MEMBICARAKAN SASTRA MADURA: DARI POTENSI, REALITA, DAN HARAPAN

Oleh: Iqbal Nurul Azhar

Universitas Trunojoyo, JL. Raya Telang PO.BOX 2 Kamal

Dipublikasikan dalam Prosiding Seminar Nasional Bahasa Ibu, 2013. Diterbitkan atas kerjasama FKIP UNS dan Penerbit Yuma Pustaka.

Abstract: This article describes and explains four things, those are: (1) kinds of Madurese literature, (2) Madurese literature potentials to support the greatness of national culture, (3) the obstacles related to the development of Madurese literature, (4) the strategies to conserve Madurese literature. The existance of this article is hoped to inspire Madurese people to work together to develop Madurese culture in the futute.

Keywords: literature, Madurese, culture

A. Pendahuluan

Sastra Madura penuh dengan pesan, kesan, kritik dan ajaran-ajaran. Di masa lampau sastra lisan maupun tulisan madura sangat diminati oleh masyarakat baik itu dari kalangan  rakyat jelata maupun kalangan elit atau bangsawan.  Sastra Madura disukai karena dengan inilah rakyat madura dapat mengeskpresiankan diri, menyampaikan pesan moral, gejolak hati, maupun ajaran agama. Orang Madura yang dikenal memiliki karakter keras dalam menjalani hidup, selalu maju menantang kondisi yang keras, ternyata dalam kehidupan sehari-harinya masih memiliki waktu untuk menciptakan dan mendendangkan sastra–sastra. Kondisi geografis Madura yang panas dan dikurung oleh ombak lautan yang garang, memberikan pengaruh yang kuat terhadap bentuk-bentuk sastra dan pesan moral yang ada dalam sastra-sastra orang Madura. Kebanyakan, karya sastra orang Madura dipenuhi dengan motivasi, pesan ajaran yang ketat.

Sayangnya, karya sastra orang Madura ini akhir-akhir ini mulai ditinggalkan. Ini bisa dilihat pada jamaknya fakta yang menunjukkan bahwa banyak generasi muda telah mulai tidak menggunakan dan melupakan kaya Sastra Madura. Lebih parahnya lagi, ada beberapa generasi muda bahkan terkadang malu untuk bersinggungan dengan karya sastra Madura karena bagi mereka, karya sastra tersebut dinilai kampungan. Padahal generasi muda Madura tersebut merupakan agen penerus tongkat estafet Sastra Madura.

Sebagai aksi keprihatinan akan fenomena ini, beberapa orang telah melakukan studi terkait sastra Madura, seperti yang dilakukan oleh Sofyan (2008, 171-194), Djunaidah (2009), Anton (2012), Hariyadi (1981), Anton (2008), Anton (2012), Azhar (2009). Keprihatinan ini secara jelas mereka tunjukkan melalui adanya satu bagian khusus (saran) yang berisi himbauan kepada pemerintah daerah untuk lebih perhatian lagi dalam merawat dan mengembangkan sastra Madura.

Tulisan ini memaparkan macam-macam jenis sastra Madura beserta ancaman-ancaman yang dapat membuat punah sastra ini. Topik artikel ini secara umum mengikuti road map studi-studi di atas yaitu pada sastra Madura. Yang membedakan studi ini dengan studi sebelumnya adalah kespesifikan gaya penulisannya yang tidak murni deskriptif tetapi lebih kepada eksposisi hortatori (persuasif). Perbedaan yang lain terletak pada taksonomi-taksonominya yang secara jelas membagi sastra menjadi dua jenis.

D. Pembahasan

a. Jenis Sastra Madura

Secara umum, terdapat dua jenis sastra Madura, yaitu sastra Madura populis dan sastra Madura partikularis. Disebut Populis karena sastra Madura jenis ini dikenal luas oleh segenap lapisan masyarakat Madura. Disebut partikularis karena sastra jenis ini dikenal hanya oleh beberapa lapis masyarakat dan biasanya oleh generasi tua.

Contoh dari sastra Madura populis adalah dungngeng (dongeng). Dungngeng adalah cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan moral dan harapan dan sering didendangkan dalam perkumpulan-perkumpulan bahkan dalam keluarga. Dungngeng ini merupakan bingkai dari kisah-kisah kehidupan masyarakat Madura di masa lampau. Beberapa dungngeng Madura yang terkenal adalah dungngeng kepahlawanan pangeran Tronojoyo, Potre Koneng, Asal muasal kerapan sapi, Sakera, Ke’ lesap, Angling Darma Ambya Madura, dan lainnya.

Contoh yang kedua dari sastra populis adalah syi’ir. Syi’ir merupakan rangkaian kata-kata indah yang membentuk kalimat-kalimat yang terpadu dan biasanya di baca di pesantren-pesanten, majlis ta’lim, dan walimatul urs. Si’ir Madura tersusun dari 4 padda/biri (baris). Tiap padda terdiri dari 10 keccap (ketukan). Tiap akhir suara pada padda mengandung pola a – a – a – a. Isi syi’ir bermacam-macam, bergantung dari selera dan kesenangan serta tujuan dari pembuatnya. Jenis-jenis syi’ir beraneka ragam seperti syi’ir yang menceritakan kisah nabi, cerita orang mati siksa kubur, perhatian pada pendidikan, agama atau akhlak. Contoh-contoh syi’ir adalah sebagai berikut

