GAYA BAHASA BERDASARKAN LANGSUNG TIDAKNYA MAKNA (TEORI TRADISIONAL)

Sumber adaptasi: Keraf

Gaya bahasa berdasarkan makna diukur dan langsung tidaknya makna, yaitu apakah acuan yang dipakai masih mempertahankan makna denotatifnya atau sudah ada penyimpangan. Bila acuan yang digunakan itu masih mempertahankan makna dasar, maka bahasa itu masih bersifat polos. Tetapi bila sudah ada perubahan makna, entah berupa makna konotatif atau sudah menyimpang jauh dan makna denotatifnya, maka acuan itu dianggap sudah memiliki gaya sebagai yang dimaksudkan di sini.

Gaya bahasa berdasarkan ketidaklangsungan makna ini biasanya disebut sebagai trope atau figure of speeeh. Istilah trope sebenarnya berarti “pembalikan” atau “penyimpangan”. Kata trope lebih dulu populer sampai dengan abad XVIII. Karena ekses yang tenjadi sebelumnya, trope dianggap sebagai penggunaan bahasa yang indah dan menyesatkan. Sebab itu, pada abad XVIII istilah itu mulai diganti dengan figure of speeeh.Terlepas dari konotasi kedua istilah itu, kita dapat mempergunakan kedua istilah itu dengan pengertian yang sama, yaitu suatu penyimpangan bahasa secara evaluatif atau secara emotif dan bahasa biasa, entah dalam (1) ejaan, (2) pembentukan kata, (3) konstruksi (kalimat, klausa, frasa), atau (4) aplikasi sebuah istilah, untuk memperoleh kejelasan, penekanan, hiasan, humor, atau sesuatu efek yang lain. Trope atau figure of speeeh dengan demikian memiliki bermacam-macam fungsi: menjelaskan, memperkuat, menghidupkan obyek mati, menstimulasi asosiasi, menimbulkan gelak ketawa, atau untuk hiasan.

Gaya bahasa yang disebut trope atau figure of speeeh dalam uraian ini dibagi atas dua kelompok, yaitu gaya bahasa retoris, yang semata-mata merupakan penyimpangan dan konstruksi biasa untuk mencapai efek tertentu, dan gaya bahasa kiasan yang merupakan penyimpangan yang lebih jauh, khususnya dalam bidang makna. Macam-macam gaya bahasa retoris seperti yang dimaksud di atas adalah:

a.  Aliterasi
Aliterasi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan konsonan yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadangkadang dalam prosa, untuk perhiasan atau untuk penekanan. Misalnya:
Takut titik lalu tumpah.
Keras-keras kerak kena air lembut juga.

b.  Asonansi
Asonansi adalah semacam gaya bahasa yang berwujud perulangan bunyi vokal yang sama. Biasanya dipergunakan dalam puisi, kadang-kadang juga dalam prosa untuk memperoleh efek penekanan atau sekadar keindahan. Misalnya:
Ini muka penuh luka siapa punya.
Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

e.  Anastrof
Anastrof atau inversi adalah semacam gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikan susunan kata yang biasa dalam kalimat.
Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangainya. Bersorak-sorak orang di tepi jalan memukul bermacam-macam bunyi-bunyian melalui gerbang dihiasi bunga dan panji berkibar.

d.  Apofasis atau Preterisio
Apofasis atau disebut juga preterisio merupakan sebuah gaya di mana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Berpura-pura membiarkan sesuatu berlalu, tetapi sebenamya ia menekankan hal itu. Berpura-pura melindungi atau menyembunyikan sesuatu, tetapi sebenamya memamerkannya. Misalnya:
Jika saya tidak menyadari reputasimu dalam kejujuran, maka sebenartya saya ingin mengatakan bahwa anda pasti membiarkan anda menipu diri sendiri.
Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini hahwa saudara .telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara.

e.   Apostrof
Adalah semacam gaya yang berbentuk pengalihan amanat dan para hadirin kepada sesuatu yang tidak hadir. Cara ini biasanya dipergunakan oleh orator klasik. Dalam pidato yang disampaikan kepada suatu massa, sang orator secara tiba-tiba mengarahkan pembicaraannya langsung kepada sesuatu yang tidak hadir: kepada mereka yang sudah meninggal, atau kepada barang atau obyek khayalan atau sesuatu yang abstrak, sehingga tampaknya ia tidak berbicara kepada para hadirin.
Hai kamu dewa-dewa yang berada di surga, datanglah dan bebaskanlah kami dan belenggu penindasan ini.
Hai kamu semuna yang telah menumpahkan darahmu untuk tanah air tercinta ini berilah agar kami dapat mengenyam keadilan dan kemerdekaan seperti yang pernah kamu perjuangkan.

