SINTAKSIS KLAUSA: DIATESIS VERBAL DAN TIPOLOGI BAHASA

Diadaptasi dari: Verhaar

Sistem verbal morfemis dan klausal dengan alternasi diatesis artinya dengan kemungkinan adanya dua atau lebih bentuk verbal di tempat predikat sedemikian rupa sehingga perspektif penutur dialternasi.

Alternasi diatetis dapat dipandang dari beberapa sudut yang dibagi menjadi tiga yaitu morfologis semata-mata, yaitu paradigma diatesis aktif dan pasif, sudut pandang yang kedua adalah paradigmatis juga, tetapi bersifat frasal, dan sudut pandang yang ketiga ialah klausal.

Dalam bahasa yang memiliki alternasi diatesis, salah satu diatesis menjadi diatesis primer atau diatesis kanonik artinya diatesis yang biasa dipakai.

Pokok pengamatan linguistik yang lain yang berhubungan dengan diatesis ialah kelas verba yang dapat mengalami perubahan diatesis kanonik menjadi diatesis nonkanonik.

Selain alternasi aktif menjadi pasif ditemukan juga diatesis medial yaitu diatesis berupa aktif dan medial.

Ada juga bahasa lain yang memiliki sistem diatesis dengan alternasi antara ergatif dan antipasif, dengan ergatif sebagai diatesis kanonik.

Ada juga yang memiliki sistem berdiatesis tiga yaitu ergatif, antipasif dan pasif.

Argumen tunggal pada verba intransitif ada yang ber-Peran Pengalam (Pm) dan ada yang berperan Penindak (Pk). Argumen pada verba transitif ada yang Ajentif (Aj) dan ada yang Objektif (Ob)

Tipologi Ergatif: Pk = Pm = Ob # Aj
Tipologi Akusatif: Pk = Pm = Aj # Ob
Tipologi Aktif-Statif: Pk = Aj = Pm # Ob

Sistem kasus adalah pemarkahan argumen menurut sifat semantis verba.

Sistem-sistem Diatesis Menurut Tipologi Bahasa

Sistem diatesis dalam tipologi akusatif: pasif
Biasanya menjangkau diatesis aktif dan pasif, diatesis aktiflah yang kanonik dan biasanya bervalensi dua. Pasif dibentuk dengan mengubah objek menjadi subjek klausa pasif. Subjek klausa aktif dalam pemasifannya ada tiga kemungkinan:
a. konstituen ajentif wajib hadir dalam klausa pasif
b. konstituen ajentif hadir secara opsional dalam  klausa pasif artinya dapat hadir  dapat juga tidak
c. konstituen ajentif tidak dapat hadir dalam klausa pasif

Sistem diatesis dalam tipologi akusatif: diatesis medial.
Dalam bahasa-bahasa Indo-Eropa yang bertipologi akusatif, pernah ada sistem dua diatesis: aktif dan medial. Bahasa Yunani Kuno masih memiliki tiga diatesis: aktif, pasif dan medial—tetapi pasif hanya untuk kala tertentu dan modus tertentu (misalnya, kala ”aorist”—semacam kala preterit—futur, dan futur anterior memiliki pasif sendiri-sendiri, tetapi hanya untuk modus indikatif dan optatif, tidak untuk subjungtif), dan untuk kala dan modus lainnya dipakai medial. Sepanjang sejarah bahasa-bahasa Indo-Eropa, medial mulai hilang dan diganti oleh dua diatesis yang lain: pasif dan kontrukstif refleksif.

Sistem diatesis dalam tipologi akusatif: ”medio-pasif”
Kontruksi refleksif menurut bentuknya tidak termasuk sistem diatesis. Misalnya, Ia membunuh diri bukan pasif dari sudut morfologi. Di pihak lain, kontruksi refleksif tidak seluruhnya sejenis dengan kontruksi aktif, karena tidak dapat dipasifkan. Misalnya, meskipun verba membunuh itu sendiri memang transitif kontruksinya tidak dapat dipasifkan: *dirinya dibunuhnya. Sama halnya dengan bahasa Inggris: He killed himself secara morfemis adalah bentuk “aktif”, tetap tidak dapat dipasifkan: *Himself was killed by him(self).

Sistem diatesis dalam tipologi akusatif: ”aktif” sebagai pasif
Disamping kontruksi refleksif sebagai pasif ”semantis” ada juga bahasa yang mempergunakan verba transitif sebagai ”pasif”, tanpa pemarkahan apa-apa. Bahasa Indonesia mempunya beberapa verba yang demikian, misalnya lupa, yang dapat berarti ’melupakan’ tetapi juga ’dilupakan’ atau ’kelupaan’; namun verba seperti itu agak sedikit jumlahnya.
Bahasa Inggris mempergunakan banyak verba transitif dalam arti ”pasif”, seperti dapat dilihat pada contoh berikut:
–   The paint sprays on evenly (*by anyone).
ART:DEF cat semprot di:atas rata-rata oleh siapa:pun
’Mudahlah cat itu disemprot pada permukaan rata-rata.’
Contoh ini mengandung makna kemungkinan sesuatu hal dibuat. Keterangan ajentif tidak mungkin hadir. Subjek dipengaruhi oleh tindakan yang diartikan oleh verba, tetapi tidak sampai habis, tidak seluruhnya (karena itulah *The answer knows easily, atau *Indonesian acquires easily tidak merupakan kalimat gramatikal).

