BAHASA “MEMINTA IJIN” MAHASISWA DALAM SMS

Dipublikasikan pada Juli tahun 2010, di Jurnal PROSODI Vol.4, No.2, ISSN 1907-6665.

Iqbal Nurul Azhar

Abstrak: Kehadiran alat komunikasi telepon seluler (ponsel) telah membuat banyak perubahan dalam masyarakat, utamanya yang berhubungan dengan aspek komuikasi dan bahasa. Dengan adanya ponsel, masyarakat dapat berkomunikasi dan berbahasa kapan dan dimana saja, baik itu melalui fasilitas call, vidiocall, MMS maupun SMS. Layanan SMS, sebagai layanan yang paling banyak dipilih masyarakat untuk berkomunikasi, dibatasi oleh jumlah huruf (karakter). Keterbatasan ruang tulis inilah yang kemudian melahirkan sebuah gaya bahasa baru di kalangan masyarakat kita yang disebut sebagai  gaya bahasa SMS. Sayangnya, karena tidak adanya konvensi tentang penulisan SMS untuk menyingkat pesan,  menyebabkan tiap orang memiliki gaya mereka sendiri-sendiri dalam merangkai kata dan memendekkannya dalam SMS. Gaya bahasa ini tentunya sangatlah menarik untuk dikaji menurut perspektif linguistik. Artikel ini berupaya mengungkap beberapa gaya ber-SMS tersebut.

Kata-kata kunci: ponsel, SMS, gaya/style bahasa ber-SMS

A. Pendahuluan

Perkembangan teknologi komunikasi telah membawa dampak yang sangat luas dalam kehidupan manusia. Kehadiran alat komunikasi telepon seluler (ponsel) misalnya, dengan segala kelebihannya telah membuat banyak perubahan dalam masyarakat, baik yang berkenaan dengan dunia bisnis, sosial, maupun budaya. Dengan adanya ponsel, komunikasi antar individu pada keempat aspek kehidupan tersebut telah menjadi semakin praktis, mudah, dan tidak mengenal batas waktu, dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja dengan biaya murah. Cukup dengan mengetik pesan singkat atau SMS (Short Message Services), yaitu salah satu fasilitas hand phone (HP) yang terkait dengan wacana kelisanan-keberaksaraan, sebuah komunikasipun terjadi. Budaya komunikasi lisan pada akhirnya karena alasan biaya, banyak digantikan dengan SMS yang artinya, secara teknis SMS memang merupakan implementasi dari budaya tulis (keberaksaraan), tetapi, secara substantif, SMS tidak dapat dipisahkan dari dimensi dan konteks kelisanan (Saputra 2004:321).

Sesuai dengan namanya Short Message Service (Layanan Pesan Pendek), maka penulisan SMS berbentuk pesan-pesan pendek dalam bentuk teks. Layanan SMS memang dibatasi oleh jumlah huruf (karakter), dan itulah sebabnya mengapa penulisan SMS perlu disingkat. Karena keterbatasan ruang tulis inilah yang kemudian melahirkan sebuah bahasa baru di kalangan masyarakat kita yang disebut sebagai bahasa SMS.

Keterbatasan layanan SMS menyebabkan masyarakat kemudian berusaha menemukan gaya penulisan yang pas dalam menyampaikan informasi. Sayangnya, karena tidak adanya konvensi tentang penulisan SMS untuk menyingkat pesan,  menyebabkan tiap orang memiliki gaya mereka sendiri-sendiri dalam merangkai kata dan memendekkannya dalam SMS. Bahkan kadang-kadang, muncul fenomena berupa penggunaan singkatan kata-kata yang tidak lazim atau tidak umum, sehingga orang yang tidak terbiasa dengan gaya penlisan ini akan mengalami kesulitan membaca dan memaknai apa yang terkandung dalam sebuah SMS. Di lain pihak, orang yang terbiasa dengan gaya yang tidak umum ini akan menganggap bahwa gaya ini merupakan penanda style menulis dari seseorang (kelompok) yang ia kenal dan karena kenal, maka iapun akan merasa nyaman menggunakannya  Fenomena ini jelas sangat menarik untuk dikaji, dan karena menarik inilah artikel ini ditulis.

