KACAMATA KUDA

KACAMATA KUDA

Posted on November 19, 2008 by iqbalnurulazhar.

Prok prok prok
Langkah sepatu karet menuju mimbar
Hadirin terdiam dalam kekaguman
Menatap sosok laki-laki gagah berwibawa
Yang lama mereka puji bagai pahlawan

Lantas laki-laki ini mulai berpidato
Dengan menyebut nama tuhan seakan dia teman-Nya
Kemudian menyitir ayat kitab suci membuatnya tampak seperti
Puisi
Puisi yang sering disenandungkan pengamen jalanan

Lalu panggung bergerak meriah mengiringi pola suaranya
Yang liar lantang bekobar-api
Digebraknya meja podium dan berteriak tinggi
Demi kemajuan kita saudara
Demi kesejahteraan kita saudara
Demi hidupnya anak cucu kita saudara
Kita harus berjuang

Yah..itulah dia orator paling ulung
Dipastikannya takdir
Dan dihitamkannya pengalaman
Dipanaskannya gemuruh dada hadirin
Yang anaknya kelaparan
Di bangkitkannya keberanian mereka
Yang lama mati kutu
Dibuatnya mereka berpuluh, beratus, berjuta hadirin
Menjadi
Vampir haus darah
Tanpa pikiran
Tanpa perasaan
Tanpa pikir panjang

Hadirin kemudian bubar dengan menyisakan dengung panjang
Akan harapan
Akan kebahagian
Akan ketercukupan
Akan kenyangnya perut lapar anak mereka
Yang sedang lemas menunggu berapa butir nasi
Meraka berbayang sang orator akan membawa mereka
Menuju kemenangan
Mereka harus melakukan revolusi
Membakar
Menculik
Membunuh
Menghancurkan segala penghalang
Meskipun taruhannya adalah nyawa
Yakin mereka kan masuk surga

Padahal andaikata mereka tahu
Setelah pulang sang orator
Tidak langsunng dia balik ke rumahnya yang mewah
Tidak langsung dia mengkonsep perjuangannya
Tidak langsung dia berkonsolidasi untuk menggalang kekuatan

Dia malah masuk lokalisasi
Untuk menumpahkan berahinya yang terpendam
Untuk minum arak yang melenakan
Untuk berkencan dengan pelacur langganannya
Sambil berpikir dia di atas paha wanita penghibur
Sejuta rakyat mungkin bisa jadi korban
Sejuta rakyat pasti akan jadi tumbal
Sejarah mungkin bisa dikorbankan
Asal dia duduk di atas singgasana
Peduli setan!

Dengan pongah dia tertawa
Merasa betapa pintarnya dia
Merasa betapa bodohnya rakyatnya
Merasa butuhnya mereka akan kacamata kuda
Untuk melihat siapa sang orator sebenarnya

Namun sang orator lupa
Bahwa pelacur yang ditidurinya
Kini bergidik ngeri
Melihat tubuhnya yang putih mulus
Sedang dijilati
Oleh dajjal bertanduk dua
Sang orator sendiri

Komentar
  1. caca naya mengatakan:

    that’s ok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s