Pong-pong gi’ kene’ gi’ ngodha-ngodhaPabajeng nyare elmo akida

Manabi nyaba dhapa’ gan dhadha

Kastana ampon bi’ tadha’padha

Mumpung masih kecil masih muda-mudaRajinlah mencari ilmu akidah

Apabila nyawa telah sampai di dada

Menyesalpun tidak akan ada manfaatnya

Jenis sastra yang kedua adalah sastra Partikularis (tertentu/tidak umum). Pembagian sastra jenis ini sebenarnya tidak perlu ada andaikata masyarakat Madura masih tetap mempopulerkan sastra jenis ini di masyarakat luas. Karena jarang ditemuinya sastra jenis ini, maka sastra jenis ini disebut juga sebagai sastra arkais. Sastra jenis ini memiliki ragam, jenis, pola-pola atau aturan-aturan tertentu dan harus diingat dengan baik. Syarat mengingat dan memahami pola-pola inilah yang dinilai sangat berat bagi para generasi muda, sehingga banyak diantara mereka yang enggan untuk mempertahankan dan mempraktekkan sastra jenis ini. Akibatnya, tidak banyak orang Madura yang memahami sastra jenis ini, padahal, keberadaan sastra jenis ini benar-benar mendukung kebesaran sastra Madura. Adapun sastra jenis ini adalah: (a) Bangsalan (b) Puisi Pantun Madura (c) Paparegan (d) Saloka, dan (e) Tembhang Macapat (Jasin, 2005).

a) Bangsalan

Yang dimaksud bangsalan adalah ungkapan sastra yang dirangkai sedemikian rupa dengan menggunakan pola indirectness (tidak langsung ke maksudnya). Kalimat ini terdiri dari tiga pilar yaitu bangsalan, teggessa, dan oca’ panebbus. Bangsalan adalah ungkapan sastra konkrit dalam kalimat, teggessa adalah arti atau makna yang dirujuk oleh bangsalan, sedangkan oca’ panebbus adalah makna dari bangsalan. Bentuk teggessa harus memiliki kemiripan dengan kata penebusnya (harus mengandung guru sastra maupun guru swara). Guru sastra adalah sama/miripnya bentuk tulisan antara bangsalan dan panebbhus, sedang guru swara adalah miripnya bunyi ucap bangsalan dan panebbhus. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat dalam kalimat di bawah ini:

Eatore pondhut dha’ar, bigi accem sagi-manggina”  ”Silahkan dimakan, biji asam seadanya” (persilahan untuk orang yang lebih tua)

bangsalan: bigi accem (biji asam)

teggessa: magi’ (suara ”gi”) (bahasa madura untuk biji asam)

panebbussa: sagi-manggina (suara ”gi”) (seadanya)

Terkadang bangsalan dan penebbus posisinya terbalik. Panebbus diucapkan dahulu baru kemudian bangsalan diucapkan, seperti contoh:

Ma’ ce’ kasosona ba’na Le’, ma’ enggaddhang kole’na tepes” “Kok kamu terburu-buru dik, kok pisang kulitnya tipis”

bangsalan: anggeddhang kole’na tepes     (pisang kulitnya tipis)

teggessa: geddhang susu (suara su)           (pisang susu)

panebbussa: kasusu (suara su)                   (terburu-buru)

Contoh bangsalan yang lain seperti

BANGSALAN

TEGGESSA

PANEBBUS

kareta messin motor mator
bato kene’ baliker pekker
baddhung padhi nye-anye nye-nganye
balang pagar jerring egiring
cabbi kene’ cabbi lete’ te’lette’an
barakay mowara baja babaja
beddha’ anga’ balsem ressem
pereng kene’ leper caleper

Penguasaan terhadap bangsalan pada jaman dahulu dapat dijadikan sebagai penanda apakah seseorang yang berbicara bahasa Madura adalah memang asli keturunan Madura. Jika ia mahir bertutur dengan menggunakan bangsalan, maka ia merupakan suku asli Madura. Jika tidak, maka ia akan dianggap belum ”Madura” dan hanya menguasai bahasa Madura kulitnya saja. Bentuknya yang unik, berpola indirektif dan butuh ingatan kuat untuk mengingat bentuk-bentuk bangsalan menjadikan sastra jenis ini benar-benar dianggap sebagai identitas asli budaya Madura, karena hanya orang maduralah yang tahu makna tuturan bangsalan. Budaya bertutur dengan menggunakan sastra jenis ini memiliki beberapa aspek positif antara lain: (1) bentuknya yang indirektif dianggap efektif dalam membangun komunikasi yang sopan dan santun (2) adanya aturan guru sastra dan guru swara menyebabkan naluri dan semangat kesusastraan orang Madura meningkat (3) karena sifat bangsalan, teggessa dan penebbus yang arbriter, dan hanya diketahui oleh orang Madura, maka ketiganya menjadi simbol jati diri dan budaya orang Madura dan dapat menjadi alat pemersatu antarorang Madura

b) Puisi Pantun Madura

Pantun Madura dikenal juga sebagai sendhilan. Sendhilan digunakan sebagai salah satu bentuk komunikasi antarorang Madura. Keunikan dari komunikasi sendhilan adalah komunikasi jenis ini dilakukan dengan menggunakan pantun atau paparegan. Biasanya, sendhilan dilakukan antara kaum laki dan kaum perempuan dengan cara berbalas-balasan pantun.

Di dalam sebuah pantun ada yang dinamakan  andheggan (bait) pantun dan  padda/biri (baris) pantun. Setiap andheggan terdiri dari empat padda, dan pada tiap-tiap padda biasanya berisi delapan keccap (ketuk/suku kata). Lafal (suara/bunyi) yang berada di akhir padda pertama harus sama dengan lafal suara di akhir padda tiga. Lafal suara akhir padda dua sama dengan lafal suara pada akhir padda keempat (Jasin, 2005).