Sesuai dengan judul artikel ini, maka artikel ini mengkaji SMS yang dikirimkan oleh mahasiswa dalam rangka meminta ijin untuk tidak mengikuti kuliah. Untuk memberikan batasan serta mempertajam analisis data, maka data difokuskan pada 21 teks pendek yang merupakan SMS ijin dari 25 mahasiswa asuhan peneliti. Pemerolehan data dilakukan dengan cara mengkoleksi serta mendokumentasikan SMS dari mahasiswa yang pernah absen di kelas peneliti. Selanjutnya, teks pada SMS balasan itu disalin/dituliskan kembali pada kertas tertentu agar mudah dibaca ulang ketika teks tersebut diperlukan untuk kepentingan penelitian. Pengumpulan data tersebut dilakukan sewaktu peneliti masih aktif mengajar di jurusan Sastra Inggris, serta di UPT MKU Universitas Negeri Trunojoyo.

B. Bahasa, Isi, dan Pola Teks

Deskripsi berikut memberikan gambaran mengenai bahasa ”meminta ijin” mahasiswa serta klasifikasi-klasifikasinya berdasarkan isi teks mereka.

B.1 Bahasa Teks

Dari 21 teks ”meminta ijin” yang disampaikan melalui SMS, berdasarkan bahasa yang digunakan, dapat dikelompokkan menjadi empat tipe teks, sebagai berikut.

(1) SMS berbahasa Indonesia berjumlah 2 teks yaitu teks 3 dan 19

(2) SMS berbahasa Inggris berjumlah 1 teks, yaitu teks 7

(3) SMS berdwibahasa Arab-Inggris berjumlah 4 yaitu teks 8, 10, 16, dan 18

(4) SMS multibahasa Arab-Indonesia-Inggris berjumlah 1 teks yaitu teks 9

(5) SMS berdwibahasa Arab-Indonesia berjumlah 13 teks yaitu selain teks yang telah disebutkan di atas.

Berdasarkan klasifikasi di atas tampak bahwa meskipun peneliti adalah staf pengajar bahasa Inggris dan mengajar dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris, mahasiswa ternyata lebih banyak menggunakan dwibahasa (yaitu bahasa campuran Arab-Indonesia) dibandingkan dengan menggunakan bahasa Inggris murni. Tidak ditemukan penggunaan bahasa lokal seperti bahasa Madura atau Jawa dalam teks SMS. Dipakainya secara dominan bahasa Arab-Indonesia pada teks, menunjukkan bahwa meskipun setting mengarahkan pada pemakaian bahasa Inggris, namun mahasiswa lebih nyaman menggunakan bahasa campuran Arab-Indonesia.

B.2 Isi Teks

Dikaji dari segi isi permintaan ijin mahasiswa yang disampaikan melalui SMS, ke-21 teks tersebut dapat diklasifikasikan menjadi tujuh macam. Ketujuh macam isi teks yang dimaksud adalah sebagai berikut.

a. Permohonan ijin (teks 1, 5, 8, 9, 11, 17)

b. Pemberitahuan absen (teks 2,6, 10, 15, 16, 18, 19, 20)

c. Permohonan ijin dan permintaan maaf (teks 3, 4, 7, 12, 13, 14)

d. Permohonan ijin, permintaan bantuan (teks 21)

B.3. Pola Teks

Dalam proses menganalisa data, ternyata ditemukan pola-pola struktur urutan informasi dalam teks SMS. Adapun pola-pola struktur urutan informasi dalam teks seperti terlihat sebagai berikut:

No Pola Struktur Urutan

Informasi Dalam Teks

Frekuansi No Teks
1. Salam—permintaan ijin—alasan—ucapan terimakasih 5 1, 4, 5, 6, 18
2. Salam—sapaan—pemberitahuan masalah—penyebutan identitas pengirim—alasan—ucapan terimakasih 2 2, 9
3. Sapaan—penyebutan nama—permintaan ijin—alasan 1 3
4. Permintaan ijin—alasan—permintaan maaf—ucapan terimakasih 1 7
5. Salam—maaf—permintaan ijin—alasan 3 8, 12, 20
6. Salam—permintaan maaf—penyebutan identitas—permintaan ijin—alasan 3 10, 13, 17
7. Salam—penyebutan identitas—ijin—alasan—ucapan terimakasih 3 11, 14, 16,
8. Maaf—pemberitahuan 1 15
9. Sapaan—pemberitahan—ucapan terimakasih 1 19
10. Salam—permintaan maaf—pemberitahan identitas—permohonan bantuan—ucapan terimakasih—salam penutup 1 21

Temuan di atas menunjukkan sebagian besar kalimat atau frasa yang menyatakan permintaan ijin, mengalami penundaan yang ditandai dengan diawalinya pernyataan tersebut oleh salam, sapaan, permintaan maaf, dan pemberitahuan identitas.

Bagian-bagian teks SMS yang hampir selalu muncul dalam SMS mahasiswa adalah salam pembuka, ucapan terimakasih, permohonan ijin dan alasan. Pola salam pembuka yang menjadi pilihan utama adalah ”assalamu’alaikum” beserta varian-variannya penulisannya seperti asskum, ass, askum, aslmkm, dan mekom. Pola ucapan terima kasih meliputi kata trimakasih, thank you, thanks, thanx, dan trims. Pola ”permintaan ijin” diawali dengan ekpresi ”saya mohon ijin”, ”saya memberitahukan,” ”saya berhalangan hadir,” saya tidak bisa mengikuti,” dan ”saya tidak masuk.” Pola alasan selalu diikuti oleh penghubung ”karena,” dan ”dikarenakan.” Tidak satupun dijumpai dari SMS mahasiswa yang menggunakan penghubung ”sebab” dan ”berhubung.”

C. Aspek Stilistika Dalam Penulisan SMS ”Meminta Ijin” Mahasiswa Unijoyo

Stilistika adalah ilmu tentang gaya bahasa (style) (Ratna, 2009:3). Dari definisi tersebut kemudian muncul pertanyaan: apakah gaya bahasa? Dalam buku On Defining Style, Enkvist (Junus, 1989: 4), menyatakan bahwa gaya bahasa adalah (1) bungkus yang membungkus inti pemikiran yang telah ada sebelumnya, (2) pilihan antara berbagai pernyataan yang mungkin, (3) sekumpulan ciri pribadi, (4) penyimpangan norma atau kaidah, (5) sekumpulan ciri kolektif, dan (6) hubungan antarsatuan bahasa yang dinyatakan dalam teks yang lebih luas daripada kalimat.

Dari definisi di atas inilah kita dapat menyimpulkan, meskipun tidak lumrah, bahasa SMS dapat dianalisa dengan menggunakan pendekatan stilistika. Aspek-aspek stilistika yang dapat dianalisa dalam teks SMS seperti yang telah diungkapkan olek Kridaleksana (1982), Suwondo (2003) maupun Enkvisst di atas adalah: (1) pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek tertentu pula (2) ciri bahasa sekelompok penulis (3) sekumpulan ciri pribadi, (4) penyimpangan norma atau kaidah, (5) sekumpulan ciri kolektif, dan (6) hubungan antarsatuan bahasa yang dinyatakan dalam teks yang lebih luas daripada kalimat.

Variabel-variabel stilistika yang dikemukaan Sandellpun (1977:25-35) juga dapat digunakan untuk menganalisis teks SMS. Sandell menjelaskan beberapa variabel-variabel stilistika yang mudah dijumpai meliputi keragaman kosakata, penggunaan kata-kata tertentu dan kata-kata kunci, frekwensi word type dan parts of speech, susunan struktur, panjang kata, klausa, dan kalimat, penanda retorika, dan kesan subjektif.

Dengan mempertimbangkan hubungan definisi stilistika, gaya bahasa serta variael-variabel yang menjadi penanda stilistika di atas, maka secara ringkas dan padat, poin-poin yang dapat digunakan untuk menganalisa teks SMS dalam perspektif stilistika adalah: (1) Bentuk gaya bahasa dalam SMS dan perbedaannya dengan gaya bahasa pada teks jenis lainnya (2) penanda-penanda stilistika yang ada dalam teks SMS.

