Archive for the ‘TOKOH-TOKOH SASTRA’ Category

Muhammad Iqbal

Posted: Desember 1, 2010 in TOKOH-TOKOH SASTRA

Muhammad Iqbal lahir pada tanggal 22 Februari 1873 di desa Sailkot, Punjab. Kakeknya Syekh Rafiq, seorang Kashmir, telah bergabung dengan gelombang migrasi ke Sialkot, di mana ia membuat hidup menjajakan syal kashmir. Shaikh Rafiq mempunyai dua anak laki-laki, Shaikh Ghulam Qadir dan Shaikh Nur Muhammad, ayah Iqbal. Syaikh Nur Muhammad adalah seorang penjahit yang cukup terkenal di Sialkot. Tapi pengabdiannya pada Islam khususnya aspek mistik yang mendapatkan rasa hormat di antara rekan sufi dan lainnya. Istrinya Imam Bibi, juga seorang Muslim yang taat. Mereka tanamkan kesadaran religius yang mendalam pada kelima anaknya.

Dengan kekalahan Sikh di Punjab oleh tentara Inggris, para misionaris Barat tidak membuang waktu dalam mendirikan pusat pembelajaran di Sialkot. Salah satunya, Misi Scotch College, yang didirikan 1889, menawarkan program studi seni liberal dalam bahasa Arab dan Persia, walaupun saat itu Inggris telah menjadi bahasa pengantar di sekolah. Ini adalah tempat pertama Iqbal mendapat pendidikan sekuler. Potensi Iqbal sebagai penyair pertama kali diakui oleh salah seorang tutor Sayyid Mir Hassan yang darinya ia mempelajari puisi klasik. Mir Hassan tidak pernah belajar bahasa Inggris, tapi kesadaran tentang manfaat pendidikan Barat dan apresiasi terhadap modernitas memastikan kedudukan kepadanya sebagai Profesor Oriental Scotch Sastra. Dia adalah guru Iqbal sampai lulus pada tahun 1892.
(lebih…)

LELAKI tua berambut perak itu menunduk dan mengatupkan bibirnya. Dan ruang dua kali tiga meter dengan terang sekadarnya itu pun senyap, seolah mencoba mengakrabi suasana hati penghuninya. Aku duduk di hadapan, terpaku memandangnya. Begitu segera sepi menyergap lelaki itu. Mata-nya yang keras namun damai mengabarkan satu keteguhan, juga kesendirian. Ingatanku memanggil Hemingway, The Old Man and the Sea.Monsieur Jacques, Je dois parti,” kataku sambil beranjak.

Lelaki tua itu tersentak kecil. Senyumnya menyembul, mahal dan hangat. “N’hesitez pas de me contacter,” salamnya seraya menyodorkan tangan. Telapaknya hangat. Seperti ingin menyambut siapa saja. Siapa saja yang memuji, memuja, memaki, dan mendakwa, atau sekadar ingin ajar kenal dengannya. Dan kutinggalkan kantor kecil di salah satu sudut lantai lima gedung Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales (EHESS) dengan potret sephia di kepalaku, dengan lelaki berambut perak itu segera tenggelam di gundukan kertas dan buku. (lebih…)

Dia legenda pengarang cerita silat. Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, yang kendati tak bisa membaca aksara Cina tapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa. Selama 30 tahun lebih berkarya, dia telah menulis sekitar  400 judul serial berlatar Cina, dan 50 judul serial berlatar Jawa.

Ceritanya asli dan khas. Dia pengarang yang memiliki ide-ide besar, yang tertuang dalam napas ceritanya yang panjang. Sepertinya dia tak pernah kehabisan bahan.

Bahkan setelah dia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 22 Juli 1994 dan dimakamkan di Solo, namanya tetap melegenda. Karya-karyanya masih dinikmati oleh banyak kalangan penggemarnya. Bahkan tak jarang  penggemarnya tak bosan membaca ulang karya-karyanya.

Beberapa karyanya dirilis ulang media massa, difilmkan, disandiwararadiokan, dan di-online-kan, serta disinetronkan. Dia meninggalkan nama yang melegenda. Legenda Kho Ping Hoo, pernah menjadi sinetron andalan SCTV. Lewat penerbit CV Gema, karya-karyanya masih terus dicetak. (lebih…)

Amir Hamzah lahir sebagai seorang manusia penyair pada 28 Februari 1911 di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara. Ia seorang sastrawan Pujangga Baru. Pemerintah menganugerahinya Pahlawan Nasional. Anggota keluarga kesultanan Langkat bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Indera Putera, ini wafat di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 akibat revolusi sosial di Sumatera Timur.

Sebagai seorang keluarga istana (bangsawan), ia memiliki tradisi sastra yang kuat. Menitis dari ayahnya, Tengku Muhammad Adil, seorang pangeran di Langkat, yang sangat mencintai sejarah dan sastra Melayu. Sang Ayah (saudara Sultan Machmud), yang menjadi wakil sultan untuk Luhak Langkat Bengkulu dan berkedudukan di Binjai, Sumatra Timur, memberi namanya Amir Hamzah adalah karena sangat mengagumi Hikayat Amir Hamzah.