Sistem akusatif: pasif impersonal
Dalam pasif ”personal” ada penyesuaian antara Subjek dan verba pasif itu.
Dalam pasif ”impersonal” bentuk verbal adalah persona ketiga tunggal. Bahasa-bahasa yang memiliki bentuk pasif dapat digolong-golongkan menurut kemungkinan adanya atau tidak adanya pasif impersonal, sebagai berikut:
1. Bahasa memiliki pasif impersonal hanya untuk verba intransitif tertentu, yaitu:
(a)    hanya untuk verba intransitif penindak saja;
(b)   untuk verba intransitif pengalam hanya bila ada Argumen (+Insani).

2. Bahasa yang bentuk pasifnya hanya berupa impersonal saja, baik untuk verba intransitif maupun verba transitif.

3. Bahasa yang tidak memiliki pasif impersonal samasekali.

Sistem akusatif: pasif impersonal verba intransitif
Pasif impersonal mungkin dengan verba intransitif tetapi tidak dengan verba transitif.

Sistem akusatif: pasif impersonal verba transitif dan intransitif
Pasif personal adalah pasif dengan Subjek (dari verba pasif) dan dengan penyasuaian antara bentuk verbal dan Subjektif tersebut; sebaiknya, pasif impersonal selalu berpesona ketiga dan berjumlah tunggal, bahkan dalam konstruksi transitif. Salah satu bahasa yang menunjukkan pasif impersonal untuk semua verba, termasuk verba transitif, adalah bahasa Ute, salah satu bahasa rumpun Uto-Aztekan di Amerika Serikat. Dalam bahasa ini tidak pernah ada konstituen ajentif dalam klausa pasif.

H.  Sistem akusatif: bahasa tanpa pasif impersonal
Contoh bahasa yang memiliki hanya pasif personal, dan tidak memiliki pasif impersonal adalah bahasa Inggris. Tidak mungkin adanya klausa seperti *There was sung beautifully, atau *There was slept a great deal. Ciri sintaksis yang khas dari bahasa ini mungkin saja ada hubungannya dengan tiadanya pembedaan, secara sintaksis, antara verba intransitive penindak dan verba pengalam. Misalnya saja, kedua jenis verba intransitif itu menyeleksi verba bantu have untuk kala perfekta (I have sung—verba penindak—dan I have fallen—verba pengalam)

I.   Sistem akusatif: pasif dan ”promosi” Argumen Objektif
Secara tradisional ada ”kaidah” pemasifan yang berbunyi begini: dalam pemasifan, Objek klausa aktif dijadika Sujek klausa pasif, dan tampak dalam kasus normatif. Misalnya, Objek akusatif him dalam klausa aktif The police found him menjadi nominative he dalam pasif He was found by the police. Dewasa ini kaidah tersebut dirumuskan kembali oleh para penganut :”Tatabahasa Relasional” dengan mengatakan bahwa, dalam penafsiran, Objek akusatif klausa aktif “dipromosikan” menjadi Sujek nominative.

J.  Sistem akusatif: pemasifan verba bervalensi tiga
Dalam bahasa Belanda, Objel Benetaktif klausa aktif tidak dapat dijadikan Subjek klausa pasif, hanya Objek Pasien saja yang dapat ”dipromosikan”. Sebalikanya, dalam bahasa Inggris, baik Objek Pasien maupun Objek Benefaktif yang terdapat dalam klausa aktif dapat ”dipromosikan”—tetapi tidaklah kedua-duanya: pendek kata, tak ada ”Subjek rangkap”.

K.  Sistem diatesis dalam tipologi ergatif
Sistem diatesis dalam tipologi ergatif biasanya menjangkau diatesis ergatif dan diatesis antipasif; diatesis ergatiflah yang merupakan diatesis ”kanonik”. Antipasif dibentuk dengan ”pengawatransitifan” verba (biasanya dengan afiks, yang namanya ”afiks antipasif”), dan bervalensi dua atau (bila ketransitifannya amat rendah) satu. Tidak ada ”promosi” apa-apa, dan susuan Argumen tetap sama.

Dalam diatesis ergatif, Subjek ajentif bermarkah dengan kasus ajentif (yang namanya kasus ”ergatif”) atau dengan perujukan silang pada verba yang berupa afiks ajentif (atau ”ergatif” juga namanya)—atau dengan kedua-duanya. Kasus Objek adalah kasus absolutif dan tidak bermarkah; verba sering diberi pemarkahan perujukan silang absolutif (dan tidak untuk ergatif). Dalam konstruksi ergatif, kedua Argumen adalah wajib, dalam konstruksi antipasif, objek (yang obliknya itu) dapat dilesapkan.

L.  Sistem diatesis tipologi ergatif: pasif
Di antara bahasa-bahasa yang bertipologi ergatif, keergatifannya bersifat bauran, yaitu suatu refleksif dengan makna pasif.
Contoh dalam bahasa Indonesia ada klausa pasif (bentuk verbanya dicetak tebal).
Inilah buku yang saya beli, bukan bulu yang kamu beli.
Para mahasiswa diharapkan lapor pada sekretaris jurusan.
Rumah itu tidak dapat dijual.

Dalam contoh (a) pasifnya disertai oleh proklitika ajentif (saya dan kamu) dan konstituen ajentif berupa frasal dalam contoh (c), sedangkan pada (c) tidak ada konstituen ajentif sama sekali. Diatesis dalam ketiga contoh itu adalah pasif.

Komentar
  1. beni mengatakan:

    k2,saya mau bertanya gmna cara menganalisis kalimat untuk mengetahui jumlah klausa,sya belum mengerti misalnya
    – Sejak tahun 1970an sastra pop di indonesia mulai memiliki kedudukan.
    tlong bantuanx

  2. tiwi mengatakan:

    pak dietesis itu sebenarnya apa? bgmn penggunaannya. contohnya apa makna dietesis medial? diatesis verbal?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s