Pantun yang digunakan dalam sastra dan budaya Madura ada 4 jenis, yaitu: (1) Pantun agama: berisi ajaran dan pesan-pesan agama,  (2) Pantun baburugan (nasehat): berisi nasehat yang mengandung aturan, ajaran  budi pekerti, pendidikan dan akhlak, (3) Pantun sekaseyan: digunakan oleh para pemuda ketika jatuh cinta, (4) Pantun palenggiran: berisi kalimat yang dapat membuat orang tertawa karena lucu.

Contoh puisi pantun Agama

Ngare’ lalang ka PangleghurNompa’ rata asamperan

Ta’ elanglang dika lebur

Kor ja’ loppa dha’ Pangeranna

Mengambil ilalang ke pangleghurNaik rata memakai kain samper

Tidak dihalangi anda senang

Asalkan jangan lupa pada penciptanya

Contoh Pantun Babhurugan

Ngala’ sere epapesaEsarenga gan sakone’

Knesserra oreng towa

Semeyara kabit kene’

Ngambil sirih dipisahkanDisaring sedikit demi sedikit

Sayangilah orang tua

Yang memelihara sejak kecil

 Contoh Pantun Sekaseyan

Pasar bara’ pasar PakongMelle jamo copa’agi

Mon ta’ endha’ enggi ampon

Ding tatemmo sapaagi

Pasar barat pasar PakongBeli jamu diludahkan

Kalau tidak mau tidak apa-apa

Kalau bertemu sapalah

 Contoh Pantun Plenggiran

Kalarassa geddhang bigiGeddhang ambon nyot kenynyoddan

Malaradda ta’ andhi’ gigi

Ngakan  sagon ngot-serngodan

Daun keringnya pisang bijiPisang ambon diemut-emut

Sulit sekali tidak punya gig

Makan sagon sambil menghisap ingus

 c) Paparegan

Paparegam adalah salah satu bentuk sastra Madura yang biasa digunakan untuk memberi nasehat. Bentuk paparegan  ada dua yaitu:

(1) Paparegan yang terbentuk dari dua padda/biri (baris) dalam satu andheggan     (bait). Padda/biri pertama adalah samperan/bibidan. Padda/biri kedua adalah isi/teggessa

(2) Paparegan yang terdiri dari 4 padda/biri dalam satu andheggan. Padda/biri 1 dan 2 berupa samperan/bibidan. Sedang padda/biri 3 dan 4 adalah isi/teggessa dari Paparegan (Jasin, 2005).

Paparegan yang terdiri dari 4 padda/biri memiliki bentuk yang hampir sama seperti pantun. Keduanya sama-sama mengandung guru sastra dan guru sowara. Bedanya, jika pantun ditentukan berapa jumlah keccap (ketuk/suku kata), maka dalam paparegan tidak ditentukan banyaknya keccapnya.

Contoh Paparega yang terdiri dari 2 padda

Blarak klare trebung manyangBaras mare tedhung nyaman Blarak klare trebung manyangSelesai sudah tidurpun tenang

 Contoh Paparega yang terdiri dari 4 padda

Sapa bara’ roMano’ keddi’ mano’  poter

Ta’ enga’ lamba’ ro

Bekto baji’ ker masoker

Siapa di barat roBurung keddi’ burung puter

Tidak ingat dulu ro

Waktu benci tidak mau menyapa

 d) Saloka

Saloka adalah kata-kata sastra yang berisi berisi petuah-petuah bijak, dan penuh makna. Sering disampaikan dalam banyak acara dan dalam tulisan-tulisan sastra Madura. Kebenaran dari isi petuah-petuah bijak ini telah banyak dibuktikan  sehingga orang yang mendengar atau membaca akan selalu membenarkannya dan meyakini. Contoh

  1. Juda nagara potos: hokum nagara ta’ ekenneng tandhinge (Yuda Negara Putus; Hukum negara tidak bisa ditandingi)
  2. Namen cabbi molong cabbi: jube’na oreng gumantong dhari lakona dibi’ (Menanan cabai menuai cabai; keburukan orang tergantung dari tingkah lakunya sendiri)
  3. Mon bagus kodu pabagas: mon oreng bagus robana kodhu pabagus reya Gulina (Orang yang wajahnya bagus seharusnya tingkah lakunya juga bagus)

e)Tembhang

Tembhang tidak jauh berbeda dengan syi’ir. Biasanya tembhang dibaca ketika seseorang mempunyai hajat seperti akan mengawinkan anak atau yang lainnya. Tembhang ini di baca oleh dua orang atau lebih sepanjang malam.

Ada 3 jenis jenis tembhang yang dikenal oleh orang Madura. Yaitu Tembhang Macapat, Tembhang Tengnga’an, dan Tembhang Raja. Tembhang Macapat terdiri dari 9 macam jenis  antara lain: (1) Tembhang artate, (2) Tembhang Maskumambang, (3) Tembhang Senom, (4) Tembhang Kasmaran, (5) Tembhang Salanget/Kenanthe, (6) Tembhang Pangkor (7) Tembhang Durma, (8) Tembhang Mejil, (9) Tembhang Pucung. Tembhang Tengnga’an terdiri dari ada 5 jenis yaitu (1) Tembhang Jurudemmong (2) Tembhang Wirangrong (3) Tembhang Balabak (4) Tembhang Gambu (5) Tembhang Magattro. Adapun tembhang yang terakhir adalah tembhang Raja. Yang termasuk tembhang jenis ini hanya ada satu yaitu tembhang Giriso (Jasin, 2005)..

