Bahasa Yesus Masih Hidup di Suriah

Posted: Mei 25, 2013 in BERITA-BERITA TENTANG BAHASA

Meski pertumpahan darah terus terjadi di Suriah, ketegangan serupa seakan tidak menular terhadap warga Desa Malula, 50 kilometer dari Ibu Kota Damaskus. Di desa itu sejak dulu para penduduk hidup tenang. Uniknya, mereka sampai sekarang tetap menggunakan bahasa yang digunakan Yesus, yaitu bahasa Aramaik.

Jumlah pengguna Aramaik di Malula mencapai 18 ribu orang, seperti dilaporkan msn.com, Senin (23/4). Malula dalam bahasa Aramaik berarti pintu masuk. Selain desa itu, dua desa tetangga yaitu Bakhaa dan Jabadin juga menggunakan bahasa itu sebagai sarana percakapan sehari-hari. Bila berkunjung ke daerah ini, orang bakal merasakan suasana seperti film kondang “Passion of the Christ” yang disutradari Mel Gibson.

Aramaik lazim digunakan di zaman Yesus masih hidup. Menurut para ahli, bahasa ini merupakan akar bahasa Yahudi dan Arab modern. Bahasa ini muncul pertama kali dalam tulisan sekitar tiga ribu tahun lampau. Kini status bahasa ini, menurut UNESCO, terancam punah. Bahasa ini dianggap cuma diketahui para pakar linguistik saja.

Menurut tinjauan ahli bahasa Yona Sabar dari Universitas California di Amerika Serikat, Malula bisa mempertahankan Aramaik karena kemungkinan besar bahasa itu  muncul di daerah itu. “Bahasa Aramaik memang pertama kali menyebar dari daerah yang kini kita sebut Suriah modern,” ujar Sabar.

Bagi warga, Aramaik bisa lestari di daerah Malula karena keberadaan Biara Katolik Santo Serge. Wilayah ini merupakan basis pemeluk agama Kristen di Suriah. Biara itu mempertahankan penggunaan Aramaik di setiap ibadah.

Ada alasan lain para penduduk tetap menggunakan bahasa itu sehari-hari. Rupanya, mereka berharap saat Yesus kembali ke dunia, seperti diajarkan Injil, mereka bisa ngobrol dengan sang Juru selamat itu.

Meski terlihat tenang dan tidak ambil pusing dengan sepak terjang rezim Presiden Basyar al-Assad, penduduk Malula dan sekitarnya sedang menghadapi masalah serius. Baik generasi tua dan muda hanya mampu bertutur dengan Aramaik tanpa bisa menulis.

Masalah ini sedang menjadi perhatian para tetua desa, termasuk Mikhal, salah satu pemuka adat desa Malula. “Aramaik merupakan tradisi turun-temurun, namun tidak ada yang mengajarkan cara menulis pada kami,” ujar Mikhal.

Pihak gereja sedang mengupayakan kurikulum pelajaran menulis dalam bahasa Aramaik. Sebelum konflik Suriah meletus tahun lalu, pemerintah sudah berkomitmen memberi bantuan dana agar bahasa kuno itu tetap bertahan. Gara-gara perang saudara, rencana itu belum terlaksana sampai sekarang.

Disadap dari: http://www.merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s