C.1. Bentuk-Bentuk Stilistika Dalam SMS

Bentuk gaya bahasa SMS yang dikaji pada bagian ini meliputi bentuk penulisan SMS, serta kohesi gramatikal yang dapat dijumpai secara umum dalam teks.

C.1.a. Clipping

Clipping adalah fenomena sebuah kata yang terdiri dari dua suku kata atau lebih yang dipotong menjadi lebih pendek (Yule, 1987: 54). Dalam linguistik, cliping adalah salah satu bagian dari proses pembentukan kata baru, sedangkan dalam konteks SMS, clipping digunakan tidak untuk membentuk kata-kata baru, tapi untuk menghemat karakter dan tentu saja pulsa. Hampir seluruh SMS (17 SMS) mengalami proses clipping salah satu atau sebagian satuan lingualnya. Adapun satuan lingual yang diclipping adalah: (a) teks 1; mk (mata kuliah), dluar (di luar), (b) teks 2; bhwa (bahwa), dgn (dengan) terimakasih (terima kasih), (c) teks 3; bpk (bapak), ..Krn sbab ksehatan sy trganggu. (karena sebab kesehatan saya terganggu), (d) teks 5; untk hr (untuk hari), g msuk (tidak masuk), karn kshatn sya (karena kesehatan saya),  trimakasih (terima kasih), (e) teks 6; ass..(assalamualaikum) mhon (mohon), mngikti (mengikuti), dkarnakan sdang (dikarenakan sedang), trima (terima) kasih atas pgrtian (pengertian), (f) teks 9; mr, (mister) (g) Yth bpk (Yang terhormat bapak), bhwa (bahwa), bsa (bisa), cz skit (because = karena sakit), mhn (mohon), (h) teks 11; Aslmkm (assalamualaikum). Sy (saya), (i) teks 12; ikt (ikut) , (j) teks 13; menggangg (mengganggu), kls (kelas), (k) teks 14; Asskum (Assalamu’alaikum), B.Ing (Bahasa Inggris), karna (karena) sakit, Trima kasih (Terima kasih), (l) teks 15; sblumnya (sebelumnya), sya tdak (saya tidak), bpak (bapak), (m) teks 16; Askum mr. (Assalamu’alaikum mister), cz (because), (n) teks 17; Sy (Saya), sy (saya), (o) teks 19; tdk (tidak), kul (kuliah), Trimakasih (Terima kasih), (p) teks 20; Asslmlkm (Assalamu’alaikum), tdk bsa (tidak bisa), bpk dkrenakan (bapak dikarenakan),  bdn (badan), Trimakasi (Terima kasih) (q) assalamu’alaikum wrwb (warahmatullahi wabarakatuh), tdk dpt (tidak dapat) dg (dengan), Wassalamu’alaikum wrwb (warahmatullahi wabarakatuh).

C.1.b. Permainan Bahasa (Language Play)

Fenomena bahasa buatan atau permainan bahasa atau language play banyak ditemukan dalam SMS mahasiswa. Permainan bahasa didefinisikan sebagai proses pembentukan kata atau frasa baru melalui ekploitasi huruf, angka, silabel, bahkan suara secara kreatif dan unik. Seperti contoh plat nomor kendaraan AB  10  SO akan terbaca sebagai unit kata untuk nama pemilik kendaraan yaitu Abioso (Djatmika; 2009:263)

Adapun contoh dari permainan bahasa yang ditemukan dalam SMS “meminta ijin mahasiswa adalah: (a) teks 3; kulyah (kuliah), (b) teks 3; maap (maaf) (c) teks 8; ur (your), (d) teks 9; mgkvti, n (and), maklumxa (maklumnya, (e) teks 14; biza (bisa),          (f) teks 18; mekom (assalamu’alaikum), thanx (thank you).

Tidak banyak permainan bahasa ditemukan, dan hal ini dapat disebabkan oleh beberapa factor antara lain: (1) setting adalah formal, dan penerima teks adalah orang yang lebih tua dan dihormati, (2) pengirim adalah mahasiswa daerah yang masih belum banyak terpengaruh gaya modern remaja.