Yang paling banyak digunakan dan dibahas dalam buku kesusastraan Madura adalah Tembhang Macapat yang berjumlah sembilan. Dalam makalah ini, akan didiskusikan secara umum ciri kesembilan jenis tembang tersebut.

Tembhang Artate memiliki arti pengharap kebaikan. Tembhang ini biasanya digunakan untuk menyebarkan nasihat baik, bisa juga digunakan untuk kagemaran, juga dipakai untuk pembuka di tengah maupun di akhir cerita. Tembhang Maskumambang memiliki pengertian prihatin, kondisi yang sangat susah dan mengenaskan. Tembhang Senom mengandung kiyasan atau parsemon, sangat bagus digunakan untuk ajaran kebatinan. Tembhang Kasmaran memiliki arti asmara atau kasemsem, tembhang ini menungjukkan perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta. Tembhang Salanget/Kenanthe memiliki arti kanthe dan longet. Tembang ini digunakan untuk ajaran kebaikan, kegandrungan, kerukunan dan lalonget. Tembhang Pangkor memiliki arti ekor. Tembang ini digunakan untuk menunjukkan perasaan keras, marah, dan menghadapi perang. Tembhang Durma memiliki arti sifat macan, sedih, sangat marah, perang. Tembhang Mejil memiliki arti keluar. Digunakan untuk kegemaran, kesusahan dan prihatin. Tembhang Pucung memiliki arti keluar, bersifat lebih ringan, dan biasanya berupa tebak tebakan atau teka-teki.

Tiap-tiap tembhang memiliki aturan tersendiri baik itu berupa jumlah andheggan maupun paddha/biri. Pada tiap-tiap paddha, guru bilangan telah ditentukan, demikian juga guru lagunya. Yang dimaksud guru bilangan adalah banyaknya ketukan pada tiap padda. Yang dimaksud guru lagu adalah suara pada tiap akhir padda. Contoh aturan pada tembhang (dalam hal ini Pucung):

Bapa’ pucung ropana amendha gunong

Tadha’ reng se tresna

Mala kabbhi pada baji’

Ding kanggunan elos-ellos ngesprengesan

Sifat Pucung: (a) Andheggan: 4 padda/biri (b) Padda no 1 guru bilangannya 12 ketuk mengandung guru lagu o atau u (c) Padda no 2 mengandung guru bilangan 6 ketuk. Mengandung guru lagu a (d) Padda no 3 mengandung 8 ketuk, mengandung guru lagu e atau i (e) Padda no 4 mengandung guru lagu 12 ketuk, mengandung guru lagu a (Jasin, 2005). Contoh tembhang lainnya (dala hal ini Slanget dan Maskumambang bisa dilihat di bawah ini:

SLANGET

Tabbuwanna pon ngaromongNajagana padha oneng

Sadajana reng pettengan

Swarana nyaman ka kopeng

Terros kerkas tale rassa

Otek somsom bara ate

Musiknya telah berkumandangPemainnya telah paham

Semuanya gelap

Suaranya merdu di telinga

Menggetarkan hati

Otak sumsum paru-paru hati

MAS KUMAMBANG

Adhu adhu benne kaka’ benne ale’Benne sana’ kadhang

Mon mate noro’ nangesen

Marga melo kaelangan

Aduh aduh bukan kakak bukab adikBukan snak sudara

Jika meninggal ikut menagis

Karena ikut merasa kehilangan

 

b.  Potensi dan Apresiasi Masyarakat Madura Terhadap Sastra Madura

Berbicara tentang potensi Sastra Madura tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang ciri khas dan modal-modal yang dimiliki sastra Madura untuk dapat berkembang pesat.

Modal pertama terletak pada jumlah penutur bahasa Madura yang besar yaitu menempati posisi keempat di Indonesia dan menyebarnya suku Madura di seluruh daerah di Nusantara dapat mejadi modal besar bagi penyebaran sastra Madura secara cepat dan luas di Indonesia. Selain itu, berbagai karya sastra Madura tercipta oleh penutur besar ini, didasarkan pada nilai-nilai filosofis yang luhur dan lengkap seperti berdasarkan pada filosofi nelayan‚”abantal omba’ asapo’ angen” (berbantal ombak berselimut angin=bekerja keras), filosofi petani “atatanem kaaangguy mamakmora nagara tor bangsa” (bertanam untuk memakmurkan negara dan bangsa=peduli bangsa), filosofi negarawan “juda nagara potos” (hukum negara tidak tertandingi=sadar hukum), filosofi prajurit “sami’na wa atho’na” (saya mendengar dan saya taat=ketaatan pada pimpinan), filosofi sarjana/orang berpendidikan “buppa’ bubbu’ guru ratoh, (hormat pada bapak, ibu, guru dan pemimpin) dan masih banyak lagi. Lengkapnya filosofi yang menjadi dasar pembentukan sastra Madura ini jarang dimiliki oleh sastra dari daerah lain dan hal ini menyebabkan sastra Madura memiliki karakter kuat dan variatif;

Modal kedua terletak pada jiwa orang Madura. Orang madura memiliki jiwa relijius yang kuat yang dimiliki suku madura turut mempengaruhi sastra Madura, sehingga sastra Madura yang tercipta adalah sastra yang penuh dengan kebaikan serta berisi pesan moral dan agama sehingga sangat cocok dengan budaya Indonesia yang kental dengan budaya ketimuran dan relijius. Relijiusitas ini berpengaruh pada sastra Madura yaitu munculnya ciri yang kuat yang berbentuk tatanan bahasa yang penuh semangat, keras, lugas, namun jujur yang merupakan perwujudan dari karakter orang Madura secara umum. Dengan aspek-aspek inilah orang Madura mampu memproduksi sastra Madura yang memiliki bentuk yang unik dan variatif. Kondisi ini jarang dimiliki sastra dari daerah lain;

Modal ketiga terletak pada aspek regulasi. Telah diberlakukannya ejaan bahasa Madura baku baru-baru ini oleh Balai Bahasa Surabaya menyebabkan proses penciptaan karya sastra Madura menjadi makin mudah dan proses inventarisasi karya sastra Madura dalam bentuk buku dan majalah menjadi makin mudah pula.

