunikasi global, bahasa Inggris telah sering dikaji oleh masyarakat. Pengkajian itu dilakukan melalui sudut pandang baik itu bahasanya, psikologi bahasanya, sosiologi bahasanya, serta sastranya. Demikian juga dalam ranah pendidikan, pengkajian bahasa Inggris sangatlah marak dilaksanakan. Dalam dunia linguistik sendiri, bahasa Inggris seakan-akan telah mendarah daging. Hampir semua kasus bahasa yang diangkat dalam kajian berbagai cabang linguistik, di dalamnya pasti mengandung unsur kasus bahasa Inggris.

Uniknya,  meskipun telah banyak kajian linguistik dilaksanakan dengan objek kajian bahasa Inggris, tidak banyak objek-objek kajian tersebut yang mengangkat proverba sebagai kajian utamanya. Buku-buku yang beredarpun meskipun judulnya “berbau proverba” tapi sangat jarang sekali mengkaji proverba secara ansih dan komprehensif. Ada sekitar 15-an buku mengenai proverba bahasa Inggris yang peneliti jumpai tersimpan di berbagai perpustakaan universitas di Indonesia maupun terpajang di internet. Namun sayangnya, tidak banyak di antara buku tersebut yang mengulas proverba secara utuh melalui pendekatan linguistik. Kebanyakan di antara buku-buku tersebut hanya berupaya mendaftar bermacam-macam proverba, menjadikan daftar tersebut sebagai kamus, dan menjelaskan makna proverba serta fungsinya dalam sosial budaya masyarakat. Padahal, proverba tidak hanya menarik dikaji dari aspek sosial-budaya saja. Dari aspek linguistik, ratusan proverba bahasa Inggris yang ada, sangatlah menantang untuk dikaji.

(Dikutip dari bab I Tesis Admin yang berjudul: “Struktur Proverba dan Makna Hubungan Antarunsur Pembentuknya”

Komentar
  1. nurazah mengatakan:

    Salam boleh tak ceritakan tentang hipotesis leksikal siapa dan teori terkininya Wassalam

  2. Ri Arifah mengatakan:

    i think your right, i coldn’t agree with you ( setuju gt/ setujunys udah pling top bgt, mnjlskan), fenomena bahasa tak akan pernah mati, walapun suatu kata tenggelam dia akan tergantikan dgn kata lainnya yang akan populer lg. i still study engish ,if my writing wrong, please apologize me. tq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s