C.1.c. Elipsis

Peranti wacana pada aspek gramatikal yang berupa elipsis (pelesapan) menjadi ciri khas dari teks SMS ”meminta ijin” mahasiswa.  Bila dibandingkan dengan permintaan ijin melalui surat, pelesapan kata, frasa atau bahkan klausa dalam SMS mahasiswa sangat mungkin terjadi. Hal ini jelas sangat mengurangi unsur keformalannya. Padahal, SMS  yang dikirim adalah SMS formal yang ditujukan kepada orang yang mereka hormati yaitu dosen mereka. Fenomena ini muncul sebagai akibat dari prinsip penulisan SMS yaitu ”semuanya serba singkat.” Dari 21 data dalam daftar,  11 SMS mengalami pelesapan salah satu satuan lingualnya. Adapun SMS yang mengalami pelesapan yaitu teks 1, 3, 4, 5, 6, 9, 10, 11, 14, 16, 17, 19, 21. Di bawah adalah daftar teks yang mengalami pelesapan satuan lingualnya. Kata atau frasa dalam kurung adalah satuan lingual yang dilesapkan.

  1. Assalmualaikum. Bapak saya mohon izin untuk hari ini (saya) tidak bisa mengikuti mk Bapak, karena saya sedang berada dluar kota.atas perhatiannya trima kasih      (teks 1).
  2. Selamat pagi.. Salam sejahtera untuk bpak..saya mhsiswa bapak kLas C, mohon maap (saya) tidak bsa ikut kulyah bpk hari ini..Krn sbab ksehatan sy trganggu. (Ahmad Khozaimi) (teks 3).
  3. Assalamualaikum, wr, wb. Saya mohon maaf & (saya mohon) izin tidak bisa hadir kuliah (bapak) dikarenakan saya harus menjemput orang tua saya di bandara yang akan datang dari malaysia, sudi kiranya u memaafkan & mengizinkan (saya), terima kasih (teks 4).
  4. Assalamualaikum.. Pak maaf untk hr ini saya g msuk kuliah, karn kshatn sya terganggu, untuk surat keterangan dokternya (akan saya kirimkan) menyusul, trimakasih (teks 5).
  5. ass..mhon maaf bapak, saya tidak bisa mngikti perkuliahan (bapak) dkarnakan (saya) sdang sakit, trima kasih atas pgrtian anda..abdul gani. (teks 6).
  6. Assalamu’alaikum. Yth bpk iqbal, bhwa saya rahmad, tidak bsa mgkvti progam kuliah (bapak)….cz (saya) skit. (saya) mhn izin n maklumxa.trims (teks 9).
  7. Assalamu’alaikum..Sorry for disturbing you sir. This is nurir. I cannot come to your class today because I am sick sir. I will give the letter later (to you (next time/after I recover)). (teks 10).
  8. Aslmkm pak, saya dwi wijayanti nrp 403 (saya) besok minta ijin absen tidak ikut kuliah (bapak). Sy masih sakit. terima kasih sebelumnya. (teks 11).
  9. Asskum Bapak..Saya Deddy Kristiandana, (saya) mahasiswa Unijoyo, (saya kuliah di) jurusan manajemen, (080211100003). Mohon maaf, Untuk matakuliah B.Ing saya berhalangan hadir karna sakit. Trima kasih. (teks 14).
  10. Askum mr. Iqbal, Im Desi Puspitasari. I’m so sorry, I cant come to ur class this morning cz of sick (I am sick). Thanks for attention. (teks 16).
  11. Assalamualaikum..Pak..Maaf..Sy nita semester 8 (saya) mohon ijin tidak bisa masuk hari ini, karena sy kurang enak badan. mohon maklum. (teks 17).
  12. Pak, maaf hari ini saya tdk bisa masuk kul karena (saya) harus ke Surabaya. Trimakasih pak. Rizal (teks 19).
  13. assalamu’alaikum wrwb mohon maf mengganggu waktu bapak.saya hendak memohon izin untuk hari ini tdk dpt mengikuti kelas bapak dikarenakan (jam kuliah kita) bentrok dg mata kuliah lain.mohon pemberitahuannya jika ada tugas tambahan untuk saya.mohon maaf dan terimakasihn sebelumnya. Wassalamu’alaikum wrwb. (teks 21).

