Meski pertumpahan darah terus terjadi di Suriah, ketegangan serupa seakan tidak menular terhadap warga Desa Malula, 50 kilometer dari Ibu Kota Damaskus. Di desa itu sejak dulu para penduduk hidup tenang. Uniknya, mereka sampai sekarang tetap menggunakan bahasa yang digunakan Yesus, yaitu bahasa Aramaik.

Jumlah pengguna Aramaik di Malula mencapai 18 ribu orang, seperti dilaporkan msn.com, Senin (23/4). Malula dalam bahasa Aramaik berarti pintu masuk. Selain desa itu, dua desa tetangga yaitu Bakhaa dan Jabadin juga menggunakan bahasa itu sebagai sarana percakapan sehari-hari. Bila berkunjung ke daerah ini, orang bakal merasakan suasana seperti film kondang “Passion of the Christ” yang disutradari Mel Gibson.

Aramaik lazim digunakan di zaman Yesus masih hidup. Menurut para ahli, bahasa ini merupakan akar bahasa Yahudi dan Arab modern. Bahasa ini muncul pertama kali dalam tulisan sekitar tiga ribu tahun lampau. Kini status bahasa ini, menurut UNESCO, terancam punah. Bahasa ini dianggap cuma diketahui para pakar linguistik saja. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Sepertinya David Beckham dan keluarganya akan melakukan apapun agar disebut high class. Salah satunya adalah dengan cara mengubah aksen bicara. Benarkah?

Hal itulah yang dilaporkan oleh mahasiswa linguistik Universitas Manchester. Lewat penelitian terbaru, mereka membuktikan bahwa David dan Victoria telah mengubah gaya bicara mereka sejak pindah ke Amerika.

Seperti dilaporkan oleh The Sun, David yang lahir di London ini telah menghilangkan sekitar 80 persen bunyi ‘H’ di akhir kata-kata yang diucapkannya. Seperti suaminya, Victoria yang lahir di Essex juga mengurangi hingga 46 persen akhiran berbunyi ‘L’ di setiap kata-katanya.

Penelitian ini dilakukan dengan bantuan video-video yang tersebar lewat YouTube. Lewat video yang berisi percakapan dan wawancara dengan keluarga Beckham itu, peneliti membandingkan perubahan gaya bicara mereka dari waktu ke waktu. Baca entri selengkapnya »

Istilah Internet

Posted: Mei 25, 2013 in KAMUS MINI

10554891-render-of-several-devices-connect-to-the-internetTerjemahan istilah-istilah internet dan komputer seringkali menyisakan kesulitan sendiri bagi para ahli bahasa dikarenakan ilmu komputer dan internet merupakan teknologi baru yang terus menerus berkembang dan menciptakan istilah-istilah baru yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam linguistik. Oleh karena itu tidak jarang terjemahan langsung suatu istilah terasa janggal untuk diucapkan maupun ditulis. Sebagai contoh istilah cookie terasa janggal bila diterjemahkan menjadi ‘roti’ dalam bahasa Indonesia. Penerjemah-penerjemah harus berusaha sesetia mungkin dengan makna aslinya dengan tidak membuat padanan istilah yang tidak akan dipakai oleh pengguna-pengguna yang terbiasa dengan istilah di dalam bahasa lain.

Banyak dari istilah-istilah internet dan komputer yang memiliki sejarah panjang yang membuat makna kata sesungguhnya kabur, sebagai contoh adalah nama-nama merek terkenal yang seringkali mengambil dari kosakata bahasa di mana perusahaan tersebut berada. Dengan demikian, istilah-istilah yang sudah bercampur dengan kebudayaan dan sejarah suatu bangsa akan semakin sulit diterjemahkan ke dalam budaya yang sama sekali berlainan dan tidak memiliki sejarah internet dan komputer yang sama panjangnya. Sebagai contoh dalam hal ini adalah istilah desktop sama sekali tidak ada hubungannya dengan ‘meja’ ataupun ‘permukaan’ di dalam bahasa Indonesia. Baca entri selengkapnya »

Bahasa_0Tahukah Anda ada sekitar 6.900 bahasa di bumi ini menurut SIL International’s Ethnologue? Dari sekian banyak bahasa, hanya beberapa yang masuk daftar paling banyak dipakai.