Sejak masa kecil, Amir Hamzah sudah hidup dalam suasana lingkungan yang menggemari sastra dan sejarah. Ia bersekolah di Langkatsche School (HIS), sekolah dengan tenaga pengajar orang-orang Belanda. Lalu sore hari, ia belajar mengaji di Maktab Putih di sebuah rumah besar bekas istana Sultan Musa, di belakang Masjid Azizi Langkat. (lebih…)

Disadap dari: Republika Online

Ilahi lastu lilfirdausi ahla wala aqwa ‘ala naril jahimi Fahab li tawbatan waghfir dzunubi fainaka ghafirud dzanbil adzimi.

Senandung syair yang menyentuh hati itu mengalun begitu merdu. Sembari menunggu datangnya shalat Maghrib dan Subuh, para jamaah shalat kerap melantunkan syair itu dengan syahdu di mushala dan masjid. Meski syair itu telah berumur hampir 11 abad, namun tampaknya tetap akan abadi.

Syair pengingat dosa dan kematian itu boleh dibilang begitu melegenda, seperti nama besar pengarangnya Abu Nuwas yang hingga kini tetap dikenang dan diperbincangkan. Abu Nuwas atau Abu Nawas adalah seorang penyair Islam termasyhur di era kejayaan Islam. Orang Indonesia begitu akrab dengan sosok Abu Nuwas lewat cerita-cerita humor bijak dan sufi. Sejatinya, penyair yang bernama lengkap Abu Nuwas Al-Hasan bin Hini Al-Hakami itu memang seorang humoris yang lihai dan cerdik dalam mengemas kritik berbungkus humor.

Penyair yang dikenal cerdik dan nyentrik itu tak diketahui secara pasti tempat dan waktu kelahirannya. Diperkirakan, Abu Nuwas terlahir antara tahun 747 hingga 762 M. Ada yang menyebut tanah kelahirannya di Damaskus, ada pula yang meyakini Abu Nuwas berasal dari Bursa. Versi lainnya menyebutkan dia lahir di Ahwaz. Yang jelas, Ayahnya bernama Hani seorang anggota tentara Marwan bin Muhammad atau Marwan II- Khalifah terakhir bani Umayyah di Damaskus. Sedangkan ibunya bernama Golban atau Jelleban seorang penenun yang berasal dari Persia. Sejak lahir hingga tutup usia, Abu Nuwas tak pernah bertemu dengan sang ayah. (lebih…)

Disadap dari: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/09/03/04/35418-gus-mus-puisi-dan-politik.

KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus, selain kiai, adalah seniman, pengarang, dan aktif di berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Juga, pernah menjadi anggota dewan. Beragam kegiatan ini memberi implikasi unik dalam ziarah kreatifnya. Ia bertegur sapa dengan realitas sosiologis dan psikologis tertentu. Maka, menarik menilik bagaimana warna puisi Gus Mus terkait momentum Pemilu 2009 kini. Dibandingkan Taufik Ismail, puisi politik Gus Mus memiliki corak khas berlatar pesantren dan tradisi pesisir.

Gus Mus telah muncul ke publik sastra Indonesia sejak era 1980-an ketika pulang dari Mesir melalui Kumpulan Puisi Balsem Ohoi. Kini, telah banyak karya dilahirkan, fiksi ataupun nonfiksi. Seperti Ohoi, Kum pul an Puisi Balsem, Tadarus, dan Negeri Da ging, Lukisan Kaligrafi, dan sebagainya. Ba gai mana Gus Mus bicara politik, khususnya pemilu dan kampanye? Tentu, puisi bagi Gus Mus tak sekadar hiburan, tetapi juga taushi yahsekaligus medan advokasi bagi umat. Bagi Gus Mus, barangkali, kritik terhadap penguasa, rakyat, atau dirinya sendiri ialah tanda cinta, bukan kebencian. Simak kritik Gus Mus tentang kampanye politik dalam “Jangan Berpidato”: Jangan berpidato! Kata-katamu yang paling bijak/ Hanyalah bedak murah yang tak sanggup lagi/ Menutupi korengborok- kurap-kudis-panu-mu. (lebih…)

Disadap dari: http://www.republika.co.id/berita/senggang/tokoh/10/07/08/123810-sastrawan-achdiat-kartamihardja-tutup-usia. Kamis, 08 Juli 2010, 14:06 WIB

JAKARTA–Berpulang lagi satu sastrawan besar Indonesia, Achdiat Kartamihardja dalam usia 99 tahun di Canberra, Australia, sekitar pukul 9.30 pagi ini. Penulis novel “Atheis” yang kerap disapat Aki itu sebelumnya dirawat di ICU Canberra Hospital. Kabar tersebut disiarkan lewat milis Persatuan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) Cabang Canberra dan telah menyebar pula lewat situs jejaring sosial Twitter,

Achdiat dikabarkan sempat terkena stroke dua pekan lalu. Almarhum rencananya dikebumikan hari ini di di pemakaman Woden setelah dishalatkan di Masjid Canberra. (lebih…)