C.2. Penanda Stilistika Dalam Teks SMS.

C.2.1. Penggunaan Kata Salam

Hampir seluruh SMS yang menjadi bahan kajian paper ini diawali oleh kata Salam yaitu kata ’Assalamu’alaikum’ (yang bermakna keselamatan atasmu) beserta varian-varian penulisannya. Penyertaan salam pada pembuka SMS menjadi ciri khas orang Indonesia terutama yang Muslim. Fenomena ini menjadi semacam konvensi dan diyakini sebagai sesuatu yang wajib dilakukan ketika menulis SMS dengan tujuan pada orang lain utamanya yang lebih tua. Alpa dalam menyertakan kata ini akan dianggap sebagai sesatu hal yang kurang terpuji. Seseorang yang mengirimkan SMS pada orang lain yang lebih tua atau dihormati dan lupa untuk menyertakan kata salam, maka ia akan dianggap sebagai orang yang kurang tata krama, dan kurang terdidik.

Trend munculnya kata salam ’assalamu’alaikum’ dalam setting formal seperti meminta ijin pada dosen, menjadi pertanda bahwa telah terjadi pergeseran nilai dan budaya pada komunikasi orang Indonesia utamanya mahasiswa. Beberapa tahun yang lampau, penggunaan kata ’assalamu’alaikum’ dalam surat ijin formal hampir jarang dijumpai. Kata yang merepresentasikan sapaan sekaligus pembuka dalam surat-surat ijin formal adalah kata ’dengan hormat’ atau beberapa dengan kata ’selamat pagi.’ Sejalan dengan waktu, sapaan selamat pagi pak, atau dengan hormat telah mulai digantikan dengan kata ’assalamu’alaikum’ sebagai ekspresi pembuka kata maupun sapaan.

Penggunaan kata salam selain menunjukkan tata krama juga dapat menunjukkan sosiokultur bangsa Indonesia, yaitu adanya fenomena asimilasi budaya antara budaya Nusantara dan budaya Islam. Budaya Islam rupanya telah menjadi budaya nasional dan diakui oleh bangsa Indonesia.

C.2.2. Penggunaan Kata ”Maaf”

Hampir sama dengan kata ’assalamu’alaikum,’ pemunculan kata ’maaf’ juga telah menjadi gaya dari mahasiswa. Kata maaf normalnya muncul ketika seseorang melakukan kesalahan pada orang lain dan dia menyesal akan kesalahan yang dilakukannya. Untuk meredam amarah orang yang disakitinya, ia akan menggunakan kata maaf. Pada SMS mahasiswa, kata ’maaf’ hampir selalu muncul, namun bedanya, makna kata ini tidak ada hubungannya dengan kesalahan yang dilakukan oleh mereka. Kata ’maaf’ dalam kalimat ’maaf mengganggu waktu bapak’ lebih merepresentasikan sebuah penghormatan pada orang yang lebih tua. Dengan menggunakan kata ’maaf,’ pengirim berusaha memposisikan diri mereka lebih rendah dari orang yang mereka kirimi SMS. Demikian juga kata ’maaf’ dalam kalimat ’maaf pak saya tidak bisa masuk kuliah’ merepresentasikan sebuah ekspresi penyesalan yang dalam karena telah bersalah meninggalkan kuliah, rasa bersalah ini juga merupakan tanda penghormatan bahwa dosen pengajar mereka masih dipandang dan layak diminta ijinnya. Penggunaan kata maaf dalam konteks ini telah menjadi gaya bahasa konvensional mahasiswa pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya.

C.2.2. Penggunaan Kata ”Terimakasih”

Penggunaan kata salam dan maaf, berada dalam nuansa makna yang sama dengan taka terimakasih. Sama dengan dua kata yang telah disebutkan di atas, kata ’terimakasih’ dalam SMS tidak ditujukan untuk mengungkapkan perasaan senang karena telah mendapatkan sesuatu, tapi kata ini, semata-mata ditujukan untuk menunjukkan kesopanan, dan rasa hormat mahasiswa pada dosennya.