Potensi besar yang dimiliki sastra Madura menyebabkan sastra Madura memiliki peran yang besar pula dalam mengembangkan budaya nasional. Dua peranan besar yang dimainkan sastra Madura terhadap pengembangan budaya nasional adalah: (1) sastra Madura merupakan komponen penyumbang ide dan semangat  terhadap perkembangan sastra dan budaya nasional, (2) eksistensi sastra Madura adalah pelindung sastra dan budaya Nasional dari serangan budaya asing.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sastra Indonesia dan budaya nasional berkembang karena didukung oleh sastra dan budaya daerah. Bentuk dukungan sastra dan budaya daerah terhadap sastra dan budaya nasional ini dapat berupa banyak hal seperti” (1) sumbangan kosakata daerah yang muncul dalam berbagai karya sastra nasional, (2) filsafat luhur yang muncul dari daerah-daerah yang berbeda memainkan peran signifikan dalam membentuk karya sastra dan budaya nasional, (3) terkadang karya sastra daerah seperti folklore dan/atau folktales diadaptasi menjadi sastra dan budaya nasional.

Sastra Madura sebagai salah satu sastra daerah tentu saja memainkan peranan yang signifikan dalam membangun sastra dan budaya daerah. Kita dapat melihat berbagai macam kosakata Madura diadaptasi ke dalam sastra dan budaya Nasional. Kata clurit, kerapan sapi, carok, dsb, muncul dalam berbagai karya sastra nasional dan dianggap sebagai bagian dari budaya nasional. Demikian juga filosofi-filosofi Madura yang telah disebutkan di atas, turut serta mempengaruhi bentuk dari sastra dan budaya Nasional. Folklore Madura seperti kisah pangeran Trunojoyo, Sakera, dan sejarah kerapan sapi, muncul dan memperkaya khasanah sastra dan kebudayan Indonesia

Selain sebagai sumber ide dan semangat sastra dan budaya Indonesia, sastra Madura memiliki peranan lain yaitu sebagai baju pelindung sastra dan budaya Indonesia dari serangan budaya asing. Baju pelindung dalam hal ini didefinisikan sebagai watak masyarakat Madura dalam menjaga dan melindungi apa-apa yang dimilikinya. Jika sastra Madura mampu bertahan hidup, semata-mata itu karena watak peggunanya yang bertanggungjawab dan berkepribadian baik. Jika masyarakat Madura memiliki watak yang baik, maka mereka tidak akan pernah rela kehilangan sastra yang telah mereka punyai dan mereka gunakan yaitu sastra Madura.

Mempertahankan keberlangsungan hidup sastra Madura  secara tidak langsung telah mengajarkan kepada masyarakat Madura untuk bertanggungjawab terhadap kondisi sosial masyarakat mereka sendiri. Jika mereka mampu melakukan ini, maka mereka akan mampu pula mempertahankan sastra Indonesia serta budaya Nasional.

Sayangnya, potensi ini akhir-akhir ini mulai terabaikan. Ini ditunjukkan dengan banyaknya sorotan terkait sastra Madura. Sorotan tersebut berbentuk sebuah pertanyaan besar seputar eksistensi sastra Madura yaitu apakah sastra Madura masih tetap hidup ataukah mulai ”mati”. Kalaupun masih hidup, siapakah yang membuatnya hidup dan jika telah mati, apa yang harus orang Madura lakukan untuk menghidupkannya kembali.

Pertanyaan seputar eksistensi sastra Madura yang tampaknya provokatif tersebut sebenarnya adalah pertanyaan wajar dan instingtif yang muncul dari masyarakat Madura yang merasa cemas akan keberlangsungan sastra dan budaya Madura di masa yang akan datang. Pertanyaan provokatif ini muncul karena dalam kenyataannya, saat ini sastra Madura tidak hanya seperti kehilangan ruh, tapi juga badannya. Ruh sastra Madura terletak pada daya imajinasi dalam menghasilkan karya sastra dan perhatian serta semangat masyarakat Madura untuk melestarikan dan mengembangkan sastra mereka, sedangkan badan atau bentuk konkretnya adalah keberadaan sastra Madura dalam masyarakat. Keduanya, meskipun tidak resmi, telah dinyatakan hilang. Andaikata ada beberapa tokoh Madura yang masih menganggap sastra Madura masih tetap eksis, kokoh dan kuat mengakar, setidaknya mereka harus dapat mengkaji dan memberikan bukti pada masyarakat tentang kondisi sastra Madura berdasarkan kriteria empat daya hidup yang menjadi penanda bertahannya sebuah sastra atau budaya yaitu: (1) kemampuan beradaptasi terhadap modernisasi dan perubahan jaman, (2) kemampuan mobilitas dan promosi ke daerah yang bukan domainnya, (3) kemampuan tumbuh dan berkembang, (4) serta kemampuan regenerasi.