Namun, kita harus membedakan antara daftar “bahasa yang banyak dipakai secara keseluruhan” dan daftar “bahasa yang dipakai oleh penutur asli”. Maka untuk kategori penutur asli, jangan kaget bila bahasa Jawa lebih banyak daripada bahasa Indonesia sendiri. Baca entri selengkapnya »

Glosarium Dwibahasa

Posted: Januari 4, 2013 in KAMUS MINI

glossary1Glosarium dwibahasa ini berisi akronim dan istilah kunci untuk digunakan oleh para konsultan, editor, dan penerjemah untuk menjamin konsistensi penggunaan istilah dalam dokumen pendidikan dan laporan Bank Dunia. Laporan konsultan Bank Dunia dan studi-studi dari sektor pendidikan telah digunakan sebagai bahan untuk pengembangan glosarium ini, yang kemudian direviu oleh para ketua tim sektor perdidikan Bank Dunia dan mitra utama dari Pemerintah Indonesia di Kementerian  Pendidikan Nasional untuk menjamin konsistensi.

Penyusunan dokumen ini didanai oleh Pemerintah Kerajaan Belanda dan Komisi Eropa melalui porgram Basic Education Capacity Trust Fund (BEC-TF) yang dikelola Bank Dunia. Mudah mudahan membantu pembaca utamanya yang bergelut dalam bidang penerjemahan. Baca entri selengkapnya »

Muatan kebijaksanaan yang terkandung dalam peribahasa (selanjutnya dalam tulisan ini akan sering disebut proverba) telah memandu manusia dalam interaksi sosial mereka selama beribu tahun lamanya (Mieder, 2004:xi). Bermula dari berbagai pengalaman yang terakumulasi selama bertahun-tahun yang kemudian, dengan sebuah proses tertentu, membentuk sebuah formula bahasa yang unik, maka lahirlah proverba. Keunikan inilah yang membuat sebuah proverba menjadi mudah untuk diingat dan digunakan secara instan dalam banyak retorika verbal maupun tulis. Selain unik, proverba dikenal memiliki pengaruh positif. Pengaruh positif ini telah terasa dan diakui manusia sejak mereka belum mengenal aksara, dan sepertinya tidak akan pernah ada tanda-tanda bahwa eksistensi proverba beserta pengaruh positifnya akan berakhir di zaman modern (Mieder, 2004:xi). Baca entri selengkapnya »

LOMBA BLOG KEBAHASAAN DAN KESASTRAAN TINGKAT NASIONAL 2012

Oleh: Iqbal Nurul Azhar

Beberapa negara secara tegas melarang penayangan kekerasan verbal di televisi. Di Amerika Serikat, Federal Communication Commission (FCC) dengan tegas melarang tujuh penggunaan kata kasar dalam siaran radio maupun televisi. Di Kanada, aturan ini juga diberlakukan. Sedikit lebih ketat dari Amerika Serikat, Kanada melalui salah satu pasal yang ada dalam Violence Code 1987, secara tegas melarang penayangan segala bentuk kekerasan baik verbal maupun fisik sebelum jam sembilan malam (Winarno, 2008:16-22). Dua contoh di atas secara utuh memberikan penguatan pada kita bahwa verbal (kata-kata) memang seharusnya diperlakukan secara khusus melalui aturan yang khusus pula.

Sayangnya di Indonesia, aturan yang mengontrol kekerasan verbal kondisinya memprihatinkan. Ini dapat dilihat pada aturan pemerintah tentang Lembaga Sensor Film (LSF) tahun 1994 pasal 19 yang terlihat tegas  dapat memotong tampilan, tindakan kekerasan atau kekejaman yang mengarah pada sadisme, namun “tidak berdaya” untuk melakukan pemotongan tampilan yang menunjukkan kekerasan verbal.” Dengan adanya aturan ini, LSF ini tampaknya lebih tertarik pada keberadaan kekerasan fisik dan pornografi dalam produk-produk perfilman serta penyiaran daripada kekerasan verbal.  Hal memprihatinkan inipun juga terdapat pada pasal 32 ayat 7 UU no 24 tahun 1997 tentang penyiaran. Pasal ini menunjukkan larangan pada kekerasan fisik dan pornografi pada kegiatan penyiaran. Setali tiga uang dengan aturan sebelumnya, pasal ini tidak “menggigit” terhadap kekerasan verbal. Baca entri selengkapnya »