C.2.1. Penggunaan ”Alasan”

Selain kata maaf, salam, dan terimakasih, infomasi tentang alasan mengapa mahasiswa tidak dapat mengikuti kuliah hampir seluruhnya dijumpai pada data. Alasan seakan menjadi hal yang wajib ada bagi mahasiswa yang hendak meninggalkan sebuah  matakuliah. Tanpa menyertakan alasan, pesan dianggap tidak lengkap. Diyakini ketika alasan tidak disertakan, kelak mereka akan ditanya ketika mereka masuk kuliah alasan mereka absen. Daripada mereka ditanya secara lisan, lebih baik mereka menyertakan alasan mereka dalam SMS, entah itu benar atau tidak. Alasan juga berhubungan dengan aspek psikologis. Bagi mahasiswa, absen dianggap sebuah kesalahan, dan karenanya alasan dari kesalahan itu haruslah ada. Penyebutan alasan (apalagi alasan tersebut tepat) dapat  mengurangi keresahan psikologis terhadap kesalahan absen yang mereka lakukan.

Adapun pola-pola alasan yang biasa diungkapkan dalam ijin di SMS pada data adalah: (1) karena sakit, (2) karena ada kepentingan keluarga, atau (3) karena ada kegiatan di luar kota. Alasan ini menjadi semacam gaya yang digunakan di hampir setiap kesempatan mereka absen. Umumnya, jarang mahasiswa menggunakan pola alasan seperti ’karena tertidur,’ ’karena terlambat bangun,’  ’karena masih makan di kantin,  ’masih ngobrol dengan teman’ atau bahkan mungkin ’jalan dengan pacar’

5 PENUTUP

Kontribusi makalah ini pada dunia linguistik adalah informasi gaya bahasa penulisan SMS, mengingat kajian bahasa yang dipergunakan dalam pesan singkat (SMS) belum banyak diselidiki secara mendalam. Temuan menarik yang didapat adalah, adanya gaya bahasa yang berbeda antarmahasiswa dalam menuliskan SMS meminta ijin. Uniknya, meskipun berbeda, namun secara umum pola-pola penulisan SMS mereka sama. Inilah yang kemudian melatarbelakangi munculnya kesimpulan paper ini yaitu: (1) secara personal, bentuk gaya penulisan SMS ’meminta ijin’ mahasiswa berbeda antarsatu mahasiswa dengan mahasiswa lain, (2) secara kamulatif, penanda stilistika dalam bahasa SMS mereka memiliki kemiripan antara yang satu dan yang lain, (3) secara umum, penulisan SMS ’minta ijin’ berbeda dengan permintaan ijin mahasiswa melalui surat atau lisan.

DAFTAR PUSTAKA

Djatmika. 2009. SMS Gaul Sebagai Sebuah Kasus Permainan Bahasa Di Kalangan Remaja. Artikel dipublikasikan di Prosiding Kolita 7 yang diterbitkan oleh Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Unika Atmajaya Jakarta

Kridalaksana, Harimurti. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.

Junus, Umar. 1989. Stilistika: Suatu Pengantar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Ratna, Nyoman Kutha. 2009. Stilistika: Kajian Puitika Bahasa, Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Saputra, Heru S.P.. 2004. Dari Tuturan hingga SMS: Formulaik Kelisanan di Balik Keberaksaraan dalam Prosiding Seminar Internasional Bahasa dan Sastra dalam Perspektif Studi Budaya, 3 – 4 Desember 2004, di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sandell, Rolf. 1977. Linguistic Style and Persuasion. London: Academic Press

Suwondo, Tirto. 2003. Studi Sastra: Beberapa Alternatif. Yogyakarta: Hanindita

Komentar
  1. Nasirudin mengatakan:

    Bapak sungguh peneliti dan penulis yang handal. Saya termasuk belum bisa menulis semacam bapak. Saya hanya bisa menulis singkat tentang Lima hal yang harus diperhatikan mahasiswa saat mengirim SMS kepada dosennya.

    Salam kenap pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s