f.  Asindeton
Adalah suatu gaya yang berupa acuan, yang bersifat padat dan mampat di mana beberapa kata, frasa, atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung. Bentuk-bentuk itu biasanya dipisahkan saja dengan koma, seperti ueapan terkenal dan Julius Eaesar: Vini, vidi, vici, “saya datang, saya lihat, saya menang”. Perhatikan pula contoh berikut:
Materi pengalaman diaduk-aduk, modus eksistensi dan cogito ergo sum dicoba, medium bahasa dieksploitmr, imaji-imaji, metode, prosedur dungkir batik, .masih itu-itu juga.
Dan kesesakan, kepedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.

g.  Polisindeton
Polisindeton adalah suatu gaya yang merupakan kebalikan dan asindeton. Beberapa kata, frasa, atau klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung.
Dan kemanakah burung-burung yang gelisah dan tak berumah dan tak menyerah pada gelap dan dirigin yang bakal merontokkan bulu-bulunya?

h.  Kiasmus
Kiasmus (chiasmus) adalah semacam acuan atau gaya bahasa yang terdiri dan dua bagian, baik frasa atau klausa, yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan frasa atau klausanya itu terbalik bila dibandingkan dengan frasa atau klausa lainnya.
Semua kesabaran kami sudah hilang, lenyap sudah ketekunan kami untuk melanjutkan usaha itu.

i.   Elipsis
Elipsis adalah suatu gaya yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar, sehingga struktur gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku.
Masihkah kau tidak percaya bahwa dan segi fisik engkau tak apa-apa, badanmu sehat; tetapi psikis…

Bila bagian yang dihilangkan itu berada di tengah-tengah kalimat disebut anakoluton, misalnya:
Jika anda gagal melaksanakan tugasmu … tetapi baiklah kita tidak membicarakan hal itu.

Bila pemutusan di tengah-tengah kalimat itu dimaksudkan untuk menyatakan secara tak langsung suatu peringatan atau karena suatu emosi yang kuat, maka disebut aposiopesis.

j.  Eufemismus
Kata eufeinisme atau eufeinismus diturunkan dan kata Yunani euphemizein yang berarti “mempergunakan kata-kata dengan arti yang baik atau dengan tujuan yang baik”. Sebagai gaya bahasa, eufemisme adalah semacam acuan berupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang, atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan.
Ayahya sudah tak ada di tengah-tengah mereka (mati).
Pikiran sehatnya semakin merosot saja akhir-akhir ini (gila).
Anak saudara memang tidak terlalu cepat mengikuli pelajaran seperti anak-anak lainnya (bodoh).

k. Litotes
Adalah semacam gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan merendahkan diri. Sesuatu hal diriyatakan kurang dan keadaan sebenamya. Atau suatu pikiran diriyatakan dengan menyangkal lawan katanya.
Kedudukan saya ini tidak ada artinya sama sekali.
Saya tidak akan merasa bahagia bila men dapat warisan satu inilyar rupiah. Apa yang kami hadiahkan ini sebenamya tidak ada artinya sama sekali bagimu.
Rumah yang buruk inilahyang merupakan hasil usaha kami bertahun-tahun lamanya.

l.  Histeron Proteron
Adalah semacam gaya bahasa yang merupakan kebalikan dan sesuatu yang logis atau kebalikan dan sesuatu yang wajar, misalnya menempatkan sesuatu yang terjadi kemudian pada awal peristiwa. Juga disebut hiperbaton.
Saudara-saudara, sudah lama terbukti bahwa Anda sekalian tidak lebih baik sedikit pun dan para pesuruh, hal itu tampak dan anggapan yang berkembang akhir-akhir ini.
Jendela ini telah memberi sebuah kamar padamu untuk dapat berteduh dengan tenang.
Kereta melaju dengan cepat di depan kuda yang menariknya. Bila ia sudah berhasil mendaki karang terjal itu, sampailah ia di tepi pantai yang luas dengan pasirnya yang putih.

m. Pleonasme dan Tautologi
Pada dasamya pleonasme dan tautologi adalah acuan yang mempergunakan kata-kata lebih banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan. Walaupun secara praktis kedua istilah itu disamakan saja, namun ada yang ingin membedakan keduanya. Suatu acuan disebut pleonasme bila kata yang berlebihan itu dihilangkan, artinya tetap utuh. Sebaliknya, acuan itu disebut tautologi kalau kata yang berlebihan itu sebenamya mengandung perulangan dan sebuah kata yang lain. Misalnya:
Saja telah mendengar hal itu dengan telinga saja sendiri.
Saya telah melihat kejadian itu dengan mata kepala saya sendiri. Darah yang merah itu melumuri seluruh tubuhnya.

