Arsip untuk Desember, 2013

Kekayaan budaya Indonesia ternyata tak hanya berupa tarian saja yang diklaim oleh negara lain. Bahasa Indonesia pun dicaplok oleh bangsa lain.

‘Kamus Bahasa Melayu Nusantara’ isinya 50 persen lebih mengambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kamus tersebut dibuat oleh Brunei Darussalam.

”Bahasa kita dicaplok ke kamus mereka, ini efeknya politik. Seolah-olah bahasa Melayu milik mereka dan di internasional mereka yang naik,” ujar Anggota Komisi X DPR RI, Itet Tridjajati Sumarijanto,

Itet mengatakan Indonesia selalu kecolongan. Sering kali, kekayaan budaya bangsa ini diklaim oleh negara lain sebagai milik mereka. Karena, Indonesia selalu kekurangan anggaran untuk melindungi kekayaan budaya dan bahasa sendiri.

”Kami tidak ingin, kekayaan budaya kita termasuk bahasa, terus diklaim oleh bangsa lain. Makanya, anggaran untuk peningkatan bahasa akan kami upayakan bertambah,” katanya.

Disadap dari: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/09/19/mtawog-bahasa-indonesia-dicaplok-brunei

Iklan

Orang yang berbicara dua bahasa terbukti mampu menunda demensia atau menurunnya ingatan. Hal ini berlaku meski orang tersebut tidak mampu membaca.‬

‪Berdasarkan penelitian di jurnal Neurology Amerika Serikat, temuan tersebut merupakan yang pertama menunjukkan manfaat berbicara dua bahasa terhadap orang yang buta huruf. Ilmuwan meneliti 648 orang di India. Mereka semua didiagnosa dengan demensia. Usia mereka rata-rata 66 tahun.‬

‪Ketika menganalisa data, mereka menemukan responden yang berbicara dua bahasa mulai menderita demensia empat setengah tahun lebih lama dibandingkan mereka yang hanya berbicara satu bahasa.

Perbedaan ini tetap ada terlepas mereka mampu membaca atau tidak.‬ Sebanyak 14 persen dari mereka buta huruf.  Penyakit lupa lainnya, seperti Alzheimer dan demensia pembuluh darah, juga tidak ditentukan faktor pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan dan wilayah tempat tinggal.

“Penelitian kami adalah yang pertama yang melaporkan mengenai manfaat bebicara dua bahasa di kalangan orang yang tidak bisa membaca,” ujar peneliti Suvarna Alladi dari Nizam Institute of Medical Sciences di Hyderabad, India, seperti dilansir AFP, Jumat (8/11).

Menurutnya, hal ini menunjukkan tingkat pendidikan seseorang tidak berpengaruh dengan daya ingat. Dengan berbicara dua bahasa akan meningkatkan bagian di otak yang berfungsi memberi perhatian dan melakukan tugas.

Disadap dari: http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/info-sehat/13/11/08/mvxng6-berbicara-dua-bahasa-mampu-hindarkan-penyakit-lupa

Kata-kata kasar dan makian ditemukan dalam buku pelajaran “Bahasa Indonesia: Wahana Pengetahuan” terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di sekolah di Semarang. “Buku ini memuat materi Kurikulum 2013 untuk sekolah-sekolah yang ditunjuk menerapkannya tahun ini.”

Temuan makian, seperti “Bangsat”, “Bajingan”, dan kata-kata tidak pantas lainnya terdapat pada cerita pendek berjudul Gerhana karya Muhammad Ali yang terletak pada halaman 225 buku untuk siswa kelas VII itu. Padahal ada enam SMP di Kota Semarang yang ditunjuk menerapkan baru tahun ini, yakni SMP Negeri 2, SMP Negeri 5, SMP Negeri 9, SMP Negeri 2, SMP Harapan Bunda, dan SMP Roudlotus Saidiyyah Semarang. (lebih…)