Kriteria empat daya di atas apabila kita kajikan pada keberadaan sastra Madura, menghasilkan sebuah simpulan bahwa sastra Madura mulai terabaikan dan ditinggalkan. Kemampuan beradaptasi sastra Madura dalam menyongsong modernisasi terutama dalam merespons berbagai tantangan yang muncul, baik dari dalam maupun dari luar, dapat dikatakan memperlihatkan tampilan yang kurang begitu menggembirakan. Bahkan, sastra Madura, sebagai bagian dari pembentuk budaya madura, sepertinya tidak memiliki daya hidup manakala berhadapan dengan tantangan dari luar.

Ancaman paling dini yang dapat dideteksi terhadap eksistensi sastra Madura dapat dilihat dalam fenomena alih bahasa Madura ke dalam bahasa Indonesia dalam komunikasi tulis. Padahal, bahasa dan komunikasi tulis dengan menggunakan bahasa Madura adalah ruh dari sastra Madura. Dalam artikel Azhar (2008), nampak jelas bahwa bahasa beserta sastra Madura telah mulai hilang dalam tulisan. Hal ini didukung oleh fakta-fakta menarik yang Azhar temukan di lapangan.

Dari hasil pengamatannya terhadap tulisan pada 65 spanduk yang bertebaran di Kabupaten Bangkalan, bisa dihitung dengan jari jumlah spanduk yang menggunakan bahasa Madura. Hanya 2 spanduk yang menggunakan bahasa tersebut. Sisanya, yaitu 63 buah, menggunakan bahasa Indonesia. Dari dua spanduk tersebut, tidak satupun yang memuat sastra Madura baik itu populis maupun partikularis. Di antara 50 siswa di sebuah sekolah di Kabupaten Bangkalan yang penulis wawancarai untuk mengetahui apakah mereka menulis SMS dengan menggunakan bahasa Madura ataukah tidak, ternyata dijumpai tidak satupun diantara mereka yang memiliki komitmen untuk selalu menulis SMS dengan menggunakan bahasa Madura. Lebih dari separuh atau sekitar 43 orang menyatakan belum pernah SMS dengan menggunakan bahasa Madura. Sisanya mereka menyatakan pernah SMS dengan menggunakan bahasa Madura dan itupun hanya satu atau dua kali saja. Diantara media cetak lokal yang ada di Madura, hanya satu yang menggunakan bahasa Madura sebagai bahasa utama untuk menyampaikan informasi (media cetak tersebut bernama Jokotole, dengan pengelola Balai Bahasa Surabaya), dan itupun dengan oplah kecil dengan tingkat sosialisasi yang rendah pula. Radar Madura, koran dengan oplah terbesar dan merupakan bagian dari koran lokalpun hanya mencantumkan peribahasa Madura saja untuk dikaji.

Prof. Dr. Suripan Sadi Hotomo (dalam Zuhdi, 2009) mendukung temuan Azhar dan menyatakan bahwa: “Sastra Madura telah mati, sebab sastra ini tak lagi mempunyai majalah BM (Berbahasa Madura). Buku-buku BM pun tak laku jua, dan sastra Madura tak lagi mempunyai kader-kader penulis muda, sebab yang muda-muda umumnya menulis dalam bahasa Indonesia. Meskipun demikian dewasa ini sedikit, bahkan dapat dikatakan tidak ada, yang berminat menulis sastra dalam bahasa Madura. Bahkan tokoh-tokoh sastrawan Madura, seperti Abdul Hadi WM, Moh. Fudoli, dan lain-lain lebih suka menulis dalam bahasa Indonesia. Sedangkan nama-nama penerjemah sastra Madura yang terkenal seperti SP. Sastramihardja,   R. Sosrodanoekoesoemo, R. Wongsosewojo kini telah tiada dan belum ada penggantinya. Mungkin hal ini merupakan sebuah proses sastra Madura sedang mengindonesiakan diri. Namun, dengan demikian sastra Madura tidaklah lenyap dari peredaran tanpa menyisakan bekas sedikitpun”

d. Hambatan dan Strategi Untuk Memajukan Sastra Madura

Sastra Madura Partikularis yang sebenarnya merupakan aset budaya Madura untuk dikembangkan tampak secara eksplisit semakin jarang digunakan oleh pemiliknya sendiri, khususnya para generasi muda. Lebih memprihatinkan lagi, menggunakan dan menunjukkan sastra Madura, seperti paparegan dan bangsalan dalam komunikasi sehari-hari terkadang diidentikkan dengan “keterbelakangan”. Akibatnya, timbul rasa gengsi untuk menggunakan sastra Madura dalam pergaulannya sehari-hari. Bahkan, rasa “gengsi” ini terkadang ditemukan pula pada mereka yang sebenarnya merupakan pakar di bidang sastra dan budaya Madura.

Mulai menghilangnya sastra Madura sebenarnya dapat menjadi ceminan betapa kurang baiknya watak orang Madura dalam menghargai dan mempertahankan apa-apa yang dimiliki mereka. Jika mental seperti ini terus dibiarkan, tidaklah mengherankan bila semakin lama akan semakin banyak unsur kebudayaan Madura yang tergilas oleh modernisasi dan kebudayaan asing. Suatu ketika, bahasa, sastra dan budaya Madura hanyalah tinggal nama.