n.   Perifrasis
Sebenamya perifrasis adalah gaya yang mirip dengan pleonasme, yaitu mempergunakan kata lebih banyak dan yang diperlukan. Perbedaannya terletak dalam hal bahwa kata-kata yang berkelebihan itu sebenamya dapat diganti dengan satu kata saja.’ Misalnya:
Ia telah beristirahat dengan damai (mati, atau meninggal). Jawaban bagi perinintaan Saudara adalah tidak (ditolak).

o.   Prolepsis atau Antisipasi
Prolepsis atau antisipasi adalah semacam gaya bahasa di mana orang mempergunakan lebih dahulu kata-kata atau sebuah kata sebelum peristiwa atau gagasan yang sebenarnya terjadi. Misalnya dalam mendeskripsikan peristiwa kecelakaan dengan pesawat terbang, sebelum sampai kepada peristiwa kecelakaan itu sendiri, penulis sudah mempergunakan kata pesawat yang sial itu. Padahal kesialan baru terjadi kemudian. Perhatikan pula kalimat-kalimat berikut yang mengandung gaya prolepsis atau antisipasi itu:
Almarhum Pardi pada waktu itu menyatakan bahwa ia tidak mengenal orang itu.
Kedua orang itu bersama calon pembunuhnya segera meninggalkan tempat itu.
Pada pagi yang naas itu, ia mengendarai sebuah sedan biru.

p.   Erotesis atau Pertanyaan Retoris
Erotesis atau pertanyaan retoris adalah semacam pertanyaan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Gaya ini biasanya dipergunakan sebagai salah satu alat yang efektif oleh para orator. Dalam pertanyaan retoris terdapat asumsi bahwa hanya ada satu jawaban yang mungkin.
Terlalu banyak komisi dan perantara yang masing-masing menghendaki pula imbalan jasa. Herankah Saudara kalau harga-harga itu terlalu tinggi? Apakah saya menjadi wali kakak saya?
Rakyatkah yang harus menanggung akibat semua korupsi dan manipulasi di negara ini?

q.   Silepsis dan Zeugma
Silepsis dan zeugma adalah gaya di mana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata lain yang sebenamya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama. Dalam silepsis, konstruksi yang dipergunakan itu secara gramatikal benar, tetapi secara semantik tidak benar.
Ia sudah kehilangan topi dan semangatnya.
Fungsi dan sikap bahasa.
Konstruksi yang lengkap adalah kehilangan topi dan kehilangan semangat, yang satu memiliki makna denotasional, yang lain memiliki makna kiasan; demikian juga ada konstruksi fungsi bahasa dan sikap bahasa namun makna gramatikanya berbeda, yang satu berarti “fungsi dan bahasa” dan yang lain “sikap terhadap bahasa”.

r.  Koreksio atau Epanortosis
Koreksio atau epanorlosis adalah suatu gaya yang berwujud, mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya.
Sudah empat kali saya mengunjungi daerah itu, ah bukan, sudah lima kali.

s.  Hiperbol
Adalah semacam gaya bahasa yang mengandung suatu pemyataan yang berlebihan, dengan membesar-besarkan sesuatu hal.
Kemarahanku sudah menjadi-jadi hingga hampir-hampir meledak aku. Jika kau terlambat sedikit saja, pasti kau tidak akan diterima lagi.
Prajurit itu masih tetap berjuang dan sama sekali tidak tahu bahwa ia sudah mati.

t.  Paradoks
Paradoks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung pertentangan yang nyata dengan fakta-fakta yang ada. Paradoks dapat juga berarti semua hal yang menarik perhatian karena kebenarannya.
Musuh sering merupakan kawan yang akrab.
Ia mati kelaparan di tengah-lengah kekayaannya yang berlimpah-limpah.

u. Oksimoron
Oksimoron (okys = tajam, moros = gila, tolol) adalah suatu acuan yang berusaha untuk menggabungkan kata-kata untuk mencapai efek yang bertentangan. Atau dapat juga dikatakan, oksimoron adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama, dan sebab itu sifatnya lebih padat dan tajam dari paradoks.
Keramah-tamahan yang bengis.
Untuk menjadi manis seeeorang harus menjadi kasar.
flu sudah menjadi rahasia umum.
Dengan membisu seribu kala, mereka sebenamya berteriak-teriak agar diperlakukan dengan adil.

Komentar
  1. asriyah mengatakan:

    Tolong pak ksmi sedang mencari buku tentang linguistik lexikon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s