SETTING-SETTING DIGLOSIA DAN STRATEGI MENGHADAPINYA (Studi Terhadap Pemertahanan Bahasa Ibu Oleh Mahasiswa Madura)

artikel dalam buku Menyelamatkan Bahasa Ibu Sebagai Kekayaan Budaya Nasional . ISBN 9-789799-462787, Published incorporation between Balai Bahasa Bandung dan Alqa Print, 2010

Iqbal Nurul Azhar

A. PENDAHULUAN
Madura dengan empat kabupatennya yaitu Bangkalan, Sampang Pamekasan dan Sumenep  tidak hanya didiami orang Madura saja,  tapi daerah ini didiami juga oleh orang Jawa, Sunda, Sumatera, Cina, dan Arab. Namun, meskipun struktur masyarakatnya terdiri dari berbagai etnis, mayoritas dari populasi pulau ini adalah penutur asli bahasa Madura yaitu orang Madura dan bahasa komunikasi merekapun bahasa Madura.

Pemerintah menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Nasional yang wajib digunakan oleh segenap suku bangsa di Indonesia, sehingga Madura, sebagai bagian dari suku bangsa di Indonesia juga menggunakan bahasa tersebut. Akibatnya orang Madura menjadi bilingual, yaitu mereka mampu menguasai dua bahasa dengan baik. Bahkan ada sebagian daerah yang penduduknya multilingual karena mereka tidak hanya mahir bahasa Madura dan bahasa Indonesia, mereka juga mahir bahasa Jawa atau bahkan bahasa Kalimantan.

Selain memiliki kemampuan bilingual atau multilingual, orang-orang Madura sangat familiar dengan setting diglosia (Fishman, 1967/2000: 89-106, menyebutnya sebagai domain). Hal ini tidaklah aneh mengingat bahasa Madura yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari memiliki variasi tingkat tutur (speech level) atau tingkatan bahasa yang dalam bahasa Madura disebut Ondhagan Bhasa. Sukardi (2001) mendefinisikan Ondhagan Bhasa sebagai perihal yang berhubungan dengan tinggi rendahnya bahasa yang digunakan masyarakat dalam berbicara. Sukardi juga menambahkan bahwa dalam berbicara, orang Madura perlu melihat lawan bicara, apakah berbicara dengan orang yang derajatnya sama, lebih rendah ataukah lebih tinggi.

Pemilihan tingkat tutur ini ditentukan oleh beberapa faktor antara lain: (1) situasi pembicaraan, yaitu tingkat keformalan pembicaraan yang sedang berlangsung, (2) status sosial pembicara, yaitu apakah pembicara adalah orang penting dan dipentingkan dalam pembicaraan, (3) hubungan personal antar pembicara, yaitu tingkat keakraban hubungan antar penutur dengan lawan tutur, (4) faktor usia, yaitu tingkat perbedaan usia antara penutur dengan lawan tutur. (Sukardi, 2001)

Secara umum, tingkat tutur yang terdapat dalam bahasa Madura dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu: (1) tingkat Enja’-Iyah, (2) tingkat Enggi-Enten, dan (3) tingkat Enggi Bunten. Tingkat bahasa Madura Enja’- Iyah adalah tingkat tutur yang biasa dipakai oleh dua orang atau lebih yang memiliki derajat sama baik itu usia, status sosial dan berada dalam status hubungan yang sangatlah akrab. Tingkat bahasa Madura Enggi-Enten adalah tingkat tutur yang digunakan kepada kawan  dalam pergaulan yang kurang akrab, kepada orang yang asing yang baru saja dikenal, atau kepada orang tua yang jarak sosialnya yang tidak terlalu jauh. Tingkat bahasa Madura Enggi-Bunten adalah kelas tutur yang digunakan oleh orang dalam situasi pergaulan yang resmi, ditujukan kepada orang yang sangat dihormati atau terpandang dan dimaksudkan untuk menghormati lawan bicara