Dilihat dari kaca mata keempat daya hidup yang dimiliki sastra Madura, nampak jelas sastra Madura kurang berdaya. Kemampuan yang pertama yaitu kemampuan beradaptasi sastra Madura memperlihatkan tingkat yang kurang begitu menggembirakan. Ini terlihat dari bentuk sastra Madura yang masih standar, belum mampu beradaptasi dengan kemajuan jaman dan teknologi. Demikian pula dengan kemampuan yang kedua yaitu mobilitasnya. Promosi sastra dan budaya Madura baik vertikal yaitu menjadi terkenal di Nusantara maupun horizontal yaitu menyebar ke segenap lapisan masyarakat, dapat dikatakan sangat lemah. Hal negatif ini juga terjadi pada pada tataran kemampuan ketiga yaitu kemampuan untuk tumbuh dan berkembang. Saat ini, diskusi tentang paradigma-paradigma dan karya-karya baru dalam sastra Madura, masihlah menjadi sesuatu yang besar dan langka karena fokus pembicaraan masyarakat masih tetap berada pada seputar argumentasi apakah sastra Madura telah mati ataukah tidak, serta pada seputar usaha untuk memunculkan iktikad melestarikan sastra Madura. Pada tataran kemampuan keempat yaitu regenerasi, sastra Madurapun juga nampaknya kurang membuka ruang bagi terjadinya proses tersebut. Budaya buppa’ bubbu’ guru ratoh (hormat pada bapak ibu guru dan pemerintah) yang demikian kental melingkupi kehidupan sehari-hari orang Madura dianggap menjadi salah satu penyebab lemahnya proses regenerasi sastra Madura. Selain itu, komunikasi yang tidak sinkron antargenerasi tua dan generasi muda juga memperlama proses regenerasi. Dalam perspektif tokoh-tokoh tua, generasi Madura dianggap memiliki kebiasaan jelek yaitu selalu menyerahkan segala sesuatunya pada yang tua serta menunggu senior-senior mereka dalam menghasilkan karya sastra, padahal belum tentu yang tua mampu melakukannya. Sedangkan dalam perspektif generasi muda, generasi baru sastra Madura seperti tidak diberi ruang terbuka untuk berkompetisi dengan sehat, karena kentalnya senioritas serta “terlalu majunya” pemikiran para generasi baru, yang seringkali bertentangan dengan pakem-pakem yang dimiliki generasi sebelumnya.

Materialisme yang kini melanda kebudayaan Madura telah menggeser parameter kebaikan. Parameter yang berlaku kini bergeser dari terlaksananya kewajiban dan tanggung jawab yang dimilikinya secara optimal, menjadi seberapa besar materi yang akan diperolehnya apabila suatu kewajiban dilaksanakan. Bila ukuran kebaikan sudah bergeser pada hal-hal yang bersifat materi, maka idealisme akan semakin sulit dipegang. Para materialis dengan kampanye hedonisnya, sengaja atau tidak sengaja, semakin memupus idealisme sastra Madura. Akibatnya, kini sulit dijumpai komunitas penggemar sastra Madura yang bekerja secara idealis untuk memajukan sastra Madura.

Berpijak pada fakta terkait lemahnya daya hidup serta kualitas sastra Madura, maka ada pertanyaan mendasar yang dapat dimunculkan,  adakah yang salah dengan sastra Madura? Telah banyak argumentasi dimunculkan. Tapi dua di antaranya yang tampaknya layak untuk dijadikan referensi penyebab kemunduran sastra Madura adalah (1) karena ketidakjelasan strategi dalam mengembangkan sastra Madura serta (2) lemahnya tradisi, baca, tulis, dan lisan di kalangan komunitas sastra Madura.

Kebugaran (fitness) dan sintasan (survival) sastra Madura sangat bergantung pada frekuensi kemunculannya di masyarakat. Semakin sering sastra Madura muncul di masyarakat, maka semakin besar pula kesempatan sastra Madura untuk bertahan hidup.  Untuk mempertahankan dan mengembangkan sastra Madura agar terus hidup dan berkembang, ada beberapa fase yang dapat ditempuh.

Pertama, kenalkan revitalisasi sastra Madura. Sastra Madura harus dioptimalkan penggunannya dalam segenap aspek kehidupan, utamanya penggunaan sastra Madura berbahasa Enggi-Bunten (halus). Segenap penutur asli bahasa Madura dianjurkan untuk membiasakan diri mendengar dan menggunakan sastra Madura baik lisan maupun tulisan. Tahapan ini harus melibatkan Pemerintah Kabupaten, karena Pemerintah Kabupaten adalah satu-satunya institusi yang mampu mengeluarkan kebijaksanaan formal tentang konservasi sastra Madura dalam bentuk Peraturan Daerah. Dalam dunia pendidikan di pulau Madura atau daerah lain yang mayoritas penduduknya adalah penutur bahasa Madura, pengajaran bahasa Madura harus mampu disisipkan sastra-sastra Madura yang pengajarannya tidak hanya sebatas pengajaran pengetahuan saja, namun lebih menjurus pada praktek dan pembiasan. Pantun-pantun, paparegan, tembhang berbahasa Madura wajib dimunculkan pada acara yang mengandung dimensi budaya seperti lomba-lomba, festifal, dan seminar budaya

Kedua, lakukan kodifikasi beserta sosialisasinya. Tahapan ini dilakukan dengan cara merumuskan kodifikasi atau pembakuan bahasa Madura dibidang ejaan, istilah, tatabahasa dan leksikon (Kusnadi, 2008), sehingga kerancuan yang terjadi dalam masyarakat tentang bagaimana seharusnya menuliskan kata dalam bahasa Madura tidak terjadi lagi. Setelah kodifikasi ada, maka sosialisasikan kodifikasi ini pada sluruh instansi yang ada di Madura utamanya pendidikan. Kamus bahasa Madura yang diterima dan digunakan seluruh masyarakat Madura haruslah ada. Dengan adanya Standarisasi ini akan memudahkan melakukan pendokumentasian karya-karya sastra Madura

Ketiga, munculkan semangat renaisansi buku berbahasa madura. Ketika tahap revitalisasi sukses, dan semua penduduk Madura dan penutur bahasa Madura telah mulai terbiasa dengan hadirnya sastra Madura, maka tahap yang kedua ini dapat dilaksanakan. Tahap ini dilakukan dengan cara memberikan kesempatan kepada kaum intelektual, sastrawan, pendidik,  budayawan Madura untuk menulis buku sastra berbahasa Madura massive seperti kumpulan tembhang, dungngeng dan pantun. Buku-buku ini haruslah beredar tidak hanya di pulau Madura saja tapi harus didistribusikan ke seluruh kawasan Nusantara. Tujuan tahapan ini adalah pengenalan sastra Madura secara intensif kepada masyarakat Nusantara.

Keempat, promosikan sastra dan budaya madura. Tahapan ini dilakukan melalui berbagai media seperti surat kabar dan televisi. Forum-forum resmi seperti seminar, lokakarya dan konfrensi tentang sastra Madura harus diagendakan secara rutin tiap tahun di setiap daerah yang mayoritas penuturnya adalah penutur bahasa Madura. Ruang pemberitaan, siaran-siaran berbahasa Madura harus diusahakan ada pada tiap daerah di Madura atau daerah yang mayoritas penduduknya penutur asli bahasa Madura. Kegiatan promosi lainnya seperti lomba-lomba dhungngeng, nembhang, sendilan, membuat puisi dan prosa berbahasa Madura haruslah diselenggarakan setiap tahun.

Kelima, lakukan konservasi sastra madura. Ketika empat tahapan di atas telah dilewati dengan sukses, ini menunjukkan kepada kita bahwa sastra Madura telah berkembang dengan baik. Perkembangan ini harus dicermati dengan seksama agar eksistensi dan kemurnian sastra Madura tetap terjaga. Konservasi ini dilakukan dengan cara melakukan kegiatan inventarisasi, penelitian di bidang sastra dan diskusi-diskusi tentang sastra Madura.

C. Penutup

Kurang bertanggungjawabnya penutur dan pengguna sastra Madura untuk memikirkan dan melestaikan sastra madura dapat berakibat buruk pada keberlangsungan sastra Madura. Sebuah hal yang sangat disayangkan apabila sastra Madura yang dinilai tinggi kualitasnya harus punah di tangan penuturnya.

Mencermati dan mengkaji fenomena hidup dan matinya sastra Madura adalah salah satu cara untuk melestarikan dan mengembangkan sastra ini. Dengan pengkajian ini, diharapkan ancaman terhadap keberadaan sastra Madura akan dapat diketahui sedini mungkin sehingga dapat diambil langkah antisipatif sebelum ancaman tersebut benar-benar menghancurkan sastra Madura.

Tulisan ini telah memaparkan berbagai ancaman terhadap sastra Madura. Ancaman ini apabila tidak segera ditanggulangi akan berdampak buruk bagi sastra Madura di masa yang akan datang. Rekomendasi yang ditawarkan tulisan ini cukup  sederhana. Mulailah mencicil untuk melakukan lima langkah yang ditawarkan di atas jika tidak ingin sastra Madura termasuk dalam salah satu sastra yang punah.

Referensi

Anton, Syaf. 2012. Menggali Puing-puing Sastra Madura yang Tersisa. http://sosbud.kompasiana.com/2012/05/11/menggali-puing-puing-sastra-madura-yang-tersisa-456582.html. Diakses 24 Maret 2013 jam 11.30

Anton, Syaf. 2008. Mengembangkan Ingatan Kelestarian Sastra Madura. http://lontarmadura.com/mengembangkan-ingatan-kelestarian-sastra-madura-2/#ixzz1llbUOYmx. Diakses 24 Maret 2013 jam 11.30

Azhar, N, Iqbal. 2008. Bahasa dan Sastra Dalam Berbagai Perspektif: Ketika Bahasa Madura Tidak Lagi Bersahabat Dengan Kertas dan Tinta. Yogyakarta: Tiara Wacana

Azhar, Iqbal Nurul. 2009. Karakter Masyarakat Madura dalam Syair-syair Lagu Daerah Madura. ATAVISME Volume 12, Nomor 2, Edisi Desember. Surabaya. Balai Bahasa Surabaya

Djunaidah, Dju (2009) Representasi Filosofi Hidup yang Ada dalam Sastra Madura Modern. Masters thesis, Magister Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia.

Hariyadi, M. Dkk.1981. Sastra Madura modern : cerkan dan puisi : inventarisasi, klasifikasi, dan analisis komparatif dengan sastra Indonesia modern. Jakarta. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Jasin, Moh. 2005. Paramasastra Madura: Sato’or Malathe Pote. Bangkalan: tidak dipublikasikan

Kusnadi, Drs, M.A. 2008. Strategi Pelestarian dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Madura. Makalah dipresentasikan dalam Kongres I bahasa Madura 15-19 Desember 2008

Sofyan, Akhmad. 2008. Variasi, Keunikan, dan Penggunaan Bahasa Madura. Surabaya. Balai Bahasa Surabaya

Zuhdi, Halimi.2009. Sastra Madura dan Kekerasan. www.penulislepas.com. Diakses 24 Maret 2013 jam 11.30

Komentar
  1. syauki bagus mengatakan:

    kesoon cak . mander basa madura sajan ekasennenge ban masarakatta . Aamin..!

  2. abdul gani mengatakan:

    Anda belum membaca disertasi abdul gani di pascasarjana um, karya-karya dan berbagai upaya tim pakem maddhu pamekasan, karya satra abdul gani, sulaiman sadik h.m drajid, dsb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s