Berdasarkan kemampuan mereka yang bilingual, multilingual, dan multilevel ini,  kita mungkin dapat bertanya, kira-kira apa yang terjadi andaikata masyarakat ini berada dalam sebuah setting diglosia, sebuah situasi yang memaksa mereka memilih salah satu ragam bahasa untuk memenuhi tuntutan kesopanan dalam hubungan sosial? Bahasa atau tingkat bahasa apakah yang akan mereka pakai dalam konteks ini padahal mereka memiliki kemampuan untuk memilih tingkatan bahasa maupun mengalihkan bahasa mereka ke bahasa lain? Apakah mereka akan memilih salah satu dari tiga tingkat bahasa Madura tersebut ataukah mereka akan menggunakan bahasa yang lain selain bahasa Madura?

Situasi kebahasaan masyarakat Madura yang unik ini sangat menarik untuk diamati. Melalui pendekatan sosiolinguistik dengan parameter seperti bilingualisme, multilingualisme, multilevel dalam monobahasa dan diglosia, setidak-tidaknya ada dua pertanyaan yang menjadi ruh dari penelitian ini. Dua pertanyaan tersebut adalah  (1) Setting-setting diglosia apa sajakah yang dapat ditemukan dalam interaksi orang Madura sehari-hari. (2) Strategi apa sajakah yang dilakukan orang Madura dalam menghadapi setting-setting diglosia tersebut?

B. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Dua pertanyaan di atas adalah rumusan masalah dalam penelitian ini. Tujuan penelitian ini pada hakikatnya untuk mencari jawaban dari permasalahan yang dikemukakan di atas dan mendapatkan gambaran secara jelas dari dua pertanyaan tersebut. Berdasarkan rumusan masalah ini, maka tujuan penelitian ini adalah : (1) untuk mengetahui setting-setting diglosia apa sajakah yang dapat ditemukan dalam interaksi orang Madura sehari-hari, (2) untuk mendapatkan informasi tentang strategi apa sajakah yang dilakukan orang Madura dalam menghadapi setting-setting diglosia tersebut.

Penelitian ini memiliki manfaat besar terhadap perkembangan sosiolinguistik dan etnolinguistik. Adapun manfaat yang didapatkan dari penelitian ini adalah:  (1) memberikan tambahan informasi kepada sosiolinguis tentang fenomena-fenomena diglosia yang terjadi pada masyarakat lokal, dan (2) menjawab pertanyaan etnolinguis utamanya etnolinguis Madura apakah bahasa Madura masih tetap dipertahankan ataukah telah ditinggalkan pemakaiannya dalam kehidupan sehari-hari

C. METODE DAN LIMITASI PENELITIAN
Dengan menggunakan metode diskriptif kuantitatif, peneliti mengadakan penelitian di Kabupaten Bangkalan tepatnya di Universitas Negeri Trunojoyo. Universitas Negeri Trunojoyo dipilih sebagai lokasi penelitian didasarkan atas beberapa pertimbangan, yaitu (1) Universitas Negeri Trunojoyo adalah satu-satunya Universitas Negeri di Madura yang menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari empat kabupaten di Madura,  (2) akses yang dimiliki peneliti sangat luas di universitas ini karena peneliti bekerja sebagai staf pengajar di universitas ini.

Data didapat dari angket yang disebarkan kepada 100 mahasiswa yang berasal dari jurusan yang berbeda.  Seluruh responden adalah mahasiswa kelahiran Madura dan dapat berbahasa Madura.

D. BEBERAPA TEORI TENTANG BILINGUALISME, MULTILINGUALISME DAN DIGLOSIA
D.1. Bilingualisme dan Multilingualisme
Istilah bilingualisme adalah istilah yang pengertiannya bersifat relatif. Kerelatifitasan ini muncul disebabkan batasan seseorang disebut multilingual bersifat arbitrer dan hampir tidak dapat ditentukan secara pasti. Mula-mula bilingualisme diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan dua bahasa sama baiknya oleh seorang penutur, namun pendapat ini makin lama makin tidak populer karena kriteria untuk menentukan sejauh mana seorang penutur dapat menggunakan bahasa sama baiknya tidak ada dasarnya sehingga sukar diukur dan hampir-hampir tidak dapat dilakukan (Suwito, 1983:40)

Perluasan pengertian kedwibahasaan diberikan oleh Mackey (dalam Suwito, 1983) yang menggambarkan adanya tingkat-tingkat kedwibahasaan yang dimaksudkan untuk membedakan tingkat kemampuan seseorang dalam menguasai bahasa kedua. Tingkat-tingkat kemampuan ini dapat dilihat dari penguasaannya dalam hal grammatikal, leksikal, semantik, dan style yang tercermin dalam empat ketrampilan dasar yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Makin banyak unsur-unsur tersebut dikuasai seseorang, makin tinggi tingkat kedwibahasaan orang tersebut. Makin sedikit penguasaan terhadap unsur-unsur tersebut, makin rendah kemampuan kedwibahasaannya.

Haugen (1968:10) sejalan dengan pengertian di atas menjelaskan kedwibahasan sebagai ”knowledge of two languages” (tahu dua bahasa). Pengertian ini secara singkatnya digambarkan bahwa seorang dwibahasawan tidak harus menguasai secara aktif dua bahasa. Cukuplah apabila ia mengetahui secara pasif dua bahasa.
Oksaar (1972:478) berbeda pendapat dengan Haugen. Ia berpendapat tidak cukup membatasi kedwibahasaan hanya sebagai milik indiovidu. Kedwibahasaan harus diperlakukan sebagai milik kelompok, sebab bahasa itu sendiri tidak terbatas sebagai alat penghubung antar individu, tetapi juga alat komunikasi antar kelompok

Istilah “bilingualisme” (kedwibahasaan) sering dianggap sama dengan istilah “multilingualisme” (kemultibahasaan), yaitu istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan penggunaan lebih dari satu bahasa oleh individu, kelompok, atau masyarakat (regional, nasional, bangsa, dan negara). Teori tentang bilingualisme dan multilingualisme ini disampaikan oleh Beardsmore (1982), dan Baker (1996)

D.2. Diglosia
Istilah “diglosia” mula-mula dikemukakan oleh Charles A. Ferguson dalam tulisannya yang berjudul “Diglosia” (1959: 325-340; Diterbitkan kembali pada Wei, Ed., 2000: 65-80) untuk mengacu pada situasi kebahasaan yang mencerminkan penggunaan dua variasi bahasa secara berdampingan yang masing-masing mempunyai peranan dan fungsi sendiri-sendiri dalam masyarakat tempat bahasa tersebut dituturkan. Variasi bahasa yang satu biasanya lebih standar dan diberi label Variasi Tinggi (Variasi H/High), sedangkan variasi yang lain biasanya kurang begitu bergengsi dan diberi label Variasi Rendah (Variasi L/Low)
Menurut Ferguson, diglosia mempunyai ciri-ciri menonjol yang dapat ditunjukkan melalui sembilan sudut pandang yaitu (a) fungsi, (b) prestise, (c) tradisi sastra, (d) pemerolehan bahasa, (e) standarisasi, (f) stabilitas, (g) tata bahasa, (h) leksikon, dan (i) fonologi (Ferguson, 1959/2000)

Komentar
  1. nidya m armi mengatakan:

    kenapa tidak ada pengertian sosiolinguistik itu sndiri secara langsung menurut ferguson?

  2. nana mengatakan:

    lantas bagaimana pengaruh diglossia itu ?????????????

  3. nana mengatakan:

    lantas pengaruh diglossia tersebut